
Flower mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan Bu Venna yang sangat menyinggung hatinya.
"Agh, maaf. Sepertinya perkataan saya sudah menyinggung dirimu." Ucap Bu Venna memasang wajah pura-pura sungkan.
"Maaf, Bu, sepertinya perkataan ini lebih baik Ibu sampaikan pada Malik saja karena sejak saya menikah dengannya Malik tidak pernah menuntut saya serba bisa. Dia hanya meminta saya untuk tetap sehat dan bahagia karena ada calon bayi kami yang sedang bersemayam di dalam rahim saya saat ini." Ucap Flower setelah berusaha mengontrol emosinya.
Kali ini Bu Venna yang dibuat tersindir oleh perkataan menantunya. Jelas saja dari perkataan Flower secara tidak langsung menyatakan jika Malik sangat menyanyanginya dan anaknya hingga tak ingin Flower kesusahan saat bersamanya.
"Saya tahu Ibu baru saja tidak sampai hati mengatakan hal seperti itu pada saya. Terlebih Ibu adalah tenaga pendidik yang pasti sangat tahu bagaiman bersikap dan bertutur kaya uang baik." Ucap Flower.
Bu Venna benar-benar merasa tersindir dengan perkataan menantunya itu padanya. Flower benar jika dirinya adalah tenaga pendidik yang seharusnya dapat bersikap dan bertutur kata yang baik.
"Jika Ibu mau saya bisa mengambilkan minuman lain untuk Ibu di dapur." Tawar Flower saat melihat mertuanya hanya diam saja menahan amarah.
"Tidak perlu. Saya tidak akan lama di sini. Sebentar lagi juga saya akan pergi." Jawab Bu Venna.
Flower menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu silahkan dimakan dulu cemilannya, Bu." Tawar Flower lagi.
Bu Venna menggelengkan kepalanya. Terlihat jelas di matanya yang memerah kilatan amarah di sana. Flower yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti saat ini mencoba mengatur dirinya agar tidak terbawa emosi.
"Apa Malik sudah mengatakan kepadamu jika saya meminta kalian untuk tinggal bersama saya selama satu minggu ke depan?" Tanya Bu Venna setelah cukup lama terdiam.
"Belum. Malik tidak mengatakan apa-apa pada saya, Bu." Jawab Flower.
"Anak itu, bagaimana bisa dia tidak menyampaikannya kepadamu." Decak Bu Venna.
"Ingatkan pada Malik jika satu minggu ke depan kalian harus tinggal bersama saya karena saya ingin merasakan tinggal bersama menantu saya." Ucap Bu Venna.
"Baiklah, saya akan mengingatkan Malik setelah pulang bekerja nanti, Bu." Jawab Flower sekenanya.
Bu Venna mengangguk saja. "Kalau begitu saya pamit dulu. Masih ada hal yang harus saya kerjakan setelah ini." Pamit Bu Venna.
Flower mengangguk saja lalu mengantarkan mertuanya itu sampai ke depan rumahnya.
"Ibu..." Flower menahan pergerakan Bu Venna yang hendak melangkah meninggalkannya.
"Ada apa?" Tanya Bu Venna.
Flower mengulurkan tangan kanannya pada Bu Venna. Mengerti maksud menantunya yang ingin menyalaminya, Bu Venna pun segera menyambut uluran tangan Flower.
"Hati-hati di jalan. Saya harap Ibu akan sering berkunjung kemari." Ucap Flower lembut.
Bu Venna mengangguk saja lalu melangkah meninggalkan Flower.
"Ternyata cerita di novel itu benar adanya. Mertua kejam itu benar-benar nyata. Terbukti saat ini aku mendapatkan mertua yang kejam. Sampai hati sekali dia berkata kasar seperti itu kepadaku di saat aku sedang mengandung cucunya."
***