
Dua orang lelaki berwajah seram itu segera bergegas menuju ke sebuah pantai di balik bukit yang berada tak terlalu jauh dari Pelabuhan Tumasik dengan terburu-buru. Setelah sampai di sana, mereka berdua segera bergegas setengah berlari menuju ke sebuah dermaga sederhana dimana sebuah perahu besar berbendera merah dengan sulaman benang putih membentuk pedang bersilang terikat pada salah satu tiang pancang nya. Itu adalah kapal Bajak Laut Tsang.
Bajak Laut Tsang adalah kelompok perompak laut yang terdiri dari orang-orang Tionghoa yang melarikan diri menggunakan kapal dari Daratan Tiongkok setelah terlibat dalam sebuah peristiwa pemberontakan yang berhasil di padamkan oleh Kaisar Song. Setelah sempat terlunta-lunta di beberapa kerajaan di sepanjang rute pelarian mereka, Pimpinan mereka, Tsang Hung, yang di tuakan dalam kelompok itu akhirnya memutuskan untuk memimpin kelompok ini menjadi bajak laut untuk melanjutkan mimpi mereka meruntuhkan kekuasaan Kekaisaran Song dengan mengganggu semua orang orang Kekaisaran Song yang berani melintas di Laut China Selatan dan Selat Malaka. Jadi bisa di katakan bahwa Bajak Laut Tsang hanya mengincar bangsawan China untuk membalas dendam kematian saudara saudara mereka yang terbunuh dalam pemberontakan mereka.
Pusat kelompok bajak laut ini memang ada di pulau Tumasik, tak jauh dari Pelabuhan Tumasik yang menjadi tempat persinggahan para pelaut yang hendak menuju ke Daratan Tiongkok atau sebaliknya.
Seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan beberapa bekas luka di wajahnya nampak sedang duduk memandang laut lepas dari atas geladak kapal. Kumisnya yang memanjang dengan rambut di kepang ekor kuda semakin menambah seramnya sang lelaki paruh baya ini. Di depan dada, sebuah selempang kulit berisi puluhan pisau belati. Sebuah pedang berbentuk melengkung nampak tersarung rapi di meja dekat kursi kayu tempat duduknya. Dia adalah Tsang Hung, pimpinan kelompok Bajak Laut Tsang yang sangat di takuti oleh para pedagang China yang melintasi selat Malaka ataupun Laut China Selatan.
Siang itu Tsang Hung sedang asyik menyesap arak yang yang dia dapat saat merompak saudagar China kaya yang melintas Pulau Tumasik dari India. Dari perompakan itu, ratusan perhiasan emas dan permata juga gading gajah berhasil dia rampas. Juga beberapa ikat kain katun halus dan beberapa peti kayu teh dari daerah Assam yang terkenal di dunia kala itu. Selain itu ada beberapa guci arak berkualitas tinggi yang berhasil di rampas. Tsang Hung selalu kejam, membantai seluruh awak kapal saudagar China yang naas itu tanpa ampun, lalu menenggelamkan kapal nya.
Saat Tsang Hung meletakkan cawan arak nya, dari arah pintu muncul dua orang anak buah nya dengan nafas terengah-engah.
"Ketua, ada berita penting! Hufffttt...!!"
Tsang Hung yang kesal karena merasa terganggu oleh kehadiran dua orang anak buah nya ini dengan cepat melemparkan cawan arak nya ke arah anak buah nya.
Whhhuuuggghhhh...
Para anak buah Tsang Hung sudah sangat hapal dengan kelakuan pimpinan mereka yang tidak suka jika kesenangan nya di ganggu. Dua orang itu segera merunduk menghindari lemparan cawan arak dari Tsang Hung.
Brraaakkkk !!!
Cawan arak dari keramik Cina itu langsung hancur berkeping keping saat menghantam dinding kayu kapal berbendera merah milik mereka. Tsang Hung mendengus keras lalu mendelik tajam ke arah dua orang anak buah nya itu.
"Ada apa kalian berani mengganggu ku ha? Apa kalian sudah bosan hidup?", teriak Tsang Hung sembari meraih pedang melengkung miliknya yang terletak di atas meja.
"Bu-bukan begitu Ketua..
Ada berita penting yang perlu Ketua ketahui. Aku yakin Ketua pas akan senang mendengar nya", ujar salah satu dari dua orang anak buah Bajak Laut Tsang segera.
"Cepat katakan pada ku, jangan bertele-tele. Kalau sampai kalian hanya membuang waktu ku, hukuman berat menanti kalian", balas Tsang Hung sembari melotot ke arah dua orang anak buah nya itu.
"Begini Ketua, tadi kami baru ke Pelabuhan Tumasik untuk menukar beberapa perhiasan emas kita dengan bahan makanan sesuai dengan perintah mu.
Nah saat kami selesai, kami melihat seorang putri bangsawan China sedang turun dari sebuah kapal jung berbendera biru merah dengan sulaman benang emas bergambar burung Garuda. Melihat dandanan nya, pasti dia bukan bangsawan biasa tapi setidaknya dia adalah putri di Istana Kekaisaran Song", kaget Tsang Hung mendengar laporan anak buah nya ini. Wajah nya langsung sumringah mendengar kata putri dari Istana Kekaisaran Song.
"Hahahaha akhirnya, ada seorang putri istana yang akan menerima balasan dari kita atas tindakan Kaisar Song pada saudara saudara kita.
Tapi tunggu dulu...
Kapal jung besar berbendera biru merah dengan sulaman benang emas bergambar burung Garuda? Sepertinya aku pernah melihatnya tapi kapan ya? Hemmm...", Tsang Hung nampak berpikir keras, mencoba mengingat kembali tentang kapal jung besar berbendera biru merah dengan sulaman benang emas bergambar burung Garuda itu.
"Ketua.. Bukankah itu kapal yang dinaiki oleh orang orang yang pernah menghajar para Syahbandar Pelabuhan Tumasik, Maranatha tempo hari? Aku ada disana saat itu, jadi ingat betul dengan bendera mereka", sahut seorang lelaki bertubuh kurus dengan satu mata di tutup oleh kulit sapi untuk menutupi cacat mata nya. Dia adalah Chu Hao, tangan kanan Tsang Hung dalam kelompok bajak laut ini.
"Hemmmmmmm, jadi orang orang Tanah Jawadwipa rupanya..
Meski mereka orang orang berilmu tinggi tapi karena mereka membawa putri istana Kekaisaran Song, maka kita pun akan menghadapi mereka demi membalaskan dendam saudara saudara kita.
Kalian berdua, sekarang dimana putri istana Kekaisaran Song itu berada?", Tsang Hung kembali menoleh ke arah dua orang anak buah nya itu.
"Syahbandar Maranatha membawa putri istana Kekaisaran Song itu ke kediaman nya Ketua", jawab salah seorang dari mereka dengan cepat.
"Kalau begitu, tidak perlu menunggu waktu lagi..
Chu Hao, kumpulkan semua orang orang kita sekarang. Kita serbu saja kediaman Syahbandar Maranatha ", perintah Tsang Hung sembari melangkah turun dari atas geladak kapal miliknya. Chu Hao segera bergegas mengumpulkan para anggota Bajak Laut Tsang. Tak butuh waktu lama, sekitar 100 orang anggota Bajak Laut Tsang telah berkumpul. Dengan perintah dari Tsang Hung, mereka segera bergerak cepat menuju ke arah Pelabuhan Tumasik tepatnya ke arah rumah tinggal Maranatha yang terletak di kaki bukit kecil dekat Pelabuhan Tumasik.
Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga benar benar dijamu dengan penuh keramahan oleh Syahbandar Maranatha. Begitu masuk ke kediaman nya, Maranatha segera memerintahkan kepada dayang dan pelayan rumah nya untuk mempersiapkan segala keperluan Panji Tejo Laksono termasuk mandi dan makan siang nya. Mereka diperlakukan layaknya seorang bangsawan oleh keluarga Maranatha.
Namun saat kenyamanan itu tidak berlangsung lama karena dari arah pintu gerbang kediaman Syahbandar Maranatha terdengar suara teriakan keras dari salah seorang penjaga gerbang.
"Ada penyerang.... !!!!"
Teriakan keras dari penjaga gerbang kediaman Syahbandar Maranatha itu langsung berbarengan dengan denting senjata beradu dan teriakan kesakitan. Di halaman rumah Maranatha terjadi pertarungan sengit antara para pengawal pribadi Maranatha melawan Bajak Laut Tsang.
Panji Tejo Laksono buru buru menyambar pakaiannya. Dengan sedikit tergesa, Panji Tejo Laksono buru-buru mengenakan pakaian nya. Selesai berpakaian, putra sulung Prabu Jayengrana itu segera bergegas keluar menuju halaman kediaman Maranatha yang penuh dengan orang orang yang sedang bertarung. Disaat yang bersamaan, Luh Jingga dan Song Zhao Meng juga keluar dari dalam rumah Maranatha dan segera mendekati Panji Tejo Laksono yang kini berdiri berjajar dengan sang Syahbandar Pelabuhan Tumasik.
"Siapa mereka, Tuan Maranatha? Kenapa mereka mengacau di tempat mu ini?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah para bajak laut pimpinan Tsang Hung ini.
"Aku tidak tahu Tuan Bomoh yang perkasa..
Tolong bantu para anak buah ku dengan ilmu sihir mu. Kalau tidak, anak buah ku pasti habis di bantai mereka", mendengar permintaan dari Syahbandar Maranatha, Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Song Zhao Meng dan Luh Jingga. Dua perempuan cantik itu segera mengangguk mengerti dan menerjang maju ke arah kelompok Bajak Laut Tsang yang ganas membantai pengawal pribadi Maranatha. Panji Tejo Laksono pun ikut melesat maju ke arah pertarungan menyusul Luh Jingga dan Song Zhao Meng yang lebih dulu maju.
Pertarungan yang sempat berat sebelah, langsung berubah setelah Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga membantu para pengawal pribadi Maranatha.
Shhrreeettthhh...
Aaauuuuggggghhhhh !!
Dua orang anggota bajak laut langsung terjungkal ke tanah setelah Luh Jingga membabat perut dan dada mereka dengan sekali tebasan pedang. Melihat kawannya di jatuhkan dua orang anggota bajak laut yang lain, langsung menerjang maju ke arah Luh Jingga yang dengan lincah berkelit menghindari serangan sembari membabatkan pedang.
Song Zhao Meng yang di kepung oleh Chu Hao dan empat orang anggota Bajak Laut Tsang, sama sekali tidak gentar. Putri Kaisar Huizong itu memutar telapak tangannya hingga menciptakan kabut putih dingin. Begitu kabut putih dingin itu semakin tebal, Song Zhao Meng segera menepak kabut putih dingin yang berubah menjadi jarum es. Sekali sentak, jarum es yang melayang di udara itu langsung melesat cepat kearah para anggota Bajak Laut Tsang yang mengepungnya.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!
Chhreepppppph chhreepppppph!!
Seorang anggota bajak laut langsung roboh tersungkur ke tanah setelah matanya nya tertusuk jarum es yang di lemparkan oleh Song Zhao Meng. Dia tewas seketika dengan mata bolong. Dua orang lainnya langsung terjengkang ke belakang setelah dua jarum es menghajar bahu mereka. Chu Hao yang waspada dengan cepat menangkis tusukan jarum es Song Zhao Meng dengan pedang nya. Geram melihat saudaranya terbunuh dengan mudah, Chu Hao langsung menerjang maju ke arah Song Zhao Meng dengan menebaskan pedangnya kearah leher putri Kaisar Huizong itu. Layaknya seekor burung phoenix, Song Zhao Meng lincah menghindari setiap serangan Chu Hao yang mengincar titik titik kematian.
Tsang Hung menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang baru saja membuat seorang anggota bajak laut terjungkal usai menerima hantaman tapak kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api akibat Ajian Tapak Dewa Api. Pimpinan kelompok Bajak Laut Tsang ini segera memutar pedang di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meraih beberapa pisau belati yang ada di selempang kulit depan dada nya.
Secepat kilat, Tsang Hung melemparkan tiga pisau belati kearah Panji Tejo Laksono yang baru saja menjejak tanah.
Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg !!
Tiga pisau belati melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Bersamaan dengan itu, Tsang Hung menghunus pedang melengkung miliknya dan menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono. Sedikit merendahkan tubuhnya, Tsang Hung mengincar kaki sang pangeran muda dari Kadiri.
Mendapat serangan dari dua sisi yang berbeda, Panji Tejo Laksono tersenyum tipis. Saat pisau belati dan tebasan pedang Tsang Hung hampir mengenai tubuh, tiba-tiba seberkas sinar kuning keemasan menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono yang menjadi bukti bahwa Ajian Tameng Waja telah di rapal.
Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg..
Thhhrriinnngggggg !!
Tiga pisau belati langsung bermentalan saat menghantam tubuh Panji Tejo Laksono. Begitu pula saat tebasan pedang Tsang Hung menyentuh kulit kaki sang pangeran. Mata tua Tsang Hung melotot lebar saat melihat itu semua. Buru buru pimpinan kelompok Bajak Laut Tsang ini melompat mundur menjauhi Panji Tejo Laksono.
Empat orang anggota Bajak Laut Tsang yang kebetulan di dekat sang pimpinan, langsung membacokkan senjata mereka ke arah tubuh Panji Tejo Laksono.
Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera memutar telapak tangannya dan menghentakkan kedua tangan nya ke atas. Gelombang tenaga dalam tingkat tinggi berhawa panas menyengat menerabas cepat kearah mereka.
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!
Tubuh keempat orang itu langsung hancur berantakan setelah meledak keras usai terkena hantaman hawa panas yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono. Daging dan darah segar mereka menyebar sekeliling tempat itu. Pemandangan mengerikan ini langsung membuat Tsang Hung bergidik ngeri. Tanpa sadar Tsang Hung melangkah mundur selangkah dan berbalik badan hendak melarikan diri. Namun di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Panji Tejo Laksono muncul di hadapan Tsang Hung sembari menyeringai lebar. Sang pangeran muda dari Kadiri itu langsung berkata,
"Hendak kemana kau?"