Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pendekar Berpedang Butut


Dendam memang membutakan mata hati dan nurani. Sebagus apapun pembangunan dan kemajuan daerah kekuasaan Prabu Jayengrana, tetap saja tak mampu mengetuk pintu hati Tumenggung Gurunwangi. Dia selalu menganggap apa yang di lakukan oleh pemerintah pusat di Kadiri hanyalah semata-mata untuk pencitraan di mata rakyat. Selebihnya itu hanya usaha para pamong praja untuk memperkaya diri sendiri.


Setelah keluar dari dalam Istana Kadipaten Rajapura, Tumenggung Gurunwangi segera mencari dua orang perwira menengah Prajurit Rajapura yakni Juru Kanoman dan Demung Anggasuta. Kedua orang ini adalah orang kepercayaan Tumenggung Gurunwangi sekaligus bawahannya yang setia. Kesetiaan itu mereka berikan pada Gurunwangi sebagai imbal balik dari pangkat yang mereka dapatkan. Sebelum nya, Kanoman dan Anggasuta hanyalah sepasang murid Padepokan Bukit Kalong yang terlunta-lunta di jalanan dan nyaris mati di tangan para begal. Gurunwangi yang masih berpangkat Bekel menyelamatkan nyawa mereka dan sejak saat itu dua orang murid Padepokan Bukit Kalong itu menjadi pengikut setia Gurunwangi.


Dua orang perwira menengah Prajurit Rajapura itu sedang duduk bersama di sebuah tempat peristirahatan terbuka yang ada di dalam barak prajurit Kadipaten Rajapura saat Tumenggung Gurunwangi datang. Begitu menyadari bahwa Gurunwangi datang, dua orang perwira menengah Prajurit Rajapura itu segera berjongkok dan menghormat pada Tumenggung Gurunwangi.


"Salam hormat kami, Gusti Tumenggung.


Ada perintah apa gerangan hingga Gusti Tumenggung Gurunwangi datang ke tempat ini?", tanya Juru Kanoman dengan sopan.


"Aku minta kalian berdua ikut dengan ku. Temani aku mencari Nyi Simbar Kencana di perbatasan wilayah Kadipaten Rajapura dan Kalingga", ujar Tumenggung Gurunwangi segera.


Mendengar ucapan pimpinan mereka, Juru Kanoman dan Demung Anggasuta langsung saling berpandangan. Mereka berdua paham betul siapa Nyi Simbar Kencana dan sepak terjangnya di dunia persilatan. Perempuan cantik yang selalu memakai baju serba kuning keemasan itu terkenal sebagai pendekar golongan hitam sekaligus juga menjadi dukun prewangan yang di takuti. Dia sangat kejam dan merupakan musuh banyak pendekar golongan putih. Muridnya kebanyakan adalah para rampok, begal, maling hingga penyamun di pasar hingga pandangan mata semua orang sangat miring kepada nya.


"Gusti Tumenggung Gurunwangi,


Apa saya tidak salah dengar? Nyi Simbar Kencana adalah seorang dukun prewangan yang menganut ilmu hitam. Lantas kenapa Gusti Tumenggung Gurunwangi ingin mencarinya?", tanya Demung Anggasuta segera. Dia yang tidak mengerti dendam di hati Tumenggung Gurunwangi hanya kebingungan sendiri.


"Kalian tidak perlu tahu urusan ku dengan Nyi Simbar Kencana. Cukup ikut dan jangan banyak tanya. Apa kalian mengerti?", Tumenggung Gurunwangi melotot tidak suka dengan pertanyaan Demung Anggasuta.


"Kami mengerti, Gusti Tumenggung ", Juru Kanoman dan Demung Anggasuta segera menghormat pada Tumenggung Gurunwangi.


Dengan di dampingi oleh Demung Anggasuta dan Juru Kanoman serta 10 orang prajurit pilihan, Tumenggung Gurunwangi meninggalkan Kota Kadipaten Rajapura menuju ke arah tenggara, tepatnya di wilayah Lembah Sungai Gung sebelah barat yang merupakan perbatasan antara Kadipaten Rajapura dan Kalingga. Dalam perjalanan ini, rombongan itu memakai pakaian penyamaran untuk mengurangi kecurigaan telik sandi Kerajaan Panjalu yang ada di wilayah Kadipaten Rajapura. Di salah satu bukit yang ada di dekat Lembah Sungai Gung, ada sebuah padepokan ilmu kanuragan dipimpin oleh Nyi Simbar Kencana. Padepokan ini dinamakan dengan nama Padepokan Tawang Kencana. Kesana lah Tumenggung Gurunwangi bergerak bersama para pengawalnya.


Sesampainya di tepi Kali Gung, rombongan itu menyusuri tepian sungai ini untuk mencari tempat Padepokan Tawang Kencana yang ada di hulu Kali Gung. Di sebuah warung makan yang ada di dermaga penyeberangan yang menghubungkan antara Wanua Wanareja yang masuk dalam wilayah Kadipaten Rajapura dan Wanua Cenggini yang masuk dalam wilayah Kadipaten Kalingga , Tumenggung Gurunwangi menghentikan langkah kaki kuda nya. Anggota rombongannya pun mengikuti langkah sang perwira tinggi prajurit Kadipaten Rajapura. Hari sudah cukup siang. Matahari tepat di atas kepala, sudah waktunya mereka untuk mengisi perut sembari mengistirahatkan kuda tunggangan. Mereka semua segera melompat turun dari kudanya dan bergegas mengikat tali kekang kudanya di geladakan yang ada di samping halaman warung makan yang di bangun persis di dekat dermaga penyeberangan.


Sepasang mata terus mengawasi pergerakan mereka tanpa bicara sedikitpun. Caping bambu nya yang hampir hancur saking rusaknya terus di pakai meski di dalam warung makan membuat wajah sang pengintai ini tidak terlihat jelas. Apalagi rambutnya yang gondrong tidak terawat semakin membuat penampilan lelaki muda ini benar benar mirip seorang pengelana yang tidak punya uang. Di meja makan nya yang ada di sudut ruangan, ada sebuah buntalan kain hitam yang sepertinya berisi beberapa pakaian ganti, juga sebuah pedang bersarung butut yang nampaknya bukan pedang yang tajam. Dia terus menikmati makan siang nya sembari terus memperhatikan gerak-gerik rombongan Tumenggung Gurunwangi.


Begitu mereka duduk di kursi kayu yang digunakan sebagai tempat duduk di warung makan itu, seorang pelayan warung makan yang merupakan seorang gadis muda berwajah bulat telur dan menarik hati yang memakai kemben coklat hitam dengan jarit parang yang sudah lama tapi masih terlihat bersih, mendekati mereka sembari tersenyum ramah layaknya seorang pelayan warung makan.


"Permisi Kisanak,


Kalian ingin pesan apa? Biar aku katakan pada juru masak kami", ujar si gadis muda yang berusia sekitar 16 atau 17 warsa itu dengan sopan. Penampilan gadis muda itu langsung menarik perhatian Demung Anggasuta. Dengan genit dia menggoda si pelayan wanita itu dengan mencolek lengan nya.


"Wah Cah Ayu,


Kalau pesan dirimu saja bagaimana? Jangan khawatir aku punya uang banyak untuk mencukupi semua kebutuhan mu hehehehe", suara tawa kecil itu langsung di sambut senyum Tumenggung Gurunwangi dan tawa keras dari mulut para prajurit Kadipaten Rajapura.


"Kisanak, jaga bicaramu ya?!


Ini bukan rumah pelacuran, tapi warung makan biasa. Kalau kau ingin mencari pelacur, bukan disini tempatnya. Tampang dan pakaian mu terhormat, tapi kelakuan mu mirip begal pasar", damprat si perempuan muda itu segera. Dia benar benar kesal di lecehkan oleh Demung Anggasuta.


"Kauuu...."


Demung Anggasuta segera berdiri dari tempat duduknya. Dengan wajah merah padam menahan rasa malu karena di damprat si perempuan pelayan warung makan, dia mendesis keras sembari menunjuk pada si gadis muda itu. Rasa kesalnya karena para prajurit Rajapura dan Juru Kanoman tersenyum penuh ejekan karena dia mendapat dampratan dari seorang pelayan.


"Wah ada yang kehilangan pesona rupanya hingga di tolak mentah-mentah oleh seorang pelayan warung makan hahahaha", ujar Juru Kanoman yang di sambut gelak tawa para prajurit Kadipaten Rajapura dan Tumenggung Gurunwangi. Mendengar ejekan kawan kawan nya, Demung Anggasuta segera menampar pipi kanan si pelayan warung makan itu.


Plaaakkkkk..


Aaauuuuggggghhhhh !!!


Si gadis muda berbaju kemben coklat hitam itu langsung tersungkur ke lantai warung makan sembari memegang pipinya yang memerah.


"Kurang ajar!!


Cuma seorang pelayan warung makan saja sok berani menasehati ku. Apa kau tidak tahu siapa aku sebenarnya ha?", bentak Demung Anggasuta dengan lantang. Seorang lelaki sepuh yang merupakan pemilik warung makan itu buru buru mendekati tempat keributan mereka.


"Kisanak, tolong ampuni putri ku. Dia masih bocah kemarin sore, masih kurang wawasan. Mohon kau berwelas asih", ujar si lelaki tua itu sembari berlutut di hadapan Demung Anggasuta.


"Mengampuni nya?? Phhuuuiiiiiihhhhh..!!


Apa kau tidak tahu siapa aku ha? Aku adalah seorang perwira di Kadipaten Rajapura. Jabatan ku adalah Demung. Dan putri mu yang cuma pelayan warung makan ini berani membuat ku malu di depan para bawahan ku.


Hanya jika aku puas menyiksanya baru aku akan mengampuninya!", setelah berkata demikian, Demung Anggasuta segera melayangkan sepakan keras kearah kepala si gadis muda yang masih bersimpuh di lantai warung makan.


Saat yang bersamaan, sebuah piring melesat cepat kearah kaki Demung Anggasuta dan menghantam betis kaki kanan sang perwira menengah Prajurit Rajapura dengan keras.


Whhhuuuggghhhh...


Prrrrrraaanggggggggggghhh !!


Auuuggghhhhh !!


Kerasnya lemparan piring yang menghantam betis kaki kanan Demung Anggasuta seketika membuat pria bertubuh gempal itu terhuyung huyung mundur dan nyaris terjatuh ke lantai warung makan andai saja Juru Laweyan tidak segera berdiri dan menyangga tubuhnya. Dua orang perwira menengah Prajurit Rajapura itu langsung melotot kearah asal piring terbang tadi dimana si pemuda bercaping bambu ini berada.


"Kurang ajar !


"Aku cuma seorang pengelana, yang tidak suka melihat seorang prajurit menindas orang biasa menggunakan kekuasaan nya.


Benar benar tikus tikus istana", ujar si lelaki bertubuh kekar dengan wajah yang tak terlalu jelas itu segera.


"Bangsat!


Kau sengaja cari masalah dengan perwira prajurit Rajapura rupanya. Akan ku buat kau menyesali keberanian mu!", usai berkata demikian Demung Anggasuta segera mencabut golok dan membabatkan senjata itu ke arah si pemuda berdandan layaknya seorang gembel itu.


Shhrreeettthhh !


Tak ingin menghancurkan warung makan itu karena pertarungan, si lelaki bertubuh kekar itu dengan cepat menjejak lantai warung makan dan melesat keluar lewat jendela.


Brrruuuaaaaakkkkh !


Tebasan golok Demung Anggasuta seketika membuat meja makan tempat si pemuda ini hancur terbelah menjadi dua bagian. Melihat lawan nya melesat keluar, Demung Anggasuta segera menyusul ke halaman warung makan dimana si lelaki bertubuh kekar itu sudah menunggu kedatangan nya.


Secepat kilat, Demung Anggasuta menyerang si lelaki bertubuh kekar itu dengan serangan cepat dan mematikan. Dengan menggunakan pedang butut nya, dia menangkis setiap sabetan golok perwira prajurit Rajapura itu dengan lincah dan gesit. 15 jurus berlalu dengan cepat.


Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg...


Dhasshhh...


Oouugghhhh !!


Demung Anggasuta terhuyung mundur beberapa langkah setelah satu tendangan keras kaki kiri dari si lelaki bercaping bambu itu telak menghajar perutnya.


Melihat saudara seperguruan nya di kalahkan, Juru Kanoman dengan cepat mencabut goloknya dan merangsek ke arah si pemuda itu segera. Satu sabetan cepat mengarah ke leher si lelaki bercaping bambu.


Shrraaaakkkkhhhh !


Seperti memiliki mata di belakang kepala, dengan sigap, si lelaki bertubuh kekar itu menangkis sabetan golok Juru Kanoman tanpa berpaling.


Thhhrriinnngggggg !!


Ternganga Juru Kanoman melihat kemampuan beladiri lawannya. Dengan cepat ia merubah gerakan nya, kembali melayangkan serangan cepat bertubi tubi ke arah lelaki bercaping bambu itu segera.


Whuuthhh..


Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg !!


Melihat kakak seperguruan nya belum mampu menjatuhkan si lawan, Demung Anggasuta segera ikut melesat cepat kearah lawan. Dengan cepat, ia ikut mengeroyok si lelaki bertubuh kekar itu dari arah yang berbeda. Namun bukannya mampu menjatuhkan lawan, mereka justru terlihat seperti di permainkan oleh si pemuda berambut gondrong itu.


Juru Kanoman dan Demung Anggasuta segera melompat tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah si lelaki bercaping bambu itu sembari membabatkan golok mereka ke kepala lawan. Si lelaki muda bertubuh kekar ini segera memindahkan pedang butut di tangan kirinya dan menahan serangan mereka berdua segera.


Thrrraaannnnggggg !


Di sisi lain, tangan kanan si lelaki bertubuh tegap ini membentuk cakar seperti cakar seekor rajawali dan dengan cepat terayun ke arah dada Juru Kanoman dan Demung Anggasuta segera.


Shhhrrraaaaaaaaakkkkkkkkkh!!


Aaaarrrgggggghhhhh !!!


Jerit keras terdengar dari mulut kedua orang perwira menengah Prajurit Rajapura itu saat cakar tangan kanan si lelaki bercaping bambu itu merobek baju sekaligus menyayat kulit mereka. Rasa perih langsung terasa karena luka itu cukup dalam dan mulai mengeluarkan darah segar.


Tumenggung Gurunwangi yang sedari tadi melihat pertarungan ini, langsung terkesiap karena dia mengenali jurus cakar yang baru saja di pakai oleh lawan Demung Anggasuta dan Juru Kanoman.


'Cakar Rajawali Galunggung? Bukankah itu ilmu beladiri yang ada di Tatar Pasundan? Hanya keturunan Resi Buyut Galunggung saja yang mempelajari nya..


Gawat ini tidak boleh dibiarkan begitu saja', batin Tumenggung Gurunwangi.


"Kalian berdua cepat hentikan!", teriak Tumenggung Gurunwangi segera. Mendengar perintah Tumenggung Gurunwangi, Demung Anggasuta dan Juru Kanoman segera menoleh ke arah Tumenggung Gurunwangi.


"Mundur!!"


Mendengar ucapan Tumenggung Gurunwangi, Demung Anggasuta dan Juru Kanoman perlahan mundur beberapa langkah ke belakang meski dengan memendam amarah dalam hati. Sembari meringis menahan rasa sakit pada dada, mereka berdua menatap tajam ke arah si lelaki bertubuh tegap yang memakai caping bambu itu.


Tumenggung Gurunwangi segera melangkah maju ke arah si lelaki bertubuh tegap yang masih bersiaga dengan memegang erat pedang butut nya.


"Pendekar,


Kalau boleh tau, ada hubungan apa kau dengan Perguruan Gunung Galunggung?", tanya Tumenggung Gurunwangi segera. Mendengar pertanyaan itu, si lelaki bercaping bambu itu perlahan melepas capingnya dan tersenyum tipis sembari menjawab,


"Aku adalah penerusnya".