Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Istana Kalingga


Mendengar ucapan itu, Ayu Ratna langsung menghambur ke arah gadis cantik yang tak lain adalah Gayatri.


"Ah Gayatri, sudah hampir 3 purnama lebih tidak bertemu. Aku rindu sekali pada mu", ujar Ayu Ratna setelah melepaskan pelukannya pada Gayatri.


"Kau ini benar-benar tidak berubah ya. Sikap mu tetap saja manja, pantas Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono selalu lengket bila bertemu dengan mu.


Oh perkenalkan ini Gusti Pangeran Mapanji Jayagiri, adik Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan itu gurunya Resi Tandi", ujar Gayatri yang langsung membuat Ayu Ratna mengalihkan pandangannya pada dua orang lelaki tua muda itu segera. Mapanji Jayagiri segera menghormat sopan pada Ayu Ratna sedangkan Resi Tandi membungkukkan badannya.


"Selamat datang di Istana Kadipaten Kalingga, Gusti Pangeran Jayagiri juga Resi Tandi.


Mohon maaf jika saya kurang sopan menyambut kedatangan kalian berdua", ujar Ayu Ratna segera. Sebagai putri seorang Adipati, sudah menjadi kewajibannya untuk bersikap sopan pada setiap tamu kehormatan apalagi yang datang dari Istana Katang-katang di Kadiri.


"Gusti Putri tidak perlu bersikap seperti itu apalagi Gusti Putri adalah calon istri dari Kangmas Pangeran Tejo Laksono dan akan menjadi kakak ipar ku jadi tidak perlu sungkan lagi pada ku", ucap Mapanji Jayagiri sembari tersenyum tipis.


"Terimakasih banyak atas pengertiannya Gusti Pangeran Mapanji Jayagiri..


Tapi kalian bisa bersama seperti ini bagaimana ceritanya? Gayatri, bukankah kau pulang ke Kadiri, kenapa bisa kembali kemari?", wajah Ayu Ratna terlihat kebingungan dengan bersama nya Gayatri dan Mapanji Jayawarsa.


Gayatri tersenyum tipis sebelum mulai berbicara. Setelah menggunakan nama Dewi Topeng Waja dan melanglang buana ke arah barat Kerajaan Panjalu, Gayatri akhirnya sampai di sebuah perkampungan penduduk yang terletak di timur Kali Gung yang menjadi perbatasan wilayah antara Kadipaten Rajapura dan Kalingga. Disana dia bertemu dengan Pangeran Mapanji Jayagiri yang baru saja mempecundangi dua orang anak buah Tumenggung Gurunwangi, yakni Juru Kanoman dan Demung Anggasuta. Gayatri yang mengenali sosok adik Panji Tejo Laksono ini segera menyapa mereka dengan melepaskan topeng besi separuh wajah yang menutupi wajahnya. Mapanji Jayagiri yang pernah beberapa kali bertemu dengan Gayatri pun langsung mengenali sosok perempuan cantik yang merupakan putri dari Tumenggung Sindupraja ini. Setelah berbincang cukup lama mereka kemudian memutuskan untuk mengunjungi Ayu Ratna di Istana Kadipaten Kalingga. Mereka merasa khawatir dengan calon istri Panji Tejo Laksono itu karena mendengar tentang desas-desus yang beredar di kalangan masyarakat tentang adanya upaya pemberontakan di Kadipaten Rajapura.


"Jadi kalian pun sudah mendengar tentang desas-desus itu, Gusti Pangeran?", tanya Ayu Ratna sembari menatap ke arah Mapanji Jayagiri yang sedang duduk bersila di lantai Pendopo Agung Kadipaten Kalingga.


"Sejujurnya aku masih belum jelas apakah itu benar atau tidak, Gusti Putri. Namun munculnya berita semacam itu pasti akan membuat Kanjeng Romo Prabu Jayengrana tidak akan tinggal diam.


Aku khawatir pihak Istana Daha akan segera mengirim pasukan besar ke Rajapura. Jika sampai terjadi peperangan, tentu saja Kalingga selaku tetangga dekat Rajapura akan menerima getah dari peristiwa ini. Itulah yang menjadi dasar kekhawatiran Putri Gayatri dan aku terhadap keselamatan mu karena kau adalah calon istri dari Kangmas Pangeran Tejo Laksono", jawab Mapanji Jayagiri segera. Putra ketiga Prabu Jayengrana ini rupanya lebih dewasa dalam berpikir ketimbang kakaknya Mapanji Jayawarsa.


"Aku berterimakasih atas kekhawatiran mu, Gusti Pangeran. Kanjeng Romo Adipati Aghnibrata sendiri sudah mempersiapkan para prajurit Kadipaten Kalingga jika sewaktu-waktu ada perintah dari Gusti Prabu Jayengrana untuk membantu jika Rajapura benar benar memberontak terhadap Kadiri.


Tadi pagi aku dengar dari omongan prajurit, hari ini beliau menengok persiapan para prajurit di Wanua Pajung yang akan menjadi benteng pertahanan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan", ujar Ayu Ratna sembari menghela nafas panjang.


"Perang memang selalu menakutkan bagi semua orang, Nimas Ayu. Tapi kita juga tidak bisa menghindar dari peperangan jika itu adalah jalan satu-satunya untuk menegakkan kebenaran.


Selalu ada saja yang terdampak dari suatu peperangan, tapi semuanya itu harus dilakukan manakala persetujuan damai tidak tercapai. Semoga perang tidak terjadi agar masyarakat Panjalu selalu damai sejahtera", sahut Resi Tandi yang sedari tadi hanya diam saja mendengarkan para putra putri bangsawan Panjalu itu berbicara.


Mereka terus berbincang tentang banyak hal hingga matahari hampir di atas kepala.


Di sisi lain, ribuan orang prajurit Pasukan Garuda Panjalu dan Lowo Bengi terus memacu kuda tunggangan mereka kearah barat. Setelah melakukan perjalanan hampir 3 hari dua malam dan melewati beberapa Kadipaten di wilayah Utara Kerajaan Panjalu, menjelang siang hari itu mereka telah memasuki wilayah Kadipaten Kalingga dari arah timur. Pergerakan pasukan khusus yang cepat ini nyaris tak terdengar karena mereka menghindari kota kota besar seperti Kota Kadipaten Lasem dan Kota Kadipaten Kembang Kuning serta memilih jalur cepat namun sepi hingga pergerakan pasukan khusus yang di pecah menjadi tiga kelompok ini benar benar tanpa suara.


Seribu pasukan khusus di pimpin oleh Senopati Muda Jarasanda memilih jalur paling Utara, seribu lagi di pimpin oleh Tumenggung Landung bergerak cepat lewat jalur tengah yang melewati beberapa gunung yang ada di wilayah tengah Pulau Jawa. Seribu anggota prajurit lainnya bergerak lewat selatan pegunungan, dan di pimpin oleh Tumenggung Sancawiguna, seorang tumenggung muda yang baru saja menjabat sebagai kepala prajurit untuk daerah barat Kotaraja Kadiri.


Pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Landung sampai lebih dulu di Weleri, yang merupakan batas wilayah paling barat Kadipaten Kembang Kuning dan Kalingga. Setengah hari kemudian di susul oleh para prajurit pimpinan Senopati Muda Jarasanda dan keesokan paginya datang prajurit pimpinan Tumenggung Sancawiguna.


"Gusti Senopati,


"Sebarkan para telik sandi dan mata mata kita ke wilayah Kadipaten Rajapura. Bentuk kelompok kelompok kecil yang bisa terhubung dengan cepat jika terjadi masalah. Tugas kita hanya mengumpulkan berita sebanyak mungkin dari orang orang Kadipaten Rajapura. Kau Sancawiguna yang bertugas langsung mengendalikan mereka, sementara aku dan Landung akan menghadap pada Adipati Aghnibrata untuk meminta bantuan dan ijin nya agar pasukan khusus kita bisa bergerak bebas di Kalingga.


Berangkatlah hari ini juga dan kita akan berjumpa lagi di Hutan Wanaloka untuk mempersiapkan diri sebagai mana perintah dari Senopati Agung Narapraja. Apa kau mengerti?", Senopati Muda Jarasanda menatap ke arah Tumenggung Sancawiguna segera.


"Sendiko dawuh Gusti Senopati", usai berkata demikian Tumenggung Sancawiguna segera mundur dari hadapan Senopati Muda Jarasanda. Berbekal 2500 orang prajurit dari Pasukan Garuda Panjalu dan Lowo Bengi, Tumenggung Sancawiguna segera melaksanakan tugas yang diberikan kepada nya. Sepeninggal Tumenggung muda itu, Tumenggung Landung segera mendekati Senopati Muda Jarasanda.


"Kakang Senopati,


Kenapa bukan aku saja yang kau perintahkan untuk melakukan tugas itu? Kakang Senopati tau sendiri bahwa aku lebih berpengalaman dalam bidang ini", tanya Tumenggung Landung sembari menatap ke arah Senopati Muda Jarasanda.


"Dhimas Landung,


Bukan aku tidak percaya kepada mu. Tapi kita sudah mulai tua. Sudah waktunya yang muda muda menggantikan posisi kita sebagai ujung tombak pergerakan prajurit Panjalu. Sancawiguna itu cukup bisa diandalkan dan pengalaman akan menempa nya menjadi perwira prajurit yang tangguh di masa depan. Lagipula kau aku butuhkan untuk membantu ku bicara dengan Adipati Aghnibrata. Dia pasti lebih mau mendengarkan omongan mu daripada omongan Sancawiguna bukan? Hehehehe..


Sekarang sebaiknya kita segera menuju ke Istana Kadipaten Kalingga untuk menemui Adipati Aghnibrata mumpung hari masih pagi. Ayo kita berangkat sekarang", ujar Senopati Muda Jarasanda sembari tersenyum tipis.


"Aku mengerti Kakang Senopati ", Tumenggung Landung segera menghormat pada Senopati Muda Jarasanda seraya mengikuti langkah sang pimpinan yang dengan cekatan melompat ke atas kuda tunggangan nya. Mereka berdua memimpin 500 orang prajurit dan bergegas menuju ke arah Kota Kadipaten Kalingga.


Menjelang sore hari, saat matahari mulai memerah sinarnya pertanda senja akan segera tiba, Senopati Muda Jarasanda dan Tumenggung Landung tiba di Istana Kadipaten Kalingga. Kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh Adipati Aghnibrata, sang penguasa Kadipaten Kalingga.


"Selamat datang di Istana Kadipaten Kalingga, Gusti Senopati Jarasanda dan Tumenggung Landung..


Maaf jika aku tidak menyambut kedatangan kalian berdua dengan ramah dan sepantasnya karena kedatangan kalian mendadak sekali dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu", ujar Adipati Aghnibrata sembari tersenyum tipis.


"Ah kau tidak perlu repot-repot untuk menyambut kedatangan ku, Gusti Adipati Aghnibrata..


Kedatangan ku kemari untuk meminta ijin mu karena menggunakan wilayah Kadipaten Kalingga sebagai tempat untuk menata kekuatan. Kami kemari atas utusan dari Gusti Prabu Jayengrana yang ingin mengetahui situasi yang sedang terjadi di Rajapura", ucap Senopati Muda Jarasanda segera.


"Aku mengerti Gusti Senopati..


Situasi di Rajapura memang tengah kacau balau dengan adanya niat dari Adipati Waramukti yang ingin memberontak terhadap kekuasaan Kadiri. Aku sempat mendengar bahwa mereka ingin menuntut balas atas kematian Pangeran Suryanata yang terbunuh di tangan Gusti Prabu Jayengrana tempo hari", sahut Adipati Aghnibrata sembari menghela nafas panjang.


Hemmmmmmm..


"Kalau begitu, berarti benar berita yang kami terima. Landung, cepat kau kirim nawala ke Kadiri lewat merpati. Berita ini harus segera sampai di telinga Gusti Prabu Jayengrana", mendengar perintah dari Senopati Muda Jarasanda, Tumenggung Landung segera menghormat dan cepat cepat mundur dari Pendopo Agung Kadipaten Kalingga.


Dari perbincangan antara Senopati Muda Jarasanda dan Adipati Aghnibrata, di sepakati bahwa Kadipaten Kalingga menyediakan makanan dan 8 ribu prajurit nya untuk membantu pihak Istana Daha guna menumpas pemberontakan Adipati Waramukti.


Saat mereka masih asyik berbincang, tiba-tiba saja muncul Mapanji Jayagiri, Resi Tandi, Gayatri dan Ayu Ratna dari arah depan. Kedatangan mereka cukup mengagetkan Senopati Muda Jarasanda yang tidak tahu menahu tentang kedatangan Mapanji Jayagiri di istana Kadipaten Kalingga. Segera dia menyembah pada Mapanji Jayagiri sembari berkata,


"Hormat hamba Gusti Pangeran"