Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Kisah Kelam Anggrek Perak


Seketika semua orang menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan mata penuh tanda tanya. Adakah rahasia tersembunyi diantara mereka berdua? Ini yang menggelayut di benak semua orang yang ada di tempat itu termasuk Panji Tejo Laksono.


Kisahnya bermula sekitar 20 tahun yang lalu..


Kala itu, Anggrek Perak yang masih muda terpesona dengan ketampanan Panji Watugunung sang pangeran muda yang pernah berkunjung ke Padepokan Anggrek Bulan. Namun, karena kalah bersaing dengan Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati yang memiliki kecantikan begitu sempurna dan ilmu kanuragan yang tinggi, Anggrek Perak memilih untuk memendam perasaan nya pada Yuwaraja Panjalu itu.


Anggrek Perak lantas memilih untuk bertapa untuk meningkatkan kemampuan beladiri nya. Selain berharap bisa menghilangkan perasaan nya pada Panji Watugunung, dia juga ingin memamerkan kemampuan beladiri kelak di hadapan Panji Watugunung.


Hampir selama 5 tahun lamanya, Anggrek Perak terus menempa dirinya di dalam goa pertapaan dan berlatih keras. Hasilnya dia menjadi pendekar wanita yang menguasai ilmu ajian Padepokan Anggrek Bulan dengan sempurna juga memiliki kemampuan ilmu silat yang tinggi. Kakak seperguruan nya saja, Anggrek Emas, bukan lagi tandingan nya. Bahkan Empat Dewi Penjaga Penjuru Padepokan Anggrek Bulan pun tak sanggup lagi mengalahkannya.


Setelah itu, Anggrek Perak bergegas menuju ke arah Kotaraja Daha untuk mencari keberadaan sang pangeran muda namun sayangnya Panji Watugunung sedang mengatasi pemberontakan Adipati Gandakusuma dari Paguhan yang ingin memisahkan diri dari kedaulatan Kerajaan Panjalu.


Setelah tidak menemukan apa yang dia cari, Anggrek Perak berkelana hingga ke wilayah Jenggala. Sepak terjangnya sebagai pendekar wanita yang tangguh membuatnya memiliki banyak musuh. Salah satunya adalah Empat Pedang Cabul dari Lembah Bunga Cinta di lereng timur Gunung Kawi. Empat pendekar ini terkenal suka memperkosa para wanita cantik. Selain mereka memiliki paras wajah yang rupawan, mereka juga ahli menggunakan racun yang biasa mereka gunakan untuk mendapatkan mangsa.


Ketika Anggrek Perak bertemu dengan mereka di barat Pakuwon Tumapel, saat itu Anggrek Perak melihat Empat Pedang Cabul hendak memperkosa beberapa gadis desa yang berhasil mereka tangkap. Dengan amarah yang luar biasa, Anggrek Perak mengamuk bagaikan singa betina yang kelaparan. Dua orang Pedang Cabul berhasil di bunuhnya. Sedangkan sisa dua orang lagi dengan licik meracuni Anggrek Perak dengan bubuk racun pelemas tenaga yang membuat Anggrek Perak tak berdaya menghadapi mereka.


Keduanya berhasil membuat Anggrek Perak pingsan dan membawa tubuh perempuan cantik itu ke arah barat.


Saat Anggrek Perak siuman dari pingsannya, dia mendapati tubuhnya tak tertutup sehelai benangpun. Pangkal pahanya pun terasa perih dengan darah mengering di bawahnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Saat itu Anggrek Perak melihat sosok Ki Jatmika sedang mengenakan pakaian nya dengan tubuh penuh peluh membasahi tak jauh dari tempat nya berada.


Murka karena merasa di nodai kesuciannya oleh Ki Jatmika, Anggrek Perak segera memakai pakaiannya yang berserakan di sekitar tempat tidurnya. Dia sudah memiliki sedikit tenaga setelah pengaruh bubuk racun pelemas tenaga mulai hilang, dengan cepat menerjang maju ke arah Ki Jatmika. Pertarungan sengit pun terjadi antara mereka.


Meski Ki Jatmika berusaha keras untuk menjelaskan semuanya namun Anggrek Perak tidak mau mendengarnya sama sekali. Capek dengan keras kepala perempuan itu, Ki Jatmika segera kabur meninggalkan tempat itu.


Meski setelah itu Anggrek Perak mencari keberadaan Ki Jatmika, namun lelaki itu bagai menghilang di telan bumi. Lelah dengan pencarian nya, Anggrek Perak memutuskan untuk kembali ke Padepokan Anggrek Bulan dan mereka bertemu lagi hari ini.


"Tahan emosi mu, Nyi Dewi..


Ini adalah kawan seperjalanan ku. Kalau ada permasalahan sebaiknya kita bicarakan baik-baik", ucap Panji Tejo Laksono segera.


"Untuk bajingan tua ini, hanya ada satu kata.


MATI..!!", ucap Anggrek Perak yang dengan cepat melesat ke arah Ki Jatmika sambil membabatkan pedang nya ke arah leher lelaki paruh baya itu.


Shhrreeettthhh..


Ki Jatmika menekuk lutut nya menghindari sabetan pedang Anggrek Perak. Lelaki paruh baya itu segera mendorong tubuh Anggrek Perak hingga perempuan itu terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Sepertinya dia tidak berniat untuk bertarung melawan Anggrek Perak.


"Sabar dulu, Nyi...


Dengar dulu penjelasan ku..", ujar Ki Jatmika berupaya untuk menenangkan perasaan Anggrek Perak yang bergejolak.


"Bajingan tengik, kau berani menyentuh kulit ku?!!


Akan ku cincang tangan kotor mu itu keparat!!", Anggrek Perak meraung keras sembari kembali melesat cepat kearah Ki Jatmika. Pedang bergagang perak di tangan kanannya segera terayun ke arah kepala Ki Jatmika yang baru saja berdiri.


Ki Jatmika menghela nafas panjang sebelum akhirnya menutup mata. Dia pasrah dengan apa yang akan terjadi di depan mata nya. Dia sudah lelah dengan semua permasalahan ini. Melihat itu, Panji Tejo Laksono melesat cepat menghadang serangan Anggrek Perak dengan tubuh yang bersinar kuning keemasan di depan Ki Jatmika.


Thhraaaangggggggg!!!


Ujung pedang Anggrek Perak yang membentur kulit leher Panji Tejo Laksono terdengar seperti tengah membentur logam yang keras. Mata semua orang terbelalak lebar melihat kejadian ini. Andai saja Panji Tejo Laksono tidak menggunakan Ajian Tameng Waja nya tentu kepalanya sudah terpotong oleh pedang Anggrek Perak yang tajam.


Anggrek Perak langsung mundur beberapa langkah dan menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Dia segera teringat akan kemasyhuran kemampuan beladiri Prabu Jayengrana yang tak mempan dengan tajamnya pedang dan ilmu kanuragan.


Plookkkk plokkk plookkkk...


Terdengar tepukan tangan berulang kali dari arah dalam bangunan utama Padepokan Anggrek Bulan dan semua orang segera menoleh ke arah sumber suara.


Anggrek Perak, Anggrek Emas dan Anggrek Kuning serta Anggrek Lembayung yang baru saja datang langsung menghormat pada sesosok perempuan muda nan cantik luar biasa yang melangkah keluar dari dalam bilik kamar utama.


"Hormat kami Guru..!!"


Perempuan cantik itu hanya mengibaskan tangannya saat menerima penghormatan terhadap nya dan terus berjalan mendekati Panji Tejo Laksono, Ki Jatmika dan Dyah Kirana serta Song Zhao Meng. Tanpa ragu, dia segera mendekati Panji Tejo Laksono dan mengelus pipi sang pangeran muda.


"Wah kau setampan ayah mu, buyut ku hehehehe", ucap perempuan cantik yang tak lain adalah Dewi Anggrek Bulan sembari tersenyum simpul.


HAAAAAAHHHHHHHH..???!!!


"Buyut???


K-kau ini adalah Dewi Anggrek Bulan, nenek buyut Kakang Tejo Laksono?", Dyah Kirana tak percaya dengan omongan Dewi Anggrek Bulan. Selama mengembara, Dyah Kirana memang tidak boleh menyebut Panji Tejo Laksono dengan sebutan Gusti Pangeran.


"Memang iya aku nenek buyut nya. Kau ada masalah dengan itu?", Dewi Anggrek Bulan sedikit mendelik pada Dyah Kirana.


"Bukan begitu maksud nya, Nini Dewi. Kirana sama sekali tidak mempermasalahkannya. Hanya saja Nini Dewi terlihat seperti seorang gadis remaja", Panji Tejo Laksono menggaruk-garuk kepalanya, bingung mau berkata apa.


Memang Panji Tejo Laksono masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana tidak, gadis muda yang cantik ini dengan usia sekitar 16-17 tahun telah mengaku sebagai nenek buyut nya.


"Hehehehe..


Kenapa?? Kau tidak percaya dengan omongan ku? Bapak mu saja dulu juga begitu saat pertama kali melihat ku..


Katakan pada ku, kau anak dari siapa? Saat kemari bapak mu membawa 3 perempuan cantik yaitu Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang", tanya Dewi Anggrek Bulan sambil menekan jidat Panji Tejo Laksono ke belakang.


"Hehehehe... Pantas saja aku melihat bola mata mu kecoklatan itu mirip dengan milik Anggarawati..


Sekarang semuanya masuk ke dalam kediaman utama termasuk kau juga Jatmika. Aku sudah melihat permasalahan antara kau dan Anggrek Perak. Aku ingin kalian berdua bercerita tentang kejadian itu sejujurnya dan setelah itu, biar buyut ku yang calon raja Panjalu ini akan mengadili perkara nya", ujar Dewi Anggrek Bulan yang segera berbalik badan dan melangkah ke arah kediamannya.


Kaget Ki Jatmika mendengar ucapan Dewi Anggrek Bulan soal Panji Tejo Laksono, namun lelaki paruh baya itu memilih untuk tidak bertanya lebih jauh sebelum permasalahan nya dengan Anggrek Perak selesai. Dia mengekor di belakang mereka semua menuju di kediaman utama Padepokan Anggrek Bulan.


Begitu semuanya telah duduk bersila di kursi yang ada di tempat itu, Dewi Anggrek Bulan segera bicara.


"Silahkan kalian bercerita tentang kejadian yang terjadi 15 tahun yang lalu itu. Mulai dari kamu Anggrek Perak".


Anggrek Perak menghela nafas panjang sebelum akhirnya bercerita. Luka batin yang dia pendam selama 20 tahun akhirnya harus di korek lagi. Meskipun sakit, dia harus melakukannya untuk mendapatkan keadilan. Seperti yang telah di ceritakan tadi, Anggrek Perak mengakhiri cerita dengan air mata yang berlinang membasahi pipinya.


"Sudah cukup, Perak..


Sekarang ceritakan pada kami sejujurnya mengenai hal itu, Jatmika. Jangan coba berbohong sedikitpun karena aku bisa mengetahui nya. Saat itu terjadi, aku tidak akan segan-segan untuk mencabut nyawa mu", ucap Dewi Anggrek Bulan sembari menatap tajam ke arah Ki Jatmika yang duduk di samping Panji Tejo Laksono.


"Begini Nyi Dewi..


Cerita yang di ungkapkan oleh Nini Anggrek Perak itu semuanya benar hanya saja kurang tepat di bagian dia pingsan.


Kala itu, saya yang sedang berburu rusa di barat hutan Pakuwon Tumapel melihat dua orang lelaki sedang memperkosa Nini Anggrek Perak yang sedang tak sadarkan diri.


Karena marah melihat kelakuan bejat mereka, saya marah dan menyerang mereka. Kami bertarung dengan sepenuh tenaga. Saya berhasil membunuh salah seorang diantara mereka hingga muntahan darahnya menyiprat ke baju saya. Sedangkan seorang lagi berhasil kabur dengan beberapa luka.


Karena baju saya penuh dengan darah, saya terpaksa melepaskan nya karena saya tidak suka dengan bau amis darah. Saat itu, Nini Anggrek Perak bangun dan melihat saya tidak memakai baju dengan tubuh penuh peluh sehabis bertarung melawan Pedang Cabul dari Lembah Bunga Cinta itu.


Demikianlah kebenaran nya, Nyi Dewi. Saat itu saya sudah berusaha untuk menjelaskan nya pada Nini Anggrek Perak. Tapi dia tidak mau menerima penjelasan saya dan terus menyerang ke arah saya hingga saya terpaksa kabur dari tempat itu", ujar Ki Jatmika sambil menghormat pada Dewi Anggrek Bulan.


"Bohong!


Itu pasti hanya karangan mu saja, bajingan tua! Aku akan membalaskan dendam ku pada mu hari ini juga!!", teriak Anggrek Perak dengan penuh amarah.


"Perak, CUKUP!!!


Apa kau sudah tidak memandang ku lagi sebagai guru mu ha?", mata Dewi Anggrek Bulan mendelik kereng pada Anggrek Perak.


"Murid tidak berani Guru...", ucap Anggrek Perak sambil menunduk. Setelah itu, Dewi Anggrek Bulan menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


'Buyut Pangeran, Ki Jatmika tidak berbohong. Dia mengatakan hal yang sejujurnya. Sekarang terserah padamu bagaimana kau mengadilinya', suara Dewi Anggrek Bulan terdengar di telinga Panji Tejo Laksono. Rupanya perempuan cantik yang berusia ratusan tahun itu juga menguasai Ajian Bayu Swara seperti halnya dengan Prabu Jayengrana maupun Panji Tejo Laksono.


Mendengar ucapan Dewi Anggrek Bulan, Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti.


"Menimbang setiap cerita dari Ki Jatmika dan Nini Anggrek Perak, aku telah melihat duduk perkara yang sebenarnya.


Jadi dendam Nini Dewi Anggrek Perak pada Ki Jatmika itu adalah kesalahpahaman belaka. Ki Jatmika sudah jujur bahkan menolong Nini Dewi Anggrek Perak dari tindakan keji Pedang Cabul dari Lembah Bunga Cinta. Karena itu, untuk Nini Dewi Anggrek Perak mulai saat ini hentikanlah permusuhan antara kalian. Aku harap kalian di masa depan akan menjadi teman.


Untuk Ki Jatmika, aku sudah meluruskan kesalahpahaman antara kalian. Mohon maafkan Nini Anggrek Perak untuk sikapnya selama ini", ujar Panji Tejo Laksono dengan suara penuh kewibawaan.


"Aku sudah memaafkan nya sejak lama, Pendekar Tejo..


Aku bahkan sudah membunuh sisa anggota Empat Pedang Cabul dari Lembah Bunga Cinta itu untuk membantu Nini Anggrek Perak. Kau sendiri kemarin juga melihat bahwa Mustakajaya, adik seperguruan Pedang Cabul yang terakhir, terus memburu ku karena ingin balas dendam kematian saudara seperguruannya", ujar Ki Jatmika sambil menghormat tulus pada Panji Tejo Laksono.


Hemmmmmmm


"Jadi itu sebabnya orang berkepala plontos itu mencari mu, Ki Jatmika. Tak ku sangka masih ada kaitannya dengan Nini Anggrek Perak.


Nah Nini Anggrek Perak, apa kau sudah merasa lega sekarang?", Panji Tejo Laksono mengalihkan pandangannya pada Anggrek Perak.


"Aku sungguh tidak menduga bahwa dendam ku selama puluhan tahun silam pada Ki Jatmika adalah dendam yang salah sasaran. Untung saja tadi Gusti Pangeran menghalangi niat ku untuk membunuh Ki Jatmika. Andai saja tidak, pasti aku akan merasa berdosa seumur hidup ku", ucap Anggrek Perak sembari tersenyum.


"Syukurlah semuanya berakhir dengan baik.. Semoga ke depannya, kalian berdua bisa menjadi teman yang baik.


Urusan mereka sekarang sudah selesai. Sekarang tinggal urusan kita berdua, Eyang Buyut", Panji Tejo Laksono menatap wajah cantik Dewi Anggrek Bulan.


"Kog urusan kita? Memang kita ada masalah apa?", tanya Dewi Anggrek Bulan segera.


"Haaaiisshhh..


Eyang Buyut jangan pura-pura pikun ya.. Bukankah kau yang memanggil ku jauh-jauh untuk datang kemari? Jangan bilang kalau Eyang Buyut hanya kangen dan ingin bertemu dengan ku..", rona muka Panji Tejo Laksono buruk sekali saat bicara seperti itu.


"Hehehehe oh iya ya, aku nyaris lupa dengan itu. Hahahaha, jangan salahkan aku lupa seperti ini. Salahkan saja si Anggrek Perak dan Jatmika yang mengalihkan perhatian ku", Dewi Anggrek Bulan terkekeh kecil.


"Sudah jangan berbelit-belit Eyang Buyut..


Cepat katakan keperluan mu. Nanti kau lupa lagi huhhhhh", gerutu Panji Tejo Laksono segera. Dewi Anggrek Bulan tersenyum penuh arti mendengar gerutu buyutnya itu.


"Aku memanggil mu kemari karena satu purnama lalu,


Aku mendapat wangsit...".