Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Kejutan Yang Tidak Terduga


Bekel Prajurit Panjalu yang bernama Rangin itu segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas berdiri sembari melihat rombongan Panji Tejo Laksono yang mendekati sisi dermaga pelabuhan sungai Qiantang Kota Lin'an. Di bawah penerangan cahaya bulan bersinar terang di langit malam, juga dengan bantuan lampion yang terpasang di sepanjang tepi dermaga, dia bisa melihat jelas siapa yang ada di barisan terdepan rombongan itu.


"Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, kau benar Donggol, itu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..


Jagad Dewa Batara, akhirnya mereka kembali juga. Ayo kalian semua kita sambut kedatangan junjungan kita ", teriak Bekel Rangin dengan berjalan setengah berlari menuju ke arah tangga naik kapal jung besar mereka. Puluhan prajurit yang selama ini bertugas menjaga kapal jung sekaligus memperbaiki beberapa kerusakan kecil pada kapal itu, langsung berhamburan mengikuti langkah sang pimpinan.


Begitu sampai di hadapan Panji Tejo Laksono, Bekel Rangin segera berjongkok dan menyembah pada Panji Tejo Laksono diikuti oleh seluruh anak buah nya.


"Selamat datang kembali Gusti Pangeran. Terimalah sembah bakti hamba dan seluruh prajurit yang menjaga kapal", ujar Bekel Rangin segera.


"Aku terima sembah bakti kalian. Sekarang berdirilah ", perintah Panji Tejo Laksono seraya mengangkat tangan kanannya.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Bekel Rangin dan para prajurit Panjalu yang ada di kapal jung dengan sigap berdiri begitu perintah Panji Tejo Laksono terucap. Panji Tejo Laksono menatap wajah wajah penuh keceriaan di setiap prajurit yang menjaga kapal. Memang hampir 4 purnama di tanah asing ini tentu mereka juga ingin lekas pulang ke Tanah Jawadwipa.


"Sekarang bantu para prajurit kita untuk menaikkan barang bawaan kita yang akan kita bawa pulang ke Kadiri. Begitu selesai, kau Bekel Rangin, cepat laporkan kepada ku", perintah Panji Tejo Laksono yang kemudian melompat turun dari kudanya. Bekel Rangin segera menghormat pada Panji Tejo Laksono dan segera memerintahkan kepada para anak buahnya untuk bekerja sesuai permintaan dari Panji Tejo Laksono.


Sementara para prajurit Panjalu bekerja sama dengan kawan lainnya mengangkut barang bawaan yang akan di bawa ke Kadiri, Panji Tejo Laksono mengajak Song Zhao Meng dan Luh Jingga naik lebih dulu ke atas kapal jung besar.


Ikut serta nya Song Zhao Meng membuat Bekel Rangin menatap putri Kaisar Huizong itu dengan wajah penuh pertanyaan. Segera dia menyentil salah seorang prajurit yang mengikuti perjalanan Panji Tejo Laksono selama di Tanah Tiongkok.


"Hei kau Warso,


Putri China itu siapa? Sepertinya sangat akrab dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan Nini Luh Jingga", tanya Bekel Rangin sembarang melirik ke arah Song Zhao Meng yang di pegang tangan nya oleh Panji Tejo Laksono menaiki tangga menuju ke atas geladak kapal jung.


"Oh itu Putri Meng Er, dia adalah putri Kaisar Song. Dia di jodohkan dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan diminta untuk di bawa pulang ke Jawadwipa sebagai ikatan kekerabatan dengan Dinasti Song ini", jawab si prajurit bernama Warso itu segera. Mendengar jawaban Warso, Bekel Rangin manggut-manggut mengerti.


Sepanjang malam itu, para prajurit Panjalu di bawah arahan Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg terus memasukkan beraneka macam barang yang akan di bawa pulang. Selain hadiah dari Kaisar Huizong, aneka kebutuhan seperti bahan makanan dan air bersih juga mereka angkut ke atas kapal. Tepat pada tengah malam, semua persiapan mereka telah rampung dan Bekel Rangin segera mendekati Panji Tejo Laksono yang sedang duduk bersama Song Zhao Meng dan Luh Jingga di geladak kapal jung besar mereka.


"Mohon ampun Gusti Pangeran, semua barang bawaan dan bahan makanan telah kita naikkan ke atas kapal. Apakah kita berangkat sekarang atau menunggu matahari terbit?", Bekel Rangin menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Paman Ludaka dan yang lainnya baru saja menempuh perjalanan jauh, jadi biarkan mereka beristirahat sejenak. Besok pagi begitu matahari sepenggal naik, kita berangkat menuju ke Tanah Jawadwipa", ucap Panji Tejo Laksono yang di sambut dengan senyum manis dari Luh Jingga. Sementara Song Zhao Meng hanya diam tanpa berkata apa-apa.


"Hamba mengerti Gusti Pangeran. Kalau begitu hamba mohon undur diri ", ujar Bekel Rangin sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono dan beringsut mundur dari hadapan nya.


Song Zhao Meng menatap ke arah lampu lampu yang menerangi jalan raya Kota Lin'an dengan tatapan penuh arti. Ada semacam perasaan sedih yang tak mampu di ucapkan oleh Song Zhao Meng. Sebentar lagi dia akan meninggalkan tanah kelahirannya untuk hidup bersama dengan Panji Tejo Laksono di negeri asalnya. Sudah bisa di pastikan bahwa dia tidak akan pernah kembali menginjakkan kaki lagi di Tanah Tiongkok lagi untuk selamanya. Inilah sebabnya mengapa dia terlihat sangat galau menatap puluhan lampu yang menerangi Kota Lin'an.


"Meng Er, apa kau masih tidak rela meninggalkan tempat kelahiran mu ini?", suara berat nan berwibawa dari mulut Panji Tejo Laksono langsung membuat Song Zhao Meng segera menoleh ke arah sang pujaan hati.


"Ah Kakak Thee kenapa kau berkata seperti itu?


Aku sudah rela melakukan segala nya untuk mu bahkan sudah rela melepaskan kehidupan istana Kekaisaran Dinasti Song hanya untuk bisa bersama mu. Hanya saja aku ingin melihat suasana malam hari untuk terakhir kalinya di tanah kelahiran ku ini sebelum kita mulai berangkat ke Tanah Jawadwipa", tak terasa setetes air mata menetes keluar dari sudut mata Song Zhao Meng. Buru buru perempuan cantik itu menoleh ke arah lain agar Panji Tejo Laksono tak melihatnya namun sang pangeran muda dari Kadiri itu sudah terlanjur tau.


Dengan penuh kasih sayang, Panji Tejo Laksono segera berdiri dan memeluk tubuh ramping Song Zhao Meng dari belakang. Luh Jingga pun segera bergegas meninggalkan geladak kapal jung untuk memberi ruang bagi mereka berdua.


"Aku mengerti apa yang kau rasakan, Meng Er. Aku tidak menyalahkan mu. Percayalah, aku akan membuat hidup mu lebih bahagia setibanya kita di Tanah Jawadwipa nanti", mendengar ucapan Panji Tejo Laksono itu, Song Zhao Meng segera mendekap erat lengan Panji Tejo Laksono.


"Aku percaya padamu Kakak Thee.. Terimakasih banyak kau sudah begitu menyayangi ku", ujar Song Zhao Meng sembari merebahkan kepalanya di dada bidang Panji Tejo Laksono dan terus menatap ke arah Kota Lin'an.


Dari kegelapan malam, sepasang mata terus mengawasi pergerakan prajurit Panjalu di seputar kapal jung besar milik rombongan Kerajaan Panjalu ini.


Malam semakin larut dan para prajurit Panjalu pun tinggal menyisakan beberapa yang tengah bertugas jaga malam. Suasana dermaga pelabuhan Sungai Qiantang semakin dingin dan sepi hingga pagi menjelang tiba.


Suasana pelabuhan Sungai Qiantang Kota Lin'an semakin ramai saat matahari mulai menampakkan diri di langit timur. Hari itu cuaca begitu cerah, secerah wajah para prajurit Panjalu yang hendak berlayar mengarungi lautan menuju ke Tanah Jawadwipa. Setelah persiapan rampung, Rakryan Purusoma selaku nahkoda kapal memerintahkan kepada para prajurit Panjalu yang bertugas sebagai anak buah kapal untuk melepaskan ikatan tambang pada kayu tiang pancang dermaga pelabuhan Sungai Qiantang juga untuk mengangkat sauh agar perahu jung besar itu segera bisa berangkat. Begitu semuanya beres, kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono mulai meninggalkan dermaga pelabuhan Kota Lin'an.


Song Zhao Meng berdiri di geladak kapal jung besar sembari menggenggam erat tangan kiri Panji Tejo Laksono dengan mata berkaca-kaca.


Setelah menempuh perjalanan selama satu hari, kapal jung besar berbendera Panjalu itu terus berlayar mengarungi samudra.


Biasanya suasana para prajurit tenang saja namun dari arah gudang penyimpanan terdengar suara ribut-ribut saat hari menjelang siang. Bekel Rangin yang bertugas sebagai pengawas makanan langsung mendekati empat orang prajurit yang baru dia tugaskan untuk mengambil bahan makanan di dalam gudang. Terlihat keempat orang prajurit itu tengah saling berpandangan.


"Ada apa ini? Kenapa kalian tidak segera mengambil bahan makanan yang aku minta ha? Kalian mau Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono murka karena waktu makan siang mereka tertunda karena ulah kalian?", Bekel Rangin melotot lebar ke arah empat orang prajurit itu.


"Ampun Gusti Bekel, bukan kami tidak mau mengambilkan bahan makanan t-tapi itu Gusti Bekel itu..", seorang prajurit menunjuk ke lantai gudang makanan. Bekel Rangin segera menoleh ke arah karung tempat mereka menyimpan bahan makanan yang terlihat bergerak gerak.


"Apa ini?", Bekel Rangin yang kaget segera menoleh ke arah para prajurit yang dia perintah.


"Kami kurang tahu, Gusti Bekel. Saat menaikkan barang bawaan ke atas kapal kemarin, hamba tidak merasa aneh dengan karung itu. Tapi entah kenapa sekarang jadi seperti itu", jawab si prajurit dengan penuh ketakutan.


Panji Tejo Laksono yang kebetulan sedang lewat langsung mendekati mereka.


"Ada apa ini ribut ribut?", suara Panji Tejo Laksono langsung membuat Bekel Rangin dan para prajurit yang bertugas menoleh ke arah belakang dan dengan cepat menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Mohon ampun Gusti Pangeran.


Itu itu karung beras nya bergerak sendiri", lapor Bekel Rangin segera. Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah karung beras yang memang nampak bergerak tidak biasa. Melihat itu, Panji Tejo Laksono dengan cepat melepas tali ikatan karung beras. Begitu ikatan terbuka, semua orang terkejut melihat isi di dalamnya.


"Putri Lan? Bagaimana kau bisa di tempat ini?", tanya Panji Tejo Laksono begitu melihat sosok Wanyan Lan yang ada di dalam karung beras itu. Namun gadis cantik itu tidak menjawab pertanyaan Panji Tejo Laksono sama sekali.


Keributan di gudang penyimpanan makanan itu langsung menarik perhatian semua orang termasuk Song Zhao Meng dan Luh Jingga yang baru saja berhias diri di kamar mereka. Mereka berdua terkejut bukan main melihat kehadiran Wanyan Lan yang sedang duduk di dalam karung beras.


Putri Kepala Keluarga Wanyan itu terlihat pucat dan kaku. Tubuhnya terlihat seperti seorang yang kena totok. Menyadari kalau gadis cantik itu dalam keadaan tertotok, Panji Tejo Laksono dengan cepat melepaskan totokan Wanyan Lan segera.


Tukk thukk...


Uhhhhhhh..!


Terdengar hembusan nafas lega dari mulut Wanyan Lan. Hampir 2 hari semalam dia tertotok hingga membuat tubuhnya nyaris tak dapat di gerakkan. Untung saja selepas 2 hari, totokan itu mengendur hingga dia bisa sedikit bergerak yang menyebabkan kepanikan itu.


"Maafkan aku, Kak Thee..


Mulanya aku ingin mengucapkan terima kasih kepada mu atas pertolongan yang kau berikan tapi pengamanan Istana Kaifeng terlalu kuat untuk ku tembus jadi aku terpaksa menunggu mu keluar istana. Saat tau kau meninggalkan Kaifeng, aku segera tahu bahwa kau pasti ke kota Lin'an jadi aku memotong jalan dan sampai di Lin'an lebih dulu.


Tetapi sesampainya di Lin'an, aku malah bertemu dengan dua orang anggota keluarga Wanyan. Saat kau sampai di Lin'an, aku sedang bertarung melawan para anak buah kakak kandung ku, Wanyan Zhonghan dan Wanyan Ziyin karena mereka memaksa ku untuk melepaskan hak kuasa atas kepemimpinan keluarga. Aku menolak keinginan mereka dan terjadilah pertarungan antara kami. Kemudian mereka berhasil menotok ku dan memasukkan ku ke dalam karung beras ini. Semula aku mengira akan di buang ke hutan atau di tenggelamkan, tapi ternyata malah di masukkan ke dalam perahu mu.


Itulah yang terjadi Kakak Thee", ujar Wanyan Lan sembari menatap sendu ke arah Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Song Zhao Meng yang mengelilingi nya.


"Aku tidak mempermasalahkan kau ikut di perahu ku, Putri Lan.. Tapi jika kau ingin kami putar balik ke Tanah Tiongkok, maaf saja aku tidak bisa. Aku ingin secepatnya pulang ke Tanah Jawadwipa ", Panji Tejo Laksono yang tadi berjongkok langsung berdiri dari tempat nya sembari menghela nafas berat.


"Begitu ya?


Baiklah Kakak Thee, aku tidak keberatan jika harus ikut serta ke tanah kelahiran mu. Jika sudah sampai, tolong bantu aku untuk pulang ke Tanah Tiongkok lagi ya? Aku mohon ", pinta Wanyan Lan dengan cepat.


"Pasti ku bantu, tapi untuk sementara kau harus ikut kami ke Jawadwipa", Panji Tejo Laksono segera melangkah meninggalkan tempat itu diikuti oleh Luh Jingga dan Song Zhao Meng segera.


Sembari menggeram, Song Zhao Meng yang berjalan di samping Panji Tejo Laksono bergumam lirih,


"Sungguh kejutan yang tidak terduga"