Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan


Demung Gumbreg segera menoleh ke arah Gayatri dan juga Luh Jingga yang menatap ke arah nya dengan muka masam.


"Aku itu melarang kalian untuk terlibat dalam kegiatan masak memasak di dapur umum ini, semata-mata hanya untuk meninggikan derajat kalian..


Sekarang ini kalian adalah calon istri dari Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Bukan lagi sekedar seorang wanita biasa yang bisa berbuat sesuka hatinya. Ingat bahwa ada pembagian kewajiban dalam susunan masyarakat kita", ujar Demung Gumbreg segera.


"Tapi Paman Gumbreg, saat ini kita harus saling bekerjasama dalam membangun kembali Rajapura. Jadi tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Bukankah lebih banyak tangan yang bekerja akan lebih cepat selesai tugas kita?", Gayatri masih juga tidak mau kalah.


"Itu benar, Gayatri..


Tapi aturan istana dan unggah-ungguh di masyarakat kita tetap tidak bisa kita kesampingkan. Jadi lebih baik kalian berdua mulai membiasakan diri dengan aturan seperti itu, karena cepat atau lambat kalian akan menjadi bagian dari istana Katang-katang. Ada banyak mata yang akan mengawasi tindak tanduk kalian nantinya, jadi mulai sekarang berhati-hatilah dalam bertindak.


Kalau kalian mau membantu, sebaiknya tanyakan pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono apa yang sesuai untuk kalian berdua", ujar Demung Gumbreg sambil mengikat tali kekang kudanya pada geladakan yang ada di samping halaman tempat dapur umum berada.


Mendengar perkataan itu, baik Luh Jingga maupun Gayatri terdiam sejenak.


"Kalau begitu, menurut Paman Gumbreg, sebaiknya kami membantu apa?", tanya Luh Jingga yang sedari tadi hanya menonton obrolan antara Demung Gumbreg dan Gayatri.


"Weh cantik cantik budek (tuli) juga..


Sana cari Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Kog malah tanya aku. Aku mana berhak mengatur pekerjaan untuk kalian. Dasar perempuan, dimana saja selalu bikin kesal", omel Demung Gumbreg seraya berjalan meninggalkan Gayatri dan Luh Jingga yang melongo mendengar omelan nya.


"Kau....."


"Sabar Gayatri, sebaiknya kita mencari Gusti Pangeran untuk menanyakan hal yang di omongkan Paman Gumbreg. Ayo kita ke istana Rajapura ", ajak Luh Jingga yang segera menggelandang tangan Gayatri yang sempat emosi mendengar omelan Demung Gumbreg.


Sembari bersungut-sungut kesal, Gayatri menuruti kemauan Luh Jingga. Meninggalkan Ranti yang kembali melakukan pekerjaannya sebagai juru masak di dapur umum yang ada di luar istana Rajapura.


Setelah menemui Panji Tejo Laksono yang sedang mengawasi pembangunan Pendopo Agung Kadipaten Rajapura, Luh Jingga dan Gayatri akhirnya di beri tugas untuk membantu Ayu Ratna dan Song Zhao Meng yang menata dan mengawasi barang barang berharga istana Rajapura yang sempat berserakan.


Pembangunan kembali Pendopo Agung Kadipaten Rajapura membutuhkan waktu sekitar satu purnama. Selepas pendopo agung rampung, Panji Tejo Laksono memusatkan perhatian nya pada bangunan di luar tembok istana.


Siang itu, Panji Tejo Laksono yang di temani oleh Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari mengunjungi pembangunan sebuah rumah warga yang terletak di tepi tapal batas selatan kota Rajapura. Dengan kawalan Tumenggung Ludaka dan dua puluh orang prajurit Panjalu, kedatangan mereka langsung membuat heboh seisi warga yang berdiam di sekitar tempat itu. Mereka berduyun-duyun mendatangi tempat itu dan duduk bersila dengan tertib di tanah hanya untuk bisa melihat sosok lelaki yang mengalahkan Adipati Waramukti, pemimpin sebelumnya Kadipaten Rajapura.


Begitu Panji Tejo Laksono turun dari kudanya, ratusan orang penduduk langsung berusaha untuk melihat wajah tampan Panji Tejo Laksono.


"Heh heh heh..


Kalian ini kenapa? Jangan bersikap seperti itu pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Hayo duduk kembali dengan baik", ujar seorang lelaki sepuh berjenggot putih panjang yang nampaknya merupakan sesepuh wilayah tersebut.


"Lha aku cuma pengen lihat Gusti Pangeran loh Ki..


Masak begitu saja tidak boleh?", jawab seorang lelaki bertubuh sedikit gemuk dengan ikat kepala hitam yang duduk di antara para penduduk yang hadir pada siang hari itu.


"Bukannya tidak boleh, Bongok..


Tapi tubuh mu yang seperti kerbau bunting itu menghalangi pandangan mata orang lain. Kita semua berharap bisa bertemu dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Aku sudah bicara dengan prajurit yang ada di sana tadi. Jadi ku minta kalian semua tenang. Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono pasti akan menemui kita semua", ujar lelaki sesepuh wilayah tersebut yang bernama Ki Jamparing itu sembari tersenyum tipis. Mendengar perkataan itu, semua orang warga mengangguk mengerti.


Seorang prajurit Panjalu yang menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng langsung melaporkan kepada sang pangeran muda bahwa para penduduk di sekitar wilayah tempat itu ingin bertemu dengan nya. Mendengar laporan itu, Panji Tejo Laksono langsung berjalan mendekati mereka bersama Song Zhao Meng dan Tumenggung Ludaka.


"Sembah bakti kami Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono.."


Mendengar itu, Panji Tejo Laksono segera mengangkat tangan kanannya sembari berkata, "Sembah bakti kalian aku terima. Duduklah dengan tenang".


Ki Jamparing segera kembali duduk bersila di tanah diikuti oleh seluruh orang yang ada di tempat itu.


"Tadi ada laporan dari prajurit yang mengatakan bahwa kalian ingin menemui ku. Sekarang aku sudah ada di sini. Katakan pada ku, apa yang kalian inginkan?", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah wajah para penduduk tepi Kota Rajapura ini.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Hamba Ki Jamparing, sesepuh warga disini. Mewakili seluruh penduduk, hamba ingin berterimakasih kepada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan seluruh prajurit Panjalu yang sudah meluangkan waktu untuk membantu membangun kembali rumah rumah kami yang rusak setelah perang. Jujur saja dari lubuk hati yang paling dalam, kami semua tidak pernah mau mengikuti keinginan dari Adipati Waramukti untuk berontak namun kami juga tidak berdaya untuk melawan keinginan nya, Gusti Pangeran", Ki Jamparing menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Aku mengerti Ki Jamparing..


Sebagai penduduk, sudah seharusnya kalian taat pada aturan dan Raja. Namun jika pimpinan kalian tidak benar, keluar dari tatanan kehidupan dan pemerintahan pusat, maka kalian berhak untuk menentukan arah hidup kalian masing-masing.


Aku mewakili Ayahanda Prabu Jayengrana dari Kadiri, secara pribadi, meminta maaf kepada kalian semua karena perang yang merusak segalanya. Ini hanya jalan terakhir yang terpaksa kami ambil karena bagaimanapun kewibawaan pemerintah pusat di Kadiri tidak boleh di rongrong oleh siapapun. Ku harap kalian mengerti tentang semua ini", ujar Panji Tejo Laksono dengan penuh kewibawaan.


"Kami mengerti Gusti Pangeran..


Seluruh rakyat Rajapura berterimakasih kepada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang sudah membebaskan kami dari arah salah Adipati Waramukti. Pun lagi kami juga berterimakasih atas bantuan dari Gusti Pangeran yang sudah bersedia untuk membangun kembali gubuk gubuk kami. Semoga Hyang Agung selalu melindungi setiap langkah Gusti Pangeran. Dan kami mendoakan agar kedepannya Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono akan menjadi Raja Panjalu yang adil dan bijaksana seperti Gusti Prabu Jayengrana", selesai Ki Jamparing berbicara demikian, Bongok di belakang langsung berteriak lantang.


"Hidup Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono!"


Teriakan keras Bongok langsung di sambung oleh para penduduk yang hadir hingga suasana menjadi riuh rendah dengan suara para penduduk Kota Rajapura. Panji Tejo Laksono tersenyum simpul mendengar suara para penduduk. Song Zhao Meng dan Tumenggung Ludaka yang ikut di sampingnya juga ikut gembira.


Dan demikianlah, kehadiran Panji Tejo Laksono di Kota Rajapura untuk menaklukkan Adipati Waramukti justru membuatnya menjadi terkenal di kalangan masyarakat. Hampir setiap orang yang ada selalu menjadikan Panji Tejo Laksono sebagai topik pembicaraan.


Di suatu tempat di wilayah timur Kota Kadipaten Rajapura, dua lelaki dengan caping bambu yang menutupi sebagian wajahnya terlihat sedang menikmati minuman nya di sebuah kedai yang ramai pengunjung.


Seorang diantara nya terlihat memakai baju berwarna kuning pucat dengan sebuah pedang besar di punggungnya. Meski wajah nya tidak terlihat jelas, namun kumisnya yang tebal dengan jambang lebat menunjukkan bahwa dia adalah seorang lelaki yang cukup berumur. Dia adalah Ki Ranggu, seorang pendekar golongan putih yang punya nama besar di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah barat. Julukan nya sebagai Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan membuatnya begitu di kenal oleh masyarakat Kadipaten Paguhan.


Seorang lelaki lainnya, bertubuh sedikit lebih kurus namun berotot. Bajunya yang berwarna biru tua tanpa lengan menunjukkan otot yang dimiliki oleh lelaki yang berusia lebih muda dari Ki Ranggu. Sepasang pedang di punggungnya menjadi bukti bahwa dia adalah seorang pendekar juga. Dia adalah Wangsa, murid utama Padepokan Bukit Menjangan di timur wilayah Kadipaten Rajapura. Kebetulan mereka baru saja dari Saunggalah dan berniat pulang ke Padepokan Bukit Menjangan namun terlebih dulu singgah di Kota Rajapura yang mereka dengar sedang terlibat peperangan melawan Panjalu.


"Kau tahu tidak Kang Nomo,


Aku dengar dari saudara nya saudara ku yang menjadi dayang istana Kadipaten Rajapura, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono itu sakti nya luar biasa loh. Adipati Waramukti saja di bikin gosong seperti ayam bakar sama dia", ujar si pedagang bertubuh sedikit gemuk dengan kumisnya yang tipis pada seorang lelaki tua dengan dua gigi nya yang ompong. Kelihatannya mereka berdua adalah kawan sesama pedagang yang sering keluar masuk ke istana Rajapura.


"Putra kawan ku juga bilang, kalau Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono itu mampu menghancurkan Pendopo Agung Kadipaten Rajapura hanya dengan sekali hantaman.


Bukankah itu sama dengan kekuatan yang dimiliki oleh para dewa di Kahyangan Suralaya, Wor?", imbuh si lelaki tua itu yang bernama Nomo seakan mengiyakan omongan si lelaki bertubuh gemuk di depannya. Mereka berbincang sambil mengunyah makanan yang terhidang di depan nya.


Setelah mendengar obrolan antara dua pedagang yang duduk di sebelah mejanya tentang kehebatan ilmu kanuragan Panji Tejo Laksono yang berhasil menghabisi nyawa Adipati Waramukti, Ki Ranggu yang kurang suka mendengar pujian itu langsung berdiri dari tempat duduknya. Dengan tatapan mata penuh kekesalan, Ki Ranggu segera berjalan mendekati mereka sembari berkata,


"Apa dia sehebat itu, Kisanak?"