
Dari atas pepohonan hutan kecil di belakang Panji Tejo Laksono, Luh Jingga yang melihat Panji Tejo Laksono sedang menyarungkan kembali Pedang Naga Api ke sarungnya langsung berseru, "Kangmbok Gayatri, itu dia Kangmas Pangeran. Ayo kita kesana".
Gayatri mengangguk mengerti dan keduanya segera melesat ke arah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri menatap mayat Ki Pancatnyana yang tergeletak begitu saja di atas tanah. Kedatangan mereka berdua segera mengalihkan perhatian sang pangeran muda. Senyum manis segera terukir di wajah tampan Panji Tejo Laksono.
"Kenapa kalian menyusul kemari?", tanya Panji Tejo Laksono sembari berjalan mendekati mereka berdua.
"Kami khawatir dengan keselamatan mu, Kangmas Pangeran. Tentu saja kami tidak bisa berdiam diri begitu saja melihat mu pergi dengan terburu-buru", sahut Gayatri sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dimana ada tiga mayat yang bergelimpangan di sana. Belum sempat Panji Tejo Laksono menjawab, Luh Jingga sudah lebih dulu bicara.
"Siapa mereka Kangmas?", Luh Jingga menunjuk ke arah 3 mayat itu.
"Hanya orang yang cari perkara. Sudah biarkan saja mereka. Biar mayat mereka menjadi pemuas lapar hewan buas di hutan ini. Ayo kita pergi dari tempat ini. Pasti para prajurit Seloageng sedang kebingungan mencari kita", jawab Panji Tejo Laksono segera.
"Baik, kami mengerti Kangmas Pangeran", Luh Jingga mengangguk mengerti begitu juga dengan Gayatri. Ketiganya kompak segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara kemudian menggunakan ranting pohon yang tumbuh di hutan kecil ini sebagai tumpuan dan melesat meninggalkan tempat itu.
Setelah ketiganya menghilang dari pandangan mata, sebuah bayangan hitam berkelebat cepat dan berhenti di jarak yang cukup jauh dari tempat mayat Ki Pancatnyana, Wugu dan Kenca. Meski dari jarak yang cukup jauh, namun dia masih bisa melihat mayat ketiga orang itu. Bayangan hitam yang tak lain adalah Nyi Dadap Segara segera berlutut di tanah lalu bersujud kepada mayat-mayat itu. Rupanya setelah Ki Pancatnyana tewas di tangan Panji Tejo Laksono, Nyi Dadap Segara segera menyambar Pedang Tulang Iblis yang ada di dekat nya dan secepatnya bersembunyi di balik bebatuan yang cukup jauh dari tempat pertarungan. Setelah melihat kepergian Panji Tejo Laksono dan kedua istrinya, Nyi Dadap Segara memberanikan diri untuk memberikan penghormatan kepada Ki Pancatnyana, Wugu dan Kenca untuk yang terakhir kalinya.
"Aku bersumpah pada kalian, dendam ini pasti akan ku balaskan. Selamat tinggal Kakang Pancatnyana, Wugu dan Kenca", sembari mengusap sisa air mata yang sempat mengalir di pipinya, Nyi Dadap Segara segera melesat cepat kearah timur, ke wilayah Pakuwon Weling.
Nyi Dadap Segara segera menemui beberapa orang pengawal pribadi nya di luar Kota Weling. Tanpa menunggu waktu lama, mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Pakuwon Tumapel. Sepanjang perjalanan, Nyi Dadap Segara hanya diam saja tanpa banyak bicara. Kematian Ki Pancatnyana di depan matanya terasa masih membekas di pelupuk mata. Ini benar-benar membuat Nyi Dadap Segara gundah gulana.
Tanpa berbelok ke arah kediamannya, Nyi Dadap Segara terus menggebrak kuda tunggangan nya melintasi jalan raya yang menuju timur Gunung Kawi. Di temani oleh sepuluh orang bawahannya, dia tak henti hentinya memacu kudanya seakan ingin secepatnya sampai di Kota Kadipaten Dinoyo yang terletak di timur Gunung Kawi.
Menjelang sore, Nyi Dadap Segara sudah sampai di tempat yang dia tuju. Sebuah rumah besar yang terletak di tepi Kota Dinoyo. Kelihatan kalau rumah itu adalah rumah seorang bangsawan karena bisa dilihat bahwa di depan gapura masuk rumah ada dua prajurit Kadipaten Dinoyo yang sedang berjaga.
Dua orang prajurit penjaga gerbang segera menghadang Nyi Dadap Segara dan para pengikutnya.
"Berhenti di situ!
Mau apa kalian kemari?", hardik keras sang prajurit sembari menyilangkan tombak mereka sebagai tanda larangan.
"Katakan pada Tumenggung Ranasuta bahwa Nyi Dadap Segara, pedagang dari Wanua Siganggeng ingin bertemu", ujar Nyi Dadap Segara setelah mereka melompat turun dari kudanya diikuti oleh seluruh pengikutnya.
"Tunggu di situ. Aku akan menghadap pada Gusti Tumenggung Ranasuta untuk menyampaikan pesan kalian", ucap sang prajurit sembari melangkah masuk ke dalam rumah besar yang merupakan Katumenggungan Dinoyo itu. Sedangkan sang prajurit satunya terus berjaga di depan pintu gerbang.
Seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal nampak sedang asyik menggoda burung perkutut peliharaan nya di depan pendopo Katumenggungan Dinoyo saat sang prajurit penjaga gerbang masuk. Lelaki berusia sekitar 3 dasawarsa ini memakai selempang kain halus berwarna merah menutupi separuh dadanya seperti umumnya pakaian pria bangsawan.
"Ada apa kau kemari tanpa di panggil?", tanya lelaki bertubuh kekar itu segera setelah sang prajurit menghormat pada nya dan duduk bersila di hadapannya.
"Mohon ampun Gusti Tumenggung..
Di luar ada beberapa orang yang ingin bertemu dengan Gusti Tumenggung. Salah satu nya mengaku bernama Nyi Dadap Segara, pedagang dari Wanua Siganggeng", lapor sang prajurit dengan cepat.
Mendengar nama Nyi Dadap Segara disebut, lelaki bertubuh kekar yang tak lain adalah Tumenggung Ranasuta itu sedikit terkejut.
'Mau apa perempuan itu kemari? Apa ada sesuatu yang penting hingga terpaksa harus datang langsung ke rumah ku?', batin Tumenggung Ranasuta.
"Suruh dia masuk. Jika ada orang lain yang ingin menemui ku selama dia ada disini, katakan saja aku sedang tidak ada", Tumenggung Ranasuta mengibaskan tangannya sebagai tanda agar si prajurit segera mundur.
"Sendiko dawuh Gusti Tumenggung", si prajurit segera menghormat dan beringsut mundur meninggalkan pendopo Katumenggungan. Tumenggung Ranasuta segera menepuk tangan nya dua kali, dan dua dayang Katumenggungan yang setia menunggu perintah segera mundur dari tempat itu.
Tak lama kemudian, Nyi Dadap Segara datang bersama dengan 4 orang pengawal pribadi nya, sedangkan 6 lainnya menunggu di luar.
"Selamat datang di Katumenggungan Dinoyo, Nyi Dadap Segara.
Nyi Dadap Segara segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Begitu melihat tak seorangpun ada di tempat itu, Nyi Dadap Segara segera menjawab pertanyaan Tumenggung Ranasuta.
"Ada sesuatu yang perlu kau ketahui Tumenggung Ranasuta. Apa kau tidak bisa membiarkan ku masuk ke dalam untuk bicara?".
"Hahahaha, aku sampai lupa bersopan santun karena kaget dengan kedatangan mu, Nyi Dadap Segara. Silahkan masuk silahkan masuk..", Tumenggung Ranasuta melangkah masuk ke dalam pendopo Katumenggungan diikuti oleh Nyi Dadap Segara dan 4 pengawalnya.
Setelah sampai di dalam pendopo, mereka segera duduk bersila di lantai pendopo Katumenggungan Dinoyo.
"Sekarang katakan pada ku, ada hal penting apa yang membuat mu sampai ke tempat ku ini, Nyi Dadap Segara? Lekas katakan, jangan membuat ku penasaran", tanya Tumenggung Ranasuta segera.
"Pimpinan ketujuh kelompok kita, Resi Mpu Wisesa terbunuh oleh Penguasa baru Kadipaten Seloageng, Panji Tejo Laksono. Sepertinya dia mulai mengendus keberadaan kelompok kita yang ada di wilayah Panjalu", ucap Nyi Dadap Segara seraya menatap ke arah Tumenggung Ranasuta yang nampak terkejut bukan main mendengar ucapan perempuan paruh baya itu.
"Celaka jika benar keberadaan kita di wilayah Panjalu tercium oleh para penguasa daerah di perbatasan. Kalau begini caranya, rencana penyerbuan ke Panjalu harus dipercepat.
Aku harus segera menemui pimpinan kedua agar bisa menekan Prabu Samarotsaha supaya secepatnya menggempur pertahanan Panjalu", ujar Tumenggung Ranasuta segera.
"Kau benar, pimpinan keenam. Sebagai pengganti ayahmu selaku pemimpin keenam sebelumnya yang terbunuh oleh Prabu Jayengrana saat perang besar itu, kau tidak boleh melewatkan kesempatan ini untuk membalas dendam kematian orang tua mu", Nyi Dadap Segara membakar bara api dendam Tumenggung Ranasuta yang selama ini masih menyala di dada sang perwira tinggi prajurit Kadipaten Dinoyo itu.
"Dan asal kau tahu, penguasa Kadipaten Seloageng yang baru, Panji Tejo Laksono adalah putra sulung Prabu Jayengrana. Dengan membunuhnya sama dengan kau akan membuat Prabu Jayengrana merasakan sakitnya kehilangan orang yang kita cintai", imbuh Nyi Dadap Segara semakin memanasi hati Tumenggung Ranasuta.
"Aku setuju dengan pendapat mu, Nyi Dadap Segara. Aku akan segera menghadap ke pimpinan kedua. Kau tunggulah di Wanua Siganggeng sampai saatnya kita meluluhlantakan Panjalu", ujar Tumenggung Ranasuta dengan semangat berapi-api. Melihat itu, Nyi Dadap Segara segera tersenyum penuh arti.
****
Sementara itu, di lereng Gunung Mahameru, tepatnya di sebuah goa yang berpenerangan pelita kecil dari minyak jarak, seorang lelaki tua bertubuh kurus dengan janggut panjang sedang duduk bersila mengheningkan cipta. Pakaian nya yang putih dan sederhana menandakan bahwa dia adalah seorang pertapa. Dengan penuh ketekunan, mulutnya terus komat kamit membaca mantra puji dewa dengan mata terpejam rapat.
Tiba-tiba saja sebuah suara muncul di telinga sang pertapa tua..
"Maharesi Padmanaba, sudah cukup tapa brata mu. Bangunlah dan dengarkan sabda ku"
Mendengar suara itu, pertapa tua yang dipanggil dengan nama Maharesi Padmanaba itu segera membuka matanya. Sebuah cahaya menyilaukan mata terlihat berputar di depannya.
"Siapakah paduka dan kenapa membangunkan tapa brata hamba?", tanya Maharesi Padmanaba sembari menyembah pada cahaya putih dan menyilaukan mata itu.
"Aku Dewa Brahma.. Tapa brata mu membuat para Dewa di Suralaya karena itu aku datang untuk menemui mu. Aku tahu kau ingin segera menghadap Hyang Agung karena kau sudah bosan hidup di dunia ini.
Tapi sebelum kau berangkat ke Swargaloka, kau harus melepaskan jasad mu dan ilmu kanuragan yang kau miliki, Maharesi Padmanaba", suara itu kembali terdengar di telinga Maharesi Padmanaba.
"Lantas bagaimana caranya aku melepaskan ilmu dan jasad ku, Dewa Brahma? Sudah ratusan orang yang aku minta untuk membunuh ku tapi tak satupun yang bisa melakukannya", Maharesi Padmanaba terus menghormat pada cahaya putih menyilaukan mata itu.
"Ada seorang ksatria muda di wilayah Panjalu. Dia adalah putra sulung Prabu Jayengrana, Maharaja Panjalu. Dia adalah titisan Dewa Kamajaya yang akan menjadi bapak dari Raja besar di Tanah Jawadwipa ini.
Carilah dia, hanya dia yang bisa mengantar mu menuju alam keabadian", setelah berkata demikian, suara itu menghilang bersamaan dengan hilangnya cahaya putih menyilaukan mata itu. Maharesi Padmanaba segera bangkit dari tempat bersujud nya dan tersenyum penuh arti.
Segera dia melangkah keluar dari dalam goa tempat nya bertapa selama ini sembari berkata,
"Putra sulung Prabu Jayengrana,
Tunggu kedatangan ku...."