Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Teka Teki


"Dua puluh ribu orang prajurit..


5000 orang prajurit berkuda, 10.000 orang prajurit berjalan kaki, 3 ribu orang prajurit pemanah dan 2000 orang prajurit perbekalan. Seluruh kebutuhan senjata mereka telah lengkap, tinggal menyelesaikan latihan saja.


Aku sudah mengatakan semua yang aku tahu. Tolong jangan siksa aku lagi", ucap Juru Mpu Klinting penuh harap. Penyiksaan yang dilakukan oleh Demung Gumbreg benar-benar menyakiti seluruh tubuhnya.


Panji Tejo Laksono terhenyak mendengar jawaban itu. 20 ribu orang prajurit setara dengan kekuatan satu kadipaten. Jika digabungkan dengan kekuatan pelatihan prajurit di Karang Anom, maka jumlah nya sebesar separuh kekuatan prajurit Panjalu di Kotaraja Daha. Jika sampai mereka melakukan pemberontakan terhadap Panjalu dengan jumlah prajurit hanya segitu, maka mereka hanya akan mengantar kematian saja. Dan hanya orang bodoh saja yang akan melakukannya.


Lantas bagaimana caranya mereka ingin memaksakan kehendak kepada kerajaan Panjalu dengan kekuatan yang sangat minim? Inilah yang menjadi dasar pemikiran yang membingungkan bagi sang pangeran muda.


Hemmmmmmm...


"Baiklah, Juru Mpu Klinting..


Karena kau sudah jujur maka aku juga akan melepaskan mu tapi tidak saat ini. Besok pagi akan ada orang yang akan datang untuk melepaskan mu dari tiang rumah itu. Jangan pernah coba-coba untuk berteriak. Sekalipun tenggorokan mu sampai kering dan mengeluarkan darah, tidak akan ada orang yang akan datang untuk menolong mu. Tempat ini sangat jauh dari pemukiman penduduk", lalu setelah selesai bicara demikian, Panji Tejo Laksono langsung berbalik badan dan melangkah menuju ke arah luar rumah tua itu sembari berkata, " Kita pergi dari sini. Masih ada urusan penting yang harus kita lakukan".


Mendengar perintah dari sang pimpinan, seluruh pengikut Panji Tejo Laksono satu persatu mulai beranjak meninggalkan Mpu Klinting yang masih terikat pada tiang rumah tua itu. Meskipun dia memohon-mohon untuk dilepaskan, namun tak satupun orang yang menggubris permintaannya.


Rombongan Panji Tejo Laksono langsung kembali ke Kota Kadipaten Anjuk Ladang. Saat tiba di penginapan tempat mereka bermalam, langit barat telah menghitam sempurna sebagai tanda bahwa malam mulai menyelimuti seluruh wilayah Kota Kadipaten Anjuk Ladang. Beberapa orang prajurit patroli pengamanan di Kota Kadipaten Anjuk Ladang yang lewat di samping penginapan sempat melirik ke arah mereka, namun setelah yakin bahwa rombongan itu orang baik-baik, mereka mengacuhkannya tanpa berhenti bergerak.


Cendana dan Cendani beserta dua orang prajurit pengawal pribadi Senopati Sembada diperintahkan untuk beristirahat di tempat mereka masing-masing. Demung Gumbreg yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling rendah, juga harus tinggal di penginapan.


Panji Tejo Laksono memang mengubah rencana untuk menemui Adipati Sasrabahu secara terang-terangan setelah menghabisi nyawa Iblis Bukit Manoreh sesuai dengan permintaan sang penguasa Kadipaten Anjuk Ladang. Melihat situasi yang masih serba tidak jelas, dia bermaksud untuk menemui Adipati Sasrabahu dengan diam-diam agar tidak menarik perhatian para mata-mata kelompok Mpu Sena yang mungkin telah ditempatkan di sekitar istana Anjuk Ladang.


Setelah memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat mereka, Panji Tejo Laksono langsung menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke dan mendarat di salah satu atap bangunan yang ada di samping penginapan tempat peristirahatan mereka. Endang Patibrata, Tumenggung Ludaka dan Senopati Sembada pun segera menyusul sang pangeran muda dengan ilmu meringankan tubuh nya.


Dengan gerakan cepat dan ringan, mereka berempat menggunakan atap-atap rumah penduduk di Kota Kadipaten Anjuk Ladang sebagai pijakan untuk mendekati Istana Adipati Sasrabahu. Hanya dalam waktu beberapa tarikan nafas saja, mereka berempat pun telah sampai di salah bangunan yang paling dekat dengan tembok istana Anjuk Ladang.


Panji Tejo Laksono langsung menghentikan gerakannya. Begitu juga dengan Endang Patibrata, Tumenggung Ludaka dan Senopati Sembada. Diantara tembok istana dan atap bangunan rumah penduduk, terbentang jalan seluas sekitar 20 Depa. Disana serombongan orang prajurit Anjuk Ladang sedang berjalan beriringan berpatroli rutin di sekitar tembok istana itu.


Setelah patroli pengamanan prajurit itu menjauh, Panji Tejo Laksono pun segera melesat cepat kearah tembok istana yang tinggi nya sekitar 4 kali tinggi orang dewasa atau sekitar 8 hasta. Begitu sampai di tembok, mereka langsung merapatkan tubuhnya ke tembok istana. Kegelapan malam memang membantu pergerakan mereka.


Begitu keadaan aman, Tumenggung Ludaka menyatukan jari jemari tangannya dan merapat erat. Panji Tejo Laksono langsung mengambil ancang-ancang lalu berlari ke arah Tumenggung Ludaka. Sang pangeran muda menggunakan tapak tangan Tumenggung Ludaka hingga tubuhnya dengan mudah melenting tinggi ke udara dan mendarat di atas tembok istana tanpa ribut sedikitpun. Selepas itu giliran Endang Patibrata dan Senopati Sembada. Saat Senopati Sembada telah ada di atas tembok istana, dia segera melemparkan tali tambang yang diikat pada tiang batu itu ke bawah. Tumenggung Ludaka segera memanjat tembok tinggi istana Anjuk Ladang itu dengan bantuan tali. Sesampainya di atas, Tumenggung Ludaka segera menggulung tali agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Selepas semuanya sudah berada di atas, mereka bergerak cepat menuju ke arah bangunan besar yang ada di tengah istana. Gerakan tubuh mereka yang ringan, tak membuat keributan sedikitpun hingga mereka akhirnya tiba di ruang pribadi Adipati Anjuk Ladang.


"Lantas apa yang harus ku lakukan untuk menghadapi semua masalah ini, Paman Patih Waseso?


Jujur aku tidak mau jika harus menjadi budak keinginan serakah Paman Mpu Sena", ujar Adipati Sasrabahu sembari menunggu jawaban orang nomor dua di Kadipaten Anjuk Ladang itu.


Sedari tadi mereka berdua berbincang tentang situasi terkini di wilayah Kadipaten Anjuk Ladang. Tentang bahaya bencana kelaparan juga musim paceklik yang mulai melanda wilayah mereka. Itu semua berkaitan erat dengan pelatihan para prajurit yang sedang di lakukan oleh Mpu Sena.


"Jujur saja hamba juga bingung mau bagaimana lagi untuk mengatasi masalah ini, Gusti Adipati..


Tapi yang hamba inginkan hanya agar gudang pangan istana tidak tersedot habis untuk membiayai pelatihan gila-gilaan itu", Mpu Waseso sang patih Kadipaten Anjuk Ladang menghormat pada Adipati Sasrabahu setelah berbicara.


Adipati Sasrabahu memijat kepalanya yang terasa pusing. Masalah yang sedang ia hadapi, bagaikan dua sisi mata pedang yang sama-sama tajam. Bila sekali salah melangkah, maka sudah pasti dia akan mendapat masalah besar.


"Untuk apa pusing memikirkan hal yang belum terjadi, Adipati Sasrabahu?!"


Suara berat nan berwibawa ini langsung membuat kedua pucuk pimpinan Kadipaten Anjuk Ladang itu terkejut bukan main dan menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat kedatangan Panji Tejo Laksono diikuti oleh Tumenggung Ludaka, Endang Patibrata dan Senopati Jakarta, keduanya bergegas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan memapak pergerakan sang pangeran muda dan para pengikutnya. Di hadapan Panji Tejo Laksono, Adipati Sasrabahu dan Patih Mpu Waseso segera berjongkok dan menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Sembah bakti kami Gusti Pangeran", ujar Adipati Sasrabahu dan Patih Mpu Waseso segera.


"Bangunlah, sembah bakti kalian sudah aku terima", jawab Panji Tejo Laksono seraya mengangkat tangan kanannya. Kedua orang itu segera bangkit dan mempersilahkan kepada Panji Tejo Laksono untuk berjalan lebih dulu memasuki ruang pribadi adipati.


Begitu sampai di sana, Panji Tejo Laksono langsung duduk di lantai tempat itu diikuti oleh para pengikutnya. Juga Adipati Sasrabahu dan Patih Mpu Waseso. Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Tumenggung Ludaka, dan perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera maju sembari membuka buntalan kain hitam panjang yang berbau amis darah. Begitu buntalan kain hitam itu terbuka, Adipati Sasrabahu dan Patih Mpu Waseso langsung menutup hidungnya karena bau tidak sedap yang menyengat keluar dari potongan lengan kanan Iblis Bukit Manoreh yang mulai membusuk.


"A-apa ini Gusti Pangeran?", tanya Adipati Sasrabahu segera.


"Ini adalah potongan lengan kanan Iblis Bukit Manoreh. Aku tidak sempat memotong kepalanya karena tubuhnya keburu musnah oleh Ilmu Sembilan Matahari ku.


Senopati Sembada dari Kadipaten Lewa saksinya", Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Senopati Sembada segera.


Hemmmmmmm...


"Kalau begitu aku percaya dengan bukti yang Gusti Pangeran bawa", setelah berkata demikian, Adipati Sasrabahu segera bertepuk tangan dua kali dan seorang prajurit penjaga langsung mendekati mereka. Kepadanya, Panji Tejo Laksono meminta agar potongan lengan itu di bakar hingga menjadi abu. Sang prajurit mengangguk mengerti dan bergegas pergi dari tempat itu sembari membawa potongan lengan kanan Iblis Bukit Manoreh.


"Aku sudah memberikan apa yang kau minta, Adipati Sasrabahu.


Sekarang tinggal apa yang kau janjikan kepada ku. Katakan, siapa saja yang terlibat dalam upaya merongrong kewibawaan Pemerintah Kotaraja Daha?", Panji Tejo Laksono menatap wajah Adipati Sasrabahu.


"Hamba tidak akan ingkar janji, Gusti Pangeran..


Siapa-siapa saja yang terlibat dalam masalah ini, silahkan Gusti Pangeran baca sendiri", Adipati Sasrabahu merogoh balik bajunya dan menghaturkan kantong kain berwarna hitam pada sang pangeran muda. Panji Tejo Laksono menerimanya dan segera membuka kantong kain hitam itu. Beberapa lembar daun lontar yang terikat satu benang langsung di baca oleh Panji Tejo Laksono helai demi helai.


Mpu Kepung, Mpu Sena, Mpu Gandasena, Juru Panewu, Wiku Wikalpa, Rangga Jambu, Demung Randusongo dan beberapa nama lain tercantum dalam lembaran daun lontar yang dibaca oleh Panji Tejo Laksono.


"Kau tidak terlibat dalam masalah ini, Adipati Sasrabahu?", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah Adipati Sasrabahu seraya memasukkan kantong kain hitam itu ke balik bajunya.


"Hamba hanya orang yang di peras oleh Mpu Sena yang mengetahui beberapa rahasia kelam kehidupan hamba, Gusti Pangeran.


Meskipun dia masih kerabat dekat hamba, tapi hamba tidak pernah setuju sedikit pun dengan semua keinginan pribadinya. Hamba tetap setia pada Gusti Prabu Jayengrana dan Kerajaan Panjalu", ucap Adipati Sasrabahu dengan tegas.


Hemmmmmmm...


"Aku akan membantumu untuk menghadapi masalah mu dengan Mpu Sena, Adipati Sasrabahu. Hal apa yang akan ku lakukan, kau akan tahu sendiri nantinya.


Setelah kau tahu apa yang aku lakukan, segera kirim orang-orang kepercayaan mu untuk datang ke Seloageng. Satu lagi, seorang anak buah mu sedang terikat di sebuah rumah tua di barat tapal batas Kota Anjuk Ladang. Kirim orang mu kesana, jika kau masih membutuhkan tenaga nya.


Aku permisi..", setelah berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia langsung memegang tangan kiri Endang Patibrata. Sang putri Wanua Pulung ini langsung memegang tangan Tumenggung Ludaka yang juga memegang erat tangan Senopati Sembada. Sekejap berikutnya, asap putih tipis menutupi seluruh tubuh mereka dan dalam hitungan kejap mata saja mereka semua telah menghilang dari pandangan mata Adipati Sasrabahu dan Patih Mpu Waseso.


Hemmmmmmm..


"Aku penasaran dengan apa yang hendak di lakukan oleh Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono untuk membantu ku mengatasi masalah dengan Paman Sena, Paman Patih Waseso", ujar Adipati Sasrabahu usai kepergian sang pangeran.


"Kita tunggu saja disini Gusti Adipati..


Hanya itu saja yang bisa kita lakukan sekarang", jawab Patih Mpu Waseso segera. Lelaki tua itu sudah tidak mau dipusingkan dengan segala masalah yang melanda pihak Istana Kadipaten Anjuk Ladang.


Tak berapa lama kemudian, dua orang prajurit bergegas berlari menuju tempat Adipati Sasrabahu dan Patih Mpu Waseso dengan wajah pucat dan nafas memburu.


"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kalian datang tanpa di panggil?", tanya Adipati Sasrabahu segera.


"I-itu Gusti Adipati itu...


Gudang pangan istana Anjuk Ladang di selatan dan barat kota terbakar. Sepertinya sengaja dibakar orang", lapor mereka dengan cepat.


APPAAAAAAAAAAAA??!!!!


Betapa terkejutnya Adipati Sasrabahu dan Patih Mpu Waseso mendengar laporan itu. Adipati Sasrabahu bahkan langsung berdiri dari tempat duduknya.


Gudang pangan Istana Kadipaten Anjuk Ladang di selatan dan barat Kota Kadipaten Anjuk Ladang adalah gudang pangan terbesar yang mereka miliki. Dua tempat itu setidaknya akan menjamin kehidupan perputaran bahan pangan di Anjuk Ladang selama 2 bulan ke depan. Jika itu terbakar, tiga gudang pangan kecil lainnya hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan selama 1 purnama saja. Ini benar-benar masalah besar.


"Kurang ajar!!


Siapa pula yang berani berbuat hal sekejam itu di Anjuk Ladang? Kalau sampai ketemu, akan ku kuliti dia hidup-hidup", geram Adipati Sasrabahu dengan penuh amarah. Sementara itu, Patih Mpu Waseso justru malah diam sembari mengerutkan dahinya.


"Jangan jangan hemmmmmmm..


Pasti ini pasti bukan kebakaran biasa. Iya pasti, ini adalah bantuan yang dimaksud oleh Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", ujar Patih Mpu Waseso segera.


Adipati Sasrabahu langsung menatap wajah sepuh Patih Mpu Waseso dengan wajah penuh keheranan.


"Apa maksud mu Paman Patih?"