
Ki Krembung terus melesat cepat kearah tenda besar. Kecepatan tinggi Ajian Langkah Serigala miliknya membuatnya dengan mudah menerobos masuk ke dalam penjagaan keamanan ketat dari para prajurit Jenggala.
Dua orang prajurit pilihan yang menjaga luar tenda besar langsung bersiaga begitu melihat bayangan berkelebat cepat kearah mereka. Begitu Ki Krembung sampai, mereka segera melompat ke arah Ki Krembung sambil menusukkan tombaknya.
Whuuthhh whuuthhh!!
Mudah saja Ki Krembung menghindari tusukan tombak para prajurit Jenggala itu. Pria paruh baya bertubuh gempal itu berwajah tirus seperti rupa seekor serigala ini dengan cepat melompat ke udara dan memutar tubuhnya diatas para prajurit Jenggala itu lalu dengan cepat turun di belakang mereka seraya menghantam punggung mereka dengan kedua telapak tangan.
Bhhhuuuuuuggggh bhhhuuuuuuggggh!!
Dua orang prajurit penjaga tenda besar itu langsung terjungkal ke depan dengan punggung memar. Ki Krembung segera menyeringai lebar menatap mereka lalu bergegas berbalik badan namun...
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Terdengar suara senjata di cabut dari sarungnya dan semuanya teracung pada lelaki paruh baya itu segera. Rupanya di dalam tenda besar itu sedang berkumpul para perwira tinggi prajurit Jenggala seperti Tumenggung Sajiwan dari Hujung Galuh, Rakryan Gading dari Pasuruhan, Tumenggung Dananjaya dari Kotaraja Kahuripan dan Demung Kumbi dari Mathura.
Semuanya menatap tajam ke arah Ki Krembung. Pria paruh baya dengan pakaian serba abu-abu itu langsung mengangkat kedua tangan ke samping telinga.
"Sabar semuanya.. Aku tidak ada maksud jahat", ujar Ki Krembung segera.
"Siapa kau? Ada urusan apa kau kemari?", Tumenggung Sajiwan mengacungkan kerisnya ke depan wajah Ki Krembung.
"Hehehehe, tenang dulu perwira Jenggala.. Aku tidak ada maksud jahat..
Namaku Krembung. Orang dunia persilatan mengenal ku sebagai Pendekar Golok Serigala. Sudah pernah dengar nama ku belum kalian, hai Orang-orang Jenggala?", ucap Ki Krembung sambil tersenyum tipis.
Kaget Senopati Sajiwan mendengar Ki Krembung menyebut nama besar nya. Perwira tinggi prajurit Jenggala itu segera menurunkan keris nya dan menyimpan nya dalam sarung keris di pinggangnya. Tentu saja dia pernah mendengar nama besar Pendekar Golok Serigala itu. Semua orang di daerah Hujung Galuh juga mengetahuinya.
"Lantas apa tujuan mu kemari, Hai Pendekar Golok Serigala? Apa kau di bayar orang untuk mengacau tempat ini?", tanya Tumenggung Sajiwan segera.
"Eits jangan salah paham dulu, Perwira Jenggala.
Justru kedatangan ku bukan untuk memusuhi kalian tapi ada seseorang yang membayar ku untuk membocorkan rahasia kepada kalian. Siapa orangnya, kalian tidak perlu tahu tapi yang jelas aku kemari atas perintahnya", jawab Ki Krembung alias Pendekar Golok Serigala sambil menurunkan kedua tangan nya. Tangan kiri nya segera membenarkan gagang golok yang berukir kepala serigala di pinggang kiri.
"Cepat katakan apa rahasia yang kau bawa? Jangan berbelit-belit. Atau kau sengaja ingin mengulur waktu he?", bentak Tumenggung Dananjaya dari Kotaraja Kahuripan.
"Pelankan suara mu, hei Wong Jenggala. Apa kau pikir aku takut dengan mu ha?", Ki Krembung melotot lebar ke arah Tumenggung Dananjaya segera.
"Sabar Ki Krembung. Tidak perlu ribut hanya karena hal sepele. Sekarang katakan, rahasia apa yang kau bawa?", ucap Tumenggung Sajiwan menengahi situasi yang mulai memanas.
"Karena dia membuat ku tidak senang, aku batalkan saja. Aku permisi dulu", ujar Ki Krembung sambil berbalik arah. Tumenggung Dananjaya hendak menerjang maju ke arah Ki Krembung namun Tumenggung Sajiwan langsung mencegahnya dan mendekati lelaki paruh baya bertubuh gempal itu.
Segera Tumenggung Sajiwan merogoh kantong baju nya dan segera melemparkan sekantong kepeng perak tanggung ke samping kiri Ki Krembung.
Whhuuuuuuuggggh!
Dengan cepat Ki Krembung menangkap lemparan kantong kepeng perak dari Tumenggung Sajiwan. Lelaki paruh baya bertubuh gempal itu segera berbalik badan dan menimang-nimang kantong kepeng perak yang kira-kira berisi sekitar 30 kepeng.
"Nah kalau pengertian begini kan enak jadinya hehehehe...
Dengarkan hai Wong Jenggala. Besok pagi prajurit Panjalu berencana untuk menggempur kemah ini. Aku dengar bahwa pimpinan baru mereka sudah mempersiapkan rencana pemusnahan besar-besaran terhadap kalian", ujar Ki Krembung seraya memasukkan kantong kepeng perak di balik bajunya.
Kaget semua perwira tinggi prajurit Jenggala mendengar ucapan itu. Saat ini mereka sedang kehilangan arah karena luka dalam yang dialami oleh Senopati Sukmageni. Kalau sampai para prajurit Panjalu menyerbu, mereka pasti akan kocar-kacir. Suasana langsung hening seketika.
"Nah, berita sudah aku sampaikan. Aku permisi", setelah berkata demikian, Ki Krembung segera melesat cepat kearah barat meninggalkan para perwira tinggi prajurit Jenggala yang sedang kebingungan.
"Apa yang mesti kita lakukan untuk menghadapi situasi ini, Tumenggung Sajiwan? Kita tidak boleh berpangku tangan saja sementara ancaman para prajurit Panjalu sudah menanti di depan mata", ujar Demung Kumbi dari Mathura yang nampak ketakutan setengah mati.
"Kau benar, Demung Kumbi..
Kita tidak boleh berdiam diri saja sekarang ini. Malam ini seluruh prajurit Jenggala harus menyiapkan perangkap dan jebakan yang bisa berguna saat menghadapi gempuran pasukan Panjalu.
Tumenggung Dananjaya, bagaimana surat yang kita kirim ke Kahuripan? Apa sudah ada balasan?", Tumenggung Sajiwan menoleh ke arah Tumenggung Dananjaya yang berdiri di samping kanan nya.
"Sudah Kakang Sajiwan.. Gusti Prabu Samarotsaha sudah mengirimkan seorang utusan yang akan menjadi pimpinan pasukan Jenggala.
Dari surat yang aku baca, Gusti Prabu Samarotsaha mengutus Pangeran Ganeshabrata", ujar Tumenggung Dananjaya.
"Pangeran Ganeshabrata? Orang Blambangan itu?
Apa dia layak memimpin pasukan kita sedangkan Gusti Senopati Sukmageni saja sampai harus terbaring tak berdaya di ranjang peraduannya setelah berhadapan dengan pimpinan pasukan Panjalu?", Tumenggung Sajiwan langsung mengernyit heran mendengar keputusan dari Maharaja Jenggala itu.
"Aku juga tidak tahu, Kakang Sajiwan.. Meski dia seorang menantu di Istana Kotaraja, tapi selama ini aku tidak pernah melihat sepak terjangnya di dunia persilatan..
Aku benar-benar mengkhawatirkan pasukan kita", sahut Tumenggung Dananjaya segera.
"Hemmmmmmm...
Kita hanya bawahan Kakang Dananjaya. Perkara hasil biar saja Jagad Dewa Batara yang menentukan. Yang terpenting sekarang adalah kita harus cepat menyiapkan diri sebaik mungkin sebelum para prajurit Panjalu menyerbu kemari", ujar Rakryan Gading dari Pasuruhan yang sedari tadi hanya diam saja.
"Kau benar, Adhi Gading..
Mari kita siapkan segala sesuatu nya. Dan kita buat prajurit Panjalu menyesali kelancangan mereka yang berani menyerbu kemari", sahut Tumenggung Sajiwan yang di sambut anggukan kepala dari para perwira prajurit Jenggala yang lain.
Malam itu, para prajurit Jenggala menyiapkan aneka macam jebakan dan perangkap di sekeliling tempat perkemahan mereka.
Sementara itu, Ki Krembung yang melesat cepat kearah barat terus bergerak melintasi kegelapan malam. Tepat di tepi hutan kecil sebelum memasuki wilayah Wanua Sungging, sebuah bayangan hitam berkelebat cepat sembari melemparkan sesuatu ke arah Ki Krembung.
Shhhrriinggg shhhrriinggg!!!
Suara desing angin yang terbelah oleh senjata tajam yang di lemparkan oleh bayangan hitam itu tertangkap oleh telinga Ki Krembung yang peka. Lelaki paruh baya bertubuh gempal itu segera menjatuhkan diri ke tanah hingga serangan senjata rahasia itu hanya sejengkal melintas di atas kepalanya. Dua buah senjata rahasia yang ternyata berupa anak panah itu langsung menancap di batang pohon besar di samping kiri Ki Krembung.
Chhreepppppph chhreepppppph!!
"Bedebah keparat!!
Kalau ingin bertarung, cepat turun! Jangan seperti kera liar di atas pohon!", umpat Ki Krembung sambil mendelik kereng pada si bayangan hitam itu. Meski cahaya bulan yang mendekati purnama hanya menerobos sela sela awan tebal di angkasa, namun itu sudah cukup untuk melihat sosok yang menyerangnya.
Seorang gadis muda nan cantik berbaju hijau tua langsung membidikkan panah nya kembali ke arah Ki Krembung sambil melayang turun dari atas pucuk pepohonan di tepi hutan kecil ini.
Shhhrriinggg shhhrriinggg!!
Dua buah anak panah kembali melesat cepat kearah Ki Krembung. Lelaki paruh baya yang kondang sebagai hidung belang di tempat pelacuran tepi Sungai Kapulungan karena suka menjajal semua perempuan yang ada di tempat itu, dengan cepat mencabut Golok Serigala Biru di pinggangnya lalu setelah mundur selangkah, dia dengan cepat menebaskan senjata andalannya itu ke arah anak panah yang mengincar tubuhnya.
Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg..
Thhrraaaaaaaakkkkkk..!!!
Dua buah anak panah itu segera hancur dan patah menjadi beberapa bagian setelah Golok Serigala Biru menebasnya. Sang gadis cantik ini segera mendarat tak jauh dari tempat Ki Krembung berada
Melihat lawannya adalah seorang gadis cantik, Ki Krembung langsung tersenyum mesum ke arah perempuan cantik berbaju hijau tua itu.
"Hehehehe, rupanya yang menyerang ku adalah seorang bidadari cantik. Aku sungguh beruntung.
Hei Nisanak, kenapa kau menyerang ku? Sepertinya ini pertama kali kita bertemu dan aku merasa tidak punya urusan dengan mu sebelumnya", tanya Ki Krembung segera.
"Untuk apa ada alasan menyerang seorang bajingan yang menjual rahasia negara pada musuh?
Bagi ku, Bidadari Gunung Arjuna, kau hanyalah seekor serigala busuk yang layak untuk di musnahkan", ujar sang perempuan cantik berbaju hijau tua yang mengaku sebagai Bidadari Gunung Arjuna ini.
Hemmmmmmm...
'Sepertinya aku pernah mendengar nama itu saat di Tamwelang. Tunggu dulu, bukankah dia yang sudah membantai Widang Kencana, adik seperguruan ku?!
Kurang ajar !! Rupanya sekarang ini dia mengincar ku', batin Ki Krembung.
"Mulut mu tajam sekali, Bidadari Gunung Arjuna. Tak pantas seorang perempuan berkata kasar seperti itu.
Kalau kau bersedia tunduk pada ku, maka akan ku jadikan kau gundik ku dan ku lupakan bahwa kau yang membunuh Widang Kencana adik seperguruan ku. Tapi kalau kau berani menghalangi jalan ku, jangan salahkan bila aku membuat wajah cantik mu itu hancur dan tak seorangpun sudi menikahi mu hehehehe", Ki Krembung menyapukan lidahnya ke sudut pandang.
"Tua bangka muka serigala mesum!!
Kalau kau bisa mengalahkan ku, akan ku turuti kemauan mu. Sekarang cobalah untuk bisa mengalahkan ku, bajingan!", ujar Bidadari Gunung Arjuna segera.
Mendengar tantangan itu, Ki Krembung segera melesat cepat kearah Bidadari Gunung Arjuna sambil menyabetkan Golok Serigala Biru nya.
Shhrreeettthhh!!
Bidadari Gunung Arjuna segera memutar busur panah di tangan kanannya. Perempuan cantik itu mundur selangkah dan menangkis sabetan senjata Ki Krembung dengan besi sebesar saparuh lidi yang menjadi tali busur panah itu.
Whhheeeennngggggg..
Busur panah melengkung tajam namun tidak patah saat tebasan Golok Serigala Biru menimpa benang besi nya. Malahan benang besi itu sanggup mementalkan Ki Krembung. Saat Ki Krembung masih belum bisa memahami apa yang terjadi, Bidadari Gunung Arjuna menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat tinggi ke udara sambil mendengkul dada lelaki bertubuh gempal itu dengan keras.
Dhiiieeeessshh..
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Ki Krembung terpelanting ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Pria bertubuh gempal itu segera bangkit dan kembali menerjang maju ke Bidadari Gunung Arjuna dengan ayunan Golok Serigala Biru nya.
Pertarungan sengit di malam buta itu berlangsung lama. Keduanya saling serang dan bertahan silih berganti. Masing-masing mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri nya karena tahu bahwa lawan yang dihadapi cukup tangguh.
Namun perbedaan usia akhirnya yang menjadi penentu kemenangan. Ki Krembung yang mulai kepayahan setelah mengeluarkan serangan pamungkas nya tak bisa mengelak saat Bidadari Gunung Arjuna melayangkan tendangan keras kearah perut.
Bhhhuuuuuuggggh..
Oouuugghhhhhh!!!
Ki Krembung meraung keras merasakan perutnya seperti baru saja di hantam balok kayu besar. Dia terhuyung huyung mundur sambil memegangi perutnya yang sakit. Bidadari Gunung Arjuna melihat kesempatan ini, langsung menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi pada busur panah yang ada di tangan kanannya. Lalu secepat kilat dia melesat ke arah Ki Krembung yang terhuyung huyung mundur ke belakang.
Dengan sekuat tenaga, Bidadari Gunung Arjuna segera mengayunkan benang besi di busur panah nya ke arah leher Ki Krembung.
Chhrrrraaaaaassss!!
Tak ada suara teriakan apapun saat tubuh Ki Krembung dan kepalanya terpisah. Tubuh lelaki paruh baya hidung belang itu segera roboh ke tanah dengan darah segar menyembur keluar dari batang leher nya. Dia tewas di tangan Bidadari Gunung Arjuna, menyusul saudara seperguruan nya yang sudah lebih dulu mati di tangan orang yang sama.
"Satu persatu anak murid Padepokan Lembah Setan akan ku bunuh sebagai penebus dosa besar mereka yang telah membantai guru ku.
Guru semoga kau tenang di alam keabadian ", ucap Bidadari Gunung Arjuna sembari melesat cepat meninggalkan tempat itu menuju ke arah selatan.
Bidadari Gunung Arjuna memang sudah mengincar Ki Krembung sejak baru keluar dari dalam rumah pelacuran di tepi Sungai Kapulungan. Dia terus menunggu kesempatan untuk menghabisi nyawa Ki Krembung, salah satu dari sekian murid Padepokan Lembah Setan yang telah mengeroyok gurunya Mpu Miji hingga pertapa tua dari Gunung Arjuna itu tewas.
Malam berlalu dengan cepat. Saat ayam jantan berkokok lantang bersahutan yang menandakan bahwa pagi telah datang di seluruh dunia, para prajurit Panjalu sudah bersiap untuk berangkat menyerbu ke perkemahan besar para prajurit Jenggala.
Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh!!
Bunyi terompet tanduk kerbau terdengar melengking tinggi menjadi penanda bahwa mereka sebentar lagi berangkat. Mapanji Jayagiri bersama dengan Wanyan Lan dan para perwira tinggi prajurit Panjalu memimpin pasukan itu meninggalkan benteng pertahanan Panjalu di Wanua Sungging.
Saat matahari sepenggal naik di langit timur, para prajurit Panjalu telah sampai di dekat barak perkemahan besar para prajurit Jenggala. Panji Manggala Seta langsung mencabut pedang butut di pinggangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
"Pasukan Panjalu....!!!!
Serbuuuuuuuuuuu....!!!!!"