Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Hati Tiga Wanita Cantik


Rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan Kota Yingtian dengan kawalan ketat para prajurit Gubernur Qing. Atas dasar kekhawatiran keselamatan Putri Kaisar Huizong, maka ratusan prajurit Wilayah Yingtian di perbantukan untuk menjadi pengawal Putri Song Zhao Meng agar mereka selamat sampai di ibukota. Bahkan salah satu pimpinan terbaik Kota Yingtian, Jenderal Liu King di tugaskan langsung untuk mengawal Putri Song Zhao Meng agar sampai di Kota Kaifeng dengan selamat.


Perginya Pendeta Wang Chun Yang mengejar Si Raja Racun Lu Shun Fung sedikit banyak juga berpengaruh terhadap keadaan pasukan pengawal pribadi Putri Meng Er. Jujur saja, Paman Chen yang sudah pulih dari cideranya, takut pada kemungkinan mereka akan di cegat rombongan penjahat karena mereka akan melewati sebuah wilayah yang sangat di takuti di Kekaisaran Song, Lembah Hantu.


Konon katanya, di Lembah Kematian ada sekte sesat misterius yang sering berbuat seenaknya. Di samping keadaan tanah yang berbahaya karena banyak sekali lumpur hidup dan binatang buas, ada juga cerita tentang banyak nya hantu dan siluman gentayangan di tempat itu. Keadaan nya yang selalu berkabut juga menyulitkan bagi orang yang melintas hingga kebanyakan orang memilih untuk menghindari Lembah Hantu dengan cara memutar jalan.


Putri Song Zhao Meng sudah diingatkan untuk tidak melewati jalan di lembah itu namun sang putri sangat keras kepala dan memaksa untuk masuk ke Lembah Hantu karena ingin cepat sampai ke ibukota Kaifeng.


Agar perjalanan lebih cepat, maka seluruh pria di minta untuk berkuda. Hingga hanya ada dua kereta kuda yang ada dalam rombongan itu. Putri Song Zhao Meng di temani oleh Luh Jingga, Huang Lung dan pelayan setia Putri Meng, Qiao Er di kereta depan. Sedangkan di kereta belakang hanya ada kusir dan Demung Gumbreg serta barang bawaan mereka dari Kerajaan Panjalu.


Rombongan itu terus bergerak cepat menuju ke arah Utara.


"Huuuuhhhhhhh... Perjalanan ini pasti akan membosankan. Karena kita kawan seperjalanan, maka lebih baik kita mengobrol.


Aku ingin tahu sesuatu tentang Pendekar Thee, tapi pelayan nya ini tidak bisa bahasa kita. Karena itu kau yang sudah cukup lama bersama Pendekar Thee tentu tahu banyak tentang Pendekar Thee, Huang Lung", Putri Song Zhao Meng membuka percakapan antara para wanita yang ada di dalam kereta kuda.


"Aku hanya tahu sedikit tentang Pendekar Thee, Tuan Putri..


Silahkan saja Tuan Putri tanyakan kepada ku, mungkin aku bisa menjawabnya", jawab Huang Lung dengan sopan.


"Awas saja jika ada yang kau tutup tutupi..


Sekarang coba ceritakan pada ku bagaimana kau bisa bertemu dengan Pendekar Thee, Huang Lung. Jangan ada yang kau sembunyikan dari ku", Putri Song Zhao Meng menatap tajam ke arah Huang Lung.


Dengan perlahan, Huang Lung mulai berbicara tentang pertemuan mereka di Kota Lin'an hingga pertemuan mereka di Kota Shou. Ada beberapa hal yang di sembunyikan pada Putri Song Zhao Meng, tapi hanya yang menyangkut tentang dirinya saja.


"Demikianlah cerita nya Tuan Putri..", ujar Huang Lung alias Putri Wanyan Lan sembari tersenyum tipis.


"Apa kau sudah yakin menceritakan semuanya, Huang Lung? Atau kau lebih suka jika aku memanggil mu dengan sebutan Putri Wanyan Lan?", Putri Song Zhao Meng tersenyum penuh arti.


Betapa terkejutnya Huang Lung mendengar nama aslinya di sebut oleh Putri Song Zhao Meng. Dengan sedikit gugup, dia segera berbicara, " Da-darimana Tuan Putri tahu bahwa aku adalah Wanyan Lan?".


"Mata semua orang bisa kau kelabui dengan pakaian laki laki mu, Putri Lan tapi tidak dengan ku. Sejak pertama kali bertemu aku sudah tahu kalau kau seorang perempuan", ujar Putri Song Zhao Meng sambil tersenyum penuh kemenangan.


"A-aku tidak bermaksud untuk menipu mu, Tuan Putri..


Ini semua adalah untuk menjaga keselamatan pribadi ku dari orang orang yang ingin berbuat jahat pada ku", terbata bata suara Huang Lung bicara.


"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan penyamaran mu, Huang Lung. Hanya aku tidak suka jika kau menyamar sebagai laki-laki mendekati Pendekar Thee. Dia orang baik, bukan sekedar pangeran biasa yang di suruh mengantar pesan ke negeri yang jauh.


Jadi aku minta agar kau jangan coba-coba untuk berpikir bisa mendekati Pendekar Thee", Putri Song Zhao Meng menatap tajam ke arah Huang Lung seakan menatap ke arah seorang wanita yang mencoba untuk merebut suaminya.


"Aku mengerti Tuan Putri", Huang Lung mengangguk cepat.


"Sayang sekali si pelayan ini sama sekali tidak bisa bicara dalam bahasa kita", Putri Song Zhao Meng menoleh ke arah Luh Jingga yang hanya diam sembari terus menatap ke arah luar jendela kereta kuda, "Kalau dia bisa bicara dalam bahasa kita, tentu kita akan tahu banyak tentang Pendekar Thee".


Kereta kuda terus bergerak mengikuti langkah kaki kuda Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Rakryan Purusoma yang berkuda di depan.


Menjelang tengah hari, rombongan itu menghentikan pergerakan mereka di kaki sebuah bukit. Kuda mereka mereka perlu beristirahat sejenak untuk mengisi perut, begitu pula para penunggang nya.


Luh Jingga dengan cekatan segera menyiapkan makanan untuk Panji Tejo Laksono berikut air minum untuk sang pangeran muda dari Kadiri. Mereka berdua duduk di bawah pohon rindang yang ada di kaki bukit batu, sedikit menyisih dari rombongan.


"Kau juga harus makan, Luh..


Jangan sampai kau sakit karena telat makan karena terlalu sibuk mengurus ku", ujar Panji Tejo Laksono sembari menyorongkan sepotong daging kering ke mulut Luh Jingga.


"Tapi Gusti Pangeran, hamba..."


"Tidak ada tapi tapian. Cepat buka mulut mu, jangan terlalu banyak menyanggah", Panji Tejo Laksono menatap serius pada wajah cantik putri Resi Damarmoyo itu segera.


Dengan malu malu, Luh Jingga membuka mulutnya dan Panji Tejo Laksono pun menyuapkan daging kering itu ke mulut gadis cantik itu sambil tersenyum tipis. Suapan demi suapan makanan terus di berikan oleh Panji Tejo Laksono pada Luh Jingga. Meski putri Resi Damarmoyo itu sedikit tidak nyaman dengan perlakuan sang pangeran muda dari Kadiri itu terhadapnya, namun gadis cantik itu juga tak kuasa menolak keinginan sang majikan.


Adegan penuh kemesraan mereka berdua terlihat oleh Huang Lung dan Putri Song Zhao Meng. Huang Lung yang sudah mengetahui tentang hubungan tidak biasa antara Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga hanya mendengus dingin sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun tidak halnya dengan Putri Song Zhao Meng.


Dengan wajah masam, putri Kaisar Huizong itu segera menyambar semangkuk sup daging panas dan dengan cepat berjalan mendekati Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga.


Ehemmm ehemmm !!


Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga langsung menghentikan acara mereka dan menoleh ke arah Putri Song Zhao Meng yang wajahnya senyum di paksakan sembari memegang semangkuk sup daging yang disiapkan oleh Qiao Er untuk nya. Panji Tejo Laksono segera berdiri.


"Tuan Putri,


Ada hal apa yang membuat mu datang kemari? Apa kita sudah selesai beristirahat?".


Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Putri Song Zhao Meng langsung menyodorkan semangkuk sup daging itu pada Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul, " Aku lapar. Tolong kau suapi aku seperti kau menyuapi pelayan mu ini".


Kaget Panji Tejo Laksono mendengar ucapan Putri Song Zhao Meng.


"Apa maksudnya Tuan Putri? Bukan kah Qiao Er juga menganggur? Kenapa kau tidak meminta nya saja yang menyuapi mu?", Panji Tejo Laksono benar benar tidak habis pikir dengan sikap Putri Song Zhao Meng.


"Tentu saja tidak...


Tuan Putri silahkan duduk dulu", mendengar jawaban Panji Tejo Laksono, Putri Song Zhao Meng langsung tersenyum lebar. Putri ke 12 Kaisar Huizong itu segera duduk di tikar yang menjadi alas duduk Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga.


Dengan cemberut menahan perasaan kesal, Luh Jingga segera berdiri dari tempat duduknya setelah mengumpulkan tempat bekas makan Panji Tejo Laksono. Sambil mendengus kesal, dia melirik ke arah Putri Song Zhao Meng, "Saya akan mencicipi bekas wadah makanan dulu Gusti Pangeran. Mohon pamit".


Usai berkata demikian, Luh Jingga dengan penuh kekesalan meninggalkan tempat Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng.


'Pasti Luh Jingga marah besar terhadap ku', batin Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah perginya putri Resi Damarmoyo itu.


Ehemmm ehemmm..


"Pendekar Thee,


Sampai kapan aku menunggu kau menyuapi ku?", ucapan Putri Song Zhao Meng langsung menyadarkan Panji Tejo Laksono. Sang putra tertua Prabu Jayengrana dari Kadiri ini pun segera duduk di hadapan Putri Song Zhao Meng dan mulai menyuapkan sup daging itu ke mulut sang putri kaisar.


Qiao Er nampak tersenyum simpul melihat Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng bersikap mesra layaknya sepasang kekasih seperti ini. Namun di lain sisi, dua pasang mata perempuan cantik terlihat menahan rasa cemburunya melihat ulah Putri Song Zhao Meng.


Di sisi lain, Demung Gumbreg yang sedang menyantap hidangan yang disajikan untuk nya, terus menggigit daging kering dan roti kering di piringnya bersama dengan Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi. Rakryan Purusoma terlihat sedang bicara dengan Jenderal Liu King yang menjadi pimpinan pengawal dari Gubernur Qing.


"Wah majikan kita memang hebat ya Lu...


Enggak di negeri sendiri enggak di negeri orang pintar sekali menggaet perempuan. Benar benar putra Gusti Prabu Jayengrana", ujar Gumbreg sambil menyuapkan sepotong daging kering ke mulutnya.


"Kalau bagian ini aku setuju dengan mu Mbreg, sangat tepat.


Tapi kau juga harus ingat satu hal. Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono mau dekat dengan Putri Kaisar Song itu karena dia butuh bantuan nya untuk bicara langsung dengan Kaisar Song agar kita bisa segera pulang ke Tanah Jawadwipa.


Jadi kau mesti bisa membedakan mana yang hidung belang mana yang bukan ", sahut Tumenggung Ludaka sambil menenggak air minum dalam wadah yang disiapkan.


"Tapi itu bedanya tipis sekali Lu..


Sekarang coba kamu hitung perempuan mana saja yang sudah di dekati oleh Gusti Pangeran? Nih aku hitung ya. Ada Putri Tumenggung Sindupraja, si Gayatri itu. Ada pula putri Adipati Aghnibrata dari Kalingga, Putri Ayu Ratna. Belum lagi si Luh Jingga.


Nah yang kemarin itu juga, Putri Raja Champa itu juga. Nah sekarang putri Kaisar Song pun mau di embat juga. Kalau bukan hidung belang, lantas apa namanya?", Gumbreg tak mau kalah.


"Mulut mu memang susah untuk di atur ya..


Kalau kedengaran Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, kau siap di tinggal di Negeri Tiongkok ini ha?", mendengar hardik keras itu, Gumbreg langsung membekap mulutnya dengan sepotong roti kering. Setelah susah payah menelan roti kering, Gumbreg langsung menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.


"Ya jangan sampai kedengaran dia Lu..


Kan panjang urusannya kalau dia sampai tahu. Aku mohon kau jangan lapor ke Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ya?", hiba Gumbreg segera.


"Huh...


Gayamu tetap saja. Setelah mengatai Gusti Pangeran, selalu saja minta perlindungan. Aku mungkin tidak bicara apa-apa, bagaimana dengan Rajegwesi?", Tumenggung Ludaka menoleh ke arah Tumenggung Rajegwesi yang masih senyum senyum saja tanpa bicara. Gumbreg segera mengalihkan perhatian nya pada Tumenggung Rajegwesi.


"Si, kau jangan sampai buka mulut pada Gusti Pangeran soal aku mengatainya baru saja ya? Aku mohon".


"Bisa di atur, tapi tidak cuma-cuma", Tumenggung Rajegwesi tersenyum simpul.


"Yah kog begitu Si, pakai ada syaratnya...


Lantas apa syaratnya? Cepat katakan", Demung Gumbreg tidak sabar menunggu syarat yang diminta oleh Rajegwesi.


"Nanti malam, kau pijat punggung ku dan Kakang Ludaka. Di jamin mulut ku akan terkunci rapat", ucap Tumenggung Rajegwesi yang segera mendapat anggukan kepala dari Tumenggung Ludaka.


"Yah daripada kena hukuman sama Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..


Pasrah saja wes aku", ujar Gumbreg dengan memelas.


Setelah cukup lama beristirahat, rombongan itu melanjutkan perjalanan. Namun ada suasana yang berbeda di dalam kereta kuda yang mengangkut para wanita. Luh Jingga, Huang Lung dan Putri Song Zhao Meng memilih untuk tidak bicara apapun sepanjang perjalanan. Entah apa yang terjadi pada tiga hati perempuan cantik ini saat itu. Qiao Er yang kebingungan pun tak berani untuk menanyakan apapun pada putri Kaisar Song itu dan memilih untuk ikut diam..


Jenderal Liu King yang memimpin rombongan pengawal langsung menarik tali kekang kudanya saat melihat sesuatu yang mencurigakan di tepi tebing batu yang mereka lewati saat mereka hendak memasuki kawasan Lembah Hantu.


Pasukan khusus yang di pimpin nya segera bersiap. Melihat itu, Panji Tejo Laksono segera menjalankan kuda nya mendekati sang jenderal.


"Tuan Jenderal,


Apa yang terjadi? Kenapa kita harus berhenti tiba-tiba seperti ini?", tanya Panji Tejo Laksono segera. Jenderal Liu King tak segera menjawab pertanyaan ini namun tangan kanannya menunjuk ke arah sebuah pohon besar yang tumbuh di punggung tebing batu. Panji Tejo Laksono segera mengikuti arah pandang yang ditunjuk oleh Jenderal Liu King. Samar samar terlihat sepasang mata sedang menatap ke arah rombongan itu dari balik rimbun pohon. Dengan perlahan, Jenderal Liu King segera bicara.


"Sebaiknya kita segera bersiap untuk bertarung, Pendekar Thee. Anak buah Sekte Lembah Hantu sudah bersiap untuk menyerang.


Mereka anak buah Gui Wu, Si Hantu Seribu Wajah".