Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Penjara


Suasana di acara penobatan Adipati baru Seloageng langsung kacau balau. Nararya Candradewi segera di tuntun menjauh dari tempat nya berada oleh Dewi Anggarawati yang kemudian diikuti oleh Dewi Anggarasari. Sementara itu, seluruh tamu undangan dari manca daerah langsung berdiri dari tempat mereka duduk dan bersiaga penuh setelah melihat Prabu Jayengrana turun tangan. Rara Pujiwati yang sempat ternganga melihat niat Gorawangsa yang ingin membunuh Prabu Jayengrana, segera berlari meninggalkan Pendopo Agung Kadipaten Seloageng. Namun gerakannya terhenti di depan para prajurit Seloageng yang dengan sigap mengepung tempat itu.


"Bangsat !


Berani-beraninya kau mencoba melukai ayah ku!!", teriak Panji Tejo Laksono sembari menerjang maju ke arah Gorawangsa dengan penuh amarah. Adipati baru Seloageng ini benar-benar murka.


Gorawangsa segera berkelit menghindari terjangan cepat Panji Tejo Laksono. Sembari menggeser posisi tubuhnya, murid Padepokan Gunung Bromo itu segera membabatkan pedang nya kearah leher Panji Tejo Laksono.


Shreeeeettttthhh..!!


Panji Tejo Laksono dengan cepat merubah gerakan tubuhnya demi menghindari sabetan Pedang Pencabut Nyawa milik Gorawangsa. Sang pangeran muda yang kini menjadi penguasa Kadipaten Seloageng ini merendahkan tubuhnya sedikit hingga tebasan pedang Gorawangsa hanya menebas udara kosong. Panji Tejo Laksono segera hantamkan tapak tangan kanan nya ke arah pinggang Gorawangsa yang terbuka pertahanan nya.


Whuuthhh !!


Sambaran angin panas berdesir kencang mengikuti gerakan tangan kanan Panji Tejo Laksono. Gorawangsa yang menyadari bahaya, dengan cepat memapak serangan itu dengan tapak tangan kiri nya.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!


Ledakan keras terdengar. Gorawangsa terpental keluar dari dalam Pendopo Agung Kadipaten Seloageng. Panji Tejo Laksono yang terseret mundur beberapa langkah setelah ledakan keras, dengan segera sang pangeran muda ini menjejak lantai Pendopo Agung Kadipaten Seloageng. Tubuhnya melesat cepat bagai anak panah lepas dari busurnya mengejar tubuh Gorawangsa yang terpental. Gorawangsa yang masih sadar, dengan cepat merubah gerakan tubuhnya dan mendarat dengan tubuh terseret mundur beberapa tombak.


Belum sempat dia berdiri tegak, Panji Tejo Laksono sudah lebih dulu muncul dari dalam pendopo agung sembari menghantamkan tangan kanannya.


Whhuuuuuuuggggh..!!


Serangkum angin panas menerabas cepat kearah Gorawangsa menyertai sinar merah menyala seperti api yang keluar dari tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono. Gorawangsa segera berguling ke tanah di sampingnya untuk menghindari sinar merah menyala Ajian Tapak Dewa Api. Dia berhasil lolos tepat waktu sesaat sebelum sinar merah menyala berhawa panas ini menghantam tempatnya berdiri.


Blllaaammmmmmmm !!


Melihat Gorawangsa lolos dari maut, Panji Tejo Laksono yang dilanda murka terus mengejar pria bertubuh gempal itu dengan tendangan keras nya. Gorawangsa yang baru saja selamat dari maut, dengan cepat membabatkan Pedang Pencabut Nyawa nya kearah kaki sang Adipati baru Seloageng.


"Putus kaki mu..!!"


Shreeeeettttthhh !!


Melihat sabetan pedang pusaka di tangan Gorawangsa, Panji Tejo Laksono urungkan serangan dengan menarik kaki nya. Tubuhnya berputar cepat ke arah belakang Gorawangsa. Secepat kilat dia menghantamkan tangan kanannya ke arah punggung lawan. Selarik sinar merah menyala berhawa panas menerabas cepat kearah punggung Gorawangsa.


Whuuussshh !!


Gorawangsa yang sadar akan bahaya yang mengancamnya, segera menjejak tanah untuk menghindari serangan yang dilancarkan oleh Panji Tejo Laksono. Murid Padepokan Gunung Bromo itu berhasil menghindar saat sinar merah menyala Ajian Tapak Dewa Api milik Panji Tejo Laksono menghantam tanah halaman Pendopo Agung Kadipaten Seloageng.


Blllaaammmmmmmm !!


Ledakan dahsyat terdengar. Debu dan asap tebal beterbangan menutupi bekas tempat Gorawangsa berdiri. Menciptakan sebuah lobang sebesar kerbau sedalam selutut orang dewasa. Gorawangsa yang berhasil menghindar dengan cepat berjumpalitan mundur beberapa tombak ke belakang. Disana sebuah hawa pedang mengayun ke arah nya dari Senopati Gardana yang gatal ingin menghabisi nyawa orang yang mengacaukan acara penobatan Adipati baru Seloageng.


Shreeeeettttthhh !!


Gorawangsa segera berkelit menghindari tebasan hawa pedang yang di lepaskan oleh Senopati Gardana. Mata Gorawangsa mendelik kereng pada sang perwira tinggi prajurit Seloageng karena geram dengan serangan bokongan yang di lancarkan oleh Senopati Gardana.


Panji Tejo Laksono yang masih dalam keadaan murka, tanpa rasa ragu langsung memejamkan matanya sebentar lalu tangan kanannya seperti merogoh sesuatu di udara. Rupanya dia ingin mengeluarkan Pedang Naga Api.


Seketika itu juga, ruang udara seperti robek. Dan tangan kanan Panji Tejo Laksono menarik keluar Pedang Naga Api yang tersembunyi di sana. Tanpa ragu lagi, Panji Tejo Laksono segera mencabut Pedang Naga Api dari sarungnya yang berwarna merah. Hawa panas menyengat langsung menyebar ke sekeliling tempat itu. Secepat kilat sang penguasa Kadipaten Seloageng segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Pedang Naga Api dia babatkan ke arah Gorawangsa yang sedang melotot ke arah Senopati Gardana.


Whhuuuuuuuggggh !!


Hawa pedang berwarna merah yang tipis dengan cepat mengarah kepada Gorawangsa begitu Pedang Naga Api milik Panji Tejo Laksono diayunkan. Bersamaan dengan itu, tubuh Panji Tejo Laksono meluncur turun ke arah Gorawangsa mengikuti hawa panas Pedang Naga Api.


Namun di saat yang bersamaan, Panji Tejo Laksono yang meluncur turun ke arah nya dengan cepat membabatkan Pedang Naga Api. Mau tak mau, Gorawangsa memapak serangan Panji Tejo Laksono dengan menangkis sabetan pedang itu dengan Pedang Pencabut Nyawa milik nya karena dia sudah tidak memiliki ruang untuk menghindar.


Thhraaaangggggggg thraakkkk !!


Chhrrrraaaaaassss ...


AAAARRRGGGGGGHHHHH !!!


Pedang Pencabut Nyawa milik Gorawangsa patah saat berbenturan dengan Pedang Naga Api milik Panji Tejo Laksono. Perbedaan tingkat pusaka menjadi salah satu penyebabnya. Bersamaan dengan itu, Pedang Naga Api juga membabat dada Gorawangsa hingga menciptakan luka yang menganga lebar di dada murid Padepokan Gunung Bromo. Gorawangsa menjerit keras sebelum limbung dan roboh ke tanah. Tubuh lelaki bertubuh gempal yang di juluki sebagai Si Pendekar Pedang Pencabut Nyawa itu mengejang hebat sebentar sebelum akhirnya tewas dengan dada terbelah. Dia tewas dengan bersimbah darah.


Prabu Jayengrana yang hendak mencegah terjadinya pembunuhan terhadap Gorawangsa hanya menghela nafas panjang karena petunjuk satu-satunya telah hilang. Secepat kilat, Prabu Jayengrana melesat ke arah samping Panji Tejo Laksono yang masih berdiri menatap ke arah mayat Gorawangsa yang terkapar di tanah.


"Dengan kematian nya, maka sulit untuk membuka tabir upaya pembunuhan ini, Tejo Laksono", ujar Prabu Jayengrana dengan perlahan.


"Belum tentu, Kanjeng Romo..


Karena kita masih punya dia", Panji Tejo Laksono langsung menunjuk ke arah Rara Pujiwati yang di tahan oleh para prajurit Seloageng. Rara Pujiwati yang ketakutan setengah mati, menatap ke arah Panji Tejo Laksono dengan wajah pucat.


"Senopati Gardana, bawa perempuan itu ke penjara Istana Kadipaten Seloageng. Tanpa seijin ku, siapapun tidak di perkenankan untuk menjenguknya. Bahkan anggota istana ini sekalipun.


Lakukan sekarang juga!", perintah Panji Tejo Laksono yang membuat Senopati Gardana segera menyembah pada penguasa baru Kadipaten Seloageng itu sembari berkata, "Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati".


Bersama dengan puluhan orang prajurit, Senopati Gardana segera membawa para anggota kelompok penari tayub dari Kadipaten Karang Anom itu ke penjara Istana Kadipaten Seloageng. Beberapa orang prajurit juga langsung menyingkirkan mayat Gorawangsa.


Setelah semuanya beres, Panji Tejo Laksono segera kembali ke Pendopo Agung Kadipaten Seloageng untuk melanjutkan ramah tamah di sasana boga Istana Kadipaten Seloageng seperti yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun sebelum itu terjadi, Panji Tejo Laksono terlebih dahulu meminta maaf kepada semua hadirin atas kejadian tak mengenakkan bagi mereka.


Namun sebelum mereka semua masuk ke sasana boga, Tumenggung Ludaka yang ikut serta dalam acara penobatan Adipati baru Seloageng, segera mendekati Panji Tejo Laksono.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Maaf jika sebelumnya hamba lancang. Jika diperbolehkan, hamba ingin ikut menyelidiki permasalahan ini. Hamba curiga ada orang dalam istana Kadipaten Seloageng yang terlibat dalam hal ini", ujar Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.


Hemmmmmmm..


"Kenapa Paman berpikir seperti itu? Apa yang mendasari pemikiran Paman?", Panji Tejo Laksono menatap wajah perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera.


"Masuk ke dalam istana ini tidak mudah, Gusti Pangeran. Apalagi bisa ikut serta dalam acara penobatan Gusti Pangeran baru saja.


Jika tidak ada orang dalam yang terlibat, tidak mungkin ada kejadian seperti ini", mendengar ucapan Tumenggung Ludaka yang berpengalaman dalam menangani permasalahan mata-mata dan telik sandi, Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti.


"Kalau begitu, aku percayakan kepada mu untuk mencari tahu siapa dalang dari kejadian ini. Bilang pada Senopati Gardana, aku yang mengutus mu", titah sang pangeran muda dari Kadiri itu segera yang membuat Tumenggung Ludaka segera menyembah pada Panji Tejo Laksono dan bergegas pergi meninggalkan depan sasana boga.


Sementara Panji Tejo Laksono sedang menjamu para tamu undangan di sasana boga, di dalam penjara Istana Kadipaten Seloageng, Rara Pujiwati sedang meringkuk ketakutan di sudut ruang tahanan bersama para penari tledek nya. Mereka semua nampak kebingungan dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Dua orang prajurit penjaga penjara segera membuka pintu ruang tahanan lalu menyeret Rara Pujiwati ke ruangan yang berbeda. Di ruangan itu, telah menunggu Senopati Gardana yang kini telah bersama dengan Tumenggung Ludaka. Dengan kasar, Rara Pujiwati di dudukkan pas kursi kayu.


Senopati Gardana memelintir kumisnya yang tebal sembari menatap tajam ke arah wajah cantik Rara Pujiwati yang pucat pasi. Dengan suara berat nan penuh nada ancaman, Senopati Gardana bertanya kepada Rara Pujiwati,


"Katakan pada ku sejujurnya. Sebab jika tidak, akan ku pastikan bahwa kau akan membusuk di dalam penjara ini, Penari Tledek..


Siapa orang yang membayar mu untuk mencelakai Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono?


Katakan siapa orangnya??"