Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Perubahan


Sisa prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram yang menyerah, langsung di gelandang menuju ke penjara Kotaraja Daha. Sedangkan mayat yang bergelimpangan segera di bersihkan agar tidak menimbulkan penyakit juga untuk menegakkan wibawa Istana Katang-katang di mata para penduduk Kotaraja Daha. Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg serta Tumenggung Narasuta pun di tugaskan untuk mengurusi semuanya. Mereka menjalankan tugas nya dengan cepat dan nyaris tanpa suara.


Namun beberapa orang penduduk yang berdiam di sekitar gerbang selatan istana yang juga menyaksikan upaya penerobosan Istana Katang-katang oleh Adipati Arya Natakusuma ini ikut menyaksikan langsung kehebohan itu.


Keesokan paginya, berita ini langsung menjadi buah bibir masyarakat Kotaraja Daha. Berbagai versi cerita beredar luas di masyarakat tentang hal ini. Gerbang selatan Istana Katang-katang yang hancur menjadi saksi bisu atas kejadian yang sangat tidak terduga itu.


Di sebuah warung makan yang tak jauh dari pintu gerbang selatan, puluhan orang berkerumun sembari menikmati makanan. Seraya menatap ke arah para prajurit Panjalu yang membereskan sisa-sisa puing bangunan yang hancur berantakan akibat pertempuran sengit semalam, mereka berbincang-bincang tentang hal itu.


"Kau lihat itu patung, Jo..


Tadi malam itu hancur akibat pertarungan sengit antara Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Dengar-dengar, mereka itu adalah orang-orang dari wilayah barat loh", ujar seorang lelaki tua berjanggut pendek yang mengenakan ikat kepala kain hitam dan tidak memakai baju sembari mengunyah singkong rebus yang penuh dengan sambal.


"Ah mosok to Kang Mo?


Apa mereka sesakti itu hingga bisa menghancurkan arca Dwarapala yang beratnya ratusan kati itu? Aku kog tidak percaya..", jawab lelaki bertubuh gempal pendek dengan perut buncit yang memakai baju tanpa lengan dan tidak berkancing depan.


Si pria gempal pendek ini bernama Parjo, seorang kuli panggul di pasar besar yang tak jauh dari pintu gerbang selatan istana. Pagi ini dia memilih untuk tidak bekerja hanya karena penasaran dengan kehebohan yang terjadi tadi malam. Bersama Sumo kawan satu pekerjaan nya, dia ingin membuktikan kebenaran yang mereka dengar dari mulut tetangga sebelah rumah nya.


"Kau jangan ngeyel Jo..


Tadi sepupunya saudara tiri tetangga sebelah rumah ku bilang kalau dia semalam menyaksikan sendiri bagaimana pertarungan antara para penyerbu itu dengan para prajurit Kepatihan Daha yang di bantu oleh Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan Gusti Pangeran Mapanji Jayagiri", sahut Sumo mencoba menerangkan.


"Aku dengar yang datang jumlahnya puluhan ribu sedangkan para prajurit Kepatihan Daha hanya sekitar 3 ribu orang prajurit saja..


Jadi bagaimana mungkin para prajurit Panjalu bisa mengalahkan mereka?", tanya Parjo kemudian.


"Memangnya kenapa?


Kau tidak tahu apa tentang kesaktian Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono? Seantero negeri ini sudah tahu kalau Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono itu sakti mandraguna. Jadi mengalahkan mereka bukan perkara sulit", sahut seorang lelaki paruh baya yang ikut nimbrung di percakapan mereka.


"Ya aku memikirkannya pakai nalar saja, Kang Marto..


Seorang lelaki seorang diri mana mungkin bisa mengalahkan begitu banyak prajurit? Rasanya ada yang tidak bisa di sanggah oleh hati ku soal keganjilan ini", ujar Parjo sembari menatap ke arah lelaki paruh baya yang dia panggil dengan sebutan Marto itu.


Belum sempat Marto menjawab omongan Parjo, seorang lelaki tua yang merupakan pemilik lapak warung makan itu datang ke tempat mereka duduk sambil menghidangkan beberapa cangkir wedang jahe hangat ke depan mereka.


"Separuh cerita mu benar, Kisanak..


Tapi juga harus memperhatikan bahwa keadaan tadi malam itu menjadi kacau balau setelah kedatangan para prajurit Panjalu dari Ksatrian Kadri. Awalnya para penyerbu itu berhasil memojokkan para prajurit Panjalu di Kepatihan Daha namun setelah kedatangan para prajurit dari Ksatrian Kadri, keadaan berbalik arah.


Aku ikut melihat langsung kejadian itu karena semalam aku ketiduran di dalam lapak ku ini. Tapi itu semua tidak penting. Yang menjadi bahan pertanyaan ku, kemana saja para punggawa Istana Kotaraja Daha saat ada peristiwa semacam ini? Para mahamantri yang seharusnya menjaga Istana malah tidak terlihat sama sekali..", ujar si pemilik warung makan itu segera.


Semua orang terdiam tanpa bicara sepatah katapun mendengar ucapan si pemilik warung makan.


"Atau jangan-jangan mereka justru tahu apa yang akan terjadi dan sengaja membiarkan para pengacau keamanan ini, Ki?


Atau barangkali mereka lah dalang di balik kejadian tadi malam?", ucap Parjo memecah keheningan.


"Ssssttttttttt...


Hati-hati kalau ngomong, Jo.. Kalau benar, tidak masalah. Tapi kalau keliru itu akan jadi fitnah loh", sahut Ki Sumo segera.


"Iya tuh.. Sangat beresiko, Jo. Sebab yang kita omongkan ini adalah pembesar Istana Kotaraja Daha. Kalau sampai omongan mu di dengar sama mereka, sekalipun itu benar, nyawa mu dalam bahaya Jo.


Karena salah ataupun benar, mereka itu tetap penguasa. Jika mereka tidak tidak suka dengan omongan mu, mudah bagi mereka untuk menjatuhkan hukuman mati untuk mu. Apa kau mau begitu, Jo?", timpal Marto segera.


Mendengar perkataan itu, Parjo langsung pucat seketika. Langsung saja dia membekap mulutnya dengan kedua tangan dan segera menggeleng cepat tanda penolakan.


Kasak kusuk itu segera menjadi buah bibir masyarakat Kotaraja Daha. Sebagian besar menuduh bahwa para mahamantri dan pembesar Istana Kotaraja Daha terlibat dalam upaya penerobosan Istana Katang-katang ini.


*****


Sementara itu......


Brruuaaaakkkkkkkh!!!


Mpu Kepung sang Mahamantri I Sirikan dengan keras menggebrak meja di depannya. Meja yang terbuat dari lembaran papan kayu jati setebal dua ruas jari orang dewasa ini langsung patah dan rusak parah. Prajurit pengikut setia nya langsung tertunduk ketakutan setengah mati melihat kemarahan sang majikan.


"Kurang ajar!!!


Bagaimana bisa ada kejadian besar seperti ini dan aku tidak di beritahu ha? Apa kalian ingin aku dapat cacian dari semua orang?", Mpu Kepung menunjuk ke arah para emban dan para prajurit penjaga rumah nya. Para putra dan putri nya pun tak berani bersuara sedikitpun karena takut akan menambah kemarahan sang Mahamantri I Sirikan.


"Maaf Kangmas Mahamantri..


Bukankah Kangmas sudah memerintahkan kepada ku dan semua orang di rumah ini agar tidak mengganggu saat kau bersama dengan penari tledek muda itu? Apa Kangmas sudah lupa dengan hal itu?", jawab Nyi Pu Kendi istri Mpu Kepung yang mulai tidak sabar dengan sikap Mahamantri I Sirikan ini. Dia mulai geram dengan ulah suaminya yang seenaknya membawa perempuan lain ke dalam rumah mereka.


"Tutup mulut mu, Kendi!!


Seharusnya kau tidak usah mempedulikan perintah ku kalau ada kejadian seperti ini. Aku harus menjaga jabatan ku, kalau tidak bagaimana aku bisa memberikan kemakmuran untuk mu dan anak-anak ha?!!", Mpu Kepung tidak suka jika omongannya di bantah.


"Dulu aku sudah pernah mengingatkan mu Kangmas Mahamantri, tapi apa yang aku dapat? Tamparan keras mu berulang kali hingga satu gigi ku tanggal..


Kalau sekarang kau harus menerima karma atas perbuatan mu, ya nikmati saja. Toh semalam kau juga asyik masyuk dengan perempuan ****** itu bukan?", Nyi Pu Kendi mencebikkan bibir nya sebagai tanda ejekan pada sang suami.


"Mohon ampun Gusti Mahamantri..


Ada prajurit utusan dari Istana Katang-katang ingin menyampaikan pesan", seorang prajurit bertubuh gempal dengan kumis tebal yang datang tak diundang segera menghormat pada Mpu Kepung.


Mendengar itu, Mpu Kepung urungkan niatnya untuk menampar wajah Nyi Pu Kendi dan bergegas pergi menuju ke arah beranda rumah nya. Nyi Pu Kendi menarik nafas lega karena tidak jadi kena tampar. Dia segera menatap ke arah prajurit bertubuh kekar itu sembari tersenyum tipis dan mengerling sebelah mata pada sang prajurit. Sepertinya mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar pegawai dan majikan.


Di beranda rumah Mpu Kepung, dua orang prajurit yang merupakan para prajurit Istana Katang-katang karena memakai ikat kepala biru tua terlihat segera berdiri begitu Mahamantri I Sirikan Mpu Kepung datang ke arah mereka.


"Ada perintah apa hingga kalian berdua datang kemari?", tanya Mpu Kepung segera.


"Mohon maaf Gusti Mahamantri..


Hamba diutus oleh Gusti Prabu Jayengrana memanggil semua punggawa Istana Kotaraja Daha untuk menghadap ke Balairung Pendopo Agung Istana Katang-katang. Semuanya di wajibkan hadir, yang sakit pun tetap di haruskan untuk datang. Yang menolak datang di anggap telah menentang perintah raja. Kami mohon pamit..", dua orang prajurit itu segera menghormat pada Mpu Kepung usai berbicara dan bergegas meninggalkan tempat itu.


Mpu Kepung kaget bukan kepalang mendengar ucapan itu. Dia tadi sudah berencana untuk beralasan sakit agar tidak datang dulu ke istana sampai masalah ini mendingin. Tapi sepertinya niatnya untuk beralasan sakit tidak bisa di lakukan karena tidak datang dengan alasan apapun dianggap menentang perintah raja dan ini bisa di anggap memberontak.


'Tidak biasanya Gusti Prabu Jayengrana mengeluarkan perintah seperti ini. Jangan-jangan ada sesuatu yang akan terjadi. Aku harus hati-hati dalam bicara', batin Mpu Kepung sembari berbalik badan dan masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian kebesarannya.


Tak berapa lama kemudian, Mpu Kepung sudah naik kereta kuda nya menuju ke arah Istana Katang-katang. Dia sengaja memilih untuk lewat pintu gerbang barat istana meskipun kediamannya di kawasan selatan istana. Sesampainya di balairung Pendopo Agung Istana Katang-katang, para punggawa Istana Kotaraja Daha yang lain sudah berkumpul dan duduk bersila dengan rapi di tempat mereka masing-masing.


Mahamantri I Halu Mpu Sena yang sudah ada di sebelah tempat duduk Mpu Kepung, langsung berbisik-bisik di telinga sang punggawa sepuh itu.


"Kakang Mpu Kepung..


Apa kira-kira kau tahu tentang niat Gusti Prabu Jayengrana mengumpulkan kita semua sepagi ini? Apa ini ada kaitannya dengan serangan di pintu gerbang selatan istana semalam?", bisik lirih Mpu Sena.


"Aku juga tidak tahu, Adhi..


Tapi yang jelas ini ada hubungannya dengan kejadian itu..", balas Mpu Kepung segera. Mpu Sena terlihat hendak bertanya lagi tapi saat itu dari arah depan, Prabu Jayengrana muncul di apit oleh Dewi Anggarawati dan Dewi Naganingrum. Semua orang yang ada di tempat itu langsung menyembah pada Prabu Jayengrana.


"Sembah bakti kami Gusti Prabu Jayengrana!"


Setelah sang raja duduk di singgasana nya dan dua ratu duduk di kursi kanan kiri singgasana, Prabu Jayengrana mengangkat tangan kanannya.


"Duduklah dengan tenang..".


Semua orang yang ada di tempat itu termasuk Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayagiri, Mapatih Warigalit, Senopati Agung Jarasanda dan semua punggawa Istana Kotaraja Daha dan perwira tinggi prajurit Panjalu langsung duduk bersila di tempat mereka masing-masing.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu..!", ucap semua orang kompak bersamaan.


Hening. Tak ada suara yang terdengar sedikitpun di tempat itu. Bahkan jika ada jarum yang jatuh pun pasti akan terdengar oleh telinga semua orang. Semua nya menunggu titah sang Maharaja Panjalu itu.


Prabu Jayengrana segera bangkit dari singgasananya. Sebelum mulai berbicara, terdengar suara helaan nafas panjang dari mulut sang penguasa Kerajaan Panjalu ini.


"Hemmmmmmm..


Kalian semua tentu bertanya-tanya mengapa aku mengumpulkan kalian sepagi ini bukan? Ini ada kaitannya dengan upaya Adipati Arya Natakusuma untuk menerobos masuk ke dalam Istana Katang-katang.


Kalian semua tentu paham, bahwa keamanan seluruh Kotaraja Daha menjadi tanggung jawab dari para pangreh praja terutama para mahamantri. Sekarang aku tanya kepada para mahamantri disini, kenapa hal ini bisa terjadi?", Prabu Jayengrana menatap ke arah para mahamantri yang duduk berjajar di sebelah kanan. Mpu Kepung, Mpu Sena, Mpu Jayadharma dan Mpu Suryadharma pucat seketika mendengar suara itu.


"M-mohon ampun Gusti Prabu.. Uhukkk uhukkk uhukkk..


Sudah dua hari ini, hamba sakit kurang enak badan. Jadi hamba tidak mampu melakukan tugas dengan baik. Karena ada kejadian seperti ini, hamba bersedia untuk dilengserkan dari jabatan hamba Gusti Prabu", ucap Mpu Suryadharma yang memang sedang sakit.


"Hamba sedang menghadiri acara pernikahan keponakan hamba di Kunjang, Gusti Prabu. Karena kejadian ini merupakan aib bagi kami dan kelalaian kami, maka saya pribadi ingin mengundurkan diri dari jabatan hamba Gusti Prabu..", sambung Mpu Jayadharma segera.


"Dan kau Mahamantri I Sirikan,


Apa alasan mu?", kata demi kata yang terucap dari mulut Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana seperti palu godam yang menghantam jantung Mpu Kepung.


"Eh anu itu eh..


Hamba eh hamba sedang t-tidak enak badan juga Gusti Prabu", Mpu Kepung gagap berbicara.


"Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan saat para pemberontak dari Bhumi Sambara Mataram itu menyerbu ke Istana ku ini, Mpu Kepung?!!!


Kau dan Mpu Sena, Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Gandasena, Senopati Tunggul Arga serta beberapa pejabat negara tingkat menengah dan rendah berpesta pora seolah tidak terjadi apa-apa. Lalu dimana tanggung jawab mu sebagai pengatur keamanan Ibukota Negara ha?!!!"


Suara keras Prabu Jayengrana terdengar menggelegar seperti suara petir di siang bolong. Para pejabat tinggi yang terlibat dalam pesta pora di kediaman Mpu Kepung langsung tertunduk tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Kalau tidak memandang jasa dan pengabdian kalian kepada Panjalu, sudah ku penggal kepala kalian satu persatu. Namun aku juga tidak bisa mengabaikan kejadian semalam karena kelalaian kalian dalam bertugas", Prabu Jayengrana mengedarkan pandangannya ke arah para punggawa Istana Kotaraja Daha.


"Oleh karena itu, aku Raja Panjalu akan menurunkan titah..


Mulai hari ini, Mpu Kepung bukan lagi menjadi Mahamantri I Sirikan. Jabatannya di turunkan sebagai Wredamantri. Begitu juga dengan Mpu Sena, Mpu Jayadharma dan Mpu Suryadharma.


Selanjutnya, jabatan mereka akan diisi oleh putra ku Panji Tejo Laksono sebagai Mahamantri I Sirikan, Mapanji Jayawarsa sebagai Mahamantri I Halu, Mapanji Jayagiri sebagai Mahamantri I Hino dan Panji Manggala Seta sebagai Mahamantri I Rangga..!"


HAAAAAAHHHHHHHH?!!!!