Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )


Tumenggung Ludaka mundur selangkah ke belakang. Kedua tangan nya segera masuk ke balik bajunya. Di sela-sela jemari tangannya telah menjepit delapan pisau belati kecil yang ujungnya berwarna kuning berbau harum. Ini menandakan bahwa pisau belati kecil nya mengandung semacam racun yang berbahaya. Ini semua dia persiapkan jika menghadapi lawan tangguh.


Dengan berlari cepat ke arah samping kiri Pendekar Kapak Iblis, Tumenggung Ludaka segera melemparkan pisaunya secepat kilat ke arah lawan.


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!!


Si Pendekar Kapak Iblis menyeringai lebar sembari memutar gagang kapak besar nya. Dia menatap ke arah pergerakan Tumenggung Ludaka dengan tatapan mata meremehkan.


"Permainan anak kecil lagi? Kau menyedihkan, perwira Panjalu!!", teriak Si Pendekar Kapak Iblis penuh kesombongan. Dengan cepat ia memutar gagang kapak besar nya untuk menangkis serangan senjata rahasia dari Tumenggung Ludaka.


Thhrraaanggg thhhrrriiiiinnnnngggg!


Belum sempat dia menyelesaikan tangkisan senjata rahasia yang datang dari arah kiri, datang lagi senjata rahasia yang mengincar sisi belakang. Sedikit terkejut dengan apa yang sedang terjadi, Si Pendekar Kapak Iblis berusaha menghindar dengan melompat ke arah kanan. Namun dia di buat kembali terpana saat datang lagi senjata rahasia yang mengincar nyawa dari arah berlawanan.


"Bangsat kau perwira Panjalu!!!", maki Si Pendekar Kapak Iblis sembari menjatuhkan diri nya untuk menghindar. Saat tubuh besarnya baru saja menimpa tanah, empat pisau belati kecil bermata tajam ini melesat cepat kearah nya.


Shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Serangan cepat bertubi-tubi dari berbagai penjuru ini adalah Ilmu Hujan Pisau Dewa Kematian yang merupakan ilmu puncak senjata rahasia yang dimiliki oleh Sang Tumenggung Panjalu. Pisaunya yang seolah memiliki pikiran sendiri terus melayang bolak balik mengincar nyawa lawan yang menjadi target serangan.


Si Pendekar Kapak Iblis harus berjibaku dengan cepat menghindari serangan pisau belati kecil yang datang dari segala arah. Lama kelamaan gerakan tubuhnya semakin lambat akibat terkurasnya tenaga dalam karena harus bergerak tanpa henti. Karena kuda-kuda nya goyah, Si Pendekar Kapak Iblis tersandung batu. Dia terkejut setengah mati dan berusaha untuk menyeimbangkan pijakan kaki nya namun dua pisau belati kecil milik Tumenggung Ludaka bergerak cepat menuju ke arah kiri tubuhnya usai jemari tangan kanan sang perwira prajurit Panjalu itu menggerakkan kesana.


Chhreepppppph chhreepppppph!!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Si Pendekar Kapak Iblis menjerit keras saat dua pisau belati kecil itu menembus punggungnya. Dia limbung ke arah kanan dan itu merupakan kesempatan yang di tunggu oleh Tumenggung Ludaka. Dua jemari kedua tangan nya di ayunkan ke satu titik. Ini membuat seluruh pisau belati kecil nya bergerak cepat layaknya hujan deras yang menerabas cepat kearah lelaki bertubuh gempal berewokan itu.


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!!


Mata Si Pendekar Kapak Iblis melotot lebar saat melihat itu semua. Dia yang sedang meringis menahan rasa sakit di punggungnya, berusaha keras untuk berlindung dengan memutar kapak besar nya secepat mungkin. Tapi dia lupa bahwa lawan yang dihadapi bukan hanya pisau belati kecil itu.


Tumenggung Ludaka langsung bergerak cepat memutari Si Pendekar Kapak Iblis yang sedang kerepotan karena hujan pisau belati kecil ini. Dan...


Jllleeeeeppppphhh!!.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Mata Si Pendekar Kapak Iblis kembali membeliak lebar tatkala ia melihat ujung pedang muncul di dadanya. Saat ujung pedang itu di cabut, darah segar memancar keluar dari luka yang menganga di dadanya. Dia langsung roboh ke tanah kejang kejang sebentar sebelum akhirnya tewas dengan bersimbah darah. Dia pasti tidak akan pernah menduga bahwa dia akan kehilangan nyawa di tempat itu.


"Buah dari pohon kesombongan adalah kehancuran. Kau harus belajar itu di kehidupan mu yang selanjutnya", ucap Tumenggung Ludaka saat menatap mayat Si Pendekar Kapak Iblis yang tergeletak di depannya sebelum melesat cepat kearah Demung Gumbreg yang sedang mengamuk tak jauh dari tempat pertarungan nya.


Bhhhuuuuuuggggh...


Aaauuuuggggghhhhh!!


Teriak keras seorang prajurit pemberontak yang baru saja terkena kepruk pentung sakti Demung Gumbreg. Kepalanya remuk dan isi kepalanya berhamburan keluar. Dia tewas mengenaskan.


Melihat lawannya sudah tewas bersimbah darah, Demung Gumbreg segera bergegas ke arah beberapa orang prajurit yang mulai ketakutan menghadapi perwira tua bertubuh tambun ini. Bagaimana tidak, semua sabetan senjata tajam mereka tak mampu melukai sang demung bahkan menggores kulit ari nya pun tidak.


"Ayo siapa lagi yang mau modar?!! Sini hadapi aku!! ", teriak Demung Gumbreg sambil mengayunkan pentung saktinya ke arah para prajurit pemberontak.


Whhhuuuggghhhh!!


Para prajurit pemberontak langsung berhamburan menyelamatkan diri dari amukan sang perwira tambun. Dari arah depan, sesosok bayangan berkelebat cepat kearah Demung Gumbreg sembari menghantamkan kepalan tangannya.


Bhhhuuuuuuggggh!!


Kerasnya hantaman tangan si bayangan itu hanya mampu membuat Demung Gumbreg mundur selangkah. Sedangkan si bayangan itu justru terpental ke belakang dan mesti tersurut mundur hampir dua tombak ke belakang. Mata si bayangan berkelebat cepat itu yang tak lain adalah seorang punggawa Istana Kadipaten Karang Anom, Senopati Sudinata, mendelik kereng pada Demung Gumbreg. Dia sungguh tak percaya bahwa lelaki tua bertubuh tambun itu sama sekali tak percaya melihat lelaki tua bertubuh tambun itu seperti tidak merasakan apa-apa walaupun telah menerima pukulan telak darinya.


"Weladalahhh..


Ada yang mau main serang rupanya. Heh muka bulu, kau pimpinan kelompok pemberontak ini ya? Maju sini kalau berani..", tantang Demung Gumbreg sembari menepuk dadanya yang bekas pukulan keras sang senopati Karang Anom.


"Bangsat gajah bengkak!!


Sombong sekali kau. Aku tidak menyangka bahwa seorang perwira bertubuh kebo seperti mu punya sesuatu yang diandalkan. Aku Senopati Sudinata, perwira tinggi prajurit Karang Anom yang akan mencabut nyawa mu!!", selepas berkata demikian, Senopati Sudinata langsung mencabut keris di pinggangnya dan melompat ke arah Demung Gumbreg sembari menusukkan keris pusaka nya ke perut buncit Demung Gumbreg.


"Bolong perut mu, Kebo Bunting!!!!"


Thhrraaanggg!!!


Kembali Senopati Sudinata dibuat terbelalak saat melihat keris pusaka nya tak mampu menembus kulit perut sang perwira tinggi prajurit Panjalu. Demung Gumbreg justru malah menyeringai lebar menatap ke arah Senopati Sudinata. Dengan cepat, Demung Gumbreg segera melayangkan tendangan keras kaki kanan ke arah perut sang bekas rampok yang menjadi perwira tinggi prajurit Karang Anom ini dengan keras.


Dhhiiieeeeesssshhh!!


Oouuugghhhhhh!!!


Senopati Sudinata meraung keras kala tendangan keras kaki kanan Demung Gumbreg yang segede bambu betung menghajar perutnya. Tubuhnya seketika terlempar dan jatuh terduduk. Organ dalam tubuh nya seperti berpindah tempat dengan rasa sakit yang luar biasa. Namun pria berewokan itu segera bangkit sambil meringis menahan rasa sakit di perut.


"Mencabut nyawa ku? Terlalu cepat 100 tahun eh kelamaan ya, terlalu cepat 50 tahun jika kau menginginkan kematian ku, wajah bulu!!


Kau belum cukup umur untuk melakukan nya!!", Demung Gumbreg memutar gagang pentung saktinya sembari bersiap untuk menyerang.


"Bangsat Kebo Tua!!!


Aku masih belum kalah dari mu!!!", maki Senopati Sudinata yang segera melemparkan keris nya yang bengkok ujungnya ke arah Demung Gumbreg. Kedua tangannya segera mengepal dan bersilangan di depan dada sembari komat-kamit merapal mantra. Kemudian merentang lebar ke samping kiri dan kanan tubuhnya lalu menangkup di depan dada. Cahaya merah kehitaman bergulung pada kedua lengan nya lalu berkumpul di telapak tangan, menciptakan gumpalan cahaya merah kehitaman yang diselimuti oleh angin panas. Dia mengeluarkan Ajian Cadas Ngampar yang merupakan ilmu andalannya.


Secepat kilat dia menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah Demung Gumbreg. Selarik cahaya merah kehitaman menerabas cepat kearah Demung Gumbreg. Pria bertubuh tambun itu segera menyilangkan pentung saktinya ke depan dada untuk menahan hantaman Ajian Cadas Ngampar.


Blllaaammmmmmmm!!!


Kerasnya ledakan Ajian Cadas Ngampar membuat Demung Gumbreg terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Darah segar muncrat keluar dari mulut perwira bertubuh tambun itu. Sehebat apapun Ajimat Keong Buntet miliknya tak sepenuhnya mampu menghadapi Ajian Cadas Ngampar yang merupakan salah satu ajian ilmu kanuragan tingkat tinggi.


Dari arah belakang, Tumenggung Ludaka yang baru saja menyelesaikan pertarungan nya dengan Si Pendekar Kapak Iblis, langsung menahan gerak mundur kawan karibnya itu dengan sekuat tenaga. Begitu gerakan tubuh Demung Gumbreg berhenti, Tumenggung Ludaka segera menatap wajah kawannya yang sedikit memucat ini.


"Aku baik-baik saja, Lu. Pukulan Ajian si muka bulu itu kuat sekali. Ajimat Keong Buntet ku tak mampu melindungi ku dengan sempurna..


Uhukkk uhukkk hoooeeeeggggh!!", Demung Gumbreg memuntahkan darah segar untuk kedua kalinya. Namun setelah muntah darah segar, pernapasan nya malah terasa lebih lega.


"Kau ini nekat!!


Jelas-jelas dia menggunakan ilmu kanuragan tingkat tinggi, kenapa kau malah menahannya dengan pentung sakti mu? Kau ini masih ingin meneruskan hidup mu atau pingin mati disini?", omel Tumenggung Ludaka yang prihatin atas luka dalam kawan karibnya itu.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Eh kampret, kau menyumpahi ku ya? Istri istri masih cantik cantik, mana rela aku meninggalkan mereka? Kau ini ada-ada saja..


Bantu aku, Lu.. Gunakan pisau belati mu saat aku keluarkan ilmu andalan ku", ujar Demung Gumbreg sembari mengusap sisa darah segar yang ada di sudut mulutnya. Matanya tajam menatap ke arah Senopati Sudinata yang bersiap untuk menyerang kembali. Tumenggung Ludaka mengangguk mengerti mendengar permintaan dari Demung Gumbreg.


"Saatnya kau mampus, Kebo Tua!!


Ajian Cadas Ngampar.....


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!!!"


Kembali Senopati Sudinata menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka. Cahaya merah kehitaman bergulung cepat menerabas ke arah mereka berdua. Kedua orang tua perwira prajurit Panjalu itu segera bergerak berpencar ke arah yang berlawanan. Demung Gumbreg berguling cepat kearah Senopati Sudinata sedangkan Tumenggung Ludaka berkelebat cepat kearah samping sang perwira prajurit Karang Anom sambil melemparkan empat pisau belati kecil milik nya ke arah Senopati Sudinata.


Shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Pria bertubuh gempal dengan wajah penuh rambut ini mengeram keras melihat serangan senjata rahasia yang di lemparkan oleh Tumenggung Ludaka. Dengan cepat ia menghantamkan tapak tangan kanan nya yang di lambari Ajian Cadas Ngampar ke arah pisau belati kecil milik Tumenggung Ludaka.


Whhhuuuggghhhh!!


Blllaaaaaarrr trrakkk !!


Pisau-pisau belati kecil itu langsung hancur saat cahaya merah kehitaman Ajian Cadas Ngampar menghantamnya. Disaat yang bersamaan, Demung Gumbreg yang menggelinding cepat kearah Senopati Sudinata yang sedang menghadapi serangan senjata rahasia, langsung menghantam paha sang senopati Karang Anom itu dengan pentung saktinya sekeras mungkin.


Bhhhuuuuuuggggh...


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Senopati Sudinata langsung berteriak keras saat pentung sakti Demung Gumbreg mematahkan tulang paha kiri nya. Tubuh lelaki berewokan itu langsung limbung dan roboh ke tanah.


Demung Gumbreg segera bangkit dan bergegas menuju ke arah kepala sang senopati Karang Anom yang sedang mengerang kesakitan. Dia segera berjongkok di depan wajah Senopati Sudinata.


"Nih rasakan sensasi nikmatnya ilmu baru yang ku kembangkan sendiri.


Ajian Kentut Semar!!!"


Dhhhuuuuuuuuuuddddttttthhh!!!


Bau kentut menyengat yang keluar dari pantat Demung Gumbreg langsung membuat Senopati Sudinata diam. Dia pingsan setelah menghirup aroma kentut menyengat dari Demung Gumbreg.


Aroma tidak sedap itu segera menyebar ke sekitar tempat itu. Tumenggung Ludaka sambil menutup lubang hidung nya, mendekati kawan karibnya yang berdiri setelah mengeluarkan gas beracun tadi.


"Kentut mu benar-benar busuk, Mbreg? Kau baru saja makan bangkai ya?", ucap Tumenggung Ludaka sambil terus menutupi lubang hidung nya agar bau busuk itu tak tercium hidungnya.


"Enak saja kalau ngomong!


Aku tadi sarapan telur rebus 15 butir Lu. Karena masih lapar, ku tambah singkong rebus satu piring. Gak ada yang namanya makan bangkai", gerutu Demung Gumbreg segera.


Hemmmmmmm...


"Kau yakin si wajah berewokan itu sudah mati Mbreg?", Tumenggung Ludaka menunjuk ke arah Senopati Sudinata yang pingsan di tempatnya.


"Belum sih tapi aku yakin dia sudah tidak berbahaya lagi bagi kita", ujar Demung Gumbreg dengan santainya.


"Bodoh!!


Dalam perang yang di butuhkan adalah ketegasan. Kalau sampai dia masih hidup dan di kemudian hari dia balas dendam, apa kau masih sanggup menghadapi nya?", mendengar perkataan itu, Demung Gumbreg termenung sejenak. Setelah yakin dengan pikirannya, dia segera mengayunkan pentung saktinya ke arah kepala Senopati Sudinata dengan sekuat tenaga.


Brruuaaaakkkkkkkh!!!!


Hantaman keras Demung Gumbreg langsung meremukkan kepala Senopati Sudinata. Tubuh lelaki berewokan itu kelojotan sebentar sebelum akhirnya diam untuk selamanya.


Perang terus berkecamuk di tapal batas Kotaraja Daha. Namun perlahan, siapa yang unggul dalam perang ini sudah mulai terlihat.


*****


Thhhrrriiiiinnnnngggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!


Denting senjata beradu terdengar nyaring memekakkan gendang telinga. Benturan keras senjata di tangan Panji Manggala Seta yakni Pedang Kelabang Sewu dengan keris pusaka di tangan Mpu Sena menciptakan percikan bunga api kecil.


Kedua pimpinan pasukan yang sedang bertarung ini masing-masing melompat mundur beberapa langkah ke belakang sambil mengatur nafasnya. Panji Manggala Seta unggul dengan tenaga muda nya, sedangkan Mpu Sena unggul dalam hal pengalaman. Keduanya telah bertarung puluhan jurus di tengah peperangan di tepi Sungai Kapulungan yang menjadi medan laga sebelah barat.


"Pangeran putra selir!!!


Ku akui kau memang hebat mampu membuat ku sampai berkeringat seperti ini. Tapi kau bukan lawan yang seimbang untuk ku!", ujar Mpu Sena sembari terus menatap tajam ke arah Panji Manggala Seta.


"Seimbang atau tidak, itu bukan masalah penting hai pemberontak tua!!


Menyerahlah sekarang, sebelum para prajurit mu mati terbunuh sia-sia....", ucap Panji Manggala Seta segera. Mendengar perkataan itu, Mpu Sena langsung naik darah. Dia begitu murka karena disebut sebagai pemberontak tua.


"Bedebah kau Panji Manggala Seta!!


Ku bunuh kau, keparat!!!"