
"Dia adalah saudara ku, dari Biyung Dewi Srimpi, Dinda Jingga. Salah satu dari keempat putra Kanjeng Romo Prabu Jayengrana.
Panji Manggala Seta", ucap Panji Tejo Laksono sembari tersenyum simpul. Segera dia melompat turun dari atas kudanya diikuti oleh Luh Jingga dan Gayatri. Senopati Gardana pun segera mengikuti langkah sang penguasa Kadipaten Seloageng ini. Mereka segera berjalan mendekati Si Tabib Putih alias Panji Manggala Seta.
Begitu sampai di dekat nya, Panji Manggala Seta segera membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.
"Salam hormat saya, Kangmas Tejo Laksono".
"Kau ini selalu saja seperti itu, Dhimas Manggala Seta. Kita ini bersaudara, kau tidak boleh bersopan santun seperti itu terhadap ku", ujar Panji Tejo Laksono sembari menepuk pundak sang adik. Mendengar perkataan itu, Panji Manggala Seta tersenyum simpul. Dia hapal betul dengan kelakuan kakaknya yang satu ini karena sedari dulu, Panji Tejo Laksono selalu menolak sopan santun diantara saudara saudaranya meski peraturan Istana Katang-katang mengharuskan setiap kerabat istana untuk saling menghormati.
"Ada angin apa kau kemari, Dhimas Manggala Seta? Bukankah kau sedang berguru pada Resi Manikmaya di Harinjing?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Kangmas Tejo Laksono terlalu lama di Tanah Tiongkok, jadi tidak bisa melihat perkembangan ku yang sudah lulus dari Pertapaan Harinjing.
Aku kemari karena mendengar bahwa Kangmas Tejo Laksono mendapatkan tanah lungguh di Seloageng. Aku kangen dengan Kangmas, jadi aku putuskan untuk mengunjungi Kangmas Tejo Laksono kemari.
Tidak tahunya malah bertemu dengan manusia busuk itu", Panji Manggala Seta mengalihkan pandangannya pada Sembada alias Si Demit Abang yang bersandar pada tembok Kota Kadipaten Seloageng dengan wajah memucat.
"Kau tahu siapa dia, Dhimas Seta?", Panji Tejo Laksono kembali melontarkan pertanyaan nya pada sang adik.
"Dia adalah Sembada. Dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur menjulukinya sebagai Si Demit Abang. Kemampuannya menyamar menjadikan dia mendapat julukan itu. Tapi penjahat ini memiliki kaitan erat dengan Kelompok Bulan Sabit Darah yang misterius, hingga keberadaan nya sulit sekali untuk ditemukan Kangmas Tejo Laksono.
Manusia terkutuk itu pernah menodai kesucian istri Akuwu Tumapel dengan menyamar sebagai sang Akuwu hingga perempuan itu bunuh diri karena malu. Aku sudah mengejarnya tapi dia selalu lolos. Rupanya naas nya saat berada disini", ujar Panji Manggala Seta sambil menatap tajam ke arah Sembada yang terengah-engah mengatur nafasnya. Pengaruh Racun Kelabang Neraka membuat kekuatan anggota Kelompok Bulan Sabit Darah ini nyaris menghilang sepenuhnya.
"Jadi kau yang melukainya? Sepertinya dia terkena racun", Panji Tejo Laksono ikut memperhatikan kondisi Sembada.
"Benar Kangmas Tejo Laksono, aku yang meracuninya dengan Racun Kelabang Neraka", mendengar jawaban dari Panji Manggala Seta, Panji Tejo Laksono terkejut bukan main.
"Apaaaaa????!!
Darimana kau belajar racun itu Dhimas? Bukankah Biyung Srimpi sudah melarang mu untuk mempelajari ilmu racun itu?", Panji Tejo Laksono masih sedikit tak percaya mendengar jawaban adik nya itu. Panji Manggala Seta hanya tersenyum saja sebelum berbicara.
"Biyung memang melarang ku mempelajari ilmu racun itu, Kangmas Tejo Laksono. Tapi aku yang menemukan Kitab Racun Kelabang Neraka yang di sembunyikan Biyung di bawah tempat tidur nya, akhirnya mempelajari nya karena penasaran dengan isi kitab itu.
Tapi itu sekarang tidak penting, Kangmas. Yang aku ingin tanyakan, kenapa si Demit Abang ini ada di Kota Seloageng?", Panji Manggala Seta menunjuk ke arah Sembada.
"Dia baru saja menyamar menjadi prajurit Seloageng dan membunuh orang yang menjadi dalang dari peristiwa percobaan pembunuhan terhadap ku. Aku ingin tahu, siapa orang yang sudah membungkam mulut Paman Maheswara untuk berbicara?", mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Panji Manggala Seta segera menatap tajam ke arah Sembada yang bersandar pada tembok Kota Kadipaten Seloageng untuk berdiri sembari berkata,
"Cepat katakan Sembada..!!
Apakah Guru mu Resi Mpu Wisesa yang menyuruh mu melakukan nya?"
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Lebih baik aku mati daripada harus mengatakan apa yang kalian inginkan. Aku percaya bahwa kematian ku akan menjadi tumbal bangkitnya kembali Kerajaan Kahuripan", ujar Sembada yang mulai sempoyongan karena Racun Kelabang Neraka telah masuk ke dalam jantung nya. Darah kehitaman mulai mengalir keluar dari sudut bibir Si Demit Abang.
"Huhhhhh... Jadi kau memilih mampus demi membela kepentingan Kelompok Bulan Sabit Darah, Sembada..
Kalau begitu nikmatilah sisa nafas mu sebelum ajal menjemput", ujar Panji Manggala Seta seraya menyeringai lebar melihat Sembada yang limbung dan jatuh ke tanah.
"Kahuripan akan kembali, Panjalu Jenggala akan musnah se..la...ma..nyaaaaaa", ucapan terakhir Sembada terdengar saat dia mulai meregang nyawa. Dari mulutnya darah kehitaman terus keluar dan kulit tubuhnya memerah seperti baru tersiram air panas. Ini adalah keampuhan Racun Kelabang Neraka yang tersohor sebagai ilmu racun paling mematikan yang pernah ada di wilayah Panjalu. Sebagai cucu Mondosio Si Kelabang Koro, Panji Manggala Seta benar benar menguasai ilmu racun yang pernah menggegerkan dunia persilatan ini.
Setelah menyaksikan kematian Sembada, Panji Tejo Laksono segera bertanya kepada sang adik.
"Dhimas Manggala Seta, sepertinya kau cukup mengenal Sembada dan gurunya. Apa mereka benar benar terlibat dalam Kelompok Bulan Sabit Darah?"
"Jagad Dewa Batara, rupanya kau masih sama seperti dulu.. Kalau begitu, ayo kita pulang ke istana.. Nanti biar kakak ipar mu yang memasak makanan untuk kita..
Oh iya, ini adalah Luh Jingga dan Gayatri. Mereka adalah dua orang istri ampean ku", Panji Tejo Laksono memperkenalkan Luh Jingga dan Gayatri. Panji Manggala Seta segera menghormat pada dua orang wanita cantik itu.
"Hormat saya Kangmbok", ujar Panji Manggala Seta sembari membungkukkan badan.
"Tidak perlu sungkan, Gusti Pangeran. Terimakasih atas bantuannya dan selamat datang di Seloageng", ujar Gayatri yang di balas senyum oleh Panji Manggala Seta.
Setelah itu, Panji Tejo Laksono segera memerintahkan kepada Senopati Gardana untuk menyingkirkan mayat Sembada. Sementara Senopati Gardana bekerja, Panji Tejo Laksono mengajak Panji Manggala Seta ke istana Kadipaten Seloageng. Mereka berempat diiringi oleh para prajurit pengawal pribadi Adipati segera bergegas menuju ke arah istana Kadipaten Seloageng yang terletak di tengah kota.
Melihat keempat istri Panji Tejo Laksono yang cantik-cantik, Panji Manggala Seta geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka bahwa kakaknya yang biasanya terlihat kalem ternyata adalah seorang penakluk wanita seperti ayahnya.
"Kangmas Tejo Laksono, kau pakai jimat apa sih? Kenapa para perempuan cantik seperti mereka mau dengan mu?", bisik Panji Manggala Seta seraya tersenyum penuh arti.
"Jangan asal kau bicara, Dhimas. Aku mana pernah pakai barang seperti itu?
Kalau kau tidak percaya, tanya saja mereka", Panji Tejo Laksono nyaris menjitak kepala Panji Manggala Seta andai Luh Jingga, Song Zhao Meng, Gayatri dan Ayu Ratna tidak datang mengantar makanan.
Senja itu mereka makan dengan lahap di selingi oleh candaan Panji Mandala Seta. Berbeda dengan ketiga orang saudaranya yang lain, Panji Manggala Seta memang paling suka bercanda. Dia selalu saja iseng pada ketiga saudara nya. Hanya Panji Tejo Laksono saja yang tidak pernah marah dengan kelakuan adiknya yang jahil. Sedangkan Mapanji Jayawarsa adalah orang yang paling jarang dia ajak bercanda karena akan menjadi perkara.
Sembari menyuapkan makanan ke mulutnya, Panji Manggala Seta terus mengoceh tentang petualangan nya di dunia persilatan Tanah Jawadwipa usai berguru di Padepokan Harinjing. Bukan hanya di Panjalu, Panji Manggala Seta juga berkelana hingga ke Lamajang yang ada di wilayah Kerajaan Jenggala. Julukan sebagai Si Tabib Putih dia dapatkan usai mengobati penyakit putri seorang Lurah yang terkena penyakit yang mewabah di sebuah perkampungan yang terletak di kaki Gunung Penanggungan. Ilmu pengobatan yang dia pelajari dari Dewi Srimpi benar benar dia pergunakan sebaik-baiknya.
"Tadi ada pertanyaan ku yang belum kau jawab, Dhimas Manggala Seta..
Apa Sembada dan gurunya terlibat dalam Kelompok Bulan Sabit Darah seperti yang kau katakan?", tanya Panji Tejo Laksono usai mereka makan.
"Resi Mpu Wisesa dari Pertapaan Panumbangan adalah guru dari Sembada Si Demit Abang, Kangmas Tejo Laksono.
Dari berita yang berhasil aku himpun, dia adalah salah satu dari pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah itu", jawab Panji Manggala Seta segera.
"Pertapaan Panumbangan? Bukankah itu ada di timur Kali Aksa yang masih masuk wilayah Kadipaten Seloageng?", Panji Tejo Laksono sedikit terkejut mendengar jawaban adiknya itu.
"Kau benar, Kangmas Pangeran..
Pertapaan Panumbangan masuk wilayah Pakuwon Weling yang merupakan wilayah perbatasan dengan Kerajaan Jenggala. Itu adalah wilayah yang rawan karena biasanya digunakan untuk tempat pelarian para perampok yang mengacau di wilayah Jenggala", sahut Gayatri yang sedang mengumpulkan bekas tempat makan mereka bersama Song Zhao Meng.
Hemmmmmmm...
"Kalau begitu, Resi Mpu Wisesa tidak boleh dibiarkan begitu saja. Besok pagi, akan ku kerahkan para prajurit Panjalu untuk menangkap nya.
Dhimas Manggala Seta, besok kau pimpin jalan menuju ke tempat itu. Aku sendiri yang akan memimpin pasukan", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Siap laksanakan Kangmas hehehehe", jawab Panji Manggala Seta sambil tersenyum simpul.
Malam semakin larut. Seisi Istana Kadipaten Seloageng telah terlelap dalam mimpi indah nya. Suara burung malam bersahutan seakan ingin menyapa para penghuni istana. Suara jangkrik dan belalang juga turut meramaikan suasana malam yang dingin hingga pagi menjelang tiba.
Keesokan harinya, setelah matahari pagi menyingsing di langit timur, ratusan prajurit Seloageng sudah terlihat berbaris rapi di Alun alun Kota Kadipaten Seloageng. Di bawah arahan dari Senopati Gardana, mereka bersiap untuk berangkat menuju ke Pakuwon Weling.
Panji Tejo Laksono di dampingi oleh Luh Jingga dan Gayatri, berjalan keluar dari dalam ruang pribadi Adipati Seloageng. Ketiganya memakai pakaian layaknya para ksatria yang hendak berangkat ke medan perang. Panji Manggala Seta mengikuti langkah sang kakak karena dia yang tahu jalan menuju ke Pertapaan Panumbangan.
Debu-debu jalanan beterbangan mengikuti langkah kaki kuda para prajurit kadipaten Seloageng menapaki jalan raya menuju ke arah Pakuwon Weling. Tujuan mereka hanya satu,
Sampai di Panumbangan secepatnya.