Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Mapanji Jayagiri


Wajah tampan seorang pemuda berusia sekitar 17 atau 18 warsa tersembul keluar dari balik caping bambu butut yang dia kenakan.Tanda tanda garis keturunan bangsawan terlihat jelas pada sang pemuda itu. Sepintas mirip dengan Panji Tejo Laksono namun badannya sedikit lebih pendek dengan rambut panjang yang lurus.


Tumenggung Gurunwangi langsung bisa menebak bahwa sang pemuda tampan dan baru saja menghajar Demung Anggasuta dan Juru Kanoman ini bukan orang biasa. Apalagi setelah dia mengaku sebagai penerus ilmu beladiri Cakar Rajawali Galunggung.


"Kalau begitu, maafkan sikap anak buah ku Kisanak. Aku bersalah karena tidak bisa mengajari mereka berdua dengan baik", ujar Tumenggung Gurunwangi segera. Perwira tinggi prajurit Rajapura itu melirik ke arah seorang lelaki sepuh berjenggot panjang yang masih duduk di kursi kayu dalam warung makan dengan santainya. Mata tua lelaki sepuh selalu memperhatikan gerak-gerik si pendekar berpedang butut itu dan pasukan dari Kadipaten Rajapura.


"Hemmmmmmm...


Aku bisa memaafkan mereka asal si kumis tipis itu bersedia untuk meminta maaf pada pelayan warung makan itu. Apa dia mau melakukannya?", si pemuda tampan itu menatap tajam ke arah Demung Anggasuta.


Demung Anggasuta yang merasa dirinya di rendahkan martabat nya oleh si pendekar berpedang butut itu langsung melangkah maju sembari menunjuk ke arah si pemuda.


"Kau ... "


"Anggasuta, tutup mulut mu !!", teriak Tumenggung Gurunwangi dengan keras.


"Tapi Gusti, bocah bau kencur itu..", sebelum Demung Anggasuta menyelesaikan sanggahannya, Tumenggung Gurunwangi mendelik tajam ke arah nya sembari melayangkan tamparan keras ke pipinya.


Plaaakkkkk !!


"Siapa yang memberi mu ijin untuk bicara Anggasuta?! Apa sekarang kau mulai berani menentang perintah ku?", tatap mata Tumenggung Gurunwangi seakan ingin menghabisi nyawa Demung Anggasuta. Belum pernah Tumenggung Gurunwangi bersikap seperti ini pada mereka sebelumnya. Juru Kanoman yang tidak ingin memperpanjang masalah, langsung menengahi perdebatan mereka.


"Adi Anggasuta, sudahlah..


Nanti pasti ada penjelasan dari pimpinan kita. Bersabarlah", bujuk Juru Kanoman segera. Mendengar ucapan itu, Demung Anggasuta segera mengangguk mengerti meski dengan wajah di tekuk dan menghormat pada Tumenggung Gurunwangi sembari mundur.


Para penonton yang menyaksikan pertarungan sengit tadi mematung menatap ke arah perbincangan mereka. Tumenggung Gurunwangi yang melihat ke arah pelayan warung makan dan pemiliknya, segera memberikan isyarat kepada mereka berdua untuk maju. Lelaki paruh baya dan gadis muda itu saling berpandangan sejenak sebelum mereka berdua melangkah maju. Usai mereka berdua maju ke halaman warung makan, Tumenggung Gurunwangi segera menoleh ke arah Demung Anggasuta seakan meminta agar perwira menengah Prajurit Rajapura itu meminta maaf kepada mereka berdua. Dengan wajah merengut kesal, Demung Anggasuta segera membungkukkan badan pada pemilik warung makan dan gadis muda pelayan itu sembari berkata, " Maafkan aku Kisanak Nisanak".


"Kisanak tidak perlu sungkan..


Aku juga meminta maaf atas pelayanan kami yang kurang memuaskan", jawab si lelaki paruh baya itu segera dengan sedikit ketakutan. Rupanya dia masih ketakutan juga jika Demung Anggasuta membalas dendam pada mereka di kemudian hari.


Setelah melihat Demung Anggasuta meminta maaf, Tumenggung Gurunwangi menoleh ke arah si pendekar berpedang butut itu sembari berkata, " Anak buah ku sudah meminta maaf pada pelayan warung makan itu, Pendekar..


Masalah ini sudah selesai bukan?"


"Baiklah, aku terima Kisanak..", balas si pemuda berpedang butut itu sembari memberikan isyarat kepada Tumenggung Gurunwangi dan anak buah nya untuk pergi.


Setelah mendapat isyarat tangan itu, Tumenggung Gurunwangi segera melangkah ke arah kuda mereka yang tertambat di geladak samping halaman. Segera dia melompat ke atas kuda tunggangan nya dan menggebrak kuda nya meninggalkan tempat itu kearah selatan diikuti oleh para pengikutnya.


Setelah cukup jauh dari warung makan, Tumenggung Gurunwangi menarik tali kekang kudanya untuk menghentikan langkah kaki kuda. Seluruh pengikutnya pun melakukan hal yang sama.


Demung Anggasuta menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak mengerti.


"Pendekar muda itu bukan orang sembarangan. Ada seorang pendekar tua yang mengawal pemuda itu. Sekalipun aku bisa mengalahkan pendekar berpedang butut itu, si lelaki tua berjanggut panjang itu tidak akan tinggal diam. Aku tidak bisa mengukur kemampuan beladiri orang tua itu, dan ini sangat berbahaya bagi kita jika memaksakan kehendak.


Itulah sebabnya aku rela merendahkan martabat kita sebagai perwira tinggi pada seorang pelayan warung makan. Kita hanya mengalah untuk saat ini, tapi lain kali tidak akan pernah terjadi lagi ", imbuh Tumenggung Gurunwangi sembari mendengus dingin.


"Aku mengerti Gusti Tumenggung ", jawab Demung Anggasuta sembari menyembah pada Tumenggung Gurunwangi.


Setelah menjelaskan situasi yang terjadi, Tumenggung Gurunwangi segera menggebrak kuda nya melesat cepat kearah selatan. Tujuan utama nya adalah Padepokan Tawang Kencana yang menjadi tempat tinggal Nyi Simbar Kencana.


Sementara itu, di warung makan si pelayan wanita muda dan lelaki paruh baya itu segera mendekati si pendekar berpedang butut itu begitu Tumenggung Gurunwangi pergi


"Terimakasih banyak atas pertolongan mu, Kisanak Pendekar..


Seumur hidup ku aku tidak akan pernah melupakannya ", ujar si pelayan wanita muda itu sembari membungkuk hormat kepada si pendekar berpedang butut.


"Ah hanya pertolongan kecil, Nisanak..


Aku hanya tidak suka melihat sikap yang kuat menindas orang biasa seenak perutnya. Lain kali kalau menghadapi orang seperti itu, sebaiknya kau lebih berhati hati", jawab si pendekar berpedang butut itu sembari tersenyum tipis.


Belum sempat si pelayan wanita muda itu meneruskan omongannya, si kakek tua berjenggot panjang yang sedari tadi hanya menonton kejadian yang terjadi, melesat cepat ke samping si pendekar berpedang butut itu.


"Apa kau sudah cukup bermain-main, Jayagiri?


Waktunya kita melanjutkan perjalanan kita ke Daha. Kita terlalu lama di tempat ini ", ujar si lelaki sepuh berjenggot panjang itu segera. Si pemuda tampan yang di panggil dengan nama Jayagiri ini segera menyandang pedang butut nya ke punggung setelah mendengar penuturan si lelaki tua berjanggut panjang.


"Aku mengerti Guru..


Lagi pula Ibunda Naganingrum pasti sudah menunggu kedatangan Guru di Istana Katang-katang. Ayo kita berangkat ", jawab Jayagiri sembari tersenyum simpul.


Ya, dia adalah Mapanji Jayagiri. Putra Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana dengan Dewi Naganingrum sang permaisuri ketiga yang merupakan putri dari Prabu Darmaraja, Raja Galuh Pakuan yang sudah mangkat. Dia adalah keponakan dari Prabu Langlangbumi, yang merupakan kakak Dewi Naganingrum. Dia baru saja kembali dari Galuh Pakuan untuk mengantar sepucuk surat dari sang ibu yang ingin mendapatkan menantu dari Tanah Pasundan. Dengan di temani sang guru, Resi Tandi, Jayagiri kini telah sampai di perbatasan wilayah antara Kadipaten Rajapura dan Kalingga.


Jayagiri segera merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan beberapa kepeng perak dan memberikan nya pada pemilik warung makan sebagai upah biaya makan nya. Usai membayar biaya makan, Jayagiri segera melesat cepat kearah sang guru yang melayang di atas Kali Gung untuk menyebrangi sungai itu.


Melihat itu, si pemilik warung makan langsung geleng-geleng kepala sembari berkata,


"Benar benar pendekar hebat".