
Sementara Kelompok Bulan Sabit Darah sedang sibuk mengatur rencana untuk menyerbu ke Pertapaan Gunung Mahameru, suasana di sekitar Pertapaan Gunung Mahameru telah ramai dikunjungi oleh para tamu undangan dan para penduduk sekitarnya yang ingin menyaksikan langsung upacara pernikahan Dyah Kirana yang selama ini di puja sebagai titisan Dewi Kamaratih oleh mereka.
Ratusan orang bahkan rela jauh-jauh hari datang ke tempat terpencil ini hanya untuk melihat siapa sosok lelaki yang beruntung bisa menjadikan Dyah Kirana sebagai istrinya. Semuanya bahkan membangun tenda perkemahan sementara di sekitar pagar Pertapaan Gunung Mahameru. Dalam waktu sehari saja, setidaknya ada puluhan tenda sementara yang terbuat dari anyaman daun kelapa berdiri di sekitar pertapaan. Tiap tenda sementara, tak kurang dari 4 sampai 5 orang yang menghuni sehingga sekitar Pertapaan Gunung Mahameru yang semula sepi kini mendadak ramai dengan kehadiran mereka.
"Mereka ini benar-benar kurang kerjaan saja..
Buat apa mereka semua datang dan meramaikan tempat ini coba?", ucap Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru sembari menggelengkan kepalanya sebagai tanda keheranan melihat ramainya pengunjung di luar pagar pertapaan.
"Mungkin mereka penasaran Guru..
Bagaimanapun juga, Nini Kirana adalah kembang pertapaan ini. Dia tersohor sebagai titisan Dewi Kamaratih karena kecantikannya. Banyak pemuda yang patah hati saat mendengar kabar Nini Dyah Kirana akan melangsungkan pernikahan. Jadi selain ingin turut bersuka cita mengantar Nini Kirana melepas masa lajangnya, saya yakin mereka pasti penasaran dengan calon suami dari pujaan mereka", urai panjang lebar salah satu murid utama Pertapaan Gunung Mahameru, Bayuaji, yang kebetulan sedang bertugas untuk menemani Resi Ranukumbolo memeriksa persiapan untuk acara esok hari.
"Hahahaha kau bisa saja, Bayuaji..
Yah siapapun yang menjadi jodoh putri ku, aku hanya bisa berharap dan berdoa agar kebahagiaan selalu menyertai setiap langkah kaki nya. Semoga Hyang Batara Agung selalu memberkati nya dengan sejuta cinta dari suami pilihan nya.
Satu lagi jangan kendurkan kewaspadaan terhadap semua orang yang ada disini. Aku tidak mau kebahagiaan putri ku di rusak oleh orang yang tidak bertanggungjawab", ucap Resi Ranukumbolo sembari tersenyum menatap ke ramainya orang yang ada di luar pagar pertapaan.
"Baik Guru..!!", sahut Bayuaji sembari menghormat pada gurunya sebelum kedua nya kembali berkeliling memeriksa persiapan sore hari itu.
Di dalam bilik kamar tidur Dyah Kirana, nampak perempuan cantik itu sedang membersihkan sisa-sisa lulur yang melekat di kulit indahnya. Di bantu oleh Song Zhao Meng dan Nyi Sri Tanjung sang ibu asuh nya, mereka bertiga terlibat pembicaraan serius.
"Wah, benar benar istimewa. Kau sungguh-sungguh cantik, Nimas Kirana!", puji Song Zhao Meng sembari mengusapkan kain basah ke bahu Dyah Kirana.
"Ah Kangmbok Wulandari..
Kangmbok sendiri lebih putih dari ku. Dibandingkan dengan kulit ku yang hanya kuning langsat ini, aku bukanlah apa-apa", balas Dyah Kirana merendah.
"Eh kalian berdua ini loh sama-sama cantik, sama-sama punya kelebihan masing-masing. Jadi tidak perlu saling merendah.
Selanjutnya kalian berdua harus saling berbagi tugas dan tanggung jawab bersama dengan suami kalian. Wulan, kau yang lebih tua, aku berharap kau bisa menjaga Kirana dengan baik", ujar Nyi Sekar Tanjung menengahi omongan mereka.
"Aku mengerti Nyi", Song Zhao Meng memamerkan lesung pipinya sambil tersenyum penuh arti.
"Dan kau Kirana..
Sebagai yang muda, kau harus bisa membawa diri mu ke dalam rumah tangga kalian. Gunakan adab dan sopan santun mu pada Wulan, karena bagaimanapun kau bisa hadir di kehidupan Pangeran Panji Tejo Laksono juga atas seijin Wulandari. Hormati dan hargai dia selayaknya kau menghargai kakak perempuan mu sendiri", petuah bijak dari Nyi Sri Tanjung meluncur indah di pendengaran Dyah Kirana.
"Baik Biyung. Aku akan patuh pada nasehat Biyung", jawab Dyah Kirana yang disambut senyum lebar oleh Nyi Sekar Tanjung.
Malam itu, suasana Pertapaan Gunung Mahameru benar-benar ramai dengan kehadiran para tamu undangan dan pengunjung yang ingin menyaksikan langsung upacara pernikahan itu. Meski angin dingin berdesir perlahan dari puncak Gunung Mahameru terasa dingin menusuk tulang, namun itu tak menyurutkan semangat mereka untuk menyongsong esok hari saat upacara pernikahan itu dilaksanakan.
Keesokan paginya, suasana di Pertapaan Gunung Mahameru telah sibuk meski matahari pagi masih belum menampakkan diri di ufuk timur. Para perempuan desa yang di sewa untuk membantu menyiapkan aneka macam hidangan sudah sibuk di dapur sejak kemarin, pagi ini sudah terlihat meramu aneka bumbu dapur dengan bahan masakan yang sudah di siapkan. Sebentar lagi acara pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana akan di langsungkan dan mereka ingin menyaksikan langsung prosesi pernikahan paling tersohor di sekitar tempat itu.
Asap putih berbau harum kemenyan dan setanggi yang di bakar, membuat suasana sakral di tempat itu semakin terasa. Aneka bebungaan yang di taburkan pada pelaminan yang berhias janur kuning melengkung semakin memperindah suasana.
Para penabuh gamelan mulai membunyikan alat musik pegangan mereka masing-masing. Tak berapa lama kemudian, Panji Tejo Laksono yang telah berdandan sebagai pengantin yang menggunakan kain putih dengan sumping bunga di telinga, berjalan keluar. Ki Jatmika mendampingi langkah sang pangeran muda menuju pelaminan. Ratusan orang yang sudah lama duduk bersila di bawah tenda yang terbuat dari anyaman daun kelapa langsung menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Wah pantas saja Nini Dyah Kirana mau bersanding dengan orang itu. Dia tampan sekali", bisik salah seorang tamu undangan.
"Kau benar..
Kalau dibandingkan dengan dia, aku langsung sadar diri. Bagaikan langit dan bumi hehehe", timpal seorang lelaki muda yang duduk di sebelahnya.
Berbagai kasak-kusuk terus terdengar diantara para tamu undangan. Rata-rata mereka memuji ketampanan Panji Tejo Laksono dan pantas menjadi pendamping hidup Dyah Kirana yang mereka anggap sebagai titisan Dewi Kamaratih.
Dari arah berlawanan, Dyah Kirana melangkah keluar menuju ke arah pelaminan di dampingi oleh Song Zhao Meng dan Nyi Sri Tanjung. Para lelaki muda yang begitu memuja Dyah Kirana, langsung melongo melihat kecantikan perempuan itu yang kini berdandan cantik layaknya seorang pengantin. Dengan baju kemben berwarna putih dari kain sutra dan jarit putih yang berhias benang emas, Dyah Kirana menjelma menjadi seorang wanita cantik yang luar biasa.
Begitu sampai di pelaminan, Dyah Kirana segera duduk bersanding dengan Panji Tejo Laksono. Resi Ranukumbolo segera mempersilahkan kepada Maharesi Mpu Kerta, sesepuh Pertapaan Gunung Mahameru untuk memimpin upacara.
Maharesi Mpu Kerta segera berdiri. Mulut kakek tua berjanggut panjang memutih itu nampak komat kamit membaca mantra pernikahan.
"Oh Sanghyang Tunggal Pencipta Semesta,
Kau penguasa segala kehidupan manusia, berkahi kedua orang mempelai ini agar mampu menjalankan dharma nya sebagai manusia. Berikan kepada mereka, kebahagiaan abadi dalam menapaki jalan kehidupan. Anugerah kan pada mereka, keturunan keturunan terbaik yang senantiasa selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Oh Jagad Dewa Batara Yang Agung,
Sementara Maharesi Mpu Kerta membacakan mantra mantra pernikahan untuk mereka, para perempuan dari pihak keluarga mempelai perempuan terus menaburkan bebungaan ke arah mereka berdua.
Selesai membacakan mantra pernikahan untuk Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana, Maharesi Mpu Kerta segera mengambil sebuah bokor kuningan yang berisi beras yang di berkati dengan air suci, mengambil sejumput beras dan menempelkannya pada dahi Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana.
Usai tanda pengesahan suami istri itu, Maharesi Mpu Kerta tersenyum memandang ke arah Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana yang masih duduk dengan tenang di atas pelaminan.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Sebagai salah satu dari tanda bakti mu untuk suami, Nini Dyah Kirana silahkan mencuci kaki Nakmas Tejo".
Mendengar ucapan itu, segera Panji Tejo Laksono bangkit dan berdiri di depan Dyah Kirana yang kini telah resmi menjadi istri nya. Dyah Kirana pun segera mencuci kaki Panji Tejo Laksono dengan air bunga yang sudah di siapkan. Mereka menjalankan ritual ini dengan penuh penghayatan.
Setelah itu, satu persatu ritual pernikahan di lalui. Sampai saat yang terakhir yaitu sungkem kepada Resi Ranukumbolo dan Nyi Sri Tanjung. Keduanya segera berlutut dan menyembah pada dua orang sepuh itu.
"Aku titipkan putri kesayangan ku, Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono. Jaga dia dengan seluruh kemampuan mu. Jangan pernah menyakiti nya", ujar Resi Ranukumbolo sembari mengusap bulir air mata yang tiba-tiba saja jatuh dari pelupuk mata tua nya.
"Aku berjanji untuk selalu menjaga Dyah Kirana, Romo Resi", balas Panji Tejo Laksono segera. Resi Ranukumbolo menepuk-nepuk pundak sang pangeran muda ini perlahan.
Setelah rampung prosesi pernikahan itu, kedua orang pengantin baru ini kembali duduk di pelaminan. Sedangkan acara selanjutnya adalah makan-makan bersama di selingi acara hiburan dari para penghibur keliling yang di panggil oleh Resi Ranukumbolo. Suasana kegembiraan begitu terasa di tempat itu.
Panji Tejo Laksono melirik ke arah Dyah Kirana yang ternyata juga sedang meliriknya. Perempuan cantik itu segera menundukkan wajahnya yang semburat merah karena malu ketahuan melirik sang pangeran.
Acara ramah tamah itu berlangsung hingga sore hari. Sebagian besar tamu undangan sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, menyisakan sedikit orang yang masih bertahan karena mereka adalah teman baik Resi Ranukumbolo dan tempat tinggal mereka cukup jauh untuk pulang hari itu juga.
Di balai utama Pertapaan Gunung Mahameru, Resi Ranukumbolo berbincang dengan para tamu nya. Sedangkan di dalam bilik kamar tidur pengantin yang berhias bunga mawar yang indah, Panji Tejo Laksono yang berdiri di dekat jendela, terlihat menatap ke arah barat. Melihat itu, Dyah Kirana yang baru saja selesai melepas perhiasan yang digunakan saat upacara pernikahan, segera mendekati sang suami.
"Ada apa Kangmas? Sepertinya ada sesuatu yang sedang kau pikirkan..", Dyah Kirana segera mendekatkan tubuhnya di samping Panji Tejo Laksono dan merebahkan kepalanya di bahu kiri sang pangeran dengan mesra.
"Ah tidak apa-apa, Dinda..
Ini sudah malam, sebaiknya kita segera beristirahat. Acara tadi siang benar-benar membuat ku lelah", Panji Tejo Laksono perlahan berjalan mendekati ranjang pengantin dan membiarkan Dyah Kirana tetap menempel pada bahunya.
Sesampainya di ranjang, Panji Tejo Laksono segera merebahkan tubuhnya. Dyah Kirana pun segera menyusul sang suami dan kembali meletakkan kepalanya di dada bidang Panji Tejo Laksono.
Perlahan Panji Tejo Laksono mengelus pipi ranum Dyah Kirana. Lalu dengan lembut, dia mengecup kening sang kembang Pertapaan Gunung Mahameru itu. Dyah Kirana langsung memejamkan matanya saat kecupan mesra Panji Tejo Laksono mulai bergerak turun ke arah bibir. Tanpa menunggu lama lagi, bibir pangeran tampan dari Kotaraja Daha itu segera memagut bibir mungil Dyah Kirana. Ciuman mesra itu semakin lama semakin panas setelah nafas Panji Tejo Laksono mulai terdengar memburu.
Perlahan, tangan kiri Panji Tejo Laksono mulai meraih setagen yang mengikat jarit putih Dyah Kirana, sementara tangan kanannya mulai menelusup ke balik kemben sang putri Resi Ranukumbolo itu. Dyah Kirana merem melek menerima setiap sentuhan Panji Tejo Laksono.
Sekejap kemudian, terdengar lengguh dan erangan penuh kenikmatan surgawi dari dalam bilik kamar tidur pengantin baru ini. Setelah cukup lama berpacu mendaki puncak kenikmatan, Panji Tejo Laksono melengguh tertahan dan menggelepar di atas tubuh Dyah Kirana. Peluh dan keringat membasahi tubuh keduanya.
Namun saat itu, sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Dari arah barat, ratusan orang berpakaian hitam dengan tudung merah darah bergerak cepat mendekati Pertapaan Gunung Mahameru. Semua orang memakai topeng separuh wajah dengan gambar bulan sabit terbalik berwarna merah menyala.
Begitu sampai di depan pintu gerbang Pertapaan Gunung Mahameru, salah seorang diantara mereka langsung melemparkan sebuah tombak ke arah salah seorang murid penjaga gerbang.
Whhhuuutthh...
Jllleeeeeppppphhh aaauuuuggggghhhhh!!
Penjaga gerbang Pertapaan Gunung Mahameru yang naas itu langsung roboh dengan perut tertembus tombak. Kawannya yang melihat kejadian itu langsung berteriak keras sambil menyambar kentongan yang ada di sebelah nya dan memukul kentongan dengan keras sebagai tanda bahaya.
Thhoonngggg thhongg thhoonggg!!!!
"Ada rajapati... Ada pembunuh!!!!"
Sontak saja semua orang yang ada di dalam Pertapaan Gunung Mahameru terkejut bukan main. Resi Ranukumbolo, Resi Mpu Dipa dari Padepokan Lereng Selatan Mahameru dan Gardika si Pendekar Harimau Putih dari Perguruan Macan Mahameru terperanjat mendengar tanda bahaya ini .Mereka saling berpandangan sejenak lalu dengan cepat melesat ke arah pintu gerbang pertapaan.
Begitu mereka bertiga sampai di gerbang Pertapaan Gunung Mahameru, mereka terkejut bukan main melihat ratusan orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah muncul dari kegelapan malam dan mulai maju ke depan pintu gerbang Pertapaan Gunung Mahameru.
"Rupanya orang-orang Kelompok Bulan Sabit Darah yang cari perkara di tempat ini. Apa kalian ingin adu ilmu kanuragan di sini ha?", teriak Resi Mpu Dipa dari Padepokan Lereng Selatan Mahameru keras.
Orang-orang Kelompok Bulan Sabit Darah segera tersibak dan memberi jalan. Dari sana Mpu Jiwan, Malaikat Bertopeng Emas, Bidadari Bertopeng Perak, Badragenta dan Mpu Mahasura sang Pendeta Darah melangkah maju ke depan. Tentu saja ini mengejutkan semua orang yang melihat kemunculan para petinggi kelompok pembuat onar ini bersamaan.
Malaikat Bertopeng Emas langsung menjawab omongan Resi Mpu Dipa dengan sengit,
"Kalau iya, kau mau apa?!"