Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Melawan Luo Fan


"Pangeran Zhao,


Kau tenang saja. Stempel Giok Naga itu pasti akan ku dapatkan untuk mu", ujar Si Tengkorak Hitam Luo Fan sembari berdiri dari tempat duduknya. Pria bertubuh kurus itu nampak angkuh sembari berjalan dengan tongkat besi bergagang tengkorak manusia yang berwarna hitam legam.


"Aku tidak meragukan kemampuan mu, Tetua.


Jenderal Liu King, Chen Su Bing dan lainnya tak kan jadi masalah besar bagi mu. Tapi pemuda bermata besar dari pulau selatan itu yang perlu kau waspadai", Zhao Wei memperingatkan Luo Fan tentang bahaya besar yang ada pada Panji Tejo Laksono. Pengalaman nya sudah mengajari Zhao Wei tentang betapa tidak terduga nya kemampuan beladiri yang di miliki oleh Panji Tejo Laksono. Tetua Kedua Sekte Macan Besi Hauw Tian dan Pimpinan Perguruan Gunung Wu Tang Chan San Fung adalah orang suruhan nya yang sudah merasakan kehebatan pangeran muda dari Kadiri itu. Dia tentu tidak ingin gagal untuk ketiga kalinya dalam upaya merebut Stempel Giok Naga yang menjadi lambang kekuasaan tertinggi Dinasti Song.


"Serahkan saja pada ku, Pangeran Zhao..


Aku akan langsung menggunakan Ilmu Delapan Belas Tulang Iblis untuk menghadapi pemuda itu. Kau pun sudah tahu kalau Dewa Pedang Pusat pun terluka parah saat aku menggunakan ilmu tenaga qi ku bukan?", Luo Fan dengan penuh kepercayaan diri menyeringai lebar kearah Zhao Wei.


Setelah berbincang beberapa saat lagi, Luo Fan dan beberapa pendekar sewaan berilmu tinggi yang di tugaskan untuk membantu Luo Fan Si Tengkorak Hitam segera meninggalkan tempat yang menjadi markas perkumpulan rahasia mereka. Zhao Wei sangat berharap agar upaya ini berhasil. Dengan begitu, tujuan ayahnya Gubernur Zhao Yun untuk merebut tahta Kekaisaran Song bisa terlaksana dengan lancar.


Dengan gerakan selincah burung layang-layang, kesembilan orang suruhan Pangeran Zhao Wei bergerak cepat menuju ke arah barat tapal batas Kota Kaifeng tepatnya di selatan Danau Xihu. Setelah sampai di tempat yang diinginkan, kesembilan orang pendekar berilmu tinggi ini langsung menyebar ke sekitar jalan raya di dekat jembatan yang menuju ke arah tapal batas barat wilayah ibukota Kekaisaran Song.


Besarnya rombongan yang mengiringi langkah Putri Song Zhao Meng pulang ke istana Kaifeng membuat perjalanan mereka lambat. Meski demikian pemandangan indah di selatan Sungai Yangtze, dengan segala tata letak pemukiman dan hijau nya pepohonan membuat perjalanan lambat ini terasa menyenangkan.


"Tuan Putri,


Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai di Ibukota Kekaisaran. Lihatlah, hutan bambu ini adalah bagian selatan Danau Xihu. Itu artinya kita sebentar lagi akan tiba di tapal batas barat Kota Kaifeng", ujar Qiao Er sembari menunjuk ke arah rimbun pohon bambu berselang-seling pepohonan besar yang berada di sisi utara jalan.


"Sepertinya kau hafal sekali dengan tempat ini, Qiao Er..


Apa kau sering keluar dari Istana?", tanya Putri Song Zhao Meng segera.


"Sebelum aku bertugas sebagai pelayan Tuan Putri, aku adalah pembantu juru masak istana jadi aku sering di ajak belanja bahan makanan keluar kota. Aku sering lewat tempat ini", jawab Qiao Er sembari tersenyum simpul. Luh Jingga dan Wanyan Lan yang satu kereta kuda dengan mereka hanya diam saja tanpa berkata apa-apa. Kereta kuda itu terus bergerak mengikuti para prajurit pengawal yang di pimpin oleh Jenderal Liu King.


Sementara itu di luar kereta kuda, suasana indah dan cerah cuaca hari itu seketika berubah setelah sebuah tawa keras terdengar lantang menusuk gendang telinga.


Hahahahahaha......


Suara yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi ini sangat menyiksa pendengaran. Beberapa prajurit pengawal langsung menutup kuping mereka dan kuda kuda meringkik keras tak beraturan.


"Tuan Putri, telinga ku sakit sekali..!!", teriak Qiao Er sembari membekap telinga nya kuat-kuat. Diantara para penumpang kereta kuda, hanya Qiao Er saja yang tidak bisa menggunakan tenaga dalam karena dia tidak pernah belajar. Sedangkan Luh Jingga, Wanyan Lan dan Song Zhao Meng mengerahkan tenaga dalam mereka untuk bertahan dari suara tawa keras yang memekakkan telinga ini.


Panji Tejo Laksono yang berada di depan kereta kuda langsung melompat tinggi ke udara. Lalu secepat kilat Panji Tejo Laksono menghantamkan tangan kanannya ke depan. Serangkum angin panas langsung berhembus kencang kearah sumber suara itu.


Whhhuuuuusssshhh...!!


Setelah mendapat hantaman angin panas yang dihantamkan oleh Panji Tejo Laksono, tawa keras memekakkan telinga itu langsung berhenti. Para prajurit yang sempat kesakitan langsung mencabut senjata mereka masing-masing untuk bersiap siaga karena ini jelas ada keinginan yang tidak baik dari orang yang mengeluarkan suara tadi. Dengan cekatan dan gesit, para pengawal Putri Song Zhao Meng yang di pimpin oleh Jenderal Liu King dan Chen Su Bing langsung membentuk pagar betis.


Sedangkan Panji Tejo Laksono, dua pengawal pribadi Wanyan Lan, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Demung Gumbreg dan Rakryan Purusoma langsung melompat turun dari kuda mereka masing-masing dan menatap ke arah sekeliling tempat itu.


Dari atas pepohonan dan bawah jembatan, sembilan bayangan melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan. Gerakan tubuh mereka begitu ringan hingga dengan cepat mereka sampai di hadapan rombongan yang hendak masuk ke dalam Kota Kaifeng ini.


Luo Fan Si Tengkorak Hitam segera melangkah maju ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan diikuti oleh para pendekar sewaan Pangeran Zhao Wei.


"Ada maksud apa kalian menghadang kami?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Anak muda, jangan cepat marah..


Aku tidak ingin ribut dengan kalian. Begini saja, sebaiknya kau bilang agar Huang Lung menyerahkan Stempel Giok Naga pada kami secara baik baik. Setelah itu kami tidak akan mengganggu kalian. Bagaimana?", Luo Fan menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


Mendapat omongan seperti itu, Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah kereta kuda yang ada di belakang nya. Dari dalam kereta kuda, Wanyan Lan alias Huang Lung melesat cepat ke samping Panji Tejo Laksono dan yang lainnya.


"Tetua Luo,


Aku Huang Lung sangat menghormati mu sebagai salah satu tetua dunia persilatan. Namun untuk urusan yang satu ini, mohon maaf aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu", jawab Wanyan Lan sembari menatap pada Luo Fan Si Tengkorak Hitam.


Huhhhhh...


"Aku masih memandang wajah ayahmu sebagai Kepala Keluarga Wanyan, gadis kecil. Cepat serahkan Stempel Giok Naga itu sekarang, sebelum aku memaksa mu dan kau pasti akan menyesali nya!", bentak Luo Fan sembari mengulurkan tangannya ke arah Huang Lung.


"Sekali lagi maaf Tetua..


Ini adalah amanat yang di titipkan pada ku. Aku akan menyerahkannya kepada yang berhak",Huang Lung alias Putri Wanyan Lan bersikukuh untuk menolak keinginan Luo Fan.


"Baik, kau yang memaksa ku untuk berbuat kasar pada mu, gadis sial!", sembari menggerutu, Luo Fan Si Tengkorak Hitam segera melesat cepat kearah Wanyan Lan. Bersamaan dengan itu, kedelapan orang pendekar sewaan Pangeran Zhao Wei turut menerjang maju.


Pertarungan sengit segera pecah di tempat itu.


Luo Fan dengan cepat mengayunkan tongkat besi bergagang tengkorak itu segera ke arah Huang Lung. Putri Kepala Suku Jurchen ini langsung berkelit menghindari. Dua pengawal pribadi nya mencoba untuk menghadang laju pergerakan Luo Fan sembari mengayunkan pedang besarnya.


Luo Fan menjejak tanah dengan keras lalu melompat tinggi ke udara menghindari sabetan senjata dua pengawal pribadi Wanyan Lan sembari mengayunkan tongkat besi nya.


Whhhuuuggghhhh..!!


Selarik sinar hitam redup berbau busuk menerjang ke arah dua orang pengawal pribadi Wanyan Lan. Dua orang itu segera memutar pedang besarnya untuk menahan serangan Luo Fan sekuat tenaga.


Blllaaaaaarrr...


Aaauuuuggggghhhhh!!


Dua orang pengawal pribadi Wanyan Lan langsung terpelanting ke belakang dan muntah darah segar seraya menyusruk tanah dengan keras. Melihat dua orang itu roboh, Luo Fan dengan cepat mendarat di tanah lalu mengayunkan tongkat besi bergagang tengkorak miliknya ke arah Wanyan Lan. Putri Kepala Keluarga Wanyan ini segera membabatkan pedang nya, menangkis serangan cepat Luo Fan yang mengincar nyawanya.


Thrrraaannnnggggg !!


Kalah tenaga dalam juga kalah pengalaman bertarung, Wanyan Lan terpental jauh ke belakang. Saat tubuhnya hampir menyentuh tanah, Panji Tejo Laksono yang baru saja menjatuhkan salah satu pendekar sewaan Pangeran Zhao Wei, melesat cepat menyambar tubuh Wanyan Lan dan mendarat dengan selamat di dekat pagar betis Jenderal Liu King.


"Nona Lan,


Kau tidak apa-apa?", tanya Panji Tejo Laksono segera sembari menatap wajah cantik Wanyan Lan yang meringis menahan rasa sakit. Ada darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"A-aku baik baik saja, Kakak Thee..", jawab Wanyan Lan terbata-bata. Dari itu sudah kelihatan bahwa Wanyan Lan sedang terluka dalam cukup parah.


"Dasar perempuan..


Sebaiknya kau beristirahat di sini. Pendekar tua itu biar aku yang menghadapi", mendengar ucapan Panji Tejo Laksono, Wanyan Lan mengangguk mengerti karena dia sadar bahwa ia bukan lawan sepadan untuk Luo Fan. Setelah berkata seperti itu, Panji Tejo Laksono dengan cepat melesat ke arah Luo Fan yang masih memperhatikan gerak-gerik Panji Tejo Laksono sedari tadi.


Gerakan cepat Panji Tejo Laksono langsung membuat Luo Fan yang waspada dengan serangan sang pangeran muda dari Kadiri, segera memutar tongkat besi bergagang tengkorak itu ke depan dada dan memukulkan tongkatnya ke arah Panji Tejo Laksono yang menyerang dari arah depan.


Whuuuggghh!


Kecepatan tinggi serangan Luo Fan langsung membuat Panji Tejo Laksono sadar musuhnya bukan lawan enteng. Dengan cepat ia merubah gerakan tubuhnya begitu sambaran bonggol tongkat besi Luo Fan mengarah ke dadanya. Bertumpu pada tangan kanannya, Panji Tejo Laksono langsung melenting tinggi ke udara dan bersalto dua kali. Setelah itu sang pangeran negeri Panjalu ini meluncur turun dengan cepat kearah Luo Fan sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah berwarna merah menyala seperti api dari Ajian Tapak Dewa Api.


Menghadapi itu, Luo Fan dengan cepat menyilangkan tongkat besi nya ke atas kepala untuk menahan serangan Panji Tejo Laksono.


BLLLAAAAAARRR !!


Ledakan keras terdengar saat tangan kanan Panji Tejo Laksono membentur tongkat besi bergagang tengkorak itu. Luo Fan sampai melesak ke dalam tanah hingga setengah betis. Melihat lawan masih mampu menahan Ajian Tapak Dewa Api, tapak tangan kiri dan kanan Panji Tejo Laksono segera terayun cepat kearah tongkat besi Luo Fan.


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!


Bersamaan dengan ledakan keras yang terdengar, Luo Fan tubuhnya semakin melesak masuk ke dalam tanah hingga sebatas pinggang. Setelah menyerang, Panji Tejo Laksono segera berjumpalitan mundur beberapa tombak ke belakang dan menatap tajam ke Luo Fan yang separuh tubuhnya masih ada di dalam tanah.


Luo Fan terkekeh kecil sembari menyeringai buas menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Hehehehe...


Kau boleh juga bocah bermata lebar. Tapi ini semua baru saja di mulai!", sekali hentak tubuh kurus Luo Fan lepas dari dalam tanah. Kakek tua renta bertubuh kurus kering seperti tengkorak hidup ini segera mendarat di tanah sembari memutar tongkat besi nya dan segera menancapkan benda itu ke tanah.


Tangan kurusnya terlihat turun ke samping pinggang lalu bersilangan di depan dada. Hawa dingin menusuk tulang bercampur dengan aura aneh yang berwujud tulang tengkorak manusia muncul di atas tubuh Luo Fan. Bersamaan dengan itu, tubuh Luo Fan membesar dan tulang punggung nya mencuat keluar dari dalam tubuh.


Hooooaaaaaarrrrrrrggggghhhhh !


Perlahan bayangan tengkorak manusia diatas tubuh Luo Fan bergerak turun dan bersatu dengan tubuh Luo Fan hingga seluruh tubuh kakek tua renta itu tertutup rapat oleh tulang maya dari ilmu yang dikeluarkan. Wujud Luo Fan yang sekarang sukar sekali untuk di sebut sebagai manusia.


Ini adalah Ilmu Delapan Belas Tulang Iblis yang sangat tersohor di dunia persilatan Tanah Tiongkok. Dewa Pedang Pusat Wang Chun Yang saja harus berdarah-darah untuk mengalahkan Luo Fan yang menggunakan ilmu ini kala itu. Meskipun Luo Fan dikatakan kalah, namun keadaan Wang Chun Yang pun juga setengah mati.


Melihat itu, Panji Tejo Laksono merapal mantra Ajian Tameng Waja untuk melindungi diri. Selarik sinar kuning keemasan dengan cepat menutupi seluruh tubuhnya. Setelah pertahanan tubuh tertinggi selesai, Panji Tejo Laksono langsung merapal Ajian Waringin Sungsang nya karena lawan yang dihadapi nya memiliki kemampuan beladiri yang tinggi. Sinar hijau kebiruan dengan cepat menjalar dari mata kaki hingga berkumpul di mulut sang putra tertua Prabu Jayengrana itu.


Setelah Ilmu Delapan Belas Tulang Iblis sempurna di tubuhnya, Luo Fan menyeringai lebar penuh aura bengis ke arah Panji Tejo Laksono.


"Sekarang, waktunya kau aku kirim ke neraka!"


Setelah berteriak keras seperti itu, Luo Fan Si Tengkorak Hitam melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari menghantamkan tangan kanannya yang di bungkus tulang berwarna hitam ke arah dada lawan yang masih berdiri kokoh di tempat nya.


Blllaaammmmmmmm !!


Ledakan dahsyat terdengar saat hantaman tangan Luo Fan telak menghajar dada Panji Tejo Laksono. Asap tebal segera menutupi seluruh tempat itu. Beradunya dua ilmu tingkat tinggi ini membuat Panji Tejo Laksono terdorong mundur selangkah ke belakang sedangkan Luo Fan terseret mundur hampir satu tombak. Ini membuktikan bahwa tenaga dalam Panji Tejo Laksono lebih unggul dibandingkan dengan Luo Fan.


Saat asap tebal yang mengepul itu menghilang, mata Luo Fan melotot lebar melihat Panji Tejo Laksono baik baik saja. Bahkan sang pangeran muda ini tersenyum lebar sembari berkata,


"Coba kau pukul lebih keras, kakek tua!".