Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )


Mpu Sena segera memasukkan keris di pinggangnya. Kedua tangannya menangkup di depan dada. Mulutnya yang mulai peyot karena gigi nya sudah ompong beberapa biji nampak komat-kamit merapal mantra. Dari pertemuan kedua telapak tangan, muncul asap putih tipis yang diikuti oleh cahaya hijau redup berhawa dingin.


Selepas ilmu kanuragan nya sempurna di rapal, Mpu Sena langsung menghantamkan tapak tangan ke arah Panji Manggala Seta.


"Modar kau pangeran tolol...


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!!"


Cahaya hijau redup berhawa dingin itu segera melesat cepat kearah Panji Manggala Seta. Putra keempat Prabu Jayengrana itu langsung melenting tinggi ke udara menghindari hantaman Ajian Tapak Embun dari Mpu Sena.


Blllaaaaaarrr!!!


Dua orang prajurit Panjalu dan prajurit pemberontak yang sedang bertarung di belakang Panji Manggala Seta langsung tewas seketika setelah terkena ledakan keras Ajian Tapak Embun. Melihat lawannya lolos dari serangan maut nya, Mpu Sena segera kembali melepaskan hantaman ajian pamungkas milik nya.


Shhiuuuuttthh!!!


Blllaaammmmmmmm!!


Panji Manggala Seta kembali melompat tinggi ke udara saat serangan itu datang. Kali ini dia mendarat di tebing batu sungai. Melihat itu, Mpu Sena kembali melepaskan ajian andalan nya ke arah tebing batu sungai.


Blllaaaaaarrr!!


Ledakan keras terdengar, namun Panji Manggala Seta justru melayang ke arah Mpu Sena dengan menggunakan batu tebing Sungai Kapulungan yang ambrol ke arah lawannya.


Mpu Sena langsung mundur beberapa langkah ke belakang dan mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk melancarkan serangannya.


"Mampus kau, bocah keparat!


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!!"


Cahaya hijau redup berhawa dingin kembali menerjang ke arah Panji Manggala Seta. Sang pangeran muda langsung melompat menghindari cahaya hijau redup itu dan bersalto dua kali di udara sebelum mendarat 2 tombak di belakang Mpu Sena.


Blllaaammmmmmmm!!


Batu besar yang digunakan Panji Manggala Seta untuk menyerang maju ke arah Mpu Sena, seketika meledak dan hancur lebur berkeping-keping setelah terkena hantaman Ajian Tapak Embun yang di lepaskan oleh sang pimpinan pemberontak.


Panji Manggala Seta seketika memutar tubuhnya dan melesat cepat kearah Mpu Sena menggunakan Ajian Langkah Kelabang Sewu yang merupakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Gerakannya yang tidak beraturan dan cepat membuat Mpu Sena tak mampu menebak arah pergerakan sang bupati baru Gelang-gelang.


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Tiga jarum sebesar lidi berwarna merah kehitaman karena mengandung Racun Kelabang Neraka di lemparkan oleh Panji Manggala Seta ke arah pria tua itu. Bersamaan dengan itu, ia memutar gagang pedang pendek di tangan kanannya yang merupakan Pedang Kelabang Sewu warisan dari Kelabang Koro kakeknya.


Mpu Sena segera menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah tiga jarum beracun itu untuk menghalau nya.


Whhhuuuggghhhh!!


Blllaaaaaarrr trrakkk!!!


Tiga jarum sebesar lidi itu langsung mencelat berbelok arah saat terbentur sinar hijau redup berhawa dingin yang menghantamnya. Namun itu hanya serangan pengalihan saja.


Begitu serangan jarum beracun bergerak, Panji Manggala Seta langsung melesat ke arah samping kanan Mpu Sena lalu memutar cepat kearah belakangnya. Melihat Mpu Sena berhasil menghalau jarum-jarum beracun miliknya, Panji Manggala Seta bergerak cepat ke arah rusuk kanan Mpu Sena sambil mengayunkan pedangnya.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!!


Kecepatan tinggi gerak sang pangeran membuat Mpu Sena berupaya keras untuk mengambil jarak dengan melompat mundur. Namun dia tetap saja terlambat beberapa kejap mata hingga tebasan Pedang Kelabang Sewu masih mampu menggores kulit rusuknya.


Aaauuuuggggghhhhh!!


Mpu Sena menjerit kecil. Luka yang biasanya masih sanggup dia tahan, terasa sangat panas seperti terbakar api. Matanya seketika membeliak lebar tatkala ia sadar bahwa senjata milik Panji Manggala Seta ini beracun. Rasa panas menyengat dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh nya.


"Bocah keparat!!!


Kau menggunakan senjata beracun ha? Ku-kurang ajaaarrrr!!!!!", teriak Mpu Sena sembari berusaha untuk menghentikan menjalarnya Racun Kelabang Neraka dengan menotok jalan darahnya. Namun usahanya sia-sia saja karena racunnya telah tersebar ke seluruh tubuh.


"Aaaarrrgggggghhhhh...


Panas panas sekali aaaarrrgggggghhhhh..!!!!


Tolong aku panas sekali aaaarrrgggggghhhhh!!!!", Mpu Sena berteriak minta tolong sembari berguling-guling di tanah. Sementara itu Panji Manggala Seta hanya menatapnya tanpa mengendurkan kewaspadaan.


Tak tahan lagi dengan rasa sakit yang dirasakan, Mpu Sena segera mencabut keris di pinggangnya dan dengan cepat menusukkan nya ke perutnya sendiri.


Jllleeeeeppppphhh!!!


Oouuugghhhhhh!!!


Mpu Sena mengejang sesaat sebelum akhirnya tewas dengan kerisnya sendiri menancap di perutnya. Pria tua ini bunuh diri saking tak kuat menahan rasa sakit yang teramat sangat karena terkena Racun Kelabang Neraka.


Melihat lawannya sudah tak bernyawa, Panji Manggala Seta segera bergegas menuju ke arah kerumunan para prajurit pemberontak yang sedang bertarung melawan para prajurit Gelang-gelang dan Panjalu.


Ratusan mayat bergelimpangan dimana-mana. Ribuan nyawa melayang dalam pertempuran di barat Kotaraja Daha. Bukan hanya dari para pemberontak saja, dari kalangan istana Gelang-gelang pun juga telah jatuh korban. Patih Dyah Sumantri tewas di tangan Mpu Kepung, sedangkan beberapa orang pimpinan kelompok pemberontak ini sudah terbunuh oleh para punggawa Istana Kotaraja Daha.


Peperangan sengit antara mereka terus berkobar di tepi Sungai Kapulungan.


****


Di medan palagan barat laut, Pasukan Garuda Panjalu yang dipimpin oleh Tumenggung Sembada dan Tumenggung Naratama menghadapi tantangan dari para pendekar dunia persilatan yang ikut campur dalam upaya merongrong kewibawaan Pemerintah Kotaraja Daha.


Ki Sentanu yang menjadi pimpinan kelompok ini, sungguh tidak menduga bahwa prajurit Panjalu yang biasanya hanya memiliki kemampuan beladiri rata-rata bisa menahan para pendekar yang memiliki ilmu beladiri cukup tinggi.


Melihat anak muridnya banyak yang tewas di tangan Tumenggung Naratama, Ki Sentanu menggeram keras sebelum melesat cepat kearah perwira muda ini sambil melemparkan senjata nya yang berupa bola bergerigi tajam yang terikat dengan rantai.


Whhhuuuggghhhh!!!


Bola bergerigi tajam langsung melayang cepat kearah Tumenggung Naratama yang masih duduk di atas kudanya sambil membabatkan golok nya ke leher salah seorang pendekar yang menjadi anak buah Ki Sentanu. Ekor matanya yang melihat bahaya mendekat, membuat Tumenggung Naratama menggunakan ilmu meringankan tubuh nya untuk melompat tinggi ke udara menghindari serangan maut lawan.


Bhhuuuuummmmmmhh..


Ringkik kuda tunggangan Tumenggung Naratama keras, saat bola bergerigi tajam yang di lemparkan oleh Ki Sentanu telah menghajar tubuhnya. Kuda berkulit cokelat ini langsung roboh dengan separuh tubuhnya hancur terkena bola bergerigi tajam.


Tumenggung Naratama yang baru saja menjejak tanah, menatap ke arah tunggangan nya itu dengan tatapan mata penuh keprihatinan. Namun saat ia mengalihkan pandangannya pada Ki Sentanu, tatapan matanya seolah ingin menghancurkan tubuh lelaki tua berjanggut panjang ini.


Ki Sentanu segera menyentak ujung rantai bola bergerigi tajam yang ada di tangan nya. Akibatnya bola bergerigi tajam yang menancap di badan kuda tunggangan Tumenggung Naratama meluncur ke arah nya. Dengan cepat, Ki Sentanu menangkap bola bergerigi tajam itu dengan tangan kanan nya seperti menangkap buah yang di lemparkan kepada nya.


"Sekarang kuda mu yang mampus oleh bola bergerigi tajam ku, hai perwira Panjalu..


Sebentar lagi kepala mu yang akan menjadi korban kehebatan senjata ku ini", ucap Ki Sentanu penuh percaya diri.


"Jangan sombong dulu kau kakek tua..


Mari kita buktikan sendiri siapa yang akan mati. Bola bergerigi tajam mu yang hebat atau Golok Angin ku yang memenggal kepala mu..", geram Tumenggung Naratama sembari memegang erat gagang golok nya.


"Huhhhhh...


Kau masih belum cukup umur untuk melawan Pendekar Gunung Kendeng, perwira tolol!!", Ki Sentanu menjejak tanah dengan keras sebelum melesat cepat kearah Tumenggung Naratama sambil mengayunkan bola bergerigi tajam nya ke arah sang perwira muda.


Whhhuuuggghhhh..


Bhhhaammmmmmmm!!


Tumenggung Naratama berkelit gesit ke arah kiri. Sembari menggembor keras, di segera melompat ke atas kepala Ki Sentanu sambil membabatkan Golok Angin nya ke arah kepala lawan. Ki Sentanu langsung tarik rantai besi pengikat bola bergerigi tajam nya dengan kedua tangan untuk menangkis babatan Golok Angin.


Thrrraaannnnggggg!!!


Percikan bunga api kecil tercipta dari benturan keras senjata mereka. Tumenggung Naratama dengan cepat bersalto sekali di udara dan mendarat di samping kanan Ki Sentanu. Dia langsung memutar tubuhnya sambil membabatkan Golok Angin nya ke arah pinggang lelaki tua berjanggut panjang ini.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Ki Sentanu cepat melompat mundur dan tangan kanannya menyentak rantai. Bola bergerigi tajam itu langsung meluncur ke arah punggung Tumenggung Naratama. Perwira prajurit Panjalu yang pernah bergelar sebagai Pendekar Golok Angin ini segera jungkir balik ke depan hingga hantaman bola bergerigi tajam itu hanya menyambar angin sejengkal di atas kepala nya.


Segera dia merangsek maju sembari mengayunkan Golok Angin ke arah kaki Ki Sentanu.


"Putus kaki mu tua bangka!!"


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Ki Sentanu segera kerahkan tenaga dalam nya pada rantai besi pengikat bola bergerigi tajam hingga rantai yang semula lemas itu menjadi kaku seperti tongkat besi. Menggunakan itu, kakek tua itu segera menekan gagang rantai bola bergerigi tajam hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara. Saat di udara, dia dengan cepat melepaskan hantaman tangan kirinya yang di lambari Ajian Penghancur Bumi miliknya.


Whhhuuutthh!!


Tak ada ruang untuk berkelit, Tumenggung Naratama menggunakan bilah Golok Angin untuk menahan serangan cepat Ki Sentanu.


Blllaaammmmmmmm!!!


Tumenggung Naratama tersurut mundur hampir 3 tombak ke belakang. Seteguk darah segar ia muntahkan namun perwira muda ini segera berdiri. Sedangkan Ki Sentanu yang baru saja mendarat di tanah, menatap wajah Tumenggung Naratama dengan penuh penghinaan.


Mulut Tumenggung Naratama langsung komat kamit membaca mantra. Perlahan cahaya putih kehijauan menjalar cepat pada Golok Angin nya di sertai dengan angin kencang yang menderu-deru. Ki Sentanu terkejut juga melihat itu semua.


Dengan kedua tangan nya, Tumenggung Naratama membabatkan Golok Angin nya ke arah Ki Sentanu. Sebuah cahaya putih kehijauan yang berselimut angin kencang berhawa dingin menerjang maju.


Shhrrraaakkkkkhh!!


Ki Sentanu tak mau kalah dengan melemparkan bola bergerigi tajam nya, memapak tebasan cahaya tipis putih kehijauan itu segera.


Blllaaammmmmmmm!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Ki Sentanu menjerit keras saat tebasan hawa dingin Golok Angin membuat bola bergerigi tajam nya meledak dan mendorong tubuh tua lelaki berjanggut panjang ini hingga mencelat sejauh 4 tombak ke belakang. Dia langsung muntah darah segar.


Mata Ki Sentanu tajam menatap ke arah Tumenggung Naratama. Dia begitu marah melihat senjata andalannya hancur berkeping-keping, menyisakan rantai besi sepanjang dua depa di tangan kanannya. Sembari mengusap darah segar yang meleleh keluar dari mulut nya, Ki Sentanu segera berdiri. Dia melemparkan sisa gagang senjatanya ke arah samping kanan.


"Akan ku buat kamu menyesali apa yang sudah kau lakukan pada senjata ku bocah keparat!!


Ajian Penghancur Bumi...


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!!"


Dua larik cahaya ungu kehitaman berhawa panas menerabas cepat kearah Tumenggung Naratama saat dua tapak tangan Ki Sentanu menghantam ke depan. Tumenggung Naratama langsung melesat cepat kearah samping kanan lawannya untuk menghindari serangannya sekaligus sedang merencanakan sesuatu. Golok Angin nya langsung di babatkan ke arah Ki Sentanu.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Hawa tipis putih kehijauan menerjang cepat kearah Ki Sentanu. Pimpinan kelompok pemberontak dari para pendekar dunia persilatan ini langsung melompat ke udara menghindari hawa golok yang sanggup memotong apa saja.


Sementara Ki Sentanu menghindar, Tumenggung Naratama menyambar sisa rantai besi bekas senjata Ki Sentanu dan mengayunkan nya ke arah kaki si lelaki tua yang masih di udara.


Whhhuuuggghhhh!!


Rantai besi itu langsung mengikat pergelangan kaki kanan Ki Sentanu. Tumenggung Naratama dengan cepat menarik ujung rantai besi hingga tubuh Ki Sentanu tertarik menuju ke arah Tumenggung Naratama. Anak buah pilihan Panji Tejo Laksono inipun langsung menghujamkan Golok Angin ke pinggang pria tua itu dengan cepat.


Jllleeeeeppppphhh!!!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Ki Sentanu menjerit keras. Ujung tajam Golok Angin Tumenggung Naratama menghujam keras menghancurkan isi perutnya. Saat Tumenggung Naratama menarik senjata nya itu, usus Ki Sentanu ikut tertarik keluar. Pria tua itu langsung roboh ke tanah.


"K-kau bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn!!!"


Hanya itu saja yang terucap dari mulut Ki Sentanu sesaat sebelum tewas dengan usus terburai keluar.


Tumenggung Naratama menghela nafas panjang setelah melihat lawannya sudah tak bernyawa. Sebelum dia kembali bergerak menuju ke arah pertempuran, dia sempat berkata,


"Itu hukuman untuk pemberontak!!"