
"Minggir !
Jangan halangi tugas kami jika masih ingin selamat! Aku hanya ingin nyawa orang itu!", ucap si gadis cantik pemain kecapi itu segera.
"Kalau kau minggir, kami akan melepaskan kalian! Jika tidak, jangan salahkan kami berbuat kasar pada kalian", sambung si gadis yang memegang seruling.
"Kak Yaoyao,
Untuk apa banyak bicara? Kita habisi saja mereka sekaligus biar tidak menjadi saksi mata perbuatan kita", tukas salah seorang gadis yang menuangkan arak.
"Benar Kak Yaoyao,
Lebih baik kita bunuh mereka semua agar , tidak menjadi duri di perjalanan kita selanjutnya ", sambung seorang gadis penuang arak lainnya.
"Wen Er, Ling Er...
Tutup mulut kalian. Kalian berdua tidak perlu ikut campur dalam urusan mengambil keputusan. Aku pimpinan disini.
Pendekar Berkulit Putih,
Sekarang apa keputusan mu? Tetap memaksa untuk membela Huang Lung atau menyerahkan nya? Cepat jawab sebelum aku berubah pikiran!", gadis pemain kecapi yang dipanggil dengan nama Yaoyao itu menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
Hemmmmmmm...
Panji Tejo Laksono mendengus pelan saja sebelum berbicara, "Dia adalah temanku!"
"Seorang teman tidak akan meninggalkan teman nya yang nyawanya terancam hanya dengan gertakan dari orang yang tidak mengerti apa arti dari sebuah pertemanan.
Seorang teman akan selalu membantu kawannya meski dia sendiri tidak sedang baik baik saja. Dan seorang teman tidak akan pernah berpaling saat kawannya membutuhkan pertolongan.
Itu adalah prinsip pertemanan yang ada di negeri ku!
Jadi jangan harap kau bisa berbuat seenaknya pada teman ku jika aku masih bernafas. Apa kau mengerti?!!"
Mendengar teriakan Panji Tejo Laksono, kaget keempat orang gadis cantik itu. Setelah menguasai dirinya, Yaoyao langsung tersenyum sinis ke arah Panji Tejo Laksono.
"Aku hargai prinsip pertemanan yang kau pegang. Tapi sebelum memikirkan teman mu, sebaiknya kau pikirkan nasib mu sendiri ", ucap Yaoyao sambil menggerakkan jari jemari nya pada senar kecapi.
Jreeenngggggg !
Gelombang kejut dari bunyi nyaring kecapi langsung menerjang ke arah Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka dan Luh Jingga yang memapah tubuh Huang Lung. Mereka bertiga segera melompat menghindari ke arah yang berbeda dari gelombang kejut yang merangsek maju.
Brrruuuaaaaakkkkh !
Hancur meja makan di samping Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan menjadi hancur berkeping keping. Dua orang gadis cantik yang bersenjatakan pedang langsung melesat cepat kearah Tumenggung Ludaka dan Luh Jingga.
Sedangkan Yaoyao dan Qingqing si gadis yang memegang seruling langsung mengarahkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono yang bergerak di arah yang berlawanan dengan Luh Jingga dan Tumenggung Ludaka. Dengan cepat Yaoyao mencabut empat senar dan melemparkannya ke arah Panji Tejo Laksono.
Shrrriinnnggg ! Shrrriinnnggg !
Shriingg shriingg !!
Mudah saja Panji Tejo Laksono menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindari serangan Yaoyao.
Chhreepppppph chhreepppppph !
Empat senar bertenaga dalam itu langsung menancap pada tiang rumah makan itu. Panji Tejo Laksono pun mendarat turun di samping senar kecapi dan menancap dengan santainya. Melihat itu, Yaoyao kembali melakukan serangan dengan senar kecapi nya kali ini dengan senar kecapi yang lebih banyak.
Enam senar kecapi melesat cepat kearah Panji Tejo. Kali ini pun sang pangeran muda dengan lincah melenting tinggi ke udara lalu mengangkangi sepuluh senar kecapi sembari tersenyum tipis.
.
Melihat itu, Qingqing melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan seruling emas nya. Sang pangeran muda dari Kadiri pun meladeni permainan silat jarak dekat melawan Qingqing di atas senar kecapi.
Whuuthhh whuuthhh !!
Plllaaakkkkk plaakk !!
Setiap hantaman seruling emas Qingqing di tangkis oleh Panji Tejo Laksono tanpa kesulitan. Pertarungan sengit jarak dekat di atas senar kecapi itu berlangsung alot. Meskipun Qingqing yang paling ahli dalam pertarungan jarak dekat pun tak sanggup mendaratkan satu pukulan pun ke arah Panji Tejo Laksono. 5 jurus berlalu dengan cepat. Satu kesempatan, Panji Tejo Laksono melihat celah permainan kungfu Qingqing, dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sang pangeran muda dari Kadiri langsung menghantam pinggang Qingqing.
Dhhaaaassshhh !
Aaauuuuggggghhhhh !
Qingqing terlempar dari atas senar kecapi. Melihat saudara seperguruan nya hendak jatuh, Yaoyao langsung mencabut tusuk konde giok nya dan melemparkannya ke arah Panji Tejo Laksono.
Shhhrriinggg !
Panji Tejo Laksono langsung menggunakan senar kecapi sebagai tumpuan dan melenting tinggi ke udara lalu bergelantungan di rangka atap bangunan rumah makan itu untuk menghindari serangan senjata rahasia Yaoyao.
Gadis cantik pemain kecapi itu langsung menyambar tubuh Qingqing sebelum menghantam lantai rumah makan. Ada darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibir Qingqing.
Sementara Panji Tejo Laksono terjun ke arah lantai rumah makan, Yaoyao langsung bergerak menuju kecapi usai menolong Qingqing. Gadis muda itu menyentak senar kecapi nya lalu dengan cepat memasangnya kembali pada kecapi. Qingqing yang merasakan sesak di dada nya langsung mendekati Yaoyao karena tahu apa yang diinginkan pimpinan Empat Gadis Pembunuh itu.
"Qingqing, kita gunakan saja Ilmu Nada Penghancur Jiwa. Sekarang!"
Mendengar teriakan Yaoyao, Qingqing mengangguk mengerti. Yaoyao langsung memetik senar kecapi dengan nada tinggi, sementara Qingqing meniup seruling emas nya. Seketika muncul hawa dingin berbentuk kabut putih yang menyerupai tengkorak memegang pedang melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono.
Melihat lawan mulai mengeluarkan kepandaian ilmu beladiri andalan nya, Panji Tejo Laksono pun merapal mantra Ajian Tapak Dewa Api nya. Hawa panas memutari kedua tangan sang putra tertua Prabu Jayengrana itu saat sinar merah menyala seperti api bergulung gulung di tangan.
Saat kabut putih berbentuk tengkorak manusia bersenjata pedang itu mendekat, Panji Tejo Laksono langsung menghantamkan Ajian Tapak Dewa Api miliknya.
Blllaaaaaarrr !!
Yaoyao dan Qingqing saling pandang. Serangan gabungan mereka yang sanggup membunuh seorang ketua perguruan silat begitu mudah di hancurkan oleh pendekar muda berwajah tampan yang sama sekali tidak mereka dengar namanya di dunia persilatan. Kedua gadis itu pun kembali memainkan kedua alat musik mereka dengan tempo cepat. Puluhan kabut putih berbentuk tengkorak bersenjata pedang muncul dan mereka pun segera menyerbu ke arah Panji Tejo Laksono mengikuti irama musik yang Yaoyao dan Qingqing mainkan.
Panji Tejo Laksono mundur setengah langkah, menata nafasnya lalu sang pangeran muda dari Kadiri itu segera menghantamkan kedua telapak tangan nya bertubi-tubi kearah bayangan putih tengkorak manusia bersenjata pedang yang menyerbu ke arah nya.
Blllaaaaaarrr ! Blllaaaaaarr !
Blllaaammmmmmmm !!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar saat sinar merah menyala Ajian Tapak Dewa Api menghantam bayangan tengkorak manusia bersenjata pedang. Genteng dan dinding rumah makan sampai berderak akibat kerasnya ledakan keras yang tercipta.
Yaoyao dan Qingqing masih juga tak mau menyerah. Mereka berdua terus menerus memainkan alat musik nya meski tenaga dalam mereka semakin terkuras, sementara Panji Tejo Laksono justru terlihat semakin bugar seperti tidak mengeluarkan tenaga dalam sama sekali karena sang pangeran muda dari Kadiri itu merapal mantra Ajian Dewa Naga Langit yang mampu meningkatkan kekuatan tenaga dalam nya hingga berpuluh kali lipat.
Dua sosok gadis pembunuh itu sudah ngos-ngosan mengatur nafasnya sembari terus memainkan alat musik mereka. Akibat kelelahan, keduanya mulai kehilangan kendali atas bayangan tengkorak manusia bersenjata pedang itu. Gerakan mereka menjadi kacau tak tentu arah.
Melihat itu Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra Ajian Halimun nya. Sebuah kabut putih tipis muncul menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Sekejap kemudian tubuh sang pangeran muda menghilang bersama angin semilir yang tiba-tiba berhembus. Yaoyao dan Qingqing kebingungan mencari sosok lawannya yang tiba-tiba menghilang.
Di tengah pencarian mereka atas sosok lawan tandingnya, tiba tiba Panji Tejo Laksono muncul di belakang tubuh mereka berdua dan menghantam bahu kedua gadis cantik itu dengan keras.
Dhiiieeeessshh !
Aaaarrrgggggghhhhh !
Yaoyao dan Qingqing menjerit keras. Dua sosok gadis cantik itu terjungkal ke depan dan menyusruk lantai penginapan. Kecapi dan seruling mereka terlempar. Tubuh keduanya baru berhenti setelah menabrak tubuh Gumbreg yang mabok berat seperti kerbau mati. Dua anggota Gadis Pembunuh itu langsung muntah darah segar. Kedua gadis cantik itu segera menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono yang tersenyum tipis. Ada raut ketakutan setengah mati yang tak terkatakan di wajah kedua gadis itu. Senyuman tipis Panji Tejo Laksono tidak mampu membuat mereka jatuh cinta, tapi mereka melihatnya terasa lebih menakutkan dari senyum seorang malaikat maut.
Setiap langkah kaki Panji Tejo Laksono mendekati mereka berdua membuat jantung mereka berdetak kencang. Bukan karena jatuh cinta tapi lebih pada ketakutan yang teramat sangat.
Saat tinggal beberapa langkah di depan Yaoyao dan Qingqing, empat tusuk konde giok melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono.
Shrrriinnnggg ! Shrrriinnnggg !
Merasakan hawa dingin berdesir kencang kearah nya, tubuh Panji Tejo Laksono langsung menghilang dari pandangan mata semua orang dan muncul kembali 4 langkah di belakang.
Bersamaan dengan itu, muncul sesosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik berbaju merah dengan riasan wajah bak seorang wanita penghibur. Wanita paruh baya itu mendarat di depan Yaoyao dan Qingqing yang segera berusaha berdiri setelah melihat kedatangan nya. Yaoyao dan Qingqing langsung menghormat pada wanita itu segera.
"Hormat kami pada Guru".
Wanita paruh baya berbaju merah itu hanya melirik ke arah mereka berdua sebentar saja sebelum menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
Ling Er dan Wen Er yang menghadapi Tumenggung Ludaka pun langsung bergegas menuju ke arah perempuan berbaju merah itu sembari menghormat pada nya. Keadaan mereka berdua pun tidak lebih baik dari pada Yaoyao dan Qingqing. Beberapa bagian tubuh mereka terdapat beberapa luka sayatan pedang dan masih mengeluarkan darah. Sepertinya Tumenggung Ludaka membuat mereka tak berdaya meski dalam pertarungan satu lawan dua.
"Pendekar muda yang tampan,
Rupanya kau benar benar hebat bisa membuat kedua murid ku tak berdaya. Kalau boleh tau, siapa kau dan dari mana asal mu?", tanya perempuan berbaju merah itu sembari menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.
"Aku hanya orang biasa, bukan orang terkenal. Asal ku jauh dari sebuah pulau di Laut Selatan.
Ada perlu apa kau kemari, Nyonya? Apa kau ingin membela murid murid mu ini?", Panji Tejo Laksono tidak mengendurkan kewaspadaannya.
"Oh pantas saja kau tak mengenal siapa aku. Orang persilatan Daratan Tengah mengenal ku sebagai Dewi Lembah Tanpa Bunga, Ouyang Ling.
Aku datang kemari tentu saja untuk menyelamatkan nyawa murid murid ku, pendekar muda. Apa kau keberatan dengan itu?", ucap Dewi Lembah Tanpa Bunga alias Ouyang Ling dengan nada menantang.
"Ini bukan masalah keberatan atau tidak tapi murid murid mu mengancam nyawa teman ku, tentu saja aku akan membela nya tak peduli dengan siapa pun yang berusaha untuk mencelakai nya", Panji Tejo Laksono terlihat tidak takut sama sekali.
Huhhhhh..
"Dasar orang udik!
Daratan Tengah tidak bisa kau samakan dengan tempat asal mu yang terpencil. Kau mungkin jagoan di dunia asal mu, tapi di Daratan Tengah, belum tentu kau bisa di sebut sebagai pendekar.
Akan ku coba sampai di mana kepandaian ilmu beladiri yang membuat mu begitu angkuh!"
Dewi Lembah Tanpa Bunga langsung mencabut pedang nya dan melesat cepat kearah Panji Tejo sembari mengayunkan pedangnya.
Shreeeeettttthhh !
Selarik aura pedang berhawa dingin melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda langsung melenting tinggi ke udara menghindari sinar pedang yang mengarah pada nya.
Blllaaaaaarrr !!
Meja makan rumah makan yang ada di sudut ruangan langsung hancur berantakan saat sinar pedang Dewi Lembah Tanpa Bunga melabrak kearah nya.
Melihat Panji Tejo Laksono tak bersenjata, Luh Jingga langsung melemparkan pedangnya kearah sang pangeran muda yang masih di udara. Putra sulung Prabu Jayengrana dengan cekatan menyambar pedang Luh Jingga dan mendarat di dekat pintu keluar. Segera Panji Tejo Laksono mencabut pedang Luh Jingga sembari menatap ke arah Dewi Lembah Tanpa Bunga.
"Aku tidak mau ribut dengan siapa pun, tapi jika ada yang mencari masalah dengan ku, aku tidak akan mundur selangkah pun!"
Panji Tejo Laksono langsung memutar tubuhnya dan menggunakan kuda-kuda Ilmu Pedang Tanpa Bayangan saat Dewi Lembah Tanpa Bunga menerjang maju ke arah nya.
Whuuthhh !
Thrrriiinnnggggg ! thrrriiinnnggggg!
Bunyi nyaring terdengar dari benturan dua senjata beradu. Dewi Lembah Tanpa Bunga memburu Panji Tejo Laksono dengan serangan cepat beruntun yang mematikan. Namun Ilmu Pedang Tanpa Bayangan milik Panji Tejo Laksono ajaran Begawan Ganapati bukan ilmu sembarangan. Semakin lama kecepatan serangan Panji Tejo Laksono malah semakin cepat hingga Dewi Lembah Tanpa Bunga Ouyang Ling terkejut bukan main. Kini bukan dia yang mendesak Panji Tejo Laksono, tapi malah semakin mundur karena kecepatan tinggi serangan pedang Panji Tejo Laksono.
Ling Er dan Wen Er yang melihat guru mereka terdesak oleh Panji Tejo Laksono, langsung ikut menerjang maju ke sang pangeran muda dari Kadiri. Pertarungan satu lawan tiga itu berlangsung seru dan menegangkan. Mereka bertiga berusaha membongkar pertahanan sang pangeran muda namun nampaknya sulit sekali mencari celah.
Diam diam Panji Tejo Laksono merapal mantra Ajian Tameng Waja. Sinar kuning keemasan perlahan menutupi seluruh kulit tubuh nya. Dengan sengaja Panji Tejo Laksono membiarkan dua pedang Ling Er dan Wen Er menghujam ke arah punggungnya saat dia menangkis sabetan pedang Dewi Lembah Tanpa Bunga. Ling Er dan Wen Er tersenyum lebar karena merasa Panji Tejo Laksono pasti mati tertusuk pedangnya.
Thhraaaangggggggg!
Mata kedua gadis itu melotot lebar saat melihat pedang mereka seperti membentur lempengan logam keras. Tapi yang lebih membuat mereka terkejut bukan main saat melihat Panji Tejo Laksono menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna merah menyala seperti api kearah mereka berdua.
Blllaaammmmmmmm!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH !!
Ling Er dan Wen Er terpental jauh ke belakang dan menghantam lantai rumah makan itu dengan keras. Kedua gadis muda itu langsung tewas dengan separuh tubuh gosong seperti terbakar api. Sementara itu, Dewi Lembah Tanpa Bunga melompat mundur beberapa langkah sembari menatap tajam ke arah tubuh Panji Tejo Laksono yang diliputi oleh sinar kuning keemasan.
"Ka-kau punya tubuh emas?"