
Semua orang yang ada di dalam tenda besar itu langsung bergegas keluar dengan senjata terhunus termasuk Senopati Badraseta. Bungkik Janadipa yang pertama kali menyadari kehadirannya segera melesat mendahului langkah mereka sambil mengebutkan kipas bambunya ke arah kabut tebal yang menutupi seluruh tempat itu.
Whhhuuuuuusssshhhh!!!
Serangkum angin kencang berhembus dari kibasan kipas bambu Bungkik Janadipa. Kuatnya hembusan angin, membuat kabut di depan tenda besar itu menghilang. Semua orang yang keluar pun tak menemukan sosok yang mereka cari di tempat itu.
"Brengsek! Dia langsung kabur setelah ketahuan!", umpat salah seorang diantara para punggawa Istana Kadipaten Kanjuruhan yang bernama Tumenggung Mondoluku. Pria bertubuh gempal itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dengan tatapan mata beringas seakan ingin mengunyah seseorang.
Bungkik Janadipa yang hidung nya tajam, terlihat mengendus sesuatu. Ada aroma darah samar yang menyebar di udara. Pria bertubuh cebol itu buru buru mengambil obor yang terpasang di pintu masuk tenda besar kemudian menggunakan indra penciumannya untuk mencari apa yang baru saja dia endus.
Benar saja dugaan Bungkik Janadipa. Diatas rerumputan, ada beberapa tetes darah yang menempel. Bungkik Janadipa segera mengusap darah segar itu sembari menyeringai lebar. Lelaki bertubuh cebol itu segera bergegas mendekati Senopati Badraseta sambil menunjukkan adanya darah di tangan nya.
"Dia pasti sudah terkena Jarum Duri Landak ku, Kakang Badraseta. Dia tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari tengah malam ini jika dia berilmu tinggi tapi kalau ilmu nya cetek ya paling di sekitar hutan ini saja pasti sudah mampus", ujar si pria cebol sembari tersenyum penuh kemenangan. Senopati Badraseta yang paham betul dengan kemampuan beladiri adik seperguruan nya itu mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, abaikan saja dia.. Ayo kita teruskan pembicaraan kita di dalam tenda.
Tumenggung Mondoluku, perketat keamanan di tempat kita. Aku tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya", mendengar perintah Senopati Badraseta, perwira tinggi prajurit Kanjuruhan bertubuh gempal itu segera menghormat pada sang pimpinan sebelum bergerak menjalankan tugasnya.
Para perwira tinggi prajurit Kanjuruhan itu segera kembali ke dalam tenda. Namun alangkah terkejutnya Senopati Badraseta saat melihat nawala yang di kirim oleh Patih Simbarmanyura sang warangka praja Jenggala yang ia letakkan di kursi tempat duduknya telah raib entah kemana.
"Na..Nawala itu kemana? Hei, apa ada yang tahu dimana nawala dari Kotaraja Kahuripan?!", teriak Senopati Badraseta dengan panik.
"Jangan-jangan ada orang lain yang masuk ke dalam tempat ini, Gusti Senopati. Atau mungkin juga orang yang di lukai oleh Gusti Penasehat berhasil masuk ke tempat ini?", ujar seorang perwira prajurit berpangkat Bekel.
"Kau jangan sembarangan bicara. Jelas-jelas kita semua ada di depan pintu masuk tenda, bagaimana mungkin ada orang masuk ke dalam tanpa kita ketahui?", hardik seorang lainnya yang sepertinya seorang Juru melihat dari pakaiannya.
"Sudah-sudah jangan ribut!
Sekarang kalian semua periksa semua tempat di sekitar barak. Temukan surat itu segera. Kalau ada yang mencurigakan, cepat laporkan!", titah Senopati Badraseta segera.
"Sendiko dawuh Gusti Senopati", usai berkata demikian, semua perwira yang hadir di tempat itu langsung bergerak memeriksa wilayah sekitar barak prajurit Kadipaten Kanjuruhan. Keributan besar segera terjadi di seluruh barak prajurit Kadipaten Kanjuruhan. Semua tempat di geledah, bahkan sampai kantong kantong kepeng milik para prajurit pun tak luput dari pemeriksaan, namun barang yang di cari tidak ketemu juga.
Sosok bertudung merah yang di panggil Merak Geni terus berdiri di samping Senopati Badraseta untuk menunggu hasil penggeledahan. Setelah menunggu beberapa saat, para punggawa prajurit Kadipaten Kanjuruhan yang ikut menggeledah, berkumpul kembali di depan tenda besar tempat pertemuan mereka. Semuanya melapor bahwa mereka tidak menemukan barang yang mereka cari.
"Merak Geni, tolong kau laporkan kejadian ini kepada Gusti Patih Simbarmanyura. Keberangkatan penyerangan ke Panjalu dari wilayah selatan, menunggu jawaban yang kau bawa dari Kotaraja Kahuripan ", tegas Senopati Badraseta seraya menatap ke arah Merak Geni. Perempuan bertudung merah yang selalu menunduk ke tanah itu hanya mengangguk mengerti. Sebentar kemudian dia sudah melesat cepat bagai terbang meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Merak Geni, Senopati Badraseta segera menoleh ke arah Tumenggung Mondoluku.
"Sebar orang-orang mu ke sekitar tempat ini hingga Kota Tumapel, aku mau bajingan yang mencuri nawala itu ditangkap. Kalau ada yang mencurigakan, tangkap. Kalau melawan, bunuh saja. Aku yang akan bertanggungjawab pada Gusti Adipati", perintah Senopati Badraseta segera.
Tumenggung Mondoluku segera menghormat pada pimpinan tertinggi prajurit Kadipaten Kanjuruhan itu lalu bergegas pergi menata tugas yang dia terima.
Sementara itu, seorang lelaki bertubuh kekar berjalan sempoyongan berusaha menjauhi barak prajurit Kadipaten Kanjuruhan. Tangan kanannya terus membekap dada kanannya. Meski tanpa penerangan sedikitpun dan hanya mengandalkan cahaya bulan yang tinggal separuh di angkasa, lelaki itu terus bergerak menembus kegelapan malam di tengah hutan yang terletak di barat Kota Pakuwon Tumapel.
Sedangkan saat keributan terjadi, Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Halimun nya berhasil mencuri nawala dari Patih Simbarmanyura, sang warangka praja Kerajaan Jenggala, tanpa kesulitan sedikitpun. Dia pun bisa meninggalkan barak prajurit Kadipaten Kanjuruhan tanpa menimbulkan keributan. Setelah menyaksikan geger nya para prajurit Kadipaten Kanjuruhan usai Senopati Badraseta kehilangan nawala, Panji Tejo Laksono yang berdiri di pucuk pepohonan yang menjulang tinggi pada tepi hutan kecil ini, segera melesat cepat kearah tempat rombongan nya berada.
Dengan gerakan tubuh yang segesit burung layang-layang, Panji Tejo Laksono melompat dari satu pucuk pohon besar ke pucuk pepohonan lainnya. Setelah hampir tiga kali tarikan nafas, Panji Tejo Laksono menghentikan laju pergerakan nya. Matanya yang tajam, menangkap pergerakan sesosok bayangan yang terus berjalan tertatih menuju ke arah barat. Sosok itu bahkan sempat terjungkal dua kali namun dia bangkit lagi dan terus berupaya untuk secepatnya meninggalkan tempat itu.
'Siapa dia? Kenapa dia ngotot sekali bergerak ke arah barat? Aku akan terus mengikutinya', batin Panji Tejo Laksono seraya terus mengawasi pergerakan bayangan hitam itu.
Sesampainya di tepi hutan kecil yang merupakan wilayah Wanua Panawijen, lelaki itu langsung berteriak minta tolong.
"Adhi Pritanjala...
Tolong aku Adhi..", setelah terdengar suara itu, dari balik rimbun pepohonan yang gelap, sesosok bayangan lain muncul. Segera dia memapah lelaki yang berjalan sempoyongan.
"Kakang Basuki, kau kenapa?", tanya si bayangan lain itu segera.
"A-aku terkena senjata rahasia dari pendekar cebol di barak prajurit Kadipaten Kanjuruhan. Sepertinya itu senjata beracun Adhi", ujar si lelaki yang dipanggil dengan nama Basuki ini.
"Kalau begitu sebaiknya kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini, Kakang. Mereka pasti akan segera memburu mu", sahut si lelaki bertubuh sedikit lebih pendek dari Basuki yang dipanggil dengan nama Pritanjala ini. Keduanya segera bergegas hendak pergi.
Namun belum genap 4 langkah mereka bergerak, Panji Tejo Laksono yang sedari tadi hanya mengawasi pergerakan mereka melompat turun menghadang.
"Siapa kau? Kenapa menghalangi jalan kami?", hardik Pritanjala dengan nada suara penuh ancaman.
"Harusnya aku yang bertanya, siapa kalian ini? Kenapa sampai kawan mu itu berurusan dengan para prajurit Kadipaten Kanjuruhan?", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah mereka berdua.
Dua orang lelaki itu kaget mendengar pertanyaan Panji Tejo Laksono. Keduanya segera menyadari bahwa Panji Tejo Laksono telah menyaksikan semuanya. Tanpa menunggu lama, Pritanjala segera mencabut keris di pinggangnya dan menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono.
Dua sabetan keris di tangan Pritanjala segera mengarah ke perut Panji Tejo Laksono. Sang pangeran hanya menggeser posisi tubuhnya sedikit ke samping kanan hingga serangan Pritanjala hanya menyambar udara kosong sejengkal di samping Panji Tejo Laksono.
Dengan gerakan cepat, tangan kiri Panji Tejo Laksono langsung mencekal pergelangan tangan kanan Pritanjala lalu memuntir nya ke belakang tubuh si lelaki yang bertubuh sedikit pendek ini.
Aaaarrrgggggghhhhh !!!
"Lepaskan aku bajingan. Tangan ku mau patah ini", Pritanjala mengerang kesakitan akibat puntiran yang di lakukan oleh Panji Tejo Laksono. Keris pusaka nya terjatuh ke tanah.
"Aku sedang tidak ingin membunuh orang. Tapi aku tidak keberatan jika harus mematahkan tulang orang yang tidak bisa di ajak bicara.
Lekas katakan siapa kalian dan apa tujuan kalian memata-matai para prajurit Kadipaten Kanjuruhan?", Panji Tejo Laksono memperkuat puntiran nya hingga Pritanjala kembali meringis menahan sakit. Pritanjala yang kesakitan mulai bicara ,"Ka-kami adalah..."
Melihat Pritanjala hendak bicara, Basuki dengan cepat melemparkan pedang pendek yang sedari tadi dia genggam erat gagang nya ke arah Pritanjala.
Shrrriinnnggg !!
Panji Tejo Laksono yang melihat itu, dengan cepat menarik tubuh Pritanjala hingga pedang itu menancap pada pohon randu di belakang mereka. Mata Basuki menatap bengis ke arah Pritanjala.
"Bagi seorang telik sandi, pantang untuk membocorkan rahasia yang di pegang nya, Pritanjala!! Sekalipun harus mati, tapi itu lebih terhormat daripada harus menjadi seorang pengkhianat", teriak Basuki yang segera mencabut keris di pinggangnya. Rupanya dia ingin membunuh adiknya sendiri. Panji Tejo Laksono pun langsung mengerti bahwa mereka berdua adalah telik sandi.
"Tahan amarah mu, Kisanak!
Apakah kalian telik sandi dari Panjalu?", mendengar pertanyaan Panji Tejo Laksono itu, kedua orang itu sejenak terdiam tanpa berkata apa-apa.
"Kalau benar kalian berdua telik sandi Panjalu, maka kita ada di pihak yang sama. Aku juga orang Panjalu", imbuh Panji Tejo Laksono seraya melepaskan puntiran tangan Pritanjala. Pria bertubuh sedikit pendek ini langsung menarik nafas lega karena siksaan yang di alaminya telah berakhir.
"Apa Kisanak benar-benar orang Panjalu? Jangan coba-coba untuk mengelabuhi kami dengan sikap mu", ujar Basuki yang masih setengah tidak percaya dengan omongan Panji Tejo Laksono. Mendengar itu, Panji Tejo Laksono segera merogoh balik bajunya dan mengeluarkan sebuah lencana emas bergambar Chandrakapala yang merupakan tanda bahwa orang yang memegang nya adalah kerabat dekat Istana Daha.
Meski cahaya bulan separuh hanya temaram di malam itu, namun itu sudah cukup membuat Basuki dan Pritanjala melihat lencana emas di tangan Panji Tejo Laksono. Keduanya segera berlutut dan menyembah pada sang pangeran.
"Mohon ampuni hamba, Gusti Pangeran. Kami benar-benar tidak tahu bahwa kami sedang berhadapan dengan kerabat dekat Istana Daha", ujar Pritanjala segera.
"Sudahlah, kalau kalian benar-benar telik sandi Panjalu, aku sudah cukup senang bisa bertemu dengan kalian.
Sekarang katakan pada ku, apa yang sudah kalian temukan saat memata-matai para prajurit Jenggala itu?", tanya Panji Tejo Laksono.
Basuki segera menceritakan tentang tugas yang sudah dia lakukan dan melaporkan hasilnya pada Panji Tejo Laksono. Melihat Basuki yang batuk-batuk sambil bicara, Panji Tejo Laksono langsung sadar bahwa lelaki bertubuh kekar itu sedang terkena racun.
"Sudah cukup laporan mu, Basuki. Aku akan membantu mu untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh mu.
Duduklah dengan tenang ", setelah mendengar perintah dari Panji Tejo Laksono, Basuki segera duduk bersila memunggungi sang pangeran. Panji Tejo Laksono segera mengerahkan tenaga dalam nya dan menyalurkannya kepada Basuki. Pria bertubuh kekar itu langsung berkeringat saat tenaga dalam tingkat tinggi milik Panji Tejo Laksono masuk ke dalam tubuh nya. Pritanjala di perintahkan untuk membuat luka lebih lebar pada bekas jarum beracun.
Sambil menotok beberapa jalan darah Basuki, Panji Tejo Laksono terus menyalurkan tenaga dalam nya. Darah kehitaman mulai dari keluar dari luka bekas jarum beracun milik Bungkik Janadipa.
Setelah darah kehitaman itu mulai berubah menjadi darah segar biasa, Panji Tejo Laksono segera menghentikan tindakannya menyalurkan tenaga dalam. Wajah Basuki yang memucat karena kehilangan banyak darah, langsung tersenyum karena rasa sesak yang seakan menyumbat saluran pernapasan nya menghilang.
"Meski racunnya sudah keluar, kau sebaiknya tidak menggunakan tenaga dalam mu dalam waktu dekat ini. Saran ku, kuatkan dirimu dan pergilah secepatnya karena para prajurit Jenggala besok pagi pasti akan menyisir wilayah ini.
Usahakan untuk segera melaporkan ini pada Tumenggung Landung di Kota Daha. Ini masalah besar yang perlu segera dipersiapkan untuk mengatasinya", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Kami berterimakasih atas bantuan dari Gusti Pangeran. Kalau begitu, kami akan segera pergi dari tempat ini.
Semoga Hyang Agung selalu memberikan perlindungan kepada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ", ujar Basuki yang mendapat anggukan kepala dari Pritanjala. Kedua telik sandi Panjalu itu segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing usai menyembah pada Panji Tejo Laksono. Mereka berdua segera menggebrak kuda mereka menembus kegelapan malam di tepi hutan kecil perbatasan Wanua Panawijen ke arah barat.
Usai keduanya pergi, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat menuju ke arah tempat rombongan nya bermalam. Kedatangan Panji Tejo Laksono langsung membuat Gayatri bertanya, "Darimana saja Kakang?".
"Ada sesuatu yang perlu di selesaikan. Sudah aku selesaikan dengan baik", ucap Panji Tejo Laksono sambil melepas caping bambu yang selalu dia kenakan. Sriati yang sedari tadi siang memang tidak pernah melihat wajah tampan Panji Tejo Laksono, langsung melongo terpana dengan ketampanan sang pangeran muda. Begitu juga Naratama yang terkesima dengan wajah Panji Tejo Laksono yang langsung menyambar daging babi hutan panggang untuk mengisi perut nya yang keroncongan.
Dyah Kirana yang tidak suka cara pandang Sriati, segera menyikut pinggang putri Lurah Wanua Panawijen ini. Sriati langsung tersadar seketika.
Malam semakin larut, udara di sekitar tempat itu menjadi dingin seperti hendak membekukan setiap jengkal kehidupan yang ada disana hingga pagi menjelang tiba. Langit timur terlihat memerah pertanda sebentar lagi sang Surya akan terbit. Kokok ayam jantan terdengar bersahutan dari arah timur yang merupakan wilayah Kota Pakuwon Tumapel. Di pagi buta itu, rombongan Panji Tejo Laksono dikejutkan dengan suara keras yang seketika membuat mereka bangun dari tidurnya.
"Hei bangun kalian!
Kenapa bermalam di tempat ini ha?"