
"Benarkah begitu?" Tanya Malik dan Flower hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Flower pun kembali menatap ke arah luar jendela mobil seolah pemandangan di luar saat ini lebih menarik dari pada berbicara dengan suaminya itu.
Malik pun memilih diam tak lagi ingin mengganggu kesenangan Flower saat ini. Mobil milik Malik pun terus melaju membelah jalanan yang cukup lengang siang itu. Saat mobil Malik tengah melewati deretan toko yang cukup panjang, Flower tiba-tiba meminta Malik menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa?" Tanya Malik merasa bingung dengan permintaan Flower.
"Daddy..." lirih Flower sambil memegang kaca mobil.
Malik pun turut menatap ke arah yang Flower lihat saat ini. Di salah satu toko Dad William nampak keluar dari sana dengan seorang pria paruh baya yang sangat dikenali Malik. Siapa lagi kalau bukan Gerry.
"Apa kau ingin menghampiri Daddymu?" Tanya Malik.
Flower seketika menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin menatapnya seperti ini saja." Jawab Flower.
Malik menghela nafas. "Jangan terus menahan dirimu jika kau sudah sangat ingin melakukannya." Pesan Malik.
Flower hanya diam saja sambil terus menatap ke arah Daddynya yang kini sedang tertawa bersama Gerry.
"Daddy... Flo sangat merindukan Daddy." Lirih Flower dengan mata berkaca-kaca. Tanpa terasa satu tetes air mata pun terjatuh membasahi pipi Flower.
"Flow..." ucap Malik.
"Agh, ya." Flower buru-buru menghapus air mata yang membasahi pipinya agar Malik tak melihat air matanya. Namun sayang usahanya sia-sia karena Malik telah melihatnya sejak tadi.
"Ayo jalankan mobilnya kembali." Pinta Flower pada Malik.
Malik tak langsung mengiyakannya. Ia justru menatap wajah Flower dengan intens.
"Ayolah jalankan mobilnya." Titah Flower.
Malik tak merespon perkataan Flower dan menjalankan mobilnya kembali.
*
"Benarkah, Tante? Malik datang ke sini?" Mata Emila terlihat berbinar setelah mendengarnya.
Bu Venna pun mengangguk sebagai jawaban.
"Agh, sayang sekali Emila tidak bertemu dengannya, Tante." Keluh Emila kemudian.
Bu Venna tak merespon perkataan Emila justru menatap Emila dengan datar.
"Ada apa, Tante?" Tanya Emila sedikit gugup karena Bu Venna menatapnya dengan intens.
"Kenapa kau tidak jujur pada Tante jika kau dan Malik sudah tidak berhubungan lagi sejak empat bulan yang lalu?" Tanya Bu Venna.
Deg
Emila dibuat tertegun mendengar pertanyaan dari Bu Venna. "Ba-bagaimana Tante bisa mengetahuinya?" Tanya Emila.
"Tentu saja Tante mengetahuinya karena Malik yang mengatakannya secara langsung pada Tante." Jawab Bu Venna.
"Maaf, Tante. Mila tidak bisa melanjutkan hubungan Mila dengan Malik karena Malik sudah tidak mencintai Emila lagi." Ucap Emila dengan lirih.
"Tidak mencintai kau bilang?" Tanya Bu Venna dan Emila mengangguk mengiyakannya. "Apa alasan Malik memutuskan hubungan denganmu karena ia berkata tidak mencintaimu lagi?" Tanya Bu Venna.
Emila terdiam dengan kepala tertunduk.
"Ayo jawab Emila. Apa yang Malik katakan hingga dia memilih menyudahi hubungan kalian?" Desak Bu Venna.
"Malik bilang jika dia sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kami karena alasan tertentu yang tidak bisa ia katakan, Tante. Saat Mila bertanya apakah karena Malik sudah tidak lagi mencintai Emila, Malik hanya diam saja Tante.
"Apa Malik tidak mengatakan jika dia mengakhiri hubungan kalian karena dia ingin menikah dengan wanita lain?" Tanya Bu Venna yang membuat Emila terkejut mendengarnya.
***