Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Membangun Kembali Rajapura


Mendengar tawaran dari Panji Tejo Laksono itu, keempat perempuan cantik itu langsung tersenyum lebar. Gayatri langsung memberikan isyarat kepada Luh Jingga untuk mendekat ke arah nya. Begitu juga dengan Song Zhao Meng dan Ayu Ratna. Rupanya Gayatri ingin berembug dengan ketiga gadis cantik calon istri Panji Tejo Laksono yang lain.


"Luh Jingga, menurut mu sebaiknya kapan Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono menikahi kita? Aku sih maunya secepat mungkin", ujar Gayatri setengah berbisik pada Luh Jingga, takut suaranya terdengar oleh telinga Panji Tejo Laksono.


"Aku juga ingin begitu, Luh..


Nanti kalau terlalu lama kita tidak sah menjadi istri nya, takutnya nanti akan ada perempuan lain yang mendekati Kangmas Pangeran", imbuh Ayu Ratna segera.


"Aku tahu itu, Nimas Ayu. Tapi kita baru saja berperang.


Kalau kita meminta agar di nikahi secepatnya saat ini, bukankah itu akan terlihat seperti kita kebelet kawin? Bagaimana kalau kita tunggu saja sampai pemulihan Kota Rajapura ini selesai, setelah itu kita menikah dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono di Kalingga?", jawab Luh Jingga segera.


"Aku setuju dengan pendapat mu, Cici Luh..


Menikah butuh waktu dan persiapan yang matang. Untuk Cici Ayu, sebaiknya Cici segera utus orang ke Kalingga untuk menyampaikan ke orang tua Cici agar mempersiapkan pernikahan kita", sahut Song Zhao Meng yang sedari tadi hanya diam mendengarkan omongan ketiga orang gadis cantik itu.


Mendengar perkataan Song Zhao Meng, Luh Jingga dan Gayatri mengangguk mengerti sedangkan Ayu Ratna malah mengerutkan keningnya.


"Kau kenapa Nimas Ayu?", tanya Luh Jingga yang keheranan dengan sikap Ayu Ratna.


"Aku tidak masalah dengan pendapat kalian. Tapi siapa yang akan berangkat ke Kalingga untuk menyampaikan berita ini?", ujar Ayu Ratna sembari menoleh ke arah ketiga wanita calon madu nya.


"Aku akan bicara pada Paman Landung atau Paman Ludaka. Ayah ku sedang berada di sini, jadi tidak enak kalau sampai dia tahu masalah ini", tukas Gayatri sembari tersenyum tipis. Mendengar perkataan Gayatri, ketiga orang gadis cantik itu tersenyum lebar lalu mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono yang sedang mencuci muka.


Mereka semua segera mendekati sang pangeran muda dari Kadiri itu.


"Kangmas Pangeran Tejo Laksono,


Kami sudah memutuskan untuk pernikahan kita di lakukan di Kalingga sambil menunggu penataan kembali wilayah Rajapura. Gayatri akan meminta bantuan Paman Landung untuk menyampaikan berita itu kepada Kanjeng Romo Adipati Aghnibrata", ujar Ayu Ratna mewakili tiga orang gadis lain di sebelahnya.


"Baiklah kalau begitu, aku ikut saja keinginan kalian", jawab Panji Tejo Laksono segera.


"Tapi tunggu dulu Kangmas Pangeran..


Untuk selanjutnya dalam hal melayani kebutuhan mu, aku dan ketiga saudari ku akan berbagi waktu kecuali jika ada keadaan istimewa seperti peperangan seperti ini. Yang tidak ada jatah waktu, di larang mengganggu. Kalau ada hal mendesak, silahkan sampaikan kepada yang melayani. Aku yang akan menentukan hari apa kita bersama dengan Kangmas Pangeran.


Kalian setuju bukan?", Ayu Ratna mengalihkan pandangannya pada ketiga gadis cantik yang berada di sisinya. Ketiganya kompak tersenyum dan mengangguk mengerti dengan perkataan Ayu Ratna.


Dan demikianlah, rencana pernikahan Panji Tejo Laksono dengan keempat orang calon istri nya yakni Gayatri, Ayu Ratna, Luh Jingga dan Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari di gelar setelah penataan kembali wilayah Rajapura di Kadipaten Kalingga. Para calon istri nya pun tidak egois dengan memaksakan kehendak untuk segera menjadi istri sang pangeran muda dari Kadiri itu karena mereka tahu bahwa saat ini Rajapura memerlukan penataan kembali setelah perang saudara yang menyebabkan penderitaan para rakyat nya.


Sesuai dengan petunjuk dari Senopati Agung Narapraja, para prajurit Panjalu yang ikut serta dalam peperangan ini di pulangkan saja ke Kadiri. Senopati Agung Narapraja yang akan memimpin langsung mereka. Sedangkan Pasukan Garuda Panjalu dan Pasukan Lowo Bengi di tugaskan untuk mengawal putra sulung Prabu Jayengrana itu selama menjadi penguasa sementara Kadipaten Rajapura sambil menunggu keputusan dari Prabu Jayengrana tentang siapa yang akan di tunjuk sebagai Adipati Rajapura selanjutnya.


Kematian Adipati Waramukti sendiri mengakibatkan terjadinya pelarian para anggota keluarga Istana Rajapura hingga istana nyaris kosong tanpa penghuni. Menyisakan beberapa pelayan dan dayang istana yang tidak ikut kabur. Para anggota keluarga Adipati Waramukti itu ketakutan akan mendapat hukuman mati sebagai akibat dari ulah bekas penguasa Kadipaten Rajapura ini.


Mendengar usulan Senopati Agung Narapraja, Panji Tejo Laksono yang memimpin pertemuan para perwira di ruang pribadi Adipati Rajapura yang tidak ikut hancur, nampak menghela nafas panjang. Dia segera menoleh ke arah Mapanji Jayawarsa yang ikut serta dalam pertemuan sore hari itu.


"Dhimas Jayawarsa, bagaimana dengan pendapat mu?


Atau kau ingin menggantikan ku untuk menata kembali Rajapura sembari menunggu keputusan Kanjeng Romo Prabu?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menoleh ke arah Mapanji Jayawarsa. Kaget Mapanji Jayawarsa mendengar ucapan itu, namun dia segera menguasai dirinya dan tersenyum tipis.


"A-aku percaya dengan kemampuan Kangmas Tejo Laksono..


Lagipula istri ku Dewi Rara Muninggar sedang hamil muda dan menunggu kedatangan ku di Bojonegoro, Kangmas. Jadi aku tidak bisa menggantikan posisi Kangmas Tejo Laksono disini", alasan Mapanji Jayawarsa segera. Para nayaka praja Panjalu yang mendengar jawaban Mapanji Jayawarsa hanya menundukkan wajahnya sembari tersenyum mengejek. Mereka semua tahu bahwa itu hanyalah akal bulus Mapanji Jayawarsa agar tidak di bebani tanggungjawab.


Panji Tejo Laksono beserta para pembesar Panjalu yang tinggal mengantar kepergian mereka hingga ke tapal batas kota.


"Hati-hati selama memimpin di tempat ini, Gusti Pangeran..


Banyak sekali ancaman bahaya yang mungkin bisa terjadi kapan saja. Kita tidak tahu apa yang di rencanakan keturunan Adipati Waramukti dengan kabur dari istana", Senopati Agung Narapraja menasehati Panji Tejo Laksono.


"Aku mengerti, Paman..


Sampaikan salam hormat kepada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana dan Kanjeng Ratu Anggarawati. Katakan pada mereka, begitu selesai aku menata kembali Rajapura, aku pasti akan segera pulang ke Kadiri ", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


"Akan hamba sampaikan, Gusti Pangeran. Kalau begitu hamba mohon pamit ", Senopati Agung Narapraja segera menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum melompat ke atas kuda nya. Panji Tejo Laksono langsung mengangkat tangan kanannya sebagai tanda restu dari nya.


Rombongan pasukan Panjalu pun bergerak meninggalkan Kota Rajapura. Setelah hampir 500 depa jauhnya dari tapal batas Kota Rajapura, Mapanji Jayawarsa menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di sana.


'Kangmas Tejo Laksono, kau unggul saat ini. Tunggu beberapa waktu lagi, aku akan mengalahkan mu'


Setelah membatin seperti itu, Mapanji Jayawarsa kembali melanjutkan perjalanan nya. Rombongan besar pasukan Panjalu terus bergerak hingga mereka menghilang dari pandangan di balik tikungan jalan.


Sembari menunggu kedatangan nawala dari Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana, Panji Tejo Laksono di bantu oleh para perwira tinggi prajurit Panjalu yang masih tinggal di Rajapura membangun kembali bangunan bangunan yang rusak parah akibat perang. Dengan kecakapan yang di miliki oleh Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Tumenggung Sindupraja ayah Gayatri, pembangunan berjalan cepat. Hanya dalam waktu satu purnama saja setelah pulangnya pasukan Panjalu, puluhan rumah sudah kembali berdiri di Kota Rajapura.


Rakryan Purusoma bertugas menyediakan bahan baku bangunan seperti kayu dan bambu yang banyak di temukan di sekitar Hutan Koncar dan barat Kota Rajapura. Di bantu oleh ratusan orang prajurit dan masyarakat Kota Rajapura, mereka bahu membahu mengumpulkan kayu, bambu, ijuk dan ilalang yang menjadi bahan baku utama dari sebuah rumah.


Demung Gumbreg sendiri bertugas sebagai pengatur penyedia makanan yang di sajikan untuk para pekerja dan para prajurit Panjalu yang membantu penduduk Kota Rajapura membangun rumah rumah mereka. Para wanita Panji Tejo Laksono pun turut membantu kelancaran pelaksanaan tugas yang diberikan kepada Demung Gumbreg.


Siang itu, para perempuan Rajapura yang tengah memasak makanan untuk para pekerja sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing saat Luh Jingga dan Gayatri datang. Dua orang perempuan cantik itu segera melipat kedua lengan bajunya dan turun membantu pekerjaan. Seorang gadis muda berkulit hitam manis langsung mendekati mereka.


"Maafkan saya jika lancang Gusti Putri tapi sebaiknya Gusti Putri berdua tidak perlu repot-repot ikut membantu kami. Takut kalau kulit tangan Gusti Putri yang halus jadi kapalan seperti kami", ujar si gadis muda hitam manis yang bernama Ranti ini.


"Ah tidak apa-apa, Ranti..


Kita semua saling membantu satu sama lain disini. Meski aku tinggal di Kotaraja Daha, namun aku sudah biasa mengurus dapur untuk makanan sehari hari. Jadi kau tidak perlu mencemaskan kami", jawab Gayatri sambil tersenyum simpul.


"Tapi Gusti Putri, nanti saya kena marah lagi sama Gusti perwira yang bertubuh gendut itu karena membiarkan Gusti Putri berdua turut bekerja seperti hamba ", ujar Ranti segera. Raut wajahnya terlihat ketakutan.


"Maksud mu Paman Gumbreg?", tanya Luh Jingga sembari menatap ke arah Ranti yang duduk bersimpuh di hadapan nya.


"Iya Gusti Putri.. Kemarin hamba kena marah karena membiarkan Gusti Putri berdua ikut membantu menyiapkan makanan", jawab Ranti takut-takut.


Hemmmmmmm...


"Ini tidak boleh di biarkan Gayatri..


Aku tidak suka jika diperlakukan seperti seorang wanita lemah yang hanya bisa bermanja-manja", ucap Luh Jingga yang memang kurang suka dengan sikap berlebihan. Ini karena dia sudah terbiasa hidup sederhana di Padepokan Bukit Penampihan.


"Kau benar, Luh.. Kita harus menemui Paman Gumbreg untuk memberi tahu dia", Gayatri segera berdiri dari tempat duduknya.


Saat itu Demung Gumbreg yang baru pulang dari mengantarkan makanan bersama para prajurit perbekalan, melompat turun dari kuda tunggangan nya. Melihat kedatangan Demung Gumbreg, Gayatri dan Luh Jingga segera berjalan mendekati nya. Dengan muka masam, Gayatri langsung berkata,


"Paman Gumbreg,


Apa maksud paman melarang kami ikut membantu para juru masak ini?"