Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Malam Pertama Rara Kinanti


"Terpaksa Dinda Patibrata..


Aku juga akan menanggalkan jati diri ku sebagai Mahamantri I Sirikan Kerajaan Panjalu. Ini agar lebih leluasa bergerak tanpa harus direpotkan dengan sikap para penguasa daerah yang ingin menjalin hubungan baik dengan pihak Istana Kotaraja Daha", ucap Panji Tejo Laksono sambil menghela nafas berat.


"Lalu bagaimana dengan Istana Seloageng dan Rara Kinanti, Kangmas Pangeran?", kembali Endang Patibrata bertanya.


"Gayatri sedang hamil jadi tempat yang paling aman untuk nya adalah Istana Kadipaten Seloageng. Kalau tidak salah, Ayu Ratna juga hamil muda. Jadi aku tidak akan mengajak mereka semua karena Luh Jingga, Meng Er dan Kirana akan menjaga nya sekaligus sebagai penopang kekuatan Seloageng jika ada serangan dadakan.


Kalau Rara Kinanti, dia tidak memiliki kemampuan beladiri. Jadi lebih baik jika dia tetap tinggal di Istana Lodaya sampai aku memboyongnya ke Seloageng untuk berkumpul dengan para saudari nya yang lain", ucap Panji Tejo Laksono tegas.


Endang Patibrata langsung tersenyum lebar ketika mendengar omongan Panji Tejo Laksono. Terbayang dalam benak nya akan bertualang bersama sang suami tanpa gangguan para istri nya yang lain.


Seisi Istana Lodaya langsung sibuk menata tempat untuk acara pernikahan Panji Tejo Laksono dan Rara Kinanti atas perintah dari Pangeran Arya Tanggung. Meskipun rada heran dengan perubahan sikap Panji Tejo Laksono yang secepat itu memaafkan kejahilan putrinya, namun Pangeran Arya Tanggung mencoba untuk mengesampingkan itu semua dan mempersiapkan acara besar itu sebaik mungkin.


Ratusan penjor dari hiasan janur kuning pun segera memenuhi seluruh Kota Lodaya. Umbul-umbul hijau dan kuning yang menjadi bendera kebesaran Tanah Perdikan Lodaya pun segera terpasang di setiap sudut istana.


Sementara itu di samping sanggar pamujan yang menjadi tempat upacara pernikahan, di bangun sebuah panggung megah dengan hiasan janur kuning beraneka ragam bentuknya juga bebungaan yang di ambil dari taman sari Istana Lodaya. Seperangkat alat gamelan pun segera ditata rapi sebagai pengiring acara. Tak lupa pula, dupa dan kemenyan di bakar pada anglo tanah liat yang ada di samping rangkaian sesajen pada tempat pemujaan. Sebuah arca Dewa Siwa yang berdiri tegak di dalam altar batu pemujaan itu nampak berselimut asap harum setanggi dan kemenyan.


Maharesi Dwijapada, pimpinan Pertapaan Kalimati yang merupakan tempat pembelajaran agama Siwa terbesar di wilayah Tanah Perdikan Lodaya di dapuk menjadi pemimpin upacara pernikahan Panji Tejo Laksono dan Rara Kinanti. Pangeran Arya Tanggung khusus mendatangkannya dari tempat kediamannya di kawasan pesisir pantai selatan yang lumayan jauh dari Kota Lodaya.


Dan mulai malam hari itu, hiburan rakyat di gelar di alun-alun Kota Lodaya. Pada malam pertama ini, ada kesenian tradisional tari topeng yang di tampilkan sedangkan untuk esok setelah acara pernikahan pada siang hari nya akan di gelar kesenian jaranan. Sedangkan pada malam harinya akan di gelar kesenian wayang kulit semalam suntuk. Para punggawa Istana Kota Lodaya di buat sibuk dengan urusan hiburan ini.


Rakyat Kota Lodaya menyambut pernikahan sang putri dengan penuh sukacita. Mereka berbondong-bondong datang ke alun-alun Kota Lodaya untuk menyaksikan hiburan yang di suguhkan. Terlebih lagi, Pangeran Arya Tanggung membagikan makanan cuma-cuma kepada para penonton yang hadir di alun-alun Kota Lodaya. Beberapa ekor kerbau telah di sembelih sebagai lauk makan untuk mereka yang menonton pertunjukan rakyat ini. Siapa yang akan menolak untuk menonton hiburan? Sudah mendapatkan suguhan menarik di tambah lagi makanan enak. Maka dari itu, alun-alun kota penuh sesak dengan para penonton.


"Akhirnya Ndoro Putri Kinanti menikah juga ya..


Aku dulu sempat khawatir dengan masa depan Tanah Perdikan Lodaya karena Gusti Pangeran hanya punya seorang putri dan tidak punya keturunan lainnya", ujar salah satu pengunjung acara hiburan itu sambil menyaksikan lemah gemulai nya gerakan tubuh para penari topeng di atas panggung.


"Iya, aku juga sempat berpikir demikian. Rupanya Dewa Yang Agung memberkati kita semua. Gusti Putri Rara Kinanti dipersunting pangeran dari Kerajaan Panjalu.


Dengan begini, wilayah kita ini kelak akan menjadi satu kesatuan dengan Panjalu dan ini akan menguntungkan bagi kita semua loh Kang. Kita bisa bebas keluar masuk di wilayah Panjalu untuk berdagang", ujar seorang lelaki yang lebih muda di sampingnya.


"Kalian benar sekali..


Jika Lodaya bersatu dengan Panjalu maka kita tidak perlu was-was lagi dengan adanya penyerbuan dari kerajaan lain seperti Jenggala dan Blambangan. Ah semoga Gusti Putri segera memiliki momongan yang kelak akan menjadi penerus tahta entah di Daha, Seloageng maupun Lodaya", sahut seorang tua yang ikut nimbrung dalam obrolan mereka.


Berbagai macam hal menjadi bahan obrolan mereka namun intinya mereka semua bersyukur atas pernikahan Panji Tejo Laksono dan Rara Kinanti.


Malam itu semuanya larut dalam suasana kegembiraan. Meskipun malam terus merangkak naik dan hawa dingin yang sanggup membuat kulit mengkerut karena kedinginan, suasana alun-alun Kota Lodaya tetap meriah hingga tengah malam tiba.


Pagi hari datang seperti biasanya. Mentari pagi mulai muncul di ufuk timur setelah suara kokok ayam jantan terdengar bersahutan. Para burung malam segera kembali ke sarangnya bersama dengan para kelelawar yang semalam suntuk sibuk mencari makan. Mereka segera di gantikan oleh burung burung pagi yang satu persatu mulai bergerak meninggalkan sarang. Cuitan riuh rendah dari ranting pohon pun mulai mengisi indahnya mentari pagi yang datang dan mengusir dingin malam hari.


Sejak pagi buta, suasana Istana Lodaya telah sibuk meski sang matahari belum menampakkan dirinya di langit. Terutama para juru masak istana dan para pembantu mereka yang harus menyiapkan hidangan besar bagi segenap tamu undangan yang akan hadir di acara pernikahan Panji Tejo Laksono dan Rara Kinanti.


Bau setanggi dan kemenyan semakin membuat acara ini begitu sakral. Panji Tejo Laksono yang sudah di dandani pengantin berjalan menuju ke pelaminan bersama Rara Kinanti mengikuti langkah Maharesi Dwijapada saat matahari mulai sepenggal naik di langit timur. Bunyi tetabuhan gamelan yang mengalun merdu mengiringi langkah kaki mereka.


Saat keduanya di dudukkan pada panggung megah pelaminan, Maharesi Dwijapada segera memulai prosesi pernikahan paling dinantikan oleh seluruh rakyat Lodaya.Ratusan tamu undangan dan para pejabat di lingkungan istana turut hadir dan duduk bersila dengan tenang di bawah tenda yang terbuat dari anyaman daun kelapa.


Diantara mereka ada Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Senopati Gardana, Juru Naratama dan Endang Patibrata yang menjadi pengawal sang pengantin pria dari Seloageng ini. Juga yang paling depan ada Pangeran Arya Tanggung sang Penguasa Tanah Perdikan Lodaya bersama Dewi Anggraeni. Keduanya mengikuti seluruh tahapan proses pernikahan ini sembari sesekali mengusap air mata kebahagiaan.


"Lihatlah bagaimana cantiknya putri kita Kangmas Pangeran..


Rasanya seperti baru kemarin dia bermain di pangkuan ku dan hari ini dia telah menjadi istri orang. Huhuhuhuhu, anak ku sudah dewasa", ucap Dewi Anggraeni sembari menyeka air matanya.


Kau sudah melalui sebagian besar dari laku manusia di dunia ini. Kita memang harus melepaskan Kinanti saat sudah pada waktunya. Dengan begitu kita telah lulus sebagai orang tua. Aku justru tidak sabar untuk segera menimang cucu kita nantinya hehehehe", seloroh Pangeran Arya Tanggung berupaya untuk menghibur sang istri.


Setelah Maharesi Dwijapada memercikkan air suci yang sudah dimantrai dan didoakan, lelaki sepuh berjenggot panjang itu tersenyum penuh arti kepada Panji Tejo Laksono dan Rara Kinanti.


"Sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami istri. Berikanlah hormat kepada orang tua kalian untuk meminta doa restu mereka agar kalian berdua bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan damai dan bahagia", ucap Maharesi Dwijapada segera. Panji Tejo Laksono dan Rara Kinanti segera membungkuk hormat kepada orang tua itu sebelum bangkit dari atas pelaminan dan mendekati tempat Pangeran Arya Tanggung dan Dewi Anggraeni berada.


"Hormat kami Kanjeng Romo Pangeran", ucap Panji Tejo Laksono dan Rara Kinanti bersamaan.


"Berbahagialah kalian. Semoga Hyang Agung selalu memberkati kalian berdua", Pangeran Arya Tanggung mengangkat tangan kanannya.


"Hormat kami Kanjeng Ibu Ratu..", Panji Tejo Laksono dan Rara Kinanti menghormat pada Dewi Anggraeni.


"Titip putri ku Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono. Walaupun dia nakal, tapi aku tahu dia perempuan yang baik. Didik dia menjadi seorang istri yang baik untuk mendampingi mu di kemudian hari", petuah bijak Dewi Anggraeni sembari tersenyum lebar walaupun air mata nya menetes di pipi.


"Akan saya lakukan Biyung Ratu ", ucap Panji Tejo Laksono segera. Keduanya segera kembali berdiri dan melangkah menuju ke pelaminan. Para dayang istana terus menaburkan bebungaan di jalan yang mereka lewati.


Selanjutnya acara pernikahan ini di tutup dengan hiburan penari yang anggun dan menawan. Para tamu undangan dan para punggawa istana yang hadir di jamu dengan hidangan terbaik dari dapur istana. Semuanya merasa turut berbahagia atas pernikahan ini.


Keramaian Kota Lodaya terus berlanjut hingga malam hari tiba. Ribuan warga Kota Lodaya berbondong-bondong hadir di Alun-alun Kota Lodaya untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menghadirkan cerita Mahabarata dengan lakon Arjuna Wiwaha.


Sementara itu di dalam bilik kamar pengantin, Rara Kinanti duduk di tepi pembaringan kencana dengan jantung berdebar kencang. Putri Pangeran Lodaya ini sudah melepaskan riasan wajah nya namun kecantikan alami wanita ini masih terlihat menonjol. Wajah cantik Rara Kinanti memerah kala Panji Tejo Laksono mendekatinya.


"Kau kenapa Dinda Kinanti? Kog gemetaran begitu?", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul melihat sikap Rara Kinanti yang terlihat seperti sedang ketakutan.


"A-aku anu Kangmas Pangeran eh aku iya aku itu eh tidak apa-apa tapi aku eh...", Rara Kinanti belepotan bicara saking gugupnya.


"Kenapa sih? Apa kau takut?", Panji Tejo Laksono segera memegang tangan kiri Rara Kinanti yang terasa dingin.


"Apa kau sedang tidak enak badan?"


"Bu-bukan begitu Kangmas Pangeran t-tapi a-aku itu...", belum sempat Rara Kinanti menyelesaikan omongannya, Panji Tejo Laksono langsung mengecup kening nya perlahan.


"Sudah jangan gugup.. Tidak akan sakit kog. Kangmas akan pelan-pelan..", ucap Panji Tejo Laksono sembari perlahan merebahkan tubuh Rara Kinanti ke pembaringan.


Perlahan ciuman mesra Panji Tejo Laksono menyasar turun ke bibir Rara Kinanti. Bibir perempuan cantik itu kaku menyambut ciuman mesra Panji Tejo Laksono. Namun Panji Tejo Laksono dengan sabar terus mengajari Rara Kinanti.


"Aaahhhh uhhhh...", terdengar suara desah Rara Kinanti kala bibir Panji Tejo Laksono bergerak turun menyapu lembut leher jenjang sang gadis cantik.


Jemari tangan sang pangeran perlahan mulai bergerak melepaskan helai demi helai kain yang menutupi tubuh mulus putri Lodaya ini. Rara Kinanti terus mendesah menikmati sentuhan Panji Tejo Laksono yang merata di sekujur tubuhnya.


Selanjutnya, desah Rara Kinanti menjadi jeritan kecil waktu Panji Tejo Laksono menjalankan tugasnya sebagai seorang suami. Meskipun awalnya terasa sakit, namun semakin lama rasanya semakin nikmat hingga jeritan kecil Rara Kinanti berubah menjadi erangan kenikmatan surgawi. Malam itu, kegadisannya di serahkan kepada Panji Tejo Laksono.


Sepanjang malam, mereka bergelut dalam hasrat surgawi yang penuh gairah. Panji Tejo Laksono memang benar-benar pintar dalam bercinta dengan pasangan nya. Rara Kinanti harus bertekuk lutut menghadapi gempuran ombak cinta yang diberikan oleh sang pangeran muda dari Kadiri itu.


Suara keras kokok ayam jantan terdengar bersahutan menandakan bahwa pagi telah datang. Rara Kinanti bangun dari tidurnya. Teringat dengan kejadian semalam, wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus. Matanya kemudian menoleh ke arah samping dan dia kaget karena Panji Tejo Laksono tidak ada lagi disana. Segera Rara Kinanti bangkit dan turun dari atas ranjang pengantin nya.


Namun belum sampai selangkah dia bergerak, tubuhnya terhuyung huyung hendak jatuh. Pangkal paha nya terasa sakit bukan main. Tepat pada saat itu, sebuah tangan kekar menyambar pinggang sang putri.


"Kau mau kemana Dinda Kinanti?"