Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Tamu Tak Diundang


Seorang anggota Sekte Macan Besi yang mendengar ucapan kawannya itu, segera bergegas meninggalkan kedai arak yang menjadi tempat mereka mengintai setiap orang yang masuk ke dalam Kota Chenliu. Letak kedai arak ini memang persis di dekat gerbang kota sehingga memudahkan mereka untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Tetua Sekte Macan Besi, Hauw Tian pada mereka.


Sedikit terburu buru si anggota Sekte Macan Besi ini melangkah hingga menabrak punggung seorang pengemis yang sedang meminta-minta kepada setiap orang.


Brruuugggggh..


"Aduh brengsek, kenapa kau menghalangi jalan ku, pengemis busuk? Sudah bosan hidup ya?", maki si anggota Sekte Macan Besi ini sembari mengelus bokongnya yang sakit karena terantuk batu jalanan.


"Maaf Tuan, aku tidak bersalah. Tuan sendiri yang menabrak ku", ujar si pengemis ini membela diri.


"Diam! Minggir kau sekarang, kalau tidak akan ku hajar kau", ancam si anggota Sekte Macan Besi setelah berdiri dari tempat jatuhnya. Dengan pura pura ketakutan, si pengemis yang bajunya penuh tambalan dan compang camping ini menepi hingga si anggota Sekte Macan Besi ini segera melangkah meninggalkan tempat itu sembari menggerutu.


'Bukankah itu adalah anggota Sekte Macan Besi yang biasa nongkrong di kedai arak? Kelihatannya dia sedang terburu-buru? Mau kemana dia? Ah lebih baik aku ikuti dia, siapa tahu ada yang penting', batin si pengemis.


"Ah Yue,


Kau ikuti kemana rombongan itu pergi kemana. Aku akan mengikuti anggota Sekte Macan Besi ini. Sesudah kau tahu kemana mereka bermalam, sebaiknya cepat kau melapor ke markas cabang", bisik si pengemis pada kawannya yang mendekat begitu melihat dia di tabrak oleh anggota Sekte Macan Besi.


Sang kawan yang di panggil Ah Yue langsung mengangguk mengerti dan segera mengikuti pergerakan rombongan Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng.


Sedangkan si pengemis yang di tabrak tadi segera mengikuti langkah sang anggota Sekte Macan Besi yang menuju ke arah selatan kota.


Setelah berjalan cukup jauh, di selatan Kota Chenliu, si anggota Sekte Macan Besi ini memasuki sebuah rumah besar yang berpagar tembok tinggi. Semua orang di Kota Chenliu tahu bahwa ini adalah kediaman pribadi keluarga Gubernur Zhao Yun selain istana Gubernur yang di tempati nya. Sang anggota Sekte Macan Besi ini terlihat toleh kanan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada yang tahu dia masuk ke sana. Setelah dirasa aman, dia segera mendorong pintu gerbang kediaman pribadi keluarga Gubernur Zhao Yun dan masuk ke dalam.


Si pengemis yang mengikuti nya pun segera keluar dari balik pohon besar yang tumbuh di tepi jalan setelah melihat si anggota Sekte Macan Besi masuk.


"Rupanya kau masuk ke dalam rumah keluarga Gubernur Zhao. Akan ku laporkan ini pada ketua cabang", ujar si pengemis sembari berbalik arah menuju ke arah Utara. Rupanya dia adalah anggota Partai Pengemis cabang Kota Chenliu.


Di sebuah kuil tua yang ada di tepi kota Chenliu sebelah Utara, seorang lelaki paruh baya dengan kumis tipis yang memutih karena mulai di tumbuhi uban sedang rebahan di bawah pohon rindang di halaman kuil tua itu. Bajunya yang banyak tambalan di sana sini, di tambah lagi dengan tongkat bambu hitam yang ada di tangan kanannya seakan menjadi pertanda bahwa dia adalah seorang pengemis. Dia adalah Kong San, ketua cabang Partai Pengemis di Kota Chenliu.


Di samping nya terdapat dua orang muda yang berpakaian layaknya gembel juga. Sepertinya mereka adalah murid dari Kong San yang juga mendapat julukan sebagai Pengemis Tongkat Hitam, sebuah nama besar di dunia persilatan Tanah Tiongkok.


Si pengemis yang mengikuti anggota Sekte Macan Besi itu rupanya telah sampai di kuil tua yang menjadi markas utama Partai Pengemis cabang Kota Chenliu. Segera dia mendekati Kong San yang masih terlihat santai di atas tanah yang beralas tikar compang camping.


"Ketua cabang,


Aku punya sesuatu yang penting untuk aku laporkan", ujar si pengemis itu setelah menghormat pada Kong San. Mendengar ucapan itu, Kong San segera duduk di atas tikar compang camping nya dan menatap tajam ke arah si pengemis anggota nya, " Cepat katakan ada apa, jangan bertele-tele".


"Lapor ketua cabang, aku tadi melihat anggota Sekte Macan Besi usai melihat sebuah rombongan besar, langsung bergegas masuk ke arah Kediaman pribadi keluarga Gubernur Zhao.


Bukankah ini mencurigakan? Karena setahu kita, Sekte Macan Besi sangat anti berurusan dengan pihak pemerintah", ucap si pengemis itu segera.


Hemmmmmmm..


"Kau benar juga. Ini sangat mencurigakan. Ketua Sekte Macan Besi, Pang He sangat membenci Kaisar Huizong karena sudah menyebabkan kematian putra sulung nya. Dia bersumpah untuk tidak akan terlibat urusan apapun dengan pemerintah. Kalau sampai Sekte Macan Besi bersama dengan Gubernur Zhao Yun, ini tentu bukan perkara biasa", ujar Kong San sembari mengusap kumisnya yang memutih.


Tak berapa lama kemudian, Ah Yue yang di tugaskan untuk mengikuti kelompok Panji Tejo Laksono sampai pula di tempat itu dan melaporkan bahwa rombongan besar itu masuk ke dalam Istana Gubernur Zhao.


Mendengar laporan itu, Kong San mengerutkan keningnya. Dia belum memahami benang merah dari peristiwa ini.


"Ini membingungkan. Kau dan Ah Yue, awasi kediaman pribadi keluarga Gubernur Zhao. Jika ada apa pun cepat laporkan..


Sedangkan kau dan kau, awasi seputar Istana Gubernur Zhao. Jangan membuat gerakan apapun yang menarik perhatian. Apa kalian mengerti?", perintah Kong San segera.


"Kami mengerti ketua", ucap keempat orang berpakaian gembel itu yang segera pergi melaksanakan tugas yang diberikan oleh Kong San, sang ketua cabang Partai Pengemis Kota Chenliu.


Sementara itu di kediaman pribadi keluarga gubernur Zhao, Hauw Tian dan putra kedua Gubernur Zhao Yun, Zhao Wei tengah berbincang di ruang pribadi usai mendapat laporan dari sang anggota.


"Tetua Hauw,


Huang Lung sudah sampai di istana Gubernur. Ini adalah kesempatan bagus untuk merebut Stempel Giok Naga. Tapi sayangnya Putri Song Zhao Meng bersama mereka.


Kalau kita berhasil mendapatkan stempel itu, maka dukungan rakyat Kekaisaran Song akan berpindah pada ayah ku jika ayah melakukan pemberontakan. Ketua Sekte Macan Besi pun pasti juga bisa membalaskan dendam nya pada Kaisar Huizong. Ini tidak boleh kita lewatkan", ujar Zhao Wei dengan penuh semangat.


"Aku mengerti pangeran Zhao,


Lantas bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam Istana Gubernur Zhao? Penjagaan keamanan disana sangat ketat, belum lagi ada Jenderal Liu King dan Chen Su Bing yang selalu berjaga di sekitar Putri Meng Er", ujar Hauw Tian sembari mengelus kumisnya yang mirip kumis harimau.


Mendengar perkataan itu, Hauw Tian manggut-manggut mengerti. Sore hari itu juga di susun rencana untuk merebut Stempel Giok Naga yang di yakini telah di bawa oleh Huang Lung.


Gubernur Zhao Yun yang merupakan paman Putri Song Zhao Meng, menyambut kedatangan keponakan jauhnya dengan aneka macam makanan dan minuman yang mewah. Kepandaiannya dalam bersilat lidah dan merayu orang benar benar membuat semua orang dalam rombongan Panji Tejo Laksono di manjakan pada malam hari itu.


Luh Jingga yang mencium sesuatu yang tidak beres, memilih menyentil Panji Tejo Laksono saat hendak memakan hidangan yang disajikan.


"Gusti Pangeran, sepertinya ada sesuatu yang di masukkan ke dalam makanan kita. Sebaiknya jangan di makan", bisik Luh Jingga di telinga Panji Tejo Laksono.


"Aku mengerti Luh", ujar Panji Tejo Laksono sembari meletakkan mangkok makanan yang sudah di pegang nya. Sang pangeran muda segera mengirim pesan suara jarak jauh pada Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi menggunakan tenaga dalam nya. Suara ini hanya bisa di dengar oleh orang yang di tuju. Mendengar pesan suara ini, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi segera memuntahkan makanan yang sudah di dalam mulut ke mangkok makanan dan segera menaruh makanan itu ke atas meja.


Melihat Panji Tejo Laksono meletakkan makanan nya, Zhao Wei yang juga ikut serta dalam acara makan bersama malam itu langsung bicara pada Panji Tejo Laksono dari tempat duduknya yang ada di dekat Putri Song Zhao Meng.


"Saudara ku, kenapa kau tidak makan yang kami hidangkan? Apa kau tidak menghargai makanan yang sudah di masak oleh juru masak istana kami?", terdengar nada suara tidak suka pada omongan Pangeran Zhao Wei.


"Mohon maaf Pangeran, selera makan ku memang berbeda dari kalian karena aku bukan orang suku Han..


Aku terbiasa makan dengan masakan yang di masak oleh pelayan ku ini. Jadi mohon Pangeran Zhao berbesar hati memaafkan aku", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Zhao Wei.


"Huh dasar tidak tahu terimakasih..


Di negeri orang, sebaiknya kau juga menghargai tata cara dan adat istiadat yang berlaku, jangan seenaknya sendiri", gerutu Zhao Wei sembari mendelik tajam ke arah Panji Tejo Laksono. Melihat Zhao Wei mengganggu Panji Tejo Laksono, Putri Song Zhao Meng langsung memotong omongan Zhao Wei.


"Kakak Zhao,


Pendekar Thee memang bukan orang Negeri Tiongkok, jadi tentu saja selera makan nya pun berbeda. Sudahlah jangan merusak acara makan kita untuk hal sepele seperti ini. Ayo kita lanjutkan makan malam nya", Putri Song Zhao Meng tersenyum tipis.


"Karena adik Meng Er sudah bicara, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi.


Semuanya, ayo kita habiskan semua hidangan yang disajikan!", ujar Zhao Wei sembari mengangkat cawan arak nya. Semua orang segera mengikuti langkah sang putra Gubernur Chenliu ini. Malam itu semakin meriah.


Setelah perjamuan makan, semua orang menuju ke arah tempat yang di sediakan oleh Istana Gubernur Chenliu. Sebagai Putri Kaisar Huizong, Putri Meng Er tentu saja mendapatkan tempat istimewa dengan penjagaan keamanan ketat dari Jenderal Liu King dan Chen Su Bing alias Paman Chen. Cai Yuan yang bertugas sebagai kepala pelayan pun di tempatkan tak jauh dari tempat Putri Song Zhao Meng beristirahat.


Sedangkan Huang Lung, Panji Tejo Laksono dan kawan kawan mendapatkan tempat bermalam yang terpisah dari mereka. Kelihatannya ini sudah umum saja karena Panji Tejo Laksono, Huang Lung dan kawan kawan hanya pengawal. Namun sebenarnya ini sudah di rencanakan sebelumnya serapi mungkin.


Huang Lung langsung bergegas masuk ke dalam kamar tidur karena merasakan rasa kantuk yang menyerangnya. Sedangkan Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga saja yang masih terjaga, sementara Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Demung Gumbreg dan Rakryan Purusoma yang merasa sungkan karena Panji Tejo Laksono masih terjaga, memaksakan diri untuk menemani junjungan mereka di teras tempat istirahat.


Malam semakin larut. Beberapa saat lagi tengah malam akan segera tiba. Suara dua peronda yang membunyikan gong kecil sembari berteriak keras tentang bahaya yang mungkin terjadi, terdengar dari luar tembok istana. Suara burung malam dan belalang terdengar bersahutan seolah malam itu begitu tenang dan aman di Kota Chenliu.


Dari arah selatan Kota Chenliu, puluhan orang berpakaian serba hitam terlihat bergerak cepat menuju ke arah istana Gubernur Zhao. Dua orang yang sepertinya merupakan pimpinan tertinggi, melompat-lompat diantara atap bangunan rumah penduduk Kota Chenliu. Sepertinya kepandaian ilmu beladiri mereka merupakan yang tertinggi di antara para rombongan orang berpakaian hitam-hitam dengan belang kuning yang merupakan pakaian khas Sekte Macan Besi. Mereka berdua adalah Hauw Tian dan salah seorang dari dua penegak hukum Sekte Macan Besi yang berjuluk Macan Hitam.


Di depan pintu gerbang samping istana Gubernur, mereka berkumpul kembali dengan rombongan yang berlarian.


"Tetua Hauw,


Sepertinya Pangeran Zhao sudah mengatur para penjaga gerbang samping istana Gubernur. Lihatlah, gerbang samping istana Gubernur sudah kosong tanpa penjagaan", ujar si Macan Hitam sembari menunjuk ke arah pintu gerbang istana yang terlihat tanpa penjagaan.


Hauw Tian mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dan apa yang di ucapkan oleh Si Macan Hitam benar adanya.


"Kita tidak boleh membuang waktu. Ayo kita masuk", perintah Hauw Tian sembari melesat cepat kearah pintu gerbang samping istana Gubernur yang tidak di jaga. Si Macan Hitam dan para anggota Sekte Macan Besi dengan cepat mengikuti langkah sang pimpinan.


Gumbreg menguap lebar beberapa kali. Pengaruh obat tidur yang di masukkan ke dalam makanan yang dia makan mulai berpengaruh hebat padanya. Meski dia berusaha menguatkan diri, nyatanya dia sudah tertidur dengan tubuh masih terduduk. Panji Tejo Laksono hanya tersenyum simpul sembari geleng-geleng kepala melihat ulah sang perwira bertubuh tambun itu.


"Paman Ludaka, Paman Rajegwesi dan Paman Purusoma...


Ada beberapa tamu tak diundang yang masuk ke tempat ini. Bersiaplah untuk membela diri", ujar Panji Tejo Laksono sambil berdiri dari tempat duduknya begitu Hauw Tian dan para pengikutnya mulai memasuki tempat bermalam mereka. Rakryan Purusoma yang sebenarnya juga terpengaruh oleh obat tidur yang dia makan bersama makanan, sedikit oleng saat berdiri dan berjalan sempoyongan.


Gumbreg yang tidur sambil duduk pun ketiban sial. Langkah sempoyongan Rakryan Purusoma tanpa sengaja menendang punggung Demung Gumbreg.


Bhhuukh!


Kerasnya tendangan kaki Rakryan Purusoma seketika membuat Demung Gumbreg terbangun dari tidurnya dan meringis kesakitan. Sambil menahan rasa sakit, Gumbreg menatap ke arah Rakryan Purusoma, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi yang mengikuti langkah Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga yang melesat ke arah Hauw Tian dan para pengikutnya.


"Aduuuuuhhhh...


Hai siapa yang menendang punggung ku?"