Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Akhir Sebuah Dendam


Sementara Panji Tejo Laksono berhasil mengalahkan Ki Kalawisesa, Wigati yang sadar bahwa ia dalam bahaya besar segera meremas sesuatu di dalam telapak tangannya. Perempuan cantik itu segera melemparkan benda itu ke arah Mpu Anggada yang juga menonton dari tempat yang berjauhan.


Shrrriinnnggg..


Chhreepppppph!!


Auuuggghhhhh...!!


Terdengar suara teriakan keras dari Mpu Anggada dan itu menarik perhatian semua orang. Wigati dengan cepat melepaskan selendang yang ada di atas kemben nya dan dengan cepat menaruhnya di atas kepala sebagai tudung. Seketika ia lenyap dari pandangan mata semua orang. Warma yang menyadari hilangnya Wigati, langsung berteriak keras.


"Perempuan itu menghilang!"


Dyah Kirana yang ada di dekat Panji Tejo Laksono segera berbisik pada sang pangeran muda dari Kadiri. Mendengar itu, Panji Tejo Laksono segera mengedarkan pandangannya pada semua orang yang ada di tempat itu.


"Semuanya, cepat bentuk pagar melingkar tempat ini. Jika merasakan sesuatu menabrak tubuh atau melukai kalian, cepat teriak", titah sang Pangeran Adipati dengan cepat. Tanpa menunggu lama, para prajurit Seloageng segera melaksanakan tugas yang diberikan.


Luh Jingga dan Gayatri segera menghampiri Mpu Anggada yang terkapar di tanah. Perut Lurah Wanua Ranja itu perlahan membesar dan terus membesar seperti hendak meletus. Mpu Anggada langsung berteriak-teriak minta tolong.


"Tolong aku Gusti Selir, tolong akuuu.


Adduuuuuhhhhh......", rintih Mpu Anggada sembari terus mengerang kesakitan.


"Kirana, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?", Luh Jingga menoleh ke arah Dyah Kirana yang terus menajamkan penglihatan nya pada tengah pagar betis para prajurit Seloageng.


"Kita bisa menolong Mpu Anggada jika perempuan teluh itu tertangkap, Kangmbok Luh Jingga..


Dia terkena ilmu pangiwa", ujar Dyah Kirana tanpa mengalihkan pandangannya. Luh Jingga dan Gayatri saling berpandangan sejenak lalu keduanya ikut memandang ke arah tengah halaman kediaman Mpu Anggada. Sedangkan Mpu Anggada sementara dirawat oleh Jagabaya.


Rupanya Wigati menggunakan sebuah ajimat yang selalu di bawanya kemanapun ia pergi. Benda itu adalah Selendang Wewe Gombel. Selendang berwarna hijau tua lusuh itu di dapatnya dari Ki Kalawisesa yang bisa di gunakan untuk sarana melarikan diri. Kemampuannya yang utama adalah sanggup menghilangkan wujud seseorang yang memakainya.


Wigati yang masih berada di tempat itu langsung terkurung dalam pagar betis para prajurit Seloageng. Meski ia tidak terlihat, namun ia juga tidak bisa keluar dari tempat itu.


'Brengsek, bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari tempat ini?', batin Wigati sembari terus berupaya keras untuk mencari celah diantara para prajurit Seloageng.


Setelah melihat para prajurit Seloageng membentuk pagar betis, Dyah Kirana segera bergegas menuju ke arah dapur kediaman Mpu Anggada. Perempuan cantik berbaju putih itu segera mencari sesuatu di tumpukan tampah yang ada di rak kayu dapur. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Dyah Kirana tersenyum lebar.


"Kau tidak akan bisa lolos semudah itu, perempuan teluh!", gumam Dyah Kirana seraya membawa tampah itu keluar dari dalam dapur rumah Mpu Anggada.


Sesampainya di halaman, Dyah Kirana segera melemparkan isi tampah ke arah dalam pagar betis para prajurit Seloageng.


Whuuussshh..!!


Rupanya isi tampah itu adalah tepung beras yang akan di gunakan untuk membuat kue. Tepung beras itu segera menyebar ke sekeliling tempat itu. Semua orang terheran-heran melihat sikap Dyah Kirana yang mereka anggap aneh. Namun saat melihat tepung beras itu membentuk sesosok tubuh di tengah halaman kelurahan Wanua Ranja, seorang prajurit Seloageng langsung berteriak keras.


"Itu dia orangnya!!"


Tanpa menunggu lama, si prajurit Seloageng yang berteriak keras langsung melompat ke arah sosok tubuh yang terbentuk dari taburan tepung beras yang dilemparkan oleh Dyah Kirana. Walhasil, dia menubruk sosok tubuh yang berselimut tepung beras itu. Saat selendang hijau tua yang penuh tepung beras itu ditarik, mereka melihat sosok Wigati sedang terhimpit oleh sang prajurit Seloageng.


"Kau memang cerdik, Kirana ..


Tak ku sangka kalau kau akan sampai menggunakan cara itu untuk menangkap perempuan itu. Aku salut pada mu", puji Panji Tejo Laksono sembari tersenyum penuh arti.


"Benar Kirana.. Aku saja tadi sempat menganggap mu aneh karena tahu tahu melemparkan tepung ke halaman. Kau benar benar pintar ", imbuh Gayatri yang di sambut anggukan kepala dari Luh Jingga.


"Ah itu hanya kebetulan saja, Gusti Pangeran, Kangmbok berdua..


Selendang Wewe Gombel yang di miliki oleh perempuan itu memang bisa menghilangkan wujud nya tapi tidak memindahkan orang nya. Itu adalah kelemahannya. Kebetulan saja aku mengetahuinya", ujar Dyah Kirana rendah hati. Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti.


Sementara itu, Wigati yang ada dalam himpitan tubuh besar prajurit Seloageng meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri, namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga yang dimiliki oleh prajurit Seloageng itu.


"Keparat ! Cepat lepaskan aku! Tubuh mu bau sekali, aku rasanya mau muntah!", maki Wigati sembari terus berupaya untuk lepas dari himpitan tubuh sang prajurit.


"Hehehehe.. Perempuan sihir, coba saja kau kabur kalau bisa dari dekapan hangat Wonotirto", ujar si prajurit Seloageng yang punya nama Wonotirto itu sembari tersenyum penuh kemenangan.


Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana, Gayatri dan Luh Jingga segera berjalan mendekati Wigati. Dyah Kirana segera memungut Selendang Wewe Gombel yang penuh tepung beras itu dan mengibaskan nya. Tepung beras langsung beterbangan saat Dyah Kirana mengibaskan nya. Segera putri Resi Ranukumbolo itu menyimpan benda itu.


Jika tidak jangan salahkan aku jika aku terpaksa harus mengambil tindakan tegas terhadap mu", ucap Panji Tejo Laksono sembari menatap tajam ke Wigati yang terhimpit oleh tubuh besar prajurit Seloageng. Luh Jingga, Gayatri dan Dyah Kirana ikut memandang wajah cantik Wigati.


"Hihihihihihi..


Tidak akan pernah aku lepaskan Si Lurah itu. Jika aku harus mati pun, maka dia juga harus mati bersama ku. Dia membiarkan putra nya tidak bertanggung jawab atas perbuatannya, bahkan menutup mata atas kelakuan putranya yang menghamili ku..


Karena dia pula, aku terpaksa harus kehilangan putra ku. Seluruh keluarga Mpu Anggada harus mati. Mereka semua harus mati", Wigati menggeram keras seraya mendelik kereng kearah Mpu Anggada yang sedang merintih kesakitan. Dendam kesumat yang sudah menguasai dirinya benar benar membutakan mata hati nya.


Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Dyah Kirana karena penguasa Kadipaten Seloageng ini tahu bahwa hanya Dyah Kirana yang bisa menyelesaikan ini semua. Dyah Kirana langsung paham dengan apa yang diinginkan oleh Panji Tejo Laksono. Perempuan cantik berbaju putih itu segera merapal sebuah mantra. Jempol tangan kanannya dia gigit hingga mengeluarkan darah.


"Oh Dewa Sang Penguasa Alam Semesta..


Dari tanah kembali ke tanah, dari api kembali ke api. Dari air kembali ke air dan dari sihir kembali ke asalnya", ujar Dyah Kirana sembari melangkah ke arah arah Wigati yang tertindih. Wajah cantik Wigati langsung memucat melihat ujung jempol Dyah Kirana yang berlumuran darah.


"Ja-jangaaannnn.. jangan lakukan itu", teriak Wigati yang ketakutan setengah mati. Tanpa mempedulikan teriakan menghiba dari Wigati, Dyah Kirana segera mengoleskan darah segar di jempol tangan kanannya ke dahi Wigati.


Rasa panas seperti terbakar api segera menyebar ke seluruh wajah cantik Wigati. Seketika wajah asli pun nampak. Semua orang terkejut melihat itu semua. Si prajurit Seloageng yang menghimpit tubuh Wigati pun segera melepaskannya karena tidak kuat menahan hawa panas yang keluar dari tubuh Wigati.


AAAARRRGGGGGGHHHHH !!!


Wigati terus menjerit-jerit kesakitan. Tubuhnya berguling-guling di halaman rumah Mpu Anggada. Perlahan tubuh Wigati mengurus dan semakin kurus hingga menyisakan kulit dan tulang saja. Dan..


Blllaaaaaarrr !!


Ledakan terdengar dari tubuh Wigati bersamaan dengan api yang membakar tubuh perempuan itu. Bau sangit daging yang terbakar api segera menyebar ke seluruh tempat itu. Semua orang terus terpana melihat kejadian itu. Sedangkan Mpu Anggada perutnya mengempis setelah meledaknya tubuh Wigati. Pria paruh baya yang menjadi pengatur wilayah Kadipaten Seloageng di sebelah selatan ini perlahan bangkit dari tempat nya. Dia segera berjalan mendekati Panji Tejo Laksono.


"Dendam memang bisa membutakan hati. Barangsiapa yang menyimpan sekecil apapun api dendam dalam hatinya, pasti dia akan melakukan segala cara untuk membalas dendam", gumam Panji Tejo Laksono sembari terus melihat api yang membakar tubuh Wigati. Luh Jingga, Dyah Kirana dan Gayatri turut berdiri di samping sang pangeran muda.


"Hamba mengerti itu, Gusti Pangeran Adipati..


Anggara putra hamba sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya pada Wigati. Dia terkena musibah dan meninggal dunia saat sedang menata warga Wanua Ranja membangun bendungan untuk pengairan lahan pertanian. Hamba mengerti perasaan Wigati tapi hamba juga tidak tega untuk menghukum Anggara saat itu. Itu adalah kesalahan terbesar hamba saat itu, Gusti Pangeran. Mohon ampuni hamba", Mpu Anggada menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Sudahlah, Mpu Anggada. Semoga semua kejadian ini akan menjadi pelajaran berharga buat mu untuk bisa adil dan bijaksana dalam mengambil setiap keputusan di Wanua Ranja.


Keadilan itu buta, Mpu Anggada. Dia tidak berpihak pada siapapun kecuali untuk yang benar. Sekalipun itu keluarga atau kerabat mu sendiri, kau harus bisa bersikap tegas terhadap setiap kesalahan mereka", ujar Panji Tejo Laksono tanpa mengalihkan pandangannya pada api yang membakar tubuh Wigati.


"Hamba mengerti, Gusti Pangeran Adipati ", balas Mpu Anggada segera.


Saat semua masih terpaku pada kejadian yang baru saja mereka alami, terdengar suara derap langkah kaki kuda dari kejauhan. Lima obor yang terbuat dari daun kelapa kering yang diikat dengan tali dari bambu, terlihat mendekati tempat itu. Begitu sampai di depan halaman kediaman Mpu Anggada yang menjadi pendopo kelurahan Wanua Ranja, barulah terlihat siapa yang datang.


Tumenggung Kundana datang bersama 4 orang prajurit Seloageng. Punggawa istana Seloageng itu segera melompat turun dari kudanya diikuti oleh para pengiringnya. Segera dia bergegas menuju ke arah Panji Tejo Laksono.


"Ada apa kau menyusul kemari, Tumenggung Kundana?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Mohon ampun beribu ampun Gusti Pangeran Adipati..


Tadi baru saja ada utusan dari Istana Kotaraja Daha. Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg. Mereka membawa nawala dari Gusti Prabu Jayengrana untuk Gusti Pangeran Adipati. Sekarang nawala itu di simpan oleh Gusti Permaisuri Pertama. Hamba di perintahkan oleh Gusti Permaisuri Pertama untuk mengabarkannya pada Gusti Pangeran Adipati.


Melihat kedatangan Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg, sepertinya ini sangat penting Gusti Pangeran Adipati", ujar Tumenggung Kundana sembari menyembah pada Panji Tejo Laksono.


Hemmmmmmm..


'Tumben sekali Kanjeng Romo Prabu Jayengrana mengirimkan Nawala. Jika seperti ini, sepertinya ini benar-benar tidak bisa di anggap enteng. Aku harus segera pulang ke Istana Kadipaten Seloageng ', batin Panji Tejo Laksono.


Belum sempat Panji Tejo Laksono mengeluarkan suara nya, dari arah timur rombongan lain juga datang. Rupanya mereka adalah Senopati Gardana bersama dengan Maharesi Baratwaja dari Pertapaan Ranja bersama beberapa cantrik dan para prajurit pengiringnya.


Melihat api yang sedang berkobar di halaman rumah dan kerumunan orang orang yang ada di tempat itu, Senopati Gardana langsung menggaruk kepalanya.


"Walah seperti aku terlambat.."


_____________________________________________


Author mengucapkan Selamat Tahun Baru 2023. Author doakan semoga yang punya mimpi belum tercapai di tahun 2022, bisa terkabul di 2023 nanti. Aamiin.