
Setelah itu, dari arah belakang Tumenggung Ludaka muncul ribuan orang prajurit Panjalu yang menyamar sebagai warga kota Kunjang. Mereka bersenjata lengkap dengan sikap siap siaga. Tumenggung Giriloka terperanjat melihat pemandangan ini.
Sembari menyeringai lebar, Tumenggung Ludaka mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat kepada para prajurit Panjalu yang menyamar untuk bergerak maju. Sang tumenggung sendiri langsung melemparkan pisau pisau belati kecil yang menjadi senjata rahasia andalannya.
Shhhrriinggg shhhrriinggg !!
Empat orang prajurit Jenggala langsung tersungkur setelah leher mereka tertembus senjata rahasia Tumenggung Ludaka. Sang ahli dalam hal senjata rahasia ini langsung melompat ke arah para prajurit Jenggala yang menerjang maju.
Pertempuran sengit antara mereka segera terjadi.
Denting suara senjata tajam beradu di sambung jeritan kesakitan dari orang yang terluka dan terbunuh langsung terdengar. Anggota badan yang terputus dan darah segar muncrat ke tanah Kota Kunjang. Kota kecil di bagian timur Kayuwarajan Kadiri ini banjir darah.
Pasukan Jenggala di bawah pimpinan Tumenggung Giriloka terjepit di antara para prajurit Panjalu dan api yang berkobar di belakang mereka. Hanya dalam hitungan beberapa waktu, jumlah mereka berkurang banyak.
Tumenggung Giriloka menggeram keras setelah membantai seorang prajurit Panjalu yang menghadang langkah nya. Baju zirah perang nya sudah penuh dengan darah dari para prajurit Panjalu yang di bunuh nya. Matanya merah menahan rasa amarah melihat Tumenggung Ludaka yang baru saja membantai para prajurit Jenggala.
Sembari menjejak tanah dengan keras, Tumenggung Giriloka melesat cepat kearah Tumenggung Ludaka yang yang baru saja menebas batang leher prajurit Jenggala yang mencoba untuk melawannya.
Satu sabetan pedang cepat mengarah ke punggung Tumenggung Ludaka.
Shhrreeettthhh !!
Angin dingin berdesir kencang mengikuti sambaran pedang Tumenggung Giriloka. Merasakan hawa pembunuh yang mengincar nyawa, dari ekor matanya Tumenggung Ludaka melirik. Secepat mungkin dia berguling ke tanah hingga sabetan pedang Tumenggung Giriloka hanya membabat udara kosong.
"Huhhh, mau main belakang ya Wong Jenggala?!
Kau masih belum waktunya!", Tumenggung Ludaka berbalik badan lalu melesat cepat kearah Tumenggung Giriloka. Pedang pendeknya dengan cepat mengarah ke arah leher sang perwira Jenggala. Tumenggung Giriloka segera menangkis sabetan pedang pendek sang perwira Panjalu.
Thrrraaannnnggggg thhrraaanggg!!
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata tajam milik dua orang perwira prajurit itu. Mereka kembali mengadu kepandaian ilmu beladiri berpedang. Puluhan jurus mereka lalui dengan cepat.
Tumenggung Ludaka dengan cepat melemparkan empat belati kecil ke arah Tumenggung Giriloka yang baru saja menghindari sabetan pedang pendek Tumenggung Ludaka ke arah bawah perutnya.
Shhhrriinggg shhhrriinggg!!
Empat pisau belati kecil itu melesat cepat kearah Tumenggung Giriloka. Sang perwira Jenggala itu segera mengayunkan pedangnya untuk menangkis senjata rahasia yang di lepaskan oleh Tumenggung Ludaka.
Thrrraaannnnggggg thhraaaangggggggg..
Thrrriiinnnggggg !!!
Tiga pisau belati kecil itu bermentalan setelah tebasan pedang Tumenggung Giriloka membabatnya. Satu pisau belati kecil tak sempat lagi di tangkis hingga menancap di dada kiri atas sang perwira Jenggala.
Aaauuuuggggghhhhh !!
Tumenggung Giriloka menjerit keras sembari terhuyung huyung mundur. Saat yang bersamaan, Tumenggung Ludaka melesat cepat dari arah samping kanan dan membabatkan pedang nya ke arah kepala sang perwira Jenggala itu. Tumenggung Giriloka merunduk cepat namun serangan cepat perwira tinggi prajurit Panjalu itu belum selesai. Tangan kiri Tumenggung Ludaka yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi dengan cepat menghantam ke arah kepala Tumenggung Giriloka yang merunduk.
Sang perwira tinggi prajurit Jenggala itu mau tidak mau segera menyilangkan tangan kiri nya untuk bertahan dari hantaman keras sang perwira tinggi prajurit Panjalu.
Blllaaaaaarrr !
Tumenggung Giriloka terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Namun dia segera bangkit meski darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Bajingan tua!!
Aku akan mengadu nyawa dengan mu, keparat!!", maki Tumenggung Giriloka sembari meludahkan sisa darah segar yang ada di mulutnya. Dia segera melemparkan pedangnya ke tanah.
Kedua tangan Tumenggung Giriloka segera menangkup di depan dada. Cahaya merah bergulung-gulung melingkari kedua lengan tangannya. Hawa panas berseliweran cepat di sekitar tubuh Tumenggung Giriloka.
"Matilah kau, Wong Panjalu..!!
Ajian Tapak Geni.. Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!!!"
Tumenggung Giriloka segera menghantamkan tapak tangan nya ke arah sang perwira tinggi prajurit Panjalu. Sinar merah menyala berhawa panas menerabas cepat kearah sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu.
Whhhuuuggghhhh!!
Mengandalkan kecepatan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi, Tumenggung Ludaka menghindari serangan lawan nya.
Blllaaammmmmmmm!!
Sebuah lobang sebesar kerbau tercipta di tempat Tumenggung Ludaka berdiri, dari hantaman Ajian Tapak Geni yang dilepaskan oleh Tumenggung Giriloka. Melihat lawannya mampu lolos dari serangan cepat nya, Tumenggung Giriloka mendengus keras lalu menghantamkan tangan nya bertubi-tubi kearah sang perwira tinggi prajurit Panjalu.
Whuuthhh whuuthhh!!!
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!
Lagi lagi Tumenggung Ludaka berhasil selamat dari serangan cepat beruntun Tumenggung Giriloka dengan bersalto beberapa kali. Semakin geram melihat itu semua, Tumenggung Giriloka terus menghantamkan Ajian Tapak Geni ke ara sang perwira tinggi prajurit Panjalu berpijak.
Setelah menghindar kesekian kalinya, Tumenggung Ludaka segera merubah gerakan tubuhnya dan melesat cepat kearah Tumenggung Giriloka sambil kembali melemparkan belati kecil milik nya ke arah lawan.
Shhhrriinggg shhhrriinggg!!
"Permainan bocah kecil.. Aku tidak akan tertipu lagi, Wong Panjalu! ", teriak Tumenggung Giriloka sambil menghantamkan tapak tangan nya dua kali ke arah serangan senjata rahasia Tumenggung Ludaka.
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr..
Thhraaaakkkkkk!!!
Dua ledakan keras menghancurkan dua senjata rahasia Tumenggung Ludaka namun sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu mendadak muncul di samping kanan Tumenggung Giriloka sambil menghantamkan bola biru kekuningan Ajian Lebur Segara.
Tak ada ruang untuk menghindar, Tumenggung Giriloka memilih untuk memapak hantaman Ajian Lebur Segara dengan tapak tangan kanannya yang di lambari Ajian Tapak Geni miliknya.
Blllaaammmmmmmm !!!
Ledakan dahsyat terdengar. Kedua tubuh perwira tinggi prajurit yang sedang bertempur ini sama sama terpental ke belakang. Tumenggung Ludaka muntah darah segar. Dia bangkit dengan satu dengkul menyangga tubuhnya.
Semenjak itu Tumenggung Giriloka yang juga terpelanting ke dalam langsung menghantam salah satu tiang bangunan salah satu rumah warga Kota Kunjang. Dia muntah darah segar pertanda luka dalam nya sangat parah. Dia berusaha untuk bangkit, namun sebuah pisau belati kecil yang di lemparkan oleh Tumenggung Ludaka mengakhiri hidupnya dengan menebas batang leher nya.
Chhreepppppph!!
Oouuugghhhhhh!!!
Salah seorang diantara prajurit Panjalu yang menyamar, Jaluwesi segera mendekati sang perwira yang sedang terluka dalam ini.
"Kau baik baik saja, Gusti Tumenggung?", tanya Jaluwesi segera sambil memapah lelaki paruh baya bertubuh kekar itu.
"Aku tidak apa-apa, Jaluwesi..
Cepat selesaikan perlawanan para prajurit Jenggala ini agar kita bisa bergabung dengan Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono. Lekaslah..!!!", perintah Tumenggung Ludaka sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia menatap ke arah api jebakan yang mulai mengecil. Itu adalah tanda bahwa mereka harus segera mundur.
Mendengar perintah itu, para prajurit Panjalu yang menyamar langsung mengamuk bagaikan kesurupan dalam membantai para prajurit Jenggala yang tersisa.
Saat api jebakan yang mereka buat hampir padam, seluruh prajurit Jenggala sudah habis mereka bantai. Tumenggung Ludaka langsung memberikan isyarat kepada para prajurit Panjalu itu.
"Kita mundur! Cepat!!"
Mereka semua segera bergegas meninggalkan tempat itu saat api mulai padam untuk bergabung dengan pasukan Panjalu yang sudah bersiap untuk berperang. Kini di samping Istana Pakuwon Kunjang, pasukan Panjalu di bawah pimpinan langsung Panji Tejo Laksono sudah bersiap-siap. 8 ribu prajurit di bawah pimpinan Senopati Muda Jarasanda menyambut kedatangan para prajurit Jenggala yang dipimpin oleh Tumenggung Widura dari Kotaraja Kahuripan sedangkan di jalur kanan Panji Manggala Seta bersama orang orang Tanah Perdikan Lodaya yang dipimpin oleh Tumenggung Pandu yang berjumlah 10 ribu orang prajurit menyongsong serangan pasukan Tumenggung Ranasuta. Sisanya bersiap bersama Panji Tejo Laksono menghadang laju pergerakan pasukan Jenggala.
Pasukan Jenggala yang masih di bawah pimpinan Senopati Mpu Balitung langsung bergerak cepat memasuki Kota kecil Kunjang begitu api yang menghalangi laju pergerakan mereka padam. Dengan sisa 40 ribu orang prajurit di bawah perintah nya, Senopati Mpu Balitung bersama dengan Begawan Mpu Supa dan adiknya Resi Sempati membawa pasukannya untuk menghadapi Panji Tejo Laksono.
"Orang-orang Panjalu keparat!!
Begawan Mpu Supa, lakukan tugasmu sekarang!!!", teriak Senopati Mpu Balitung lantang.
Begawan Mpu Supa segera menghormat pada Senopati Mpu Balitung. Lelaki tua berjanggut pendek putih dengan tatapan mata setajam tatapan mata elang itu langsung melayang seperti terbang di udara. Pedupaan di tangan kiri nya mengepulkan asap putih berbau harum kemenyan dan setanggi itu langsung di goyangkan. Mendadak waktu seperti berhenti bagi para prajurit Panjalu yang menerjang maju ke arah para prajurit Jenggala.
Melihat Begawan Mpu Supa sudah berhasil melakukan tugasnya, Senopati Mpu Balitung menyeringai lebar dan segera berteriak lantang,
"Bunuh semua orang Panjalu!!!".
Para prajurit Jenggala langsung mengayunkan senjata mereka. Mereka sama sekali tidak mendapatkan perlawanan apapun dari para prajurit Panjalu yang mendadak menjadi kaku. Dalam sekejap saja, ratusan orang prajurit Panjalu langsung tewas bersimbah darah.
Dyah Kirana yang berkuda di samping Panji Tejo Laksono langsung menggeram keras.
"Bajingan tua itu memakai ilmu sihir, Gusti Pangeran", ucap Dyah Kirana sembari terus menatap tajam ke arah Begawan Mpu Supa yang melayang di udara.
"Brengsek!!
Apa kau tahu cara mengatasinya, Kirana? Kalau bisa cepatlah, nyawa prajurit Panjalu dalam bahaya", Panji Tejo Laksono panik karena melihat ratusan orang prajurit nya tewas tanpa melawan.
"Serahkan saja pada ku, Gusti Pangeran", setelah berkata demikian, mulut Dyah Kirana segera berkomat-kamit membaca mantra. Tangan kanannya merogoh sesuatu di dalam balik bajunya dan melemparkannya ke arah para prajurit Panjalu yang tidak bisa bergerak.
Whhhuuuggghhhh...
Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Terdengar suara Ledakan dan waktu yang menghentikan pergerakan prajurit Panjalu kembali seperti sedia kala. Begawan Mpu Supa langsung terjatuh ke tanah dan muntah darah segar.
Pertempuran pun kini berlangsung seperti umumnya. Para prajurit Panjalu yang melihat kawan-kawannya terbunuh, mengamuk seperti kesurupan. Orang-orang Wanua Karang Pulut yang juga ikut membantu, menggunakan segenap kemampuan beladiri mereka untuk membunuh para prajurit Jenggala sebanyak-banyaknya.
Begawan Mpu Supa segera berdiri dari tempat jatuhnya. Adiknya Resi Sempati segera bergegas mendekati sang kakak.
"Kakang, kau kenapa? Kog tiba-tiba saja jatuh seperti kehilangan tenaga?", tanya Resi Sempati segera. Pria botak bertubuh sedikit gemuk itu menatap heran ke arah Begawan Mpu Supa yang sedang mengusap darah segar yang meleleh keluar dari mulut nya.
"Ada yang mematahkan Ilmu Jangka Arcapada ku, Adik. Sepertinya ada yang bisa ilmu sihir di rombongan pasukan Panjalu", balas Begawan Mpu Supa.
"Akan aku lihat siapa yang berani mengganggu kesenangan ku!!!", setelah berkata demikian, Begawan Mpu Supa langsung melesat di udara meninggalkan Resi Sempati yang terbengong-bengong karena baru kali ini melihat kakaknya murka. Pria bertubuh sedikit gemuk itu langsung melesat cepat kearah para prajurit Panjalu sambil mengayunkan tongkat nya.
Di udara, Begawan Mpu Supa menatap tajam ke arah rombongan perwira tinggi prajurit Panjalu di kejauhan. Matanya langsung terpaku pada sosok seorang wanita cantik berpakaian serba putih yang juga sedang menatapnya.
"Jadi kau rupanya yang merusak kesenangan ku, perempuan laknat!!
Akan ku buat kau mati mengenaskan!", teriak Begawan Mpu Supa sembari melemparkan tasbih biji genitri di tangan kanannya ke arah Dyah Kirana. Tiba-tiba saja tasbih biji genitri itu membesar hingga sebesar buah kelapa dan melayang cepat kearah Dyah Kirana.
Whhuuuuuuuggggh!!
Tanpa menunggu persetujuan dari Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana segera melesat cepat kearah Begawan Mpu Supa sembari mengayunkan Pedang Bulan Sunyi pemberian Resi Ranukumbolo ayahnya.
Shhrreeettthhh!!
Cahaya kuning redup seperti cahaya bulan purnama langsung menebas ke arah tasbih biji genitri yang di lemparkan oleh Begawan Mpu Supa.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat cahaya kuning redup Pedang Bulan Sunyi beradu dengan tasbih biji genitri milik Begawan Mpu Supa. Kedua orang itu segera mendarat di tanah dan saling berhadapan.
"Pedang Bulan Sunyi??
Bukankah itu senjata si keparat Ranukumbolo? Darimana kau mendapatkan nya, perempuan busuk?!", berondong pertanyaan terlontar dari mulut Begawan Mpu Supa. Dia punya ingatan yang buruk dengan pedang di tangan Dyah Kirana itu.
"Hehehehe kau kaget ya, penyihir tua?
Ini adalah pedang pemberian ayah ku, Resi Ranukumbolo dari Gunung Mahameru. Sepertinya dia sudah tahu kalau aku akan bertemu dengan orang tua bajingan yang hanya mencari keuntungan dari seperti mu, makanya dia memberikan pedang ini untuk melawan mu", Dyah Kirana tersenyum lebar.
"Kurang ajar!!!
Si tua bangka Ranukumbolo sudah pernah mempermalukan ku dengan pedang karatan di tangan mu itu. Hari ini akan ku buat kau menyesal karena telah berani memegang pedang keparat itu, gadis sial!!!", teriak Begawan Mpu Supa sembari mengibaskan tangannya ke arah Dyah Kirana.
Serangkum angin dingin berdesir kencang mengikuti gerakan tangan Begawan Mpu Supa seakan ingin menerbangkan tubuh Dyah Kirana sejauh mungkin dari tempat itu.
Dyah Kirana segera menghujamkan kakinya ke tanah hingga melesak masuk setengah betis. Mulut sang putri Resi Ranukumbolo dari Pertapaan Gunung Mahameru itu komat kamit membaca mantra. Dengan cepat ia menebaskan Pedang Bulan Sunyi ke arah Begawan Mpu Supa.
Shhrreeettthhh...
Blllaaaaaarrr!!!
Cahaya kuning redup seperti cahaya bulan purnama kembali melesat cepat kearah Begawan Mpu Supa. Kakek tua berjanggut pendek itu harus berkelit menghindar saat tebasan cahaya pedang Dyah Kirana nyaris memotong tubuhnya. Angin kencang berhawa dingin itu langsung menghilang begitu saja setelah tebasan Pedang Bulan Sunyi membelah nya.
Dyah Kirana tersenyum lebar sembari menatap ke arah wajah Begawan Mpu Supa yang muram sembari berkata,
"Sihir murahan mu tak akan berguna di hadapan Pedang Bulan Sunyi, kakek tua!
Keluarkan lagi yang lebih hebat!".