
"Apa?!" Pekik William, Rania, Gerry dan Kyara secara bersamaan.
"Putriku tengah mengandung?" Tanya William kemudian dengan wajah terkejut.
Dokter wanita itu mengangguk mengiyakan. "Sekali lagi selamat, Tuan." Jawabnya tersenyum.
"Anda jangan bercanda!" Bentak William sambil memegang kedua bahu dokter wanita itu. Sontak saja pergerakan William membuat dokter wanita itu terkejut karenanya. "Bagaimana bisa putriku bisa mengandung sedangkan dia belum menikah!" Bentak William lagi.
"A-apa..." Dokter wanita itu tergagap.
Melihat reaksi William membuat Gerry dengan cepat melepaskan tangan William yang sedang memegang kedua bahu dokter tersebut. "Tenangkan dirimu. Kau membuat dokter ini takut!" Tekan Gerry.
William menulikan telinganya. Walau tangannya kini sudah tak berada di bahu dokter, namun ia tak menghilangkan tatapan tajamnya pada dokter tersebut.
"Dokter, anda pasti salah. Putri saya pasti tidak mengandung. Dia belum menikah bahkan tidak memiliki seorang kekasih." Ucap Rania dengan tergagap. Sungguh apa yang disampaikan dokter itu membuat tubuhnya lemah seketika.
"Ma-maaf, Tuan, Nyonya. Tapi saya hanya mengatakan hasil pemeriksaan tanpa merekayasanya." Jawab Dokter itu menunduk takut karena melihat kemarahan William saat ini.
"Apa kau yakin jika tidak salah periksa?" Tanya Gerry.
"Saya yakin, Tuan. Pekerjaan saya taruhannya." Jawabnya.
Gerry pun mengangkat tangannya di udara tanda memberi kode pada dokter itu agar pergi dari hadapannya. Baru saja dokter wanita itu pergi, Rania tiba-tiba saja pingsan dan hampir saja terjatuh ke atas lantai jika Kyara tidak sigap menahannya.
"Sayang!" Pekik William lalu segera mengankat istrinya.
"Kita bawa ke sana saja!" Ucap Gerry menunjuk kursi tunggu yang berada tidak jauh dari mereka berada.
William mengiyakannya lalu membawa Rania ke kursi tunggu. Sebelum ia mendudukkan tubuh Rania di kursi tunggu, seorang perawat sudah datang mengajak mereka untuk membawa Rania ke ruangan kosong yang berada di sebelah kursi tunggu.
"Aku ingin menemui Flower dan menanyakan kebenaran atas perkataan dokter itu!" Jawab William cepat.
"Will!" Gerry semakin menggenggam erat lengan William agar tidak lepas dari genggaman tangannya.
"Tenangkan dirimu. Ingat putrimu baru saja pingsan!" Tegur Gerry. Walau ia pun turut terkejut mendengar perkataan Dokter, namun Gerry tak ingin William yang sedang dikuasai amarah melakukan tindakan di luar kendali pada putrinya.
"Lepaskan aku!" Sentak William sambil menatap berang pada Gerry.
Gerry menulikan telinganya dan tetap menggenggam erat lengan William. "Tetap di sini baru aku akan melepaskan tanganmu." Jawab Gerry.
William yang sudah dikuasai amarah dengan sekuat tenaga melepas tangan Gerry hingga terlepas dari tangannya. Setelahnya ia keluar dari dalam ruangan menuju ruangan pemeriksaan Flower.
"Kak Gerry ayo susul William!" Titah Kyara cepat.
Gerry mengiyakannya lalu menyusul William.
Setelah sampai di dalam ruangan pemeriksaan putrinya, dilihatnya Flower masih belum sadar dan kini tangannya tengah dipasang jarum infus oleh seorang perawat.
"Maaf, Tuan, sebaiknya jangan masuk dulu karena Nona Flower masih belum sadar." Ucap perawat lembut pada William.
William tak memperdulikan perkataan perawat karena kini perhatiannya terpusat pada wajah pucat putrinya. Kedua tangannya pun terkepal erat mengingat perkataan dokter tentang keadaan putrinya saat ini.
"Flower..." gumam William dengan emosi tertahan.
***