
Panji Tejo Laksono menjejak tanah lalu melompat mundur hingga tebasan pedang Jiang Zhi hanya menciptakan sebuah garis di tanah. Usai menginjak tanah, Panji Tejo Laksono langsung melenting tinggi ke udara dan meluncur turun ke arah Jiang Zhi sembari membabatkan pedang pinjaman dari Luh Jingga.
Whhhuuutthh !!
Selarik hawa pedang yang tipis dan tajam langsung menerabas cepat kearah Jiang Zhi. Sedikit terkejut dengan kecepatan serangan lawan, Jiang Zhi langsung melompat ke samping kanan menghindari sabetan angin pedang Panji Tejo Laksono.
Blllaaaaaarrr !!
Sabetan pedang itu hanya menghajar tanah halaman Kuil Shaolin di samping kiri Jiang Zhi dan menciptakan sebuah garis sedalam setengah betis kaki orang dewasa. Meski belum sempat beradu tenaga dalam, dari dua serangan itu sudah di ketahui tingkat tenaga dalam yang di miliki oleh keduanya.
Usai menjejak tanah, Panji Tejo Laksono tak membuang waktu. Langsung saja dia melesat cepat kearah Jiang Zhi sembari menusukkan pedang di tangan kanannya. Kecepatan tinggi Ajian Sepi Angin membuat gerakan tubuhnya begitu ringan dan sangat cepat.
Jiang Zhi langsung membabatkan pedang nya, menangkis sabetan pedang Panji Tejo Laksono.
Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg !!
Whhhhuuuuggghhh...
Dhaaaasssshhh !
Adu ilmu pedang antara jurus pedang Gunung Wu Tang melawan Ilmu Pedang Tanpa Bayangan milik Panji Tejo Laksono berlangsung sengit dan seru. Keduanya benar benar menunjukkan kelasnya sebagai pendekar pedang yang hebat.
Chan San Fung sendiri terkejut bukan main melihat ilmu pedang yang di miliki oleh Panji Tejo Laksono. Selama ini, Jiang Zhi yang merupakan murid pertama nya, adalah murid yang paling berbakat dalam ilmu beladiri berpedang. Di dunia persilatan Tanah Tiongkok, dia bahkan di juluki sebagai Pedang Kilat Gunung Wu Tang. Namun menghadapi Panji Tejo Laksono, sepertinya julukan sebagai pendekar pedang nomor satu Gunung Wu Tang menjadi tidak berarti. Dia bahkan terlihat keteteran menghadapi serangan pedang Panji Tejo Laksono yang cepat dan mematikan.
'Pemuda ini benar-benar tidak bisa di anggap enteng. Jiang Zhi, kau harus mampu bertahan', batin Chan San Fung sembari terus mengawasi jalannya pertandingan ini.
Tiga Biksu Shaolin, Biksu Hong Ki, Biksu Hong Jian dan Biksu Hong Yi, terpana melihat kemampuan beladiri Panji Tejo Laksono. Ini sama persis dengan kemampuan beladiri Panji Watugunung yang pernah mereka hadapi.
"Guru, putra Watugunung ini ternyata juga punya kelebihan yang tidak bisa di remehkan", bisik Biksu Hong Yi pada gurunya, Biksu Hong Ki.
"Kau benar, Hong Yi...
Anak ini selain mirip seperti ayahnya, juga memiliki kemampuan beladiri yang tak kalah
dengan Raja Tanah Jawadwipa. Benar benar mengagumkan! ", jawab Biksu Hong Ki sembari terus menatap ke arah pertarungan sengit di halaman Kuil Shaolin itu.
Putri Song Zhao Meng, Huang Lung alias Putri Wanyan Lan dan Luh Jingga tersenyum melihat pujaan hati mereka sangat tangguh di pertandingan ini. Sementara Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Rakryan Purusoma dan Demung Gumbreg manggut-manggut seraya terus mengawasi jalannya pertandingan karena bagaimanapun juga mereka khawatir akan keselamatan junjungan mereka.
.
Melewati 15 jurus, terlihat ilmu pedang Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ilmu Pedang Tanpa Bayangan ajaran Begawan Ganapati unggul dari ilmu pedang Sekte Gunung Wu Tang milik Jiang Zhi.
Shreeeeettttthhh...!!
Satu robekan besar tercipta di baju Jiang Zhi, saat Panji Tejo Laksono yang merendahkan tubuhnya berputar cepat dan menyabetkan pedang nya. Meski hanya luka ringan, namun itu sudah menyebabkan darah Jiang Zhi merembes keluar.
Jiang Zhi dengan cepat melompat mundur beberapa tombak dari Panji Tejo Laksono dan segera menotok jalan darah nya untuk menghentikan pendarahan. Setelah darah berhenti keluar, Jiang Zhi hendak melompat maju ke arah Panji Tejo Laksono namun Ketua Sekte Gunung Wu Tang Chan San Fung yang juga guru nya langsung berteriak lantang.
"Jiang Zhi, cukup ! Mundurlah dan akui kekalahan mu".
Jiang Zhi terlihat tidak terima namun dia tidak berani membantah perintah guru besar Sekte Gunung Wu Tang itu. Dia segera menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Pendekar Thee,
Kau hebat. Aku mengaku kalah!", ujar Jiang Zhi segera.
"Pendekar Jiang terlalu bijaksana, mengalah kepada ku. Aku mengucapkan terima kasih atas bimbingan dari mu", Panji Tejo Laksono pun membungkukkan badannya pada Jiang Zhi.
Setelah mendengar ucapan itu, Jiang Zhi segera bergegas menuju ke arah rombongan Gunung Wu Tang. Di hadapan Chan San Fung, Jiang Zhi segera berlutut dan menundukkan kepalanya pada Guru Besar Sekte Gunung Wu Tang itu.
"Maafkan aku Guru. Murid mu ini tidak berguna dan mempermalukan nama besar Gunung Wu Tang. Murid pantas mendapat hukuman", ujar Jiang Zhi segera.
"Kau tidak bersalah, Jiang Zhi.
Lawan mu saja yang memang lebih hebat. Kau sudah berusaha keras agar membuktikan kalau Gunung Wu Tang adalah yang terbaik. Bangunlah ", Chan San Fung segera mengangkat kedua lengan Jiang Zhi hingga pendekar muda itu segera berdiri dan melangkah ke belakang Chan San Fung.
Adik seperguruan Jiang Zhi, Chang Shui San segera melesat ke arah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di halaman Kuil Shaolin tanpa persetujuan dari Chan San Fung. Dia segera berdiri dan menghunus pedangnya kearah Panji Tejo Laksono. Tindakan ini tentu saja mengejutkan semua orang termasuk Chan San Fung dan orang-orang yang ada di tempat itu.
"Chang Shui San,
Apa yang sedang kau lakukan?!", teriak Chan San Fung segera.
"Mohon maaf Guru. Orang ini begitu sombong sekali dan merendahkan martabat Sekte Gunung Wu Tang, aku tidak bisa membiarkan dia berbuat seenaknya", jawab Chang Shui San sembari menghormat pada Chan San Fung dengan cepat dan segera kembali memutar tubuhnya menghadap Panji Tejo Laksono.
Mendengar perkataan muridnya, Chan San Fung hanya menggeram sembari mengepal kuat kuat. Dalam hatinya ia membenarkan omongan Chang Shui San, tapi secara norma kependekaran itu termasuk pelanggaran.
"Aku Chang Shui San, murid ke 4 Gunung Wu Tang, ingin mendapat bimbingan dari mu, pendekar muda.
Mohon kau berwelas asih", ujar Chang Shui San sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono namun dengan sorot mata ingin membunuh.
Panji Tejo Laksono menghela nafas berat sebelum berbicara, " Silahkan Pendekar Chang, aku sudah siap".
Mendengar jawaban Panji Tejo Laksono, Chang Shui San langsung menggebrak kakinya ke tanah dan melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono seraya membabatkan pedang nya.
Thhraaaangggggggg !
Panji Tejo Laksono langsung menangkis sabetan pedang Chang Shui San yang ganas. Melihat serangan nya mentah, Chang Shui San segera memutar tubuhnya dan menghantamkan tapak tangan kiri nya ke arah dada sang pangeran muda dari Kadiri.
Whhhuuutthh !
Secepat kilat, Panji Tejo Laksono menekuk lutut nya untuk menghindari serangan, lalu dengan cepat ia merubah gerakan tubuhnya dan menyapu kaki lawan secepat kilat.
Dhaaaasssshhh !
Auuuggghhhhh !
Sang pangeran muda menghadapi tantangan Chang Shui San dengan tenang.
Para penonton yang menyaksikan langsung pertandingan ini menahan nafas melihat ganasnya serangan serangan Chang Shui San yang terlihat ingin membunuh Panji Tejo Laksono.
"Jenderal Liu,
Cepat kau hentikan pertarungan ini. Aku tidak mau Kakak Thee sampai terluka oleh murid Wu Tang itu", ucap Putri Song Zhao Meng segera.
"Mohon maaf Tuan Putri..
Kemampuan beladiri mereka berdua jauh diatas hamba. Bukannya hamba pengecut, tapi melerai pertikaian antara mereka sama dengan mencari mati", Jenderal Liu King menghormat pada Putri Song Zhao Meng.
"Kau ini benar-benar payah...
Kalau sampai terjadi apa apa dengan Kakak Thee, aku tidak akan pernah memaafkan orang Gunung Wu Tang itu", Putri Meng Er mengepalkan tangannya erat-erat.
Satu sabetan pedang Chang Shui San berhasil membuat Panji Tejo Laksono mati langkah hingga memaksa sang pangeran muda dari Kadiri bergerak ke arah samping. Melihat itu Chang Shui San menyeringai lebar. Segera dia berputar cepat dan menyergap Panji Tejo Laksono yang mati langkah.
"Mampus kau!", maki Chang Shui San sembari mengayunkan pedangnya kearah leher Panji Tejo Laksono.
Shreeeeettttthhh !
Sekejap mata sebelum pedang Chang Shui San menyentuh kulit leher Panji Tejo Laksono, tiba tiba saja kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono dan sosok sang pangeran muda dari Kadiri itu menghilang dari pandangan hingga tebasan pedang Chang Shui San hanya memotong udara kosong.
Chang Shui San terkejut bukan main melihat itu semua. Senyum lebar di wajahnya segera memudar dan berganti dengan wajah penuh kekagetan.
Pun mata semua orang yang lain tak kalah mendelik lebar melihat itu semua. Tak terkecuali Chan San Fung dan para murid Gunung Wu Tang. Juga Biksu Kong Bao yang terlonjak dari tempat berdirinya.
Hanya Biksu Hong Ki dan kedua muridnya saja yang tidak kaget melihat kemampuan beladiri ini karena mereka pernah melihat pemandangan itu sebelumnya. Itu adalah Ajian Halimun yang pernah di keluarkan oleh Panji Watugunung.
Saat Chang Shui San masih kebingungan dengan hilangnya Panji Tejo Laksono, tiba tiba Panji Tejo Laksono muncul kembali di hadapannya sembari tapak tangan kiri nya yang sudah berwarna merah menyala seperti api berhawa panas menghantam kearah dada Chang Shui San. Kemunculan tiba tiba Panji Tejo Laksono langsung membuat Chang Shui San gelagapan. Dengan cepat ia berusaha keras menangkis hantaman tapak tangan kiri Panji Tejo dengan kedua lengan bersilangan di depan dada.
Blllaaaaaarrr !!
Aaaarrrgggggghhhhh !
Chang Shui San terpelanting jauh ke belakang. Darah segar muncrat keluar dari mulutnya. Saat tubuh Chang Shui San akan menghantam tanah, Chan San Fung segera melesat cepat kearah Chang Shui San dan menyambar tubuh Chang Shui San segera. Guru besar Sekte Gunung Wu Tang itu segera bersalto sekali di udara dan mendarat di depan para murid Gunung Wu Tang.
Di situ terlihat bahwa tangan kiri Chang Shui San terlihat melepuh seperti habis terkena bara api yang sangat panas. Panji Tejo Laksono memang hanya menggunakan sepertiga bagian tenaga dalam nya untuk melepaskan Ajian Tapak Dewa Api, namun hasilnya sudah cukup membuat Chang Shui San terluka dalam serius. Mulut Chang Shui San terus memuntahkan darah segar.
Chan San Fung segera menotok beberapa titik nadi dan jalan darah Chang Shui San. Setelah itu pendarahan Chang Shui San berhenti dan pendekar muda ini terlihat bisa bernafas lega meski masih sedikit tersengal.
"Ma-maafkan aku Gu-guru..
Aku tidak bisa membalaskan dendam Kakak pertama", ujar Chang Shui San dengan kata terbata-bata.
"Kau ini benar-benar keras kepala..
Selepas pulang ke Gunung Wu Tang, aku akan memberi mu hukuman. Sekarang kau tenangkan diri mu.
Guan Ping,
Bantu adik seperguruan mu. Salurkan tenaga dalam mu ke punggungnya. Cepat!".
Mendengar perintah gurunya, Guan Ping segera duduk bersila dan dengan cepat menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung Chang Shui San.
Huuuuooogggghhh !
Chang Shui San muntah darah segar bercampur kehitaman. Itu tandanya bahwa luka dalam nya telah di bersihkan. Setelah itu, Chang Shui San terlihat lebih segar dengan muka yang memerah.
Melihat Chang Shui San berhasil di selamatkan, Chan San Fung segera berdiri dari tempat nya dan menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di tempatnya. Guru besar Sekte Gunung Wu Tang itu yang sudah di liputi oleh perasaan kesal karena dua murid nya terluka, mengesampingkan pandangan orang-orang, langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono.
Semua orang terkejut melihat kejadian itu. Biksu Kong Bao pun tak tinggal diam dan langsung melesat cepat kearah tengah halaman Kuil Shaolin dimana Chan San Fung menyerang maju ke arah Panji Tejo Laksono.
Dengan cepat ia segera memapak serangan Chan San Fung dengan kedua tapak tangan nya.
Blllaaammmmmmmm !
Ledakan dahsyat terdengar saat kedua pimpinan perguruan kungfu nomor satu di Daratan Tengah ini beradu. Chan San Fung terdorong mundur satu tombak ke belakang sedangkan Biksu Kong Bao terdorong mundur hampir dua tombak ke arah Panji Tejo Laksono. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibir biksu Kuil Shaolin ini.
"Amitabha...
Pendeta Chan, tolong jangan merendahkan diri sendiri dengan bersikap seperti itu. Kau pendekar hebat yang memiliki nama besar di dunia persilatan. Tidak seharusnya kau menindas anak muda seperti pendekar Thee ini", ujar Biksu Kong Bao sembari membungkuk hormat kepada Chan San Fung.
"Kepala Biara,
Pemuda itu sudah melukai kedua murid ku. Hari ini jika aku tidak memberi nya pelajaran, ke depannya orang akan meremehkan Gunung Wu Tang seenak jidat nya. Tolong kau minggir", hardik Chan San Fung dengan keras.
"Sancai sancai...
Pendeta Chan San Fung, aku menghormati mu sebagai tetua. Tolong berikan pendekar muda ini kelonggaran atas kesalahannya. Aku yakin pendekar besar seperti mu pasti bisa bijaksana dalam mengambil keputusan", Biksu Kong Bao mengusap sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya dan tersenyum pada Chan San Fung.
Huuuuhhhhhh....
"Karena memandang hubungan baik Shaolin dan Wu Tang dan juga karena kepala Biara adalah murid sahabat baik ku, aku akan memberikan 3 pukulan kepada pemuda itu sebagai pembalasan atas luka yang dialami para murid ku.
Apa kau bersedia anak muda?", Chan San Fung mendelik tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Pendeta Chan, itu terlalu kejam. Saudara kecil ini bukan lawan mu, tolong kau..."
Belum sempat Biksu Kong Bao menyelesaikan omongannya, Panji Tejo Laksono memotong pembicaraan mereka berdua dengan berkata,
"Aku bersedia"