Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pasukan Jenggala Mulai Bergerak


Ki Samparjagad yang masih bernafas perlahan menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono dengan penuh amarah.


"Bo..cah teng..ngik...


Kehan..curan Pan.. Panjalu ting... tinggal menunggu wak..tuhh... Pan..jalu dan Jeng.. gala akan le..nyap, Kah.. Kahuripan akan kembali ber..diri.....", selepas berkata demikian, Ki Samparjagad terkulai kepalanya. Dia tewas dengan tubuh penuh luka. Darahnya menggenang di bawah tubuhnya.


Setelah Ki Samparjagad tewas, Panji Tejo Laksono komat kamit membaca mantra. Satu persatu makhluk menyeramkan berwujud raksasa kerdil ini mulai menghilang dan menjadi kumpulan kabut putih. Saat makhluk menyeramkan terakhir berubah menjadi kabut, gumpalan kabut putih itu segera bergerak cepat menuju ke arah telinga kanan Panji Tejo Laksono dan bersatu kembali dengan sang pangeran muda dari Kadiri yang telah menjadi wadahnya.


Panji Tejo Laksono langsung menatap ke arah kerumunan para murid Padepokan Ular Siluman yang ketakutan di salah satu sudut tempat itu. Saat Panji Tejo Laksono mulai melangkah mendekati mereka, semuanya segera berlutut di hadapan Panji Tejo Laksono.


"Am-ampuni kami Pendekar..


Kami hanya menjalankan tugas yang diberikan. Tolong biarkan kami hidup", ujar salah seorang diantara anak murid Padepokan Ular Siluman segera. Bersamaan dengan itu, Gayatri, Luh Jingga dan Dyah Kirana mendekati sang pangeran muda dari Kadiri ini.


"Aku akan melepaskan kalian, juga tidak akan mengganggu hidup kalian asal...", Panji Tejo Laksono menghentikan omongannya.


"Asal apa pendekar? Kami akan patuh pada semua perintah mu asal kau mengampuni nyawa kami", sahut perwakilan para murid Padepokan Ular Siluman yang tersisa.


Hemmmmmmm...


"Asal kalian menunjukkan pada ku, dimana tempat orang tua ini menyekap Ayu Ratna.


Cepat katakan pada ku sebelum aku berubah pikiran!", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah mereka.


"Tadi malam, aku melihat Ki Samparjagad membawa seorang wanita muda ke dalam tahanan. Sepertinya perempuan muda itu adalah yang pendekar maksudkan", tukas salah seorang murid Padepokan Ular Siluman segera. Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah murid yang bersuara.


"Kau..!! Tunjukkan jalan ke arah tahanan. Kalau sampai kau berani berdusta, semua kawan kawan mu ini akan menerima akibatnya", mendengar ucapan Panji Tejo Laksono, sang murid itu segera mengangguk dan bangkit dari tempat berlutut nya. Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Gayatri, Luh Jingga dan Dyah Kirana.


"Kalian bertiga, jaga mereka.. Jika ada yang mencoba untuk kabur sebelum Ayu Ratna aku bawa kemari, kalian ku ijinkan untuk berbuat tegas", pesan Panji Tejo Laksono.


"Kau tenang saja, Kangmas. Jika mereka berani macam-macam, pedang ku akan menebas batang leher mereka", sahut Luh Jingga yang membuat para murid Padepokan Ular Siluman yang tersisa semakin ketakutan.


Panji Tejo Laksono langsung mengikuti langkah sang murid Padepokan Ular Siluman yang menjadi penunjuk jalan. Mereka bergegas menuju ke arah sebuah bangunan yang ada di belakang balai utama Padepokan Ular Siluman. Bangunan ini letaknya sedikit terpisah dari berbagai bangunan yang ada di tempat itu.


Dengan sedikit tergesa-gesa, sang murid membuka palang pintu bangunan yang berukuran lumayan besar ini. Mereka segera bergegas menuju ke salah satu ruangan tahanan yang ada di sudut. Mata Panji Tejo Laksono langsung melebar begitu melihat seorang wanita cantik yang dalam keadaan terikat dengan mulut di sumpal kain. Tanpa menunggu lama lagi, Panji Tejo Laksono langsung menghantam kayu yang menjadi penjara itu.


Blllaaaaaarrr !!


Wanita yang tak lain adalah Ayu Ratna sedikit terkejut dengan ledakan keras itu. Namun putri Adipati Aghnibrata ini langsung menangis bahagia begitu melihat siapa yang datang. Panji Tejo Laksono segera bergegas mendekati Ayu Ratna dan secepat mungkin melepaskan tali yang mengikat tubuh perempuan cantik itu. Begitu kain yang menyumpal mulut Ayu Ratna terlepas, tangis Ayu Ratna segera terdengar.


"Huhuhuhuhu Kangmas Pangeran... huhuhuhuhu....


Aku sungguh takut jika tidak bisa bertemu dengan Kangmas Pangeran lagi huhuhuhuhu", isak tangis Ayu Ratna terdengar sendu.


"Sudahlah Dinda Ayu..


Yang paling penting sekarang kita sudah bersama lagi. Sekarang hapus air mata mu ini. Pasti Gayatri, Luh Jingga dan Kirana akan menertawakan mu jika melihat kau cengeng begini", Panji Tejo Laksono segera mengusap kepala Ayu Ratna.


Mendengar ketiga orang madu nya ada di tempat itu juga, Ayu Ratna buru-buru menghentikan tangisannya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Mereka bertiga ada di sini juga? Kangmas Pangeran tidak sedang berbohong kepada ku bukan?", tanya Ayu Ratna yang masih sedikit tak percaya dengan omongan suaminya itu.


"Mereka ada di luar. Ayo kita temui mereka", ujar Panji Tejo Laksono sambil berdiri. Ayu Ratna segera ikut berdiri. Keduanya segera berjalan keluar dari dalam ruang tahanan Padepokan Ular Siluman itu diikuti oleh si murid yang menjadi penunjuk jalan.


Ayu Ratna segera berlari menuju ke Gayatri, Luh Jingga dan Dyah Kirana yang masih berjaga di dekat anak murid Padepokan Ular Siluman yang masih berlutut.


"Kangmbok Gayatri, Kangmbok Luh Jingga dan kau Kirana..


Kalian bertiga ternyata benar benar datang kemari", ucap Ayu Ratna sambil tersenyum lebar.


"Tentu saja, kau adalah saudari kami dan juga salah satu istri Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono. Kami tidak akan pernah membiarkan siapapun yang berani untuk mengganggu ketentraman keluarga kita, Nimas Ayu..", jawab Gayatri sambil tersenyum penuh arti.


"Kalian benar-benar menganggap aku sebagai saudara kalian. Mulai hari ini dan seterusnya aku Ayu Ratna akan selalu mengingat kebaikan hati kalian ini dan menjaga kerukunan antar istri Kangmas Pangeran ", sahut Ayu Ratna segera. Mendengar pernyataan ini, ketiga perempuan cantik itu segera tersenyum lebar.


"Sebaiknya kita segera kembali ke Seloageng. Kasihan Wulandari kerepotan mengurus istana Kadipaten Seloageng sendirian", potong Panji Tejo Laksono yang segera mendapat anggukan kepala dari keempat orang perempuan cantik itu.


"Tunggu dulu Kangmas Pangeran.. Bagaimana dengan mereka?", ucapan Luh Jingga segera membuat Panji Tejo Laksono menoleh ke arah para murid Padepokan Ular Siluman yang masih berlutut di tanah.


"Dengarkan ucapan ku..


Aku membebaskan kalian. Tapi jika di kemudian hari kalian ikut serta dalam pasukan Jenggala yang berangkat ke Panjalu, maka tidak ada ampun lagi untuk kalian semua", ujar Panji Tejo Laksono lantang.


"Kami mengerti Pendekar", ujar seluruh anak murid Padepokan Ular Siluman segera. Panji Tejo Laksono mengangguk mendengar jawaban mereka.


Mulut Panji Tejo Laksono segera komat-kamit merapal mantra Ajian Halimun nya. Tangan kanannya memegang tangan Ayu Ratna sedangkan tangan kiri memegang tangan Gayatri. Tangan Gayatri memegang tangan Luh Jingga dan Dyah Kirana memegang tangan Ayu Ratna dan Luh Jingga. Bersamaan dengan selesainya rapalan mantra Ajian Halimun, kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh mereka berlima.


Sebentar kemudian, mereka berlima sudah menghilang dari pandangan mata semua orang bersamaan dengan angin dingin berdesir perlahan. Para murid Padepokan Ular Siluman yang tersisa pun menarik nafas lega usai melihat kepergian mereka.


****


Nun jauh di Utara, tepatnya di barat daya Kota Kambang Putih, puluhan ribu orang prajurit Jenggala bergerak menuju ke arah perbatasan wilayah antara Jenggala dan Panjalu. Tak kurang 60 ribu orang prajurit bergerak bagai badai yang siap menyapu bersih apa saja yang di lalui nya.


Salah seorang yang mengendarai gajah adalah panglima besar Pasukan Jenggala dari Hujung Galuh yang bernama Senopati Sukmageni. Dia adalah salah satu perwira tinggi prajurit Kadipaten Hujung Galuh yang terkenal di seantero wilayah Jenggala sebagai perwira tinggi yang cakap dalam mengatur taktik peperangan, juga handal dalam pertarungan.


Prabu Samarotsaha mempercayakan posisi panglima besar di ujung trisula utara pada lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal melintang di wajahnya ini. Di samping untuk menguatkan pasukannya di sisi Utara, Prabu Samarotsaha juga menggunakan Senopati Sukmageni sebagai penarik simpati masyarakat Kadipaten Hujung Galuh agar mereka mendukung penuh rencana nya untuk menguasai Panjalu.


Dan rencana Prabu Samarotsaha berhasil karena seluruh rakyat Kadipaten Hujung Galuh mendukung penuh rencana Prabu Samarotsaha dengan sukarela memberikan bantuan berupa bahan makanan dan harta benda mereka.


Di timur wilayah Pakuwon Babat yang menjadi tapal batas wilayah antara Panjalu dan Jenggala, Senopati Sukmageni mengangkat tangan kanannya. Segera prajurit peniup terompet tanduk kerbau menjalankan tugasnya.


Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh!!!


Mendengar isyarat yang terdengar dari terompet tanduk kerbau, para prajurit Jenggala segera menghentikan langkahnya. Sebuah pukulan keras dari bende perang di pukul membuat semua orang menoleh ke arah Senopati Sukmageni yang mengendarai gajah. Pimpinan tertinggi prajurit Jenggala itu nampak menatap ke arah langit barat yang mulai memerah pertanda bahwa senja akan segera turun di cakrawala barat.


Dhhiieeeennnggggg!!


"Semuanya dengarkan perintah ku!!


Para prajurit perlengkapan segera bangun tenda untuk bermalam di tempat ini. Para pimpinan pasukan mengatur anak buah nya sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan.


Untuk semua perwira tinggi dan menengah, selepas malam tiba, semuanya berkumpul di tenda besar untuk mengatur rencana", perintah Senopati Sukmageni segera.


Dhhiieeeennnggggg !!!


Satu kali lagi bende perang berbunyi dan para prajurit perlengkapan segera melaksanakan tugas mereka dengan cekatan. Di Padang rumput yang luas dekat rawa ini, ratusan tenda di dirikan untuk bermalam para prajurit Jenggala.


Semua tindakan ini tidak lepas dari pengamatan dua pasang mata yang sedari tadi terus mengawasi pasukan besar Jenggala ini dari kejauhan. Setelah melihat mereka berkemah di timur Kota Babat, dua pasang mata itu saling berpandangan sejenak tanpa bersuara sedikitpun. Kedua nya segera bergegas meninggalkan tempat itu tanpa menimbulkan suara sama sekali.


Begitu sampai di balik rimbun semak belukar yang ada di dekat hutan kecil di selatan padang rumput nan luas ini, kedua orang telik sandi Panjalu itu segera masuk. Sebentar kemudian mereka keluar sembari menuntun sepasang kuda.


Mereka adalah Winata dan Ki Boma, dua orang anggota Pasukan Lowo Bengi yang di tugaskan oleh Tumenggung Landung untuk menyusup ke dalam wilayah Kadipaten Hujung Galuh. Selain memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, kedua nya juga mahir dalam berkuda cepat hingga Tumenggung Landung mempercayakan penyusupan itu pada mereka.


Keduanya segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing. Dengan segera, keduanya menggebrak hewan pelari cepat ini melesat melintasi jalan setapak yang membelah hutan kecil di selatan Kota Babat.


"Kita tidak boleh membuang waktu, Kakang Boma. Kita harus segera sampai di benteng pertahanan Panjalu secepat mungkin untuk melaporkan pergerakan prajurit Jenggala itu", ujar Winata sambil terus memacu kuda nya secepat mungkin.


"Benar, Winata..


Berita ini harus segera sampai di benteng pertahanan Panjalu. Gusti Senopati Agung Narapraja harus segera mendengar nya", sahut Ki Boma yang juga ikut menggebrak kuda tunggangan nya. Kuda kuda mereka melesat cepat kearah barat.


Begitu sampai di ujung jalan setapak, Ki Boma dan Winata langsung menarik tali kekang kuda mereka. Kuda mereka meringkik keras dan segera menghentikan langkah. 4 orang lelaki bertubuh gempal dengan dandanan serba hitam seperti perampok berdiri menghadang di tengah jalan.


"Kenapa kalian menghalangi jalan kami? Minggir!!", teriak Winata segera.


"Kembali !! Jalan ini di tutup sampai waktu yang tidak ditentukan. Kalau kalian memaksa lewat, tahu sendiri akibatnya ", ujar salah seorang diantara keempat orang lelaki berparas sangar itu segera.


"Memangnya ini jalan nenek moyang mu ha? Aku tidak peduli, pokoknya aku mau lewat", balas Winata dengan cepat.


"Keras kepala!!


Kawan-kawan, bunuh mereka berdua!", teriak lelaki berkumis tebal itu sembari langsung mencabut golok di pinggangnya. Mereka berempat pun segera melompat kearah Winata dan Ki Boma sembari mengayunkan senjata mereka masing-masing ke arah dua orang anggota Pasukan Lowo Bengi ini.


Menggunakan punggung kuda sebagai tumpuan, Winata dan Ki Boma segera melompat tinggi ke udara menghindari sabetan golok keempat orang bertubuh gempal ini.


Melihat dua orang anggota Pasukan Lowo Bengi ini berhasil menghindari serangan mereka, keempat orang itu segera berbalik arah dan mengejar ke arah Winata dan Ki Boma yang baru saja mendarat di tanah. Dua orang langsung mengepung Ki Boma dan dua lainnya memburu ke arah Winata yang sedikit jauh.


Ki Boma dengan cepat mencabut keris di pinggangnya dan menyambut sabetan golok lawan yang dihadapi.


Thrrriiinnnggggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!


Dengan sigap, Ki Boma meladeni permainan silat kedua orang lelaki bertubuh gempal yang mengeroyoknya. Ilmu beladiri nya yang diatas rata-rata prajurit biasa membuatnya tidak kerepotan menghadapi dua orang itu. Dalam lima jurus saja, salah seorang diantara mereka sudah tersungkur ke tanah setelah Ki Boma berhasil menyarangkan kerisnya ke perut lawan.


Pun demikian juga Winata, meski salah seorang diantara lawannya berhasil melukai punggungnya, namun lelaki bertubuh kekar itu berhasil membunuh salah seorang diantara dua orang pengeroyok nya dengan menebas leher si lawan.


Dua orang yang tersisa semakin beringas seakan kesurupan begitu melihat kawan mereka terbunuh. Namun Winata dan Ki Boma yang sudah kenyang makan asam garam pertarungan malah jadi lebih leluasa dalam mempertahankan diri. 4 jurus berikutnya, kedua lawan mereka sudah tewas bersimbah darah.


Sembari mengusap keringat yang membasahi dahinya, Ki Boma yang melihat kalung di salah satu leher lelaki yang mengepung nya, segera menyibak baju yang menutupi liontin kalung orang itu.


Hemmmmmmm


"Antek-antek Jenggala.. Rupanya mereka sudah menebar orang di wilayah timur Kadipaten Bojonegoro ini, Winata. Kita harus lebih berhati-hati", ujar Ki Boma sembari berjalan menuju ke arah kudanya. Segera lelaki berusia sekitar 4 dasawarsa itu melompat ke atas kuda tunggangan nya, menyusul Winata yang sudah lebih dulu menaiki kuda nya.


"Bagaimana luka mu, Winata?", Ki Boma melihat punggung Winata yang terluka.


"Aku tidak apa-apa, Kakang..


Luka ini adalah harga yang harus ku bayar untuk keselamatan rakyat Panjalu", ujar Winata yang segera menggebrak kuda nya mendahului Ki Boma. Kedua orang itu segera memacu kembali kuda kuda mereka ke arah barat. Tujuan mereka berdua hanya satu,


Sampai di benteng pertahanan secepatnya.