
"Kebo bunting,
Kau jangan terlalu gede rasa. Tidak mungkin Nyi Kinanti tertarik dengan tubuh mu yang mirip bangkai celeng hutan itu", maki Benggol sambil menyepak kursi kayu yang menjadi alas duduk nya. Kursi kayu jati itu terlempar ke arah dinding kayu warung makan dan rusak setelah menghantam cagak.
"Dasar kurang ajar!
Seenaknya saja mengatakan aku kebo bunting. Apa kau ingin aku hajar sampai benjol muka jelek mu itu, brengsek?", Demung Gumbreg meradang mendengar makian Benggol. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera berdiri dari tempat duduknya. Begitu Demung Gumbreg berdiri, keempat prajurit pilihan yang mengawal Panji Tejo Laksono ikut berdiri dari tempat duduknya.
"Eh Lu apa benar aku seperti kerbau bunting?", Demung Gumbreg segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.
"Bukan mirip lagi tapi kau memang kerbau bunting", Tumenggung Ludaka menjawab acuh tak acuh.
"Benar benar tidak setia kawan.
Tega sekali kau mengatakan aku mirip kerbau bunting? Mana rasa pertemanan mu Lu?", Demung Gumbreg kesal karena Tumenggung Ludaka tidak membela nya.
"Apanya yang mau di bela? Coba lihat tubuh mu? Mirip dengan kerbau bunting tidak?
Aku hanya bicara jujur sesuai dengan kenyataan. Aku tidak suka berbohong pada orang lain hanya untuk menyenangkan hati mu", balas Tumenggung Ludaka tak mau kalah. Rasa kesalnya karena ulah Demung Gumbreg tadi rupanya yang menjadi sebab Tumenggung Ludaka lupa bahwa ada Panji Tejo Laksono di dekatnya.
Tapi Panji Tejo Laksono tidak mengucapkan apa-apa, hanya tersenyum simpul melihat perdebatan mereka berdua. Sedikit banyak dia sudah hapal dengan watak kedua perwira tinggi prajurit Panjalu itu.
"Hei, kenapa jadi kalian yang bertengkar?
Disini aku yang sedang marah, aku yang sedang kesal karena ada.....", belum sempat Benggol menyelesaikan omongannya, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg menoleh ke arah nya dan menunjuk ke arah Benggol sembari berteriak lantang berbarengan.
"Diiaaaammmmmm...!!"
Benggol langsung menutup mulutnya rapat-rapat begitu melihat api kemarahan di mata kedua orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu. Pria berwajah menyeramkan yang biasanya di takuti oleh orang orang dari Pakuwon Randublatung itu merasa ngeri melihat mereka berdua.
"Mbreg,
Sekarang kau selesaikan dulu si tukang buat onar itu. Kalau tidak mulutnya akan mengganggu kenyamanan kita makan siang", Tumenggung Ludaka segera duduk di kursi nya kembali. Demung Gumbreg mengangguk setuju dan segera menatap tajam ke arah Benggol.
"Heh muka bulu ketek,
Sekarang aku tanya pada mu. Siapa orang yang kau maksud tadi ha? Jawab pertanyaan ku ini dengan jujur. Kalau tidak tak jadikan gethuk ketela pohon kepala mu", Demung Gumbreg meraih gagang pentung sakti nya.
"Yang jelas itu bukan kamu tapi pemuda baju biru itu yang menggoda calon istri ku..", jawab Benggol sambil menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono. Semua orang di warung makan itu langsung menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Woh dasar geblek!
Kau berani sekali menuduh majikan ku menggoda calon istri mu, sedangkan siapa calon istri mu saja kami tidak tahu. Kau jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti jika masih sayang nyawa", ujar Demung Gumbreg.
"Nyi Kinanti adalah calon istri ku. Pemuda itu menggoda nya sewaktu pesan makanan tadi. Apa kalian sudah mengerti sekarang?", Benggol mendengus dingin.
"Baik sekarang aku yang akan melihat sejauh mana kebenaran omongan, muka bulu ketek..
Nyi Kinanti, aku tanya pada mu apa benar si muka bulu ketek ini calon suami mu? Dan apa benar kau tadi di goda oleh majikan ku?", Demung Gumbreg menoleh ke arah Nyi Kinanti yang masih berdiri tenang di dekat mejanya.
"Itu semua tidak benar, Kisanak..
Benggol bukan calon suami ku dan majikan mu juga tidak menggoda ku tadi", jawab Nyi Kinanti dengan cepat.
Mendengar jawaban Nyi Kinanti, Demung Gumbreg tanpa bicara lebih lama lagi langsung melesat ke arah Benggol lalu menyodok perut lelaki bertubuh gempal itu dengan gagang pentung sakti nya.
Dheeeepppphhhh..!
Ouuuuggghhhh!
Benggol langsung terpental keluar dari dalam warung makan itu dan jatuh di halaman depan dengan keras.
"Mulut mu bau bangkai jadi seenaknya memfitnah orang sembarangan.
Kau layak mendapat pelajaran", ucap Demung Gumbreg sambil memburu Benggol. Sekuat tenaga, Demung Gumbreg mengayunkan pentung sakti nya ke arah kepala Benggol yang masih terkapar di tanah.
"Pecah kepala mu, bajingan!
Whhuuuuuuuggggh!
Melihat hantaman pentung sakti yang menebar maut, Benggol berguling cepat menghindar. Nyaris saja kepalanya hancur di kepruk pentung sakti nya Demung Gumbreg. Melihat lawannya lolos, Demung Gumbreg memutar tubuhnya dan menyepak perut Benggol dengan cepat.
Bhhhuuuuuuggggh!
Benggol melengguh keras saat kaki Demung Gumbreg yang sebesar kaki kerbau menghantam perut nya. Lelaki berperawakan gempal itu terlempar sejauh 2 tombak dan berhenti setelah menabrak batang pohon sawo yang tumbuh di halaman. Darah segar muncrat keluar dari mulut Benggol.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Mulut mu besar tapi kemampuan mu kosong. Kali ini aku lepaskan kau, tapi tidak lain kali. Cepat pergi dari sini!", Demung Gumbreg melotot ke arah Benggol.
Dengan sempoyongan, Benggol segera bangkit dari tempat jatuhnya. Kemudian pria bertubuh gempal itu terpincang-pincang berjalan setengah lari meninggalkan tempat itu.
Demung Gumbreg segera kembali ke dalam warung makan sembari menepuk-nepuk bajunya yang sedikit kotor. Dia segera berjalan menuju ke arah meja makan nya dimana Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya sedang menikmati makanan.
Mereka makan siang dengan lahap. Nyi Kinanti terus menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang sedang asyik menikmati hidangan yang tersaji di meja makan nya.
"Pemuda tampan itu pasti bukan orang sembarangan..
Pengawalnya saja bisa dengan mudah menjatuhkan Benggol Nyi", bisik seorang gadis muda pembantu Nyi Kinanti dengan cepat.
"Kau benar, Pangesti..
Senjata yang di bungkus kain hitam di punggungnya itu pasti juga bukan senjata sembarangan. Sebaiknya layani mereka sebaik mungkin agar tidak menjadi masalah", ujar Nyi Kinanti sambil tersenyum simpul. Gadis muda yang di panggil dengan nama Pangesti itu mengangguk mengerti.
Usai menikmati makanan mereka dan Gayatri membayar biaya makan siang, rombongan Panji Tejo Laksono segera keluar dari warung makan itu. Kesepuluh orang itu segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan memacu kudanya menuju ke arah barat tepatnya ke wilayah Wanua Lwaram. Dulu wilayah itu merupakan bekas kota Pakuwon, namun setelah berulang kali terlibat masalah dengan pihak Kerajaan Panjalu, pusat pemerintahan daerah ini di pindahkan ke Randublatung oleh Prabu Jayengrana untuk mencegah terulangnya kembali peristiwa pemberontakan terhadap Kerajaan Panjalu. Lwaram menjadi wanua biasa tanpa hak istimewa apapun.
Setelah rombongan Panji Tejo Laksono pergi, Nyi Kinanti tampak gelisah memikirkan sesuatu.
"Ada apa Nyi? Kenapa kau terlihat cemas seperti itu?", tanya Pangesti yang melihat kegelisahan Nyi Kinanti.
"Aku hanya takut masalah Benggol tidak berakhir di sini saja.
Seorang kakek tua bertubuh gempal dengan jenggot panjang putih berpakaian serba abu-abu dan hitam nampak berdiri menghadang jalan raya yang menuju ke arah kota Pakuwon Randublatung di barat Wanua Lwaram. Kakek tua dengan gigi depan ompong dua bersenjata tongkat yang memiliki bonggol tengkorak manusia itu nampak kesal. Di pipi kanannya terdapat bekas luka memanjang yang sepertinya melukai mata kanannya yang memutih. Di samping nya, ada 4 orang berpakaian hitam-hitam dengan ikat kepala abu-abu memegang senjata mereka dengan keadaan terhunus. Di belakang kakek tua itu ada seorang lagi yang pria bermuka seram yang tak lain adalah Benggol.
Selepas di hajar Demung Gumbreg tadi, Benggol rupanya masih tak terima dengan keadaan nya karena di permalukan di depan perempuan pujaan hatinya. Dia lantas mengadukan nasibnya pada gurunya, Mpu Selawana. Sang guru adalah salah satu dedengkot dunia persilatan aliran hitam yang cukup punya nama. Dia di kenal sebagai Iblis Picak dari Sungai Wulayu. Selain memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, Iblis Picak juga memiliki keahlian dalam bidang racun keji. Benggol begitu di takuti karena punya guru yang biasa membabi buta membela muridnya yang sering menindas orang seenaknya sendiri.
Saat rombongan Panji Tejo Laksono sampai di tempat itu, mereka segera menarik tali kekang kudanya karena jalanan di hadang Mpu Selawana alias Si Iblis Picak dari Sungai Wulayu itu.
"Mau apa kalian? Kenapa menghadang perjalanan kami?", tanya Tumenggung Ludaka sambil menatap tajam ke arah Iblis Picak dan kelima orang muridnya.
"Hutang darah harus di bayar darah. Hutang nyawa harus di bayar nyawa", jawab Mpu Selawana dengan suara berat namun menakutkan.
"Kami tidak mengenal mu Kisanak, bagaimana mungkin kami pernah berurusan dengan kalian?", Panji Tejo Laksono ikut angkat bicara.
"Benggol,
Apa mereka benar orang yang menganiaya mu tadi siang?", ucap Mpu Selawana tanpa mengalihkan pandangannya pada rombongan Panji Tejo Laksono. Benggol yang berdiri di belakang langsung melangkah maju ke samping Mpu Selawana.
"Benar Guru..
Mereka lah yang sudah mempermalukan diri ku di depan Nyi Kinanti calon istri ku. Gara gara mereka sekarang aku tidak punya muka untuk menghadapi Nyi Kinanti lagi", jawab Benggol sambil menatap tajam ke arah Demung Gumbreg.
"Oh jadi kau ini to biang keladi dari hadangan kakek tua bangka ini, muka bulu ketek?
Tadi aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan pada mu untuk bertobat, eh sekarang malah mengajak kakek tua itu untuk mencegat kami. Rupanya kau benar benar tidak bisa di kasih ampun, Benggol", ucap Demung Gumbreg sambil menatap ke arah Benggol.
Mpu Selawana yang sudah memendam perasaan kesal sedari tadi langsung menarik tangan kanannya ke belakang dan depan cepat dia hantamkan pada rombongan Panji Tejo Laksono.
"Kitiran Sewu....
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!"
Serangkum angin dingin menderu kencang layaknya badai menerjang maju ke arah rombongan Panji Tejo Laksono.
Whhhuuuuusssshhh..!!
Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Luh Jingga dan Gayatri langsung melompat tinggi ke udara menghindari terjangan angin kencang berhawa dingin yang berbahaya. Siwikarna, Jaluwesi dan keempat orang prajurit pengawal Panji Tejo Laksono harus berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa masing masing.
Begitu kelima orang itu mendarat di tanah, Iblis Picak dan kelima murid nya langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Luh Jingga dan Gayatri.
Iblis tua itu segera menuju ke arah Panji Tejo Laksono yang merupakan pimpinan rombongan itu karena Mpu Selawana berpikir bahwa pemuda tampan berkulit putih bersih itu pasti bukan orang yang tangguh.
Sekali hentak, tongkat besi hitam Iblis Picak menyambar ke arah perut Panji Tejo Laksono.
Whhuuuuuuuggggh!
Whhuuutth!
Dua kali sambaran tongkat besi hitam berbonggol tengkorak kepala manusia itu berhasil di hindari oleh Panji Tejo Laksono dengan mudah meski harus mundur beberapa langkah ke belakang. Melihat lawan berhasil menghindar, Mpu Selawana dengan cepat merendahkan tubuhnya lalu mengayunkan bonggol tengkorak manusia tongkat besi hitam nya ke arah kaki lawan.
Panji Tejo Laksono langsung menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara, bersalto dua kali di udara dan mendarat sejauh dua tombak di belakang Mpu Selawana alias Si Iblis Picak dari Sungai Wulayu.
Mpu Selawana segera berbalik badan dan dengan cepat ia kembali melesat ke arah Panji Tejo Laksono dengan tangan kiri nya mengincar dada.
Whhuussshh!
Serangkum angin dingin berdesir kencang kearah sang pangeran muda. Dengan sigap Panji Tejo Laksono merendahkan tubuhnya lalu membuat gerakan melingkar sambil mengayunkan tendangan keras yang menyapu kaki Mpu Selawana.
Dhasshhh!
Tubuh Mpu Selawana oleng ke kanan setelah terkena sapuan kaki dari sang pangeran muda. Melihat pertahanan lawan nya goyah, Panji Tejo Laksono langsung melayangkan dua serangan tapak tangan beruntun.
Sadar bahwa ia dalam bahaya, Mpu Selawana dengan cepat memegang tongkat besi hitam nya dengan kedua tangan untuk menangkis serangan Panji Tejo Laksono.
Blllaaaaaarrr! blllaaaaaarrr!
Mpu Selawana terseret mundur beberapa langkah ke belakang setelah benturan keras dua tenaga dalam mereka yang saling menjajaki kemampuan beladiri lawannya. Sedangkan Panji Tejo Laksono hanya terdorong mundur selangkah saja.
'Bocah bau kencur ini rupanya berilmu tinggi. Aku yang sudah mengeluarkan separuh tenaga dalam ku saja masih terdorong 5 langkah ke belakang. Aku tidak boleh lengah', batin Mpu Selawana sembari menyalurkan tenaga dalam nya pada tongkat besi hitam nya.
Tiba-tiba saja tongkat besi hitam itu mengeluarkan semacam asap putih yang berbau harum beserta sinar kuning. Firasat Panji Tejo Laksono langsung mengatakan ada yang tidak beres dengan asap putih yang keluar.
"Hati-hati!
Itu Racun Peluruh Tulang. Cepat tutup jalan nafas mu!"
Suara seorang wanita cantik yang baru saja turun dari kudanya membuat Panji Tejo Laksono langsung melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Dengan cepat ia melepaskan kain pembungkus Pedang Naga Api dan menutup separuh wajahnya agar asap wangi itu tidak terhirup oleh hidung nya.
Mpu Selawana mendengus keras saat mendengar rahasia dari ilmu tongkat besi hitam nya di ungkap oleh perempuan cantik yang tak lain adalah Nyi Kinanti.
"Perempuan lancang!
Kau pantas untuk mendapatkan pelajaran!", usai berkata demikian Mpu Selawana langsung mengibaskan tongkat besi hitam nya ke arah Nyi Kinanti. Selarik sinar kuning kehitaman disertai angin kencang berbau harum langsung menerabas cepat kearah Nyi Kinanti.
Saat yang genting itu, Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin melesat cepat bagai kilat menghadang laju serangan Mpu Selawana dengan mencabut Pedang Naga Api kemudian mengayunkan pedang pusaka itu segera.
Whhhhuuuummmm!
Selarik sinar merah berhawa panas menyengat yang keluar dari bilah Pedang Naga Api memotong sinar kuning kehitaman dari tongkat besi hitam milik Iblis Picak.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!
Ledakan dahsyat terdengar saat dua hawa senjata mereka beradu di udara. Mpu Selawana terpelanting ke belakang akibat gelombang kejut ledakan. Kakek tua itu muntah darah segar sementara itu Panji Tejo Laksono yang sudah melindungi tubuh nya dengan Ajian Tameng Waja berdiri tegak tak bergeming sedikitpun.
Munculnya Pedang Naga Api di tangan Panji Tejo Laksono membuat Mpu Selawana terkejut bukan main. Dia tahu betul bahwa Pedang Naga Api adalah pusaka tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh Prabu Jayengrana, Maharaja Kerajaan Panjalu. Pedang itu juga yang menghabisi nyawa saudara saudara nya saat pertarungan di tepi Hutan Soka dulu.
"Siapa kau sebenarnya bocah tengik?
Darimana kau dapat pusaka itu?"