Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Titah Prabu Jayengrana


Demung Gumbreg menguap lebar dan kembali tidur sedangkan yang lain segera terbangun dari tidur nya setelah bentakan keras itu terdengar. Panji Tejo Laksono yang tenggelam dalam semedi malam nya membuka matanya perlahan sembari menatap tajam ke arah sosok bersuara lantang itu. Dia adalah seorang Bekel prajurit Kadipaten Kanjuruhan.


Tatapan mata tajam dari sang pangeran muda dari Kadiri ini seketika membuat ciut nyali sang bekel. Dia merasakan hawa pembunuh yang mengerikan terpancar dari tatapan mata Panji Tejo Laksono. Pria bertubuh kekar yang bernama Bekel Maktal ini bahkan sempat mundur selangkah ke belakang. Beberapa orang prajurit Jenggala yang ikut berpatroli dengan nya pun turut tersurut langkahnya.


"Maaf Gusti Prajurit, kenapa kalian berkata seperti itu? Apa salahnya jika kami bermalam di tempat ini?", ucap Panji Tejo Laksono sembari perlahan berdiri dari tempat duduknya. Meski terdengar sopan dan pelan namun suara berat nan penuh kewibawaan ini membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan segan.


Bekel Maktal segera memberi isyarat kepada salah satu anak buah nya untuk bicara.


"Ka-kami adalah pra.. prajurit Kadipaten Kanjuruhan. Semalam terjadi peristiwa pencurian di barak latihan para prajurit. Ka-kami di tugaskan oleh Gusti Senopati Badraseta untuk memeriksa setiap siapapun yang berada di sekitar tempat ini.


Ka-kau k-kau jangan mempersulit kami", ujar si prajurit dengan terbata-bata. Dia benar-benar ketakutan setengah mati melihat Panji Tejo Laksono yang berdiri dari tempat duduknya.


"Kami ini pedagang kain keliling, Gusti Prajurit. Lihatlah barang dagangan kami! Kamu menjelajah tanah Jawadwipa ini dari Kerajaan Galuh Pakuan di wilayah barat hingga Negeri Blambangan di timur. Selama ini tak pernah ada kejadian seperti ini. Jangan sembarangan menuduh jika tidak ada buktinya", sahut Gayatri sembari menunjuk ke arah tumpukan kain di kereta kuda mereka.


"Kemarin, roda kereta kuda kami patah karena terperosok ke dalam lobang. Kami memperbaiki nya hingga butuh waktu lama hingga akhirnya kami terpaksa menginap di tempat ini.


Itu adalah bangkai roda kereta kuda kami, kalian bisa memeriksa nya", Tumenggung Ludaka menunjuk ke arah bangkai roda kiri kereta kuda mereka yang di sandarkan pada sebilah pohon.


"Meskipun kalian memiliki alasan dan bukti yang kuat, kami akan tetap menggeledah barang dagangan kalian. Ini adalah perintah dari Gusti Senopati Badraseta.


Aku minta kalian tidak mempersulit tugas kami", balas Bekel Maktal segera.


"Baiklah, kami tidak keberatan. Tapi jika kalian tidak menemukan apa yang kalian cari, kalian harus meminta maaf kepada kami", ujar Gayatri sembari menatap tajam ke arah Bekel Maktal. Bekel Maktal keder juga melihat tatapan tidak suka dari Gayatri. Dengan cepat ia mengangguk mengiyakan.


10 orang prajurit Kadipaten Kanjuruhan segera bergegas memeriksa kereta kuda yang membawa tumpukan kain beraneka jenis ini. Setiap sudut di periksa dan barang yang mereka cari tidak ada. Setelah mereka memeriksa, kesemuanya segera mendekati Bekel Maktal untuk melaporkan hasil kerja mereka.


"Maaf Gusti Bekel, kami tidak menemukan barang yang kita cari. Bagaimana ini?", ujar seorang prajurit dengan penuh ketakutan. Sesekali ia melirik ke arah Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka dan Naratama yang menatap tajam ke arah nya.


Hemmmmmmm...


Bekel Maktal segera menghela nafas panjang kemudian dia menoleh ke arah Gayatri yang bersedekap tangan di depan dada sembari melengos tanpa memandang nya.


"Kami minta maaf Nyi, sudah mengganggu urusan kalian. Kami hanya bawahan, kami hanya menjalankan tugas yang diberikan kepada kami.


Silahkan lanjutkan perjalanan kalian", ujar Bekel Maktal dengan sopan.


"Huhhh, lain kali berhati-hatilah dalam bertindak. Kami orang baik-baik, bukan maling.


Semuanya, ayo kita berangkat ke Pakuwon Tumapel. Kalau terlambat, Juragan Noto pasti akan kecewa karena kita tidak tepat waktu", ajak Gayatri segera. Tumenggung Ludaka yang ikut kesal dengan sikap para prajurit Jenggala, langsung menyepak bokong Demung Gumbreg yang masih tidur di antara tambi pohon besar.


"Bangun kau Kebo!! Ayo kita jalan"


Plllaaaakkkkk..


Adduuuuuhhhhh!!


Gumbreg mengerang kesakitan akibat sepakan kaki kanan Tumenggung Ludaka. Dia segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka sambil mengelus bokongnya.


"Kenapa kau sepak bokong ku Lu..?? Apa salah ku?", Demung Gumbreg segera bangkit dari tempat tidur nya. Begitu melihat puluhan prajurit Jenggala ada di tempat itu, dia buru-buru waspada.


"Ada apa ini Lu? Kog ada prajurit Jenggala di tempat ini?", Gumbreg kembali menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.


"Kau telat! Urusan sudah selesai. Bersihkan iler mu dan ayo kita berangkat ke Tumapel", jawab Tumenggung Ludaka sambil melepaskan tali kekang kudanya yang tertambat pada pohon perdu di dekat tempat mereka bermalam.


Demung Gumbreg segera bergegas mengambil air untuk cuci muka dan mencuci muka nya. Setelah itu, sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera naik ke atas kereta kuda dimana Gayatri, Dyah Kirana, Luh Jingga dan Sriati sudah naik ke dalam nya. Mereka segera meninggalkan tempat itu.


*****


"Kakang Mapatih Warigalit..


"Mohon ampun Dhimas Prabu Jayengrana..


Sejauh ini belum ada kabar terbaru yang datang dari para telik sandi kita. Tumenggung Landung yang terus memantau kabar terkini juga belum ada laporan mengenai hal itu, Dhimas Prabu", jawab Mapatih Warigalit sembari menghormat pada Prabu Jayengrana.


Hemmmmmmm...


"Keadaan ini semakin mengkhawatirkan. Aku punya firasat buruk tentang upaya yang dilakukan oleh pihak Istana Kahuripan. Sepertinya mereka benar-benar rapi menyiapkan rencana untuk menyerang kita", ujar Prabu Jayengrana sembari menatap ke arah langit selatan yang berawan.


"Dhimas Prabu Jayengrana tidak perlu terlalu mencemaskan keadaan ini. Kita memiliki 100 ribu orang prajurit yang siap mempertahankan kedaulatan Kerajaan ini dari gempuran pasukan Jenggala.


Sehebat apapun taktik yang mereka lakukan, jumlah besar prajurit kita bukan lawan yang mudah untuk dihadapi oleh mereka ", Mapatih Warigalit menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana. Kakak seperguruan Prabu Jayengrana di Padepokan Padas Putih itu terlihat tenang.


Dari arah luar Pendopo Agung Kerajaan Panjalu, Tumenggung Landung yang kini menjabat sebagai pimpinan Pasukan Lowo Bengi menggantikan posisi Tumenggung Ludaka, terlihat tergesa-gesa berjalan mendekati Pendopo Agung. Pria paruh baya bertubuh kekar itu segera masuk ke dalam Pendopo Agung. Begitu sampai di depan Prabu Jayengrana, Tumenggung Landung segera menyembah pada Sang Maharaja Panjalu dan duduk bersila di lantai pendopo.


"Mohon ampun Gusti Prabu, jika hamba menghadap tanpa diperintah. Ada sesuatu yang perlu Gusti Prabu Jayengrana segera ketahui", ucap Tumenggung Landung dengan penuh kesopanan.


"Katakan saja sejelas-jelasnya, Tumenggung Landung. Aku menunggu kabar dari mu", ujar Prabu Jayengrana sembari mengangkat tangan kanannya ke depan.


"Dua telik sandi yang kita kirim ke Kadipaten Kanjuruhan, Basuki dan Pritanjala, melaporkan kepada hamba bahwa ada sekitar 40 ribu orang prajurit sedang berlatih perang-perangan di sekitar Wanua Panawijen dekat Pakuwon Tumapel. Mereka terdiri dari para prajurit yang datang dari Kanjuruhan, Lamajang, Pamotan dan Tanjung Selatan.


Sedangkan di Utara, tepatnya di barat Kadipaten Hujung Galuh, ada barak prajurit Jenggala beserta orang-orang dari Kambang Putih, Hujung Galuh dan Pasuruhan. Dari laporan yang masuk, mereka berjumlah sekitar 60 ribu orang prajurit, Gusti Prabu. Sepertinya pihak Jenggala ingin menggempur pertahanan Panjalu dari dua sisi Utara dan Selatan", Tumenggung Landung menyembah pada Prabu Jayengrana setelah menyelesaikan laporan nya.


Kaget Prabu Jayengrana dan semua orang yang ada di tempat itu. Semuanya langsung saling berpandangan sejenak sebelum menatap ke arah Prabu Jayengrana.


"Ini tidak boleh dibiarkan, Gusti Prabu. Panjalu harus segera melakukan persiapan juga untuk bersiap siap jika sewaktu-waktu pasukan Jenggala bergerak", ujar Mpu Kepung, Sang Mahamantri I Sirikan pengganti Mpu Jayakerti yang tutup usia. Dia adalah salah dari 3 penasehat utama Kerajaan Panjalu.


"Benar Gusti Prabu..


Mendengar laporan dari Tumenggung Ludaka, sepertinya Jenggala ingin menitik beratkan penyerangan mereka dari sisi Utara. Jumlah pasukan nya lebih besar di Utara, jadi kemungkinan besar mereka ingin menyerbu Kadipaten Bojonegoro lebih dulu sebagai jalan untuk mendekati Kotaraja Daha.


Karena itu, kita harus membangun pertahanan yang lebih besar di Bojonegoro ketimbang di Seloageng", imbuh Mahamantri I Rangga, Mpu Jayadharma.


Para punggawa Istana Kotaraja Kadiri sebagian mengangguk setuju dengan pendapat Mpu Jayadharma. Mereka adalah Mpu Gandasena, Wiku Wikalpa dan Senopati Tunggul Arga. Mendengar itu, Ratu Kedua Ayu Galuh tersenyum tipis karena mengkhawatirkan keselamatan Mapanji Jayawarsa yang kini menjadi Adipati Bojonegoro.


Sementara itu, para punggawa Istana Kotaraja Kadiri yang lain tidak setuju dengan pendapat Mpu Jayadharma. Mereka adalah Mapatih Warigalit, Senopati Agung Narapraja, Tumenggung Sindupraja dan Mahamantri I Halu Mpu Sena. Sedangkan para punggawa istana yang lain memilih untuk diam menunggu titah Sang Maharaja Panjalu.


Hemmmmmmm...


"Aku akan memikirkan apa baiknya menghadapi situasi ini sekarang. Jawaban ku berikan pada kalian saat pisowanan besok.


Sekarang lebih baik, kita menyusun kekuatan terlebih dahulu. Kakang Warigalit, utus beberapa orang yang bisa bergerak cepat ke beberapa wilayah terdekat seperti Karang Anom, Gelang-gelang, Anjuk Ladang, Wengker, Lasem, Matahun dan Muria untuk membawa pesan ku. Sampaikan kepada para pimpinan daerah agar mengirimkan 2 ribu prajurit dan bekal untuk satu bulan penuh. Dalam waktu satu purnama, semuanya sudah harus berkumpul di Bojonegoro dan Seloageng. Pasukan Wengker, Gelang-gelang dan Karang Anom ke Seloageng, sedangkan dari Anjuk Ladang, Lasem, Matahun dan Muria berkumpul di Bojonegoro", titah Prabu Jayengrana segera.


"Sendiko dawuh Dhimas Prabu ", ujar Mapatih Warigalit sembari menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana.


Usai memberikan titah nya, Sang Maharaja Panjalu Prabu Jayengrana membubarkan pisowanan agar mereka bisa segera bergegas bertugas sesuai dengan keinginan sang raja.


****


Rombongan Panji Tejo Laksono terus bergerak menuju ke arah Kota Pakuwon Tumapel. Kota kecil yang terletak di barat Kadipaten Kanjuruhan ini begitu ramai dengan banyaknya pedagang dan orang yang lalu lalang di jalan raya.


Di depan sebuah warung makan yang sedang ramai dikunjungi oleh para pelanggan, rombongan Panji Tejo Laksono menghentikan pergerakan nya. Gayatri segera turun dari kereta kuda diikuti oleh Sriati, Luh Jingga dan Dyah Kirana. Mereka berempat pun segera masuk ke dalam rumah makan.


Sedangkan Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka dan Naratama sibuk mengikat tali kekang kudanya di geladakan kuda. Sedangkan Demung Gumbreg hanya bisa menunggu di luar rumah makan karena dia mendapat tugas untuk menjaga barang dagangan.


Hadirnya keempat orang perempuan cantik itu tak pelak membuat pandangan mata semua lelaki langsung tertuju pada mereka. Salah seorang diantara mereka mendengus dingin sembari berdiri dari tempat duduknya. Lelaki bertubuh gempal itu segera menunjuk ke arah Sriati yang ada di antara para wanita cantik Panji Tejo Laksono.


"Paman, itu dia perempuan busuknya!"