
Demung Gumbreg yang tidak siap dengan serangan cepat itu telak terkena hantaman dua sinar tajam berhawa panas. Berbeda dengan Tumenggung Ludaka yang bisa menghindar tepat waktu, sang perwira Panjalu bertubuh tambun itu hanya bisa bertahan saja.
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!!
Demung Gumbreg terlempar hampir 2 tombak jauhnya. Untung saja dia selalu membawa Ajimat Keong Buntet itu kemanapun ia pergi hingga hantaman dua hawa senjata itu hanya mampu melukai organ bagian dalamnya karena tenaga dalam nya yang tidak terlalu tinggi. Andai saja dia tidak punya ajimat itu, pasti tubuh Demung Gumbreg sudah terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
Hoooeeeeggggh!!
Demung Gumbreg muntah darah segar namun sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera bangkit sambil menatap tajam ke arah dua bayangan yang berkelebat cepat kearah mereka. Sedangkan Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Dyah Kirana mendarat tak jauh dari tempat Demung Gumbreg berdiri.
"Setan alas kowe! Tua bangka bajingan! Bandot tua kurang ajar!
Beraninya kau membokong ku saat aku tidak siap. Pendekar macam apa kau ini ha? Sudah bau tanah masih juga suka menabur kejahatan", sumpah serapah dan makian beruntun terdengar di mulut Demung Gumbreg. Sepertinya dia benar-benar kesal.
Sementara yang di maki-maki justru melotot lebar ke arah sang perwira.
"Hai gajah bengkak!!
Jaga mulutmu ya. Siapa yang sudi berurusan dengan perwira tolol seperti mu ha? Kau hanya beruntung bisa selamat dari tebasan Kapak Geni ku. Kalau aku menggunakan tenaga dalam penuh ku, sudah modar kau terpotong oleh hawa kapak ku", balas si kakek tua yang berjuluk Iblis Kapak Geni itu.
"Kau..."
"Tahan amarah mu, Paman Gumbreg. Biar aku yang bicara", potong Panji Tejo Laksono yang membuat Demung Gumbreg terpaksa harus berhenti bicara. Sambil mendengus keras, Demung Gumbreg segera menghormat pada Panji Tejo Laksono lalu mundur selangkah, memberi kesempatan kepada Panji Tejo Laksono untuk bicara.
"Siapa kalian? Ada masalah apa hingga mencari gara-gara dengan kami?", lanjut Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah dua orang kakek tua yang memanggul senjata besar seukuran tubuh mereka itu.
"Ehehehehehehe...
Kau yang bernama Panji Tejo Laksono, bukan? Pimpinan kami meminta kami untuk memenggal kepala mu. Dan alasan itu sudah cukup untuk kami beradu ilmu kesaktian dengan mu", ujar Mpu Saranjana sang Iblis Golok Air sambil memindahkan golok besar di pundak kanan ke kiri.
Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Luh Jingga dan Dyah Kirana.
"Luh Jingga, Kirana..
Mundurlah! Aku yang menjadi incaran mereka jadi aku akan menghadapinya sendiri".
"Tapi Kangmas Pangeran, mereka...", belum sempat Luh Jingga selesai bicara, Panji Tejo Laksono langsung mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat agar dia tidak di bantah.
Luh Jingga dan Dyah Kirana segera mundur ke belakang tepatnya ke samping Demung Gumbreg yang meremas dadanya menahan rasa sesak akibat luka dalam yang dia derita. Tumenggung Ludaka pun bergerak mendekati mereka dengan satu tangan merogoh balik bajunya. Suasana di tempat itu langsung menjadi tegang.
"Aku sudah siap. Silahkan mulai hai pak tua", Panji Tejo Laksono langsung memajukan tangan kanannya ke arah Sepasang Iblis Pemotong Kepala sambil menggerak-gerakkan jari jemari nya sebagai isyarat kepada dua orang kakek tua itu untuk maju.
"Bocah sombong!!
Kakang Mpu Wikrama, biar aku saja yang memenggal kepala bocah bau kencur ini!".
Setelah berteriak keras begitu, Mpu Saranjana langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil membacokkan senjata besar seukuran tubuh manusia dewasa ini ke arah kepala lawan.
Whhhuuuggghhhh!!
Menggunakan Ajian Sepi Angin, Panji Tejo Laksono bergeser sedikit ke samping menghindari bacokan Golok Iblis Air milik Mpu Saranjana.
Bhhuuuuummmmmmhh..!!
Bacokan Golok Iblis Air hanya melesak ke dalam tanah. Panji Tejo Laksono dengan cepat menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah di lambari Ajian Tapak Dewa Api ke arah kepala sang lawan. Mpu Saranjana dengan cepat menarik Golok Iblis Air nya untuk menangkis hantaman Ajian Tapak Dewa Api milik Panji Tejo Laksono.
Blllaaaaaarrr !!!
Ledakan keras terdengar saat Ajian Tapak Dewa Api milik Panji Tejo Laksono beradu dengan bilah lebar Golok Iblis Air. Mpu Saranjana tersurut mundur beberapa tombak ke belakang. Perlahan kakek tua itu menurunkan golok besar miliknya dan melihat bekas tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono di bilah lebar senjata andalannya itu.
'Brengsek! Pantas saja pimpinan mengutus kami untuk menghadapi bocah ini. Dia rupanya memiliki ilmu kanuragan yang tinggi', batin Mpu Saranjana.
Kakek tua renta itu segera melebarkan kedua kakinya agar kuda-kuda ilmu beladiri yang hendak dikeluarkan menjadi kuat. Sembari merapal mantra, kakek tua itu segera menyalurkan tenaga dalam ilmu kesaktiannya ke arah golok besar di tangannya.
"Tebasan Iblis Air Kematian..
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!"
Mpu Saranjana segera mengayunkan golok besar ke arah Panji Tejo Laksono. Dua cahaya biru redup berhawa dingin bersilangan dengan cepat menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono.
Whhuuuuuuuggggh whuuthhh!!
Panji Tejo Laksono dengan cepat melesat ke arah samping kanan hingga tebasan cahaya biru redup berhawa dingin itu langsung menghantam bangunan kayu yang hendak di gunakan Demung Gumbreg untuk membangun puri.
Blllaaaaaarrr krraatttttaaaaaaakkkk brruuaaaakkkkkkkh!!
"Bajingan tua bangka! Kau merusak calon puri ku! Akan ku pecahkan kepala mu", umpat Demung Gumbreg sambil meraih gagang pentung sakti nya.
Tumenggung Ludaka dengan cepat mencekal pergelangan tangan nya yang sebesar alu.
"Kau jangan bodoh! Kakek tua renta itu bukan pendekar sembarangan! Lebih baik tahan emosi mu", ucap Tumenggung Ludaka sambil mendelik kereng pada kawan karibnya itu. Demung Gumbreg langsung ciut nyalinya melihat kemarahan sahabatnya ini.
Sementara itu Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah samping Mpu Saranjana dengan gerakan yang sukar di ikuti oleh mata biasa. Dengan cepat ia menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah berwarna merah menyala berhawa panas menyengat.
Kecepatan tinggi ini rupanya di sadari oleh Mpu Saranjana. Karena tak sempat lagi menggunakan Golok Iblis Air nya untuk bertahan, kakek tua itu segera menghantamkan tapak kiri nya yang di lambari cahaya biru redup berhawa dingin seperti air yang merupakan perwujudan Ajian Iblis Air, memapak serangan cepat Panji Tejo Laksono.
Blllaaammmmmmmm!!!
Panji Tejo Laksono tersurut beberapa tombak ke belakang sedangkan Mpu Saranjana terpental jauh ke belakang. Mpu Wikrama dengan cepat melesat menghadang laju pergerakan tubuh Mpu Saranjana dengan tangan kiri nya.
Hoooeeeeggggh!!
Whhuuuuuuuggggh!!
Kapak besar berwarna merah yang menyebarkan hawa panas ini dengan cepat terayun ke arah leher Panji Tejo Laksono. Dengan cepat, pangeran muda dari Kadiri itu segera menekuk lutut nya hingga tebasan kapak besar itu hanya membabat udara kosong sejengkal di atas kepala sang pangeran.
Sambil menghindari tebasan Kapak Geni milik Mpu Wikrama, Panji Tejo Laksono merubah gerakan mundur nya dengan memanjangkan kaki kanan nya ke belakang untuk mencari tumpuan. Begitu berhasil, sang Adipati baru Seloageng ini segera melesat ke arah Mpu Wikrama yang masih ada dalam jangkauan serangannya.
Tapak tangan kanan nya yang berwarna merah kekuningan dari Ajian Tapak Dewa Api langsung terarah ke dada Mpu Wikrama. Kakek tua segera tarik ujung gagang Kapak Geni nya untuk menahan hantaman sang pangeran.
Blllaaaaaarrr!!!
Kerasnya hantaman tangan kanan Panji Tejo Laksono yang di lambari Ajian Tapak Dewa Api memaksa Mpu Wikrama terdorong mundur beberapa tombak. Tubuh kakek tua itu baru berhenti di samping Mpu Saranjana yang kini sudah berdiri usai menata kembali jalan nafas nya.
"Kakang Mpu Wikrama..
Bocah keparat itu tidak boleh di anggap enteng. Kita harus bekerjasama jika ingin mengalahkan nya", ujar Mpu Saranjana sambil mengusap sisa darah di sudut bibirnya.
"Benar Adhi Saranjana..
Meskipun ini sedikit memalukan, tapi kita akan lebih malu lagi jika sampai kalah melawan bocah ingusan itu!", jawab Mpu Wikrama segera.
"Gunakan ilmu gabungan Iblis Air dan Api, Kakang. Aku yakin bocah itu tidak akan sanggup untuk menghadapi nya", mendengar ucapan adik seperguruannya itu, Mpu Wikrama mengangguk mengerti.
Setelah itu Sepasang Iblis Pemotong Kepala itu segera mengerahkan seluruh kemampuan mereka masing-masing. Mpu Wikrama merapal mantra Ajian Iblis Api, sedangkan Mpu Saranjana mengucap mantra Ajian Iblis Air. Keduanya segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dengan cara yang berbeda. Mpu Wikrama melenting tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah Panji Tejo Laksono sementara Mpu Saranjana berlari cepat kearah sang pangeran.
Serangan gabungan Sepasang Iblis Pemotong Kepala di awali dengan tebasan golok besar milik Mpu Saranjana. Panji Tejo Laksono langsung bergerak cepat ke arah kiri menghindari sabetan senjata lawannya. Namun dari atas Mpu Wikrama sudah bersiap dengan senjata andalannya dan langsung mengayunkan kapak besar itu ke arah kepala Panji Tejo Laksono.
Whhhuuuggghhhh!!
Panji Tejo Laksono terpaksa harus berguling ke tanah untuk menghindari tebasan Kapak Geni di tangan Mpu Wikrama. Namun saat dia lolos dari ayunan kapak besar itu, Mpu Saranjana sudah melesat cepat kearah nya sambil menyabetkan Golok Iblis Air milik nya.
Shhrreeettthhh!!!
Gerakan ini tentu saja cukup mengagetkan Panji Tejo Laksono namun saat Golok Iblis Air hampir menyentuh kulit sang pangeran, kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Sekejap mata kemudian dia sudah menghilang dari pandangan mata Sepasang Iblis Pemotong Kepala.
Rupanya sambil menghindari serangan beruntun dari dua orang kakek tua itu, Panji Tejo Laksono merapal mantra Ajian Halimun nya.
Mpu Saranjana celingukan mencari keberadaan sosok Panji Tejo Laksono. Pun juga Mpu Wikrama yang baru saja mendarat di samping adik seperguruan nya itu.
"Bocah keparat !
Jangan main petak umpet. Kalau berani ayo kita mengadu ilmu kesaktian", teriak Mpu Saranjana. Kesal dia tak segera melihat keberadaan sosok Panji Tejo Laksono.
"Kalian berdua menggunakan senjata, aku tangan kosong. Untuk menghadapi kalian, aku juga akan mengambil senjata ku", suara berat nan berwibawa Panji Tejo Laksono terdengar.
Sebentar kemudian, dari arah depan Mpu Saranjana, Panji Tejo Laksono muncul sambil memegang sebuah pedang bersarung merah. Perlahan Panji Tejo Laksono mencabut pedang nya yang memancarkan hawa panas menyengat dan cahaya merah menyala. Seketika udara di sekitar tempat itu langsung terasa begitu pengap.
Para pekerja yang rata rata hanya orang biasa langsung berlari menjauhi tempat itu karena tak kuat menahan hawa panas yang seakan ingin meleburkan apa saja yang ada di sekitarnya. Sedangkan Luh Jingga, Dyah Kirana, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg harus mati-matian untuk tetap bertahan meski pun itu menguras tenaga dalam mereka.
Sepasang Iblis Pemotong Kepala terkejut bukan main melihat itu semua.
"Ka-Kakang Mpu Wikrama..
Bu-bukankah i-itu adalah Pedang Naga Api? Ba-bagaimana mungkin pedang itu ada di tangan bocah keparat ini?", Mpu Saranjana tergagap berbicara. Nyalinya yang semula berkobar langsung ciut melihat kemunculan Pedang Naga Api di tangan Panji Tejo Laksono.
"Seingat ku, hanya Prabu Jayengrana saja yang sanggup mencabut pedang itu dari sarungnya. Tapi kenapa bocah itu bisa melakukannya?
Ini gawat, Adhi Saranjana. Kita harus segera kabur dari tempat ini. Bocah ini bukan pendekar muda sembarangan!", ucap Mpu Wikrama segera.
"Aku setuju dengan pendapat Kakang..
Sebaiknya kita berpencar untuk memecah perhatian nya", Mpu Wikrama mengangguk mengerti dengan ucapan adik seperguruannya itu.
Keduanya segera melesat cepat kearah yang berlawanan. Panji Tejo Laksono yang melihat gelagat aneh dari dua orang kakek tua itu segera melesat cepat kearah Mpu Wikrama yang melesat ke arah Utara.
"Kau mau kemana kakek tua? Saatnya kau mati di sini!", ujar Panji Tejo Laksono sambil mengayunkan Pedang Naga Api ke arah Mpu Wikrama.
Shhheeetttthhh!!
Secepat mungkin, Mpu Wikrama berusaha untuk menahan tebasan Pedang Naga Api dengan Kapak Geni milik nya. Namun itu adalah kesalahan terbesar yang pernah di lakukan oleh orang tua itu.
Pedang Naga Api seakan tidak terpengaruh dengan hadangan Kapak Geni milik Mpu Wikrama. Dengan mudahnya dia menghancurkan Kapak Geni sekaligus membelah dada kiri sampai ke pinggang kanan Mpu Wikrama.
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Darah segar muncrat keluar dari luka tebasan Pedang Naga Api di tubuh Mpu Wikrama. Dia tewas dengan tubuh bersimbah darah dan nyaris terpotong menjadi dua bagian.
Sementara itu Mpu Saranjana yang bergerak ke arah yang berbeda, di kejutkan oleh beberapa senjata rahasia yang mengarah pada nya. Dengan cepat ia menangkis serangan cepat itu dengan golok besar di tangan kanannya.
Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!
Rupanya Tumenggung Ludaka dan Dyah Kirana yang melihat pergerakan lawan Panji Tejo Laksono yang melakukannya. Keduanya segera melemparkan senjata rahasia masing-masing untuk menghalangi jalan Mpu Saranjana. Serangan itu berhasil membuat pergerakan Mpu Saranjana terhenti.
Wajah Mpu Saranjana langsung pucat pasi begitu melihat Panji Tejo Laksono sudah muncul di hadapan nya setelah ia menangkis serangan senjata rahasia dari Tumenggung Ludaka dan Dyah Kirana. Ucapan Panji Tejo Laksono seketika membuat Mpu Saranjana, anggota yang tersisa dari Sepasang Iblis Pemotong Kepala bergidik ngeri.
"Kau tidak perlu kabur lagi..."