
"Kog aneh Kangmas Pangeran?
Biasanya kalau ada yang membicarakan itu telinga berdenging loh Kangmas. Ini kog jadi bersin bersin begitu", protes dari Ayu Ratna segera.
Hehehehe..
Terdengar suara tawa lirih dari Panji Tejo Laksono begitu mendengar ucapan putri Adipati Aghnibrata ini.
"Aku hanya asal menjawab Dinda Ayu, jadi tidak perlu kau tanggapi dengan serius begitu. Ayo kita lanjutkan minum air kelapa muda nya", Panji Tejo Laksono kembali meraih kelapa muda yang tersedia di sampingnya. Kelapa muda hijau memang paling cocok di nikmati saat suasana senja seperti ini. Mereka kembali bercengkrama menikmati waktu kebersamaan.
Di batas Kota Kadipaten Seloageng, Maharesi Padmanaba yang baru saja sampai di tempat itu menggunakan Ajian Panglimunan miliknya, berjalan mendekati sebuah rumah warga yang terletak di tepi kota. Saat itu hari telah menjelang senja karena cahaya matahari telah memerah di ufuk barat. Bersama sang cucu Dyah Kirana, Maharesi Padmanaba mengetuk pintu rumah kecil berdinding kayu dan beratap daun alang-alang kering itu beberapa kali.
Rumah kecil itu terlihat bersih meskipun beberapa bagian nya telah lapuk dimakan usia. Di teras rumah terdapat sepasang kursi kayu yang terbuat dari bahan seadanya namun kelihatan kokoh meski hanya dengan diikat dengan tali rotan kebo. Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu, dan ...
Kloottaakkk...
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh..!!!
Wajah seorang lelaki paruh baya menyembul dari balik daun pintu begitu pintu itu terbuka. Matanya nampak menyipit supaya jelas melihat siapa yang mengetuk pintu rumah nya karena hari menjelang sore. Setelah melihat di depannya ada seorang tua berpakaian pertapa dengan cucunya yang cantik, wajah pria tua itu segera berubah menjadi ramah karena dia yakin bahwa mereka adalah pertapa yang kemalaman di jalan.
"Selamat malam Ki.. Mohon maaf jika kami mengganggu.
Kami ingin bertanya, dimana tempat menginap di sekitar tempat ini? Kami pengelana dari jauh, dan tidak mengenal tempat ini", ujar Dyah Kirana dengan sopan. Kakek tua pemilik rumah itu segera tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Penginapan di Kota ini masih cukup jauh, Nisanak. Kebanyakan ada di dekat pasar besar dan Alun-alun Kota Kadipaten.
Hari sudah senja begini, kalian pasti kemalaman jika memaksa kesana. Kalau tidak keberatan,sebaiknya kalian berdua bermalam di sini saja. Tidak perlu membayar", pria tua itu menawarkan tempatnya untuk bermalam bagi Dyah Kirana dan Maharesi Padmanaba.
"Terimakasih atas budi baik mu Kisanak. Hyang Agung pasti akan membalas semua kebaikan hati mu karena mau menolong orang lain di saat mereka sedang memerlukan bantuan", ucap Maharesi Padmanaba sembari membungkuk hormat kepada pria tua itu.
Setelah berbincang-bincang sebentar, pria tua yang bernama Ki Suto itu segera mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah. Ternyata Ki Suto tidak tinggal sendiri, ada istrinya Nini Sati yang juga bermukim disitu. Kedua orang ini adalah orang tua dari salah satu prajurit yang bekerja pada Istana Kadipaten Seloageng.
Nini Sati segera menghidangkan beberapa makanan yang biasa mereka santap untuk makan malam di atas sebuah meja tua yang ada di ruang tamu tempat Dyah Kirana, Maharesi Padmanaba dan Ki Suto sedang berbincang. Ada sepiring uwi manis yang masih mengepulkan uap panas karena baru saja diangkat dari perapian, beberapa pisang raja rebus dan tiga cangkir wedang secang yang juga terlihat masih panas.
"Kog repot-repot saja Nini? Kami jadi merepotkan kalian berdua", ujar Dyah Kirana sambil tersenyum tipis.
"Ah tidak, Den Ayu..
Kebetulan Kang Suto baru saja menggali uwi di kebun belakang. Ya beginilah kehidupan sehari-hari kami disini. Mohon maaf jika tidak seperti di tempat kalian", sahut Nini Sati sambil meletakkan piring-piring dari tanah liat itu ke depan tamu-tamunya.
"Kami juga orang gunung, Nini. Hidangan seperti ini adalah makanan sehari hari Kamis jadi Nini tidak perlu merasa sungkan. Kami sudah terbiasa hidup sederhana", jawab Dyah Kirana segera.
Mereka berempat terus bercakap-cakap dengan penuh rasa kekeluargaan hingga malam menjelang tiba. Nini Sati segera menyulutkan api pada sumbu lampu minyak jarak yang ada di sudut ruangan hingga suasana tempat itu menjadi terang.
"Sepengetahuan kalian, Adipati Seloageng yang baru ini orangnya seperti apa?", tanya Maharesi Padmanaba sembari menatap ke arah Ki Suto dan Nini Sati.
"Kalau menurut saya, Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono itu orangnya baik, Maharesi.
Meski kami hanya pernah melihat beliau lewat di jalan depan ini sekali, tapi putra kami yang bekerja sebagai seorang prajurit di istana sering pulang membawa jatah bahan makanan pokok untuk kami. Dulu semasa pemerintahan Gusti Adipati Sepuh, dia hanya pulang setengah purnama sekali untuk mengunjungi kami tapi kini hampir sepekan sekali dia pulang walaupun cuma sebentar dan selalu membawa bahan makanan. Katanya, itu adalah jatah nya yang meningkat 2 kali lipat setelah Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono bertahta. Semua kebijakan istana di rombak dan kesejahteraan para prajurit di tingkatkan.
Terus saya dengar, Gusti Pangeran Adipati juga menata daerah Pakuwon Palah yang banyak lahan kosong dan terbengkalai. Kata orang orang, daerah itu akan digunakan untuk pertanian dengan memanfaatkan aliran Kali Abab yang memang besar airnya. Ini semakin membuktikan bahwa Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono lebih pintar dan bijak daripada eyangnya dalam menata Kadipaten Seloageng, Maharesi ", cerita Ki Suto panjang lebar mengenai Panji Tejo Laksono.
"Kalau penampilan nya seperti apa, Ki?", Dyah Kirana yang penasaran segera bertanya.
"Yang seperti itu pasti hidung belang Nini. Buaya darat itu", Dyah Kirana terlihat kurang tertarik dengan cerita Nini Sati.
"Hehehehe, jangan suka menghakimi orang hanya dari kabar yang belum tentu ada benarnya, Kirana. Awas jika nanti kau juga ikutan kepincut dengan orang itu", goda Maharesi Padmanaba sembari tersenyum simpul.
"Huh tidak akan pernah, Eyang. Pria yang seperti itu pasti gampang sekali menyakiti hati seorang wanita", sahut Dyah Kirana segera. Mendengar jawaban itu, Maharesi Padmanaba hanya senyum di kulum saja.
Malam terus merangkak naik. Suara jangkrik dan belalang bersahutan dengan suara burung hantu yang bertengger di ranting pohon. Udara di musim kemarau ini begitu dingin menusuk tulang hingga malam berganti pagi yang ditandai dengan munculnya suara kokok ayam jantan di pagi yang berkabut.
Setelah mengucapkan terima kasih atas kebaikan Ki Suto dan Nini Sati, Maharesi Padmanaba dan Dyah Kirana berpamitan kepada mereka berdua untuk meneruskan perjalanan. Dyah Kirana menyelipkan 4 kepeng perak ke tangan Nini Sati sebagai ucapan terimakasih nya. Meski Nini Sati menolak, namun Dyah Kirana memaksanya untuk menerima.
Keduanya segera berjalan menuju ke arah istana Kadipaten Seloageng dimana Panji Tejo Laksono berada. Di depan pintu gerbang istana, mereka berdua di cegat oleh para prajurit penjaga gerbang istana yang sedang bertugas.
"Mohon maaf, Resi. Tidak semua orang di ijinkan untuk masuk ke dalam istana. Silahkan Resi meninggalkan tempat ini", ujar seorang prajurit penjaga gerbang istana dengan sopan pada Maharesi Padmanaba karena perintah baru dari Panji Tejo Laksono yang memerintahkan kepada seluruh prajurit Seloageng untuk berlaku sopan pada setiap agamawan dan bikshu yang datang ke istana.
"Aku ingin menemui Adipati Seloageng hari ini. Boleh atau tidak, aku akan tetap memaksa untuk menemuinya", jawab Maharesi Padmanaba sembari menatap ke arah para prajurit Seloageng yang sedang berjaga. Mendengar jawaban itu, sang kepala regu prajurit penjaga langsung mendekat ke arah Maharesi Padmanaba.
"Kami sudah baik-baik meminta mu untuk pergi, Resi. Jadi jangan memaksa kami untuk melakukan kekerasan pada mu. Jadi tolong jangan membuat keributan di sini", ucap sang kepala regu prajurit penjaga dengan sedikit kasar.
"Kurang ajar sekali cara mu bersikap pada orang tua, Prajurit. Apa seperti ini cara Adipati Seloageng mengatur para prajurit nya?", Dyah Kirana yang kesal dengan sikap si kepala regu prajurit penjaga itu mulai marah.
"Apa kau bilang?
Ini wilayah pekerjaan ku, Nisanak. Jadi apapun yang ku lakukan itu adalah atas dasar perintah dari Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono. Jaga mulutmu jika tidak ingin ada masalah", si kepala regu prajurit penjaga gerbang istana mulai terpancing amarahnya.
"Huhhh...
Kalau anak buah nya saja punya sikap seperti ini, pasti pimpinan nya juga lebih buruk kelakuannya", mendengar hinaan Dyah Kirana pada Panji Tejo Laksono, si kepala regu prajurit penjaga gerbang istana itu geram bukan main. Segera dia mencabut pedang di pinggangnya dan dengan cepat menerjang maju ke arah Dyah Kirana.
Keributan segera terjadi di depan pintu gerbang istana Kadipaten Seloageng.
Si kepala regu prajurit penjaga langsung menebaskan pedangnya kearah Dyah Kirana. Putri Resi Ranukumbolo itu segera melangkah mundur untuk menghindari serangan itu. Si kepala regu prajurit penjaga gerbang yang melihat serangannya di hindari, langsung merubah gerakan tubuhnya dan kembali membabatkan pedang nya ke arah Dyah Kirana.
Shreeeeettttthhh !!
Kembali Dyah Kirana berkelit, menggeser posisi tubuhnya sedikit ke arah kanan dan dua jari tangan kanan nya dengan sigap menjepit bilah pedang si kepala regu prajurit penjaga. Prajurit bertubuh gempal itu berusaha untuk menarik pedangnya, namun Dyah Kirana segera melayangkan siku tangan kiri ke arah rusuk si kepala prajurit penjaga gerbang dengan keras.
Dhiiieeeessshh..
Oouuugghhhhhh !!
Si kepala regu prajurit penjaga gerbang istana melengguh keras. Rusuknya seperti baru di hantam balok kayu besar. Dia terhuyung huyung mundur sambil memegangi rusuknya yang sakit luar biasa. Meski terlihat pelan, namun tenaga dalam yang dimiliki oleh Dyah Kirana selama di didik oleh Resi Ranukumbolo memang tinggi. Satu hantaman pelan saja bisa melukai apalagi jika sedikit keras.
Melihat itu, 7 prajurit penjaga gerbang istana yang segera mengepung Dyah Kirana dan Maharesi Padmanaba. Mereka langsung menerjang ke arah dua orang dari Padepokan Gunung Mahameru itu dan keributan di depan pintu gerbang istana semakin ramai.
Hanya dalam beberapa jurus saja, para prajurit Seloageng di jatuhkan dengan mudah oleh Dyah Kirana dan Maharesi Padmanaba. Mereka semua bergelimpangan di sana sembari mengerang kesakitan akibat di hajar oleh mereka berdua.
Dari arah pintu gerbang istana, Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng yang hendak jalan-jalan ke pasar besar Kota Kadipaten Seloageng terkejut melihat para prajurit Seloageng bertumbangan di depan mata nya. Dengan segera dia menatap ke arah Dyah Kirana yang melongo melihat kedatangan Panji Tejo Laksono sambil bertanya,
"Ada apa ini, Nisanak?"