Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Bidadari Bertopeng Perak


Keswari terus bergerak cepat meninggalkan Istana Pakuwon Carat menuju utara, tepat nya ke wilayah Keputren Jenggala. Dia menyebut nama pimpinan dan ini berkaitan erat dengan Putri Uttejana.


Siapa sebenarnya Putri Uttejana?


Menilik kisah saat Panji Watugunung mengalahkan Dyah Wijayawarman yang memberontak terhadap Panjalu bersama Akuwu Lwaram Mpu Wiryamukti dahulu, dari sinilah kisah itu berawal.


Saat mulai menata pasukannya untuk memberontak terhadap Panjalu, Dyah Wijayawarman rupanya jatuh hati pada putri Akuwu Wiryamukti yang bernama Rara Wiryastuti. Keduanya memadu kasih selama Dyah Wijayawarman menyusun kekuatan di Lwaram.


Saat pengepungan Lwaram oleh Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana, Mpu Wiryamukti yang khawatir dengan keselamatan putri nya, membuat rute pelarian dari Lwaram ke Hujung Galuh dengan menggunakan perahu pedagang yang melintas di Sungai Wulayu. Saat itu, Rara Wiryastuti yang sedang hamil muda mau tak mau harus bersedia untuk berpisah dengan Dyah Wijayawarman sang kekasih karena situasi yang mulai menyudutkan pasukan pemberontak Lwaram.


Bersamaan dengan itu, sepucuk surat dari Akuwu Lwaram Mpu Wiryamukti juga di bawa oleh Rara Wiryastuti. Rara Wiryastuti pun berhasil lolos dari kepungan para prajurit Panjalu hingga sampai di Hujung Galuh bersama dengan emban setia nya. Dari sana, Rara Wiryastuti berangkat ke Kotaraja Kahuripan sesuai dengan amanat sang ayah untuk menemui Rakryan Samarotsaha yang saat itu adalah Mahamantri I Sirikan di bawah pemerintahan Prabu Mapanji Alanjung Ahyes yang menggantikan kedudukan sang ayah yakni Mapanji Garasakan.


Kecantikan Rara Wiryastuti langsung memikat hati Rakryan Samarotsaha. Dengan sedikit memaksa, Rara Wiryastuti akhirnya mau menerima permintaan Rakryan Samarotsaha untuk dijadikan selir ke 2 nya karena Rara Wiryastuti juga butuh sandaran hidup setelah tahu bahwa Dyah Wijayawarman kekasih nya dan juga ayahnya terbunuh oleh para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Prabu Jayengrana.


Setelah 8 purnama mereka menikah, Rara Wiryastuti melahirkan seorang bayi perempuan cantik yang kemudian diberi nama Uttejana. Rahasia siapa ayah kandung Uttejana pun hanya Rara Wiryastuti dan emban pengiringnya saja yang tahu.


Selepas jatuhnya tahta kerajaan Jenggala ke tangan Rakryan Samarotsaha usai meninggalnya Prabu Mapanji Alanjung Ahyes yang mendadak, membuat kedudukan dan derajat keluarga besar Rakryan Samarotsaha pun meningkat tajam. Meskipun ada desas-desus yang beredar di kalangan masyarakat Jenggala bahwa kematian Maharaja Mapanji Alanjung Ahyes ini tidak wajar dan ada dugaan Rakryan Samarotsaha terlibat di dalamnya, namun itu tidak mempengaruhi prosesi penobatan Rakryan Samarotsaha menjadi penguasa Jenggala selanjutnya. Rara Wiryastuti pun naik derajat nya sebagai istri raja dan Uttejana pun menjadi tuan putri.


Namun serapat-rapatnya menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium juga.


Saat Uttejana menginjak usia remaja, emban pengiring ibunya yang kesal dengan sikap nya yang sok memerintah, mengatakan bahwa dia bukan putri kandung Raja Jenggala. Ini membuat Uttejana murung seketika. Melihat perubahan sikap putri nya yang drastis, Rara Wiryastuti pun bertanya pada putrinya ini.


Uttejana kemudian bertanya kepada ibunya tentang jati dirinya yang sebenarnya. Awalnya Rara Wiryastuti mengelak namun setelah Uttejana mengatakan bahwa dia mendengar perkataan emban pengiring ibunya tentang siapa ayah kandung nya, Rara Wiryastuti pun akhirnya menceritakan semua nya.


Mendengar cerita itu, timbul dendam di hati Uttejana. Dia bertekad untuk membalas dendam kematian ayah kandung nya pada Prabu Jayengrana dengan cara apapun. Dia juga ingin meneruskan ambisi ayahnya untuk menegakkan kembali Kerajaan Mataram Kuno di bumi Jawadwipa ini. Namun sebelum itu, dia harus menghabisi nyawa emban pengiring ibunya yang tahu jatidirinya yang sebenarnya untuk menutupi seluruh rahasia jati diri.


Keesokan harinya, emban pengiring ibunya di temukan tewas gantung diri di kamar tidur nya. Meski terlihat begitu, ini adalah bentuk rekayasa Uttejana untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang tadi malam dia lakukan.


Setelah itu, perempuan cantik bermata indah ini pun mulai berguru pada beberapa orang pendekar berilmu tinggi dan resi sepuh yang memiliki kedekatan dengan Istana Kotaraja Kahuripan. Menggunakan nama putri Raja Jenggala, Uttejana dengan mudah mendapatkan guru-guru yang mumpuni. Meski sering di istimewakan, namun Uttejana selalu belajar sungguh-sungguh. Ini karena dia sadar bahwa diantara kerabat dekat Istana Kotaraja Daha di Panjalu terdapat banyak sekali pendekar berilmu tinggi. Jika dia ingin berhasil membalaskan dendam kematian ayah kandung nya, dia harus memiliki ilmu kanuragan yang tinggi juga.


Saat mendengar adanya perkumpulan gerakan bawah tanah yang ingin mendirikan kembali Kerajaan Medang, Uttejana segera bergabung dengan mereka. Uttejana ingin menggunakan kelompok ini sebagai kendaraan nya untuk mewujudkan impian besar nya. Menggunakan nama besar gurunya Maharesi Mpu Anubhawa dari Gunung Gajahmungkur, Uttejana langsung diangkat menjadi pimpinan kedua Kelompok Bulan Sabit Darah menggantikan pimpinan kedua lama yang tutup usia. Memakai topeng separuh wajah dari perak yang berhiaskan bulan sabit terbalik berwarna merah darah, dia pun mendapat gelar sebagai Bidadari Bertopeng Perak.


Setelah itu, sepak terjang Putri Uttejana di Kelompok Bulan Sabit Darah pun di mulai. Beberapa kekacauan yang terjadi di Hujung Galuh, Lamajang dan Pasuruhan adalah ulahnya yang ingin menggoyang kekuasaan Prabu Samarotsaha, ayah sambung nya. Meskipun gejolak kecil ini berhasil di padamkan oleh para prajurit Jenggala, namun setidaknya sudah memberikan isyarat kepada masyarakat luas bahwa Jenggala tidak baik-baik saja.


Dia ingin menjadi Ratu di Jenggala agar suatu saat nanti bisa menyerbu ke Panjalu dan menuntaskan dendam kesumatnya pada Prabu Jayengrana. Uttejana mulai menyusun kekuatan terlebih dahulu dengan menjalin hubungan baik di beberapa daerah seperti Hujung Galuh, Dinoyo dan Mathura. Ketiga penguasa daerah ini sudah memberikan dukungan penuh mereka terhadap keinginan Uttejana untuk duduk di atas singgasana Jenggala.


Malam itu, Putri Uttejana masih terdiam tanpa suara di Keputren Istana Kotaraja Kahuripan menatap langit malam yang berhias bintang. Meski tak secerah saat musim penghujan, namun malam itu lumayan indah tak seperti biasanya.


Tiba-tiba saja ia merasakan hawa pembunuh mendekat. Segera dia menoleh ke arah selatan tepat saat Keswari sang abdi setia melompat turun dari atas tembok istana. Perempuan muda itu segera berlutut di hadapan Putri Uttejana sambil menghormat.


"Sudah ada hasilnya, Keswari?", tanya Putri Uttejana sambil berjalan mendekati pelayannya itu.


"Ampun Gusti Putri..


Mereka sepertinya hendak pergi ke Kotaraja Kahuripan. Mengenai keperluan mereka, sekilas saja hamba dengar bahwa mereka ingin bertemu dengan Gusti Prabu Samarotsaha", ucap Keswari sambil menunduk.


"Bertemu dengan Kanjeng Romo Prabu Samarotsaha?


Hemmmmmmm...


Kalau melihat dari pakaiannya, mereka cuma pendekar muda biasa. Tapi bertemu dengan seorang raja, itu hanya bisa dilakukan oleh duta besar dari negeri lain. Jangan-jangan mereka adalah duta dari Blambangan atau Panjalu atau juga mungkin dari Tanah Perdikan Lodaya. Ini semakin membuat ku penasaran saja.


Keswari, berangkatlah sekarang juga ke markas persembunyian di tepi pantai. Minta Nini Raga Setan untuk menghadang mereka di luar tapal batas Kotaraja", perintah Putri Uttejana segera.


"Baik Gusti Putri..", setelah berkata seperti itu, Keswari segera menghormat sebelum melesat cepat melompati tembok istana Kotaraja Kahuripan. Sebentar saja, tubuhnya sudah menghilang di balik kegelapan malam.


'Kalau dia bisa mengatasi perempuan tua itu, aku harus lebih berhati-hati saat menghadapinya", batin Uttejana sembari melangkah kembali ke dalam puri Keputren Istana Kotaraja Kahuripan.


Suara jangkrik dan belalang bersahutan seakan bernyanyi di malam itu. Burung hantu pun sesekali bersuara di atas ranting pohon cemara yang menghiasi istana ini. Malam terus merangkak naik ke singgasana nya.


Pagi hari itu diawali dengan suara kokok ayam jantan yang bersahutan dari berbagai arah. Semalam yang udaranya terasa begitu dingin, perlahan mulai menghilang bersamaan dengan munculnya sinar mentari pagi di ufuk timur.


Pagi hari itu, Panji Tejo Laksono berpamitan pada Rara Wandansari dan Bahuwirya untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Istana Kotaraja Kahuripan. Meskipun sedikit tak rela melepaskan kepergian sang pangeran muda ini, Rara Wandansari tidak punya alasan lagi untuk menahan kepergian sang pangeran. Dengan berat hati, dia mengantar kepergian Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya hingga pintu gerbang istana Pakuwon Carat.


Derap langkah kaki kuda terdengar sambung-menyambung saat kuda tunggangan Panji Tejo Laksono bergerak meninggalkan Kota Pakuwon Carat. Selepas melewati beberapa wanua dan persawahan luas, mereka memasuki sebuah hutan kecil yang jarang di tumbuhi pepohonan namun sesungguhnya itu adalah tempat yang berbahaya.


Begitu memasuki hutan kecil ini, entah darimana datangnya tiba-tiba kabut tebal muncul dan menutupi seluruh tempat itu hingga jalan raya yang menuju Kotaraja Kahuripan menjadi tidak terlihat jelas.


"Hati-hati dengan kabut ini, Kakang..


"Aku mengerti Kirana..


Meng Er, Ki Jatmika jangan terlalu jauh dari kelompok kita. Ada yang tidak beres dengan kabut ini", mendengar ucapan Panji Tejo Laksono, Ki Jatmika dan Song Zhao Meng buru-buru mendekatkan kuda mereka di samping Panji Tejo Laksono.


Kuda-kuda mereka berulang kali meringkik keras seperti sedang ketakutan dengan sesuatu.


Dari balik pepohonan yang tumbuh di kanan kiri jalan, lima orang perempuan berwajah aneh seperti asu ajag (anjing liar) muncul. Setelah saling berpandangan sejenak, salah seorang diantara langsung melolong panjang.


Auuuuuwwwwwwww.....


Suara lolongan panjang itu semakin membuat suasana seram di hutan kecil ini. Setelah itu kelima perempuan berwajah asu ajag ini langsung melompat ke atas Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya sambil mengayunkan cakar tangan mereka yang memiliki kuku tajam.


Shhrrraaakkkkkhh shhrrraaakkkkkhh!!


"Awas ada serangan..!!!", teriak Panji Tejo Laksono sambil melompat menghindari serangan cepat dari perempuan berwajah asu ajag ini.


Panji Tejo Laksono langsung di kepung oleh dua orang perempuan berwajah aneh ini sedangkan Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng masing-masing menghadapi seorang perempuan yang bergerak layaknya gerakan seekor hewan buas.


Pertarungan sengit pun segera terjadi.


Satu orang perempuan berwajah aneh yang memakai selendang ungu dengan cepat mengayun cakar tangan kanan ke arah kaki Panji Tejo Laksono.


Shhrreeettthhh!!


Dengan lincah, Panji Tejo Laksono mengangkat kakinya sebelah kanan untuk menghindari cakaran perempuan yang mirip dengan binatang buas ini. Sedangkan satu orang perempuan itu langsung menerkam ke- arah kepala sang pangeran. Panji Tejo Laksono dengan cepat berguling menghindari terkaman itu sembari melayangkan tendangan memutar yang keras ke arah pinggang si perempuan yang menerkam nya.


Bhhhuuuuuuggggh..


Oouuugghhhhhh!!


Si perempuan berwajah asu ajag ini langsung terpental 1 tombak ke belakang. Namun dia segera bangkit dan kembali memburu Panji Tejo Laksono bersama salah satu kawannya.


Tanpa di sadari oleh Panji Tejo Laksono, pertarungan mereka semakin menjauhi tempat Song Zhao Meng, Ki Jatmika dan Dyah Kirana. Mereka sepertinya sedang merencanakan sesuatu.


Dhasshhh dhasshhh!!


Kedua perempuan berwajah aneh ini langsung terjengkang usai tendangan keras Panji Tejo Laksono menghajar dada mereka. Namun saat itu juga keduanya segera berdiri. Dari atas pepohonan muncul seorang wanita tua yang bertubuh sedikit gemuk yang mengenakan pakaian serba hitam. Perempuan tua itu segera melemparkan sebuah jala yang terbuat dari benang benang sutera berwarna coklat kearah Panji Tejo Laksono.


Whhhuuuuuusssshhh!!


Panji Tejo Laksono tak sempat mengelak dan langsung terperangkap dalam jala benang sutera ini. Dengan sekuat tenaga Panji Tejo Laksono berusaha untuk merobek jala ini namun benang sutera itu tak juga robek.


Wanita tua bertubuh sedikit gemuk itu melayang turun sambil tersenyum lebar.


"Hahahaha...


Jala Pengurung Jiwa bukan sembarang jala, bocah bagus. Sekali terjerat, kau tidak akan pernah bisa lepas dari nya", ucap perempuan tua yang berpupur tebal yang tak lain adalah Nini Raga Setan. Dia adalah salah seorang dari 5 sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah yang merupakan pilar kekuatan dari kelompok ini. Kemampuan beladiri nya jauh lebih tinggi dari Sepasang Iblis Pemotong Kepala yang tempo hari menantang Panji Tejo Laksono.


Di masa itu, para pendekar dunia persilatan yang malang melintang mengenal baik sepak terjangnya sebagai salah satu dedengkot dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur. Konon kabarnya, perempuan tua yang tubuhnya menebarkan aroma busuk layaknya bau mayat ini tidak bisa mati karena memiliki kesaktian yang di luar nalar. Ajian Nawa Jiwa yang dia miliki menjadi andalan perempuan paruh baya itu mengalahkan musuh-musuhnya. Bahkan Maharesi Mpu Anubhawa dari Gunung Gajahmungkur pun juga mengakui kehebatan perempuan yang selalu memakai cunduk mentul berwarna perak di gelungan rambutnya ini.


Tak bisa merusak Jala Pengurung Jiwa, Panji Tejo Laksono segera memusatkan tenaga dalam nya dan dengan cepat merapal mantra Ajian Halimun. Kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono dan sebentar kemudian tubuh sang pangeran muda ini segera menghilang dari kurungan Jala Pengurung Jiwa.


Ini membuat Nini Raga Setan terkejut bukan main. Selama ini tak satupun pendekar yang berhasil lolos dari jerat Jala Pengurung Jiwa. Ini adalah kali pertama hal itu terjadi.


Nini Raga Setan segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu sambil menarik Jala Pengurung Jiwa nya. Kabut putih yang menutupi seluruh hutan kecil ini adalah ciptaan nya yang merupakan kedigdayaan Ajian Selimut Kabut. Tapi sialnya ilmu kesaktiannya ini justru malah di gunakan oleh Panji Tejo Laksono untuk mengaburkan pandangan mata nya.


"Bocah Keparat...


Tunjukkan wujud mu. Ayo kita bertarung", teriak Nini Raga Setan lantang. Pandangan mata nya terus berputar di sekitar tempat itu untuk mencari sosok Panji Tejo Laksono.


Dua orang perempuan berwajah asu ajag juga mengendus-endus, berusaha untuk mencari keberadaan sosok Panji Tejo Laksono dari bau tubuhnya namun mereka juga tidak bisa menemukan keberadaan sang pangeran.


Dari arah belakang, tepat di bekas tempat Jala Pengurung Jiwa tadi, Panji Tejo Laksono muncul sambil berkata,


"Aku masih disini.."