Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Persiapan Penobatan


****


Usai upacara penyucian jiwa untuk Adipati Tejo Sumirat, semua anggota keluarga Istana Kadipaten Seloageng berkumpul di ruang pribadi Adipati. Meski masih dalam suasana berduka cita atas meninggalnya sang Adipati sepuh, namun kebutuhan untuk menjalankan pemerintahan harus segera di penuhi. Maka dari itu, adipati selaku penguasa daerah tertinggi yang baru harus cepat ada untuk memegang tampuk kepemimpinan Kadipaten Seloageng.


Di ruang pribadi Adipati, telah berkumpul para anggota keluarga Istana Kadipaten Seloageng. Diantara nya ada Nararya Candradewi, janda Adipati Tejo Sumirat, juga kedua orang putri nya Dewi Anggarawati dan Dewi Anggarasari. Duduk pula disana Prabu Jayengrana yang akan memimpin acara ini. Sang Maharaja Panjalu nampak duduk di atas kursi kebesaran Adipati Seloageng.


Selain mereka, terlihat juga Maheswara dan seorang putri nya Narendraswari diantara para anggota keluarga yang hadir.


Panji Tejo Laksono pun juga hadir bersama keempat orang istri nya. Luh Jingga nampak cantik dengan kemben kuning kemerahan dengan sulaman benang emas dan sumping telinga berukir ombak lautan. Sementara Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari nampak begitu menawan dengan baju biru muda nya bersulam benang emas dan selendang biru tua melintang di depan dada. Ayu Ratna tak kalah mempesona. Putri Adipati Aghnibrata ini memakai kemben merah dengan kalung emas berhiaskan permata merah sebesar jempol tangan. Sedangkan Gayatri begitu terlihat anggun dengan kemben baju hijau tua nya, bersulam benang emas dengan mengenakan sebuah ikat rambut berhias mahkota emas kecil bergambar burung merak. Kehadiran mereka menyedot perhatian dari para nayaka praja Seloageng yang juga hadir di tempat itu.


Ada Senopati Gardana, Patih Sancaka, Tumenggung Kundana, Sang Pamgat Mpu Sukrasana, Mantri Dharmadyaksa Mpu Nahayana dan Demung Pungging juga turut hadir di acara siang hari itu.


Prabu Jayengrana segera berdiri dari tempat duduknya begitu semuanya sudah berkumpul.


"Hari ini, kita semua berdukacita dengan meninggalnya Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat. Kita benar benar kehilangan sosok pimpinan yang adil dan bijaksana dalam memimpin wilayah Kadipaten Seloageng selama ini. Selamanya, Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat akan menjadi suri tauladan yang akan kita contoh sebagai laku benar seorang pimpinan dalam mengemban amanah dari Hyang Agung.


Namun, kita juga tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan karena roda pemerintahan Kadipaten Seloageng harus tetap di jalankan. Karena itu, selepas 40 hari meninggalnya Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat, seorang pimpinan baru untuk Kadipaten Seloageng sudah harus mulai meneruskan tampuk kepemimpinan di Kadipaten ini.


Karena itu, hari ini kita semua berkumpul di sini untuk membahas tentang wasiat terakhir dari Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat sebelum menghadap ke Dewata Agung.


Dari Kanjeng Ibu Nararya Candradewi, juga kesaksian beberapa orang yang menemani perjalanan terakhir Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat, ada satu wasiat yang di inginkan oleh beliau sebelum meninggal dunia. Dia mewasiatkan agar tahta Kadipaten Seloageng selanjutnya di pegang oleh cucunya Panji Tejo Laksono sekaligus sebagai tanah lungguh nya sebagai pangeran pati di Panjalu.


Sekarang aku ingin mendengar pendapat kalian semua tentang wasiat ini. Silahkan semua orang menyampaikan pandangannya ", Prabu Jayengrana mengakhiri ucapan nya sembari mengedarkan pandangannya pada seluruh orang yang ada di ruang pribadi Adipati Seloageng.


Patih Sancaka segera menyembah pada Prabu Jayengrana sebelum berbicara. Setelah melihat Prabu Jayengrana mengangkat tangan kanannya sebagai tanda persetujuan, sang warangka praja sepuh itu segera angkat bicara.


"Mohon ampun beribu ampun, Gusti Prabu..


Menurut hamba, apa yang menjadi wasiat dari Gusti Adipati Tejo Sumirat harus di laksanakan. Ini agar arwah beliau tenang dalam perjalanan nya menuju keabadian", ujar Patih Sancaka segera. Mendengar perkataan itu, Senopati Gardana juga ikut menyembah pada Prabu Jayengrana sebelum menimpali omongan sang Patih.


"Hamba setuju dengan pendapat Gusti Patih Sancaka, Gusti Prabu..


Seloageng membutuhkan pimpinan muda yang mampu membangun kembali wilayah ini menjadi salah satu wilayah yang termakmur di timur Panjalu.


Wilayah Kadipaten Seloageng terbentang luas dari lereng Gunung Kawi di timur hingga Kali Wedi di barat. Wilayah nya subur dan penduduknya banyak. Ini bisa menjadi bahan untuk mendukung kemajuan yang lebih baik lagi di masa depan. Semua itu bisa tercapai jika pimpinan Kadipaten Seloageng adalah orang muda yang memiliki kemampuan dan pandangan luas ke depannya seperti Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", imbuh Senopati Gardana yang mengakhiri omongannya dengan menghormat pada Prabu Jayengrana.


Mendengar perkataan itu, semua orang manggut-manggut senang karena ucapan Senopati Gardana seperti mewakili isi hati mereka. Terkecuali Maheswara yang nampak menekuk wajahnya dalam dalam. Namun itu tidak terlihat karena dia terus menunduk sepanjang pertemuan.


"Jadi kalian semua tidak ada yang keberatan dengan pengangkatan Panji Tejo Laksono sebagai Adipati Seloageng?", Prabu Jayengrana mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


Mendengar jawaban itu, Prabu Jayengrana tersenyum simpul sembari menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang masih duduk dengan tenang di tempatnya.


"Kalau begitu, selepas 40 hari meninggalnya Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat, akan diadakan penobatan Panji Tejo Laksono sebagai Adipati Seloageng yang baru.


Kepada semua nayaka praja Seloageng, aku minta untuk mempersiapkan segala sesuatunya demi lancarnya acara penobatan nanti", Prabu Jayengrana mengangkat tangan kanannya.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", jawab seluruh nayaka praja Seloageng sambil menghormat pada Prabu Jayengrana yang menutup acara pertemuan pada siang hari itu. Usai Prabu Jayengrana memberikan isyarat kepada mereka untuk membubarkan diri, satu persatu punggawa istana Seloageng mulai mundur dari ruang pribadi Adipati untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing.


Dan demikianlah, hari demi hari berlalu dengan cepat. Selepas satu purnama, sepekan menjelang penobatan Panji Tejo Laksono, Kota Kadipaten Seloageng mulai bersiap siap dengan menghias kota menyambut perayaan penobatan Panji Tejo Laksono sebagai Adipati Seloageng yang baru.


Dua orang prajurit sedang sibuk mengatur para pekerja yang sedang mengangkut padi untuk di bawa masuk ke dalam gudang istana saat dua orang warga Kota Kadipaten Seloageng berbincang sembari menatap ke arah mereka.


"Wah sepertinya persiapan nya sudah dimulai ya Kang Wono..


Seloageng punya gawe besar ini", ujar seorang lelaki bertubuh bogel pada seorang lelaki paruh baya yang kepalanya memakai ikat kepala hitam.


"Iya Ndol, sebentar lagi kita akan memiliki Adipati baru. Ya semoga saja dia bisa lebih baik memimpin Kadipaten Seloageng daripada Gusti Adipati Tejo Sumirat. Semoga saja dia mewarisi sifat bijak mendiang Gusti Adipati. Itu harapan ku", ucap si lelaki bertubuh kekar itu yang dipanggil dengan nama Wono itu.


"Itu sudah pasti Kang..


Wong dia cucu dari Gusti Adipati Tejo Sumirat dan putra Gusti Ratu Dewi Anggarawati. Sudah pasti darah yang mengalir di tubuh Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono adalah dari mereka", balas Bendol yang berdiri di samping nya.


"Kau benar, Ndol..


Aku juga yakin bahwa Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono mampu membawa Kadipaten Seloageng menjadi wilayah yang makmur", ucap Wono sambil kembali mengalihkan pandangannya pada para prajurit yang sedang para pekerja mengangkut hasil bumi ke dalam gudang penyimpanan makanan istana.


Persiapan penobatan Panji Tejo Laksono sebagai Adipati Seloageng yang baru benar-benar di tata sedemikian rupa oleh para punggawa istana Seloageng. Kesemuanya terlihat bersemangat untuk membantu pelaksanaan acara.


Namun dari sekian banyak punggawa istana Seloageng yang terlibat dalam kegiatan ini, Maheswara yang di tugaskan untuk mencari kelompok hiburan rakyat, memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat kekacauan. Rasa ingin berkuasanya membuatnya ingin merusak pelaksanaan acara penobatan Panji Tejo Laksono dengan sengaja dia memanggil kelompok tayub dari Kadipaten Karang Anom yang dulu pernah membuat masalah di Tanah Perdikan Lodaya.


Untuk menyamarkan kelompok ini, Maheswara memasukkan mereka ke dalam kelompok lain yang tidak begitu terkenal di kalangan masyarakat Panjalu wilayah timur. Di dalam kelompok itu, Maheswara juga memasukkan beberapa orang pembunuh bayaran dari Kelompok Bulan Sabit Darah yang khusus di tugaskan untuk menghabisi nyawa Panji Tejo Laksono. Resi Mpu Wisesa yang mendapatkan jalan untuk membalaskan dendam atas kekalahan para pengawal nya tempo hari, langsung menyetujui permintaan dari Maheswara untuk memasukkan beberapa orang pendekar sakti agar menyamar sebagai penabuh gamelan di kelompok tayub dari Kadipaten Karang Anom yang akan menghibur di acara penobatan Adipati baru Seloageng.


Salah seorang diantara pendekar sakti yang ikut serta dalam rombongan itu adalah seorang pendekar paruh baya yang memiliki nama besar di dunia persilatan Tanah Jawadwipa. Namanya sangat di takuti oleh para pendekar dunia persilatan di wilayah Kerajaan Jenggala. Setiap orang yang mendengar namanya disebut pasti bergidik ngeri.


Dia adalah Pendekar Pedang Pencabut Nyawa.