Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Kisah Pilu Sepasang Kekasih


Seorang lelaki tua berpakaian compang camping menatap ke sekeliling tempat itu. Wajahnya tidak begitu jelas karena gelap malam tak mampu memperlihatkan wajah tua nya. Tapi dari suaranya sudah bisa di perkirakan bahwa dia adalah seorang lelaki tua yang setidaknya sudah berusia lanjut.


Putri Song Zhao Meng segera beringsut di belakang tubuh Panji Tejo Laksono sedangkan Huang Lung dan Luh Jingga sama sama mencabut pedang mereka untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan.


Dengan gerakan secepat kilat, dia melesat ke depan patung Dewi Kwan Im itu. Panji Tejo Laksono sedikit terkesiap juga melihat kemampuan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki oleh kakek tua ini.


Dengan acuh tak acuh, kakek tua ini melangkah mendekati patung Dewi Kwan Im dan meletakkan beberapa buah jeruk. Dia juga menyalakan satu dupa dan menaruhnya di tempat dupa yang terbuat dari bejana besi.


Jenderal Liu King bersama para pengikut Putri Song Zhao Meng segera bergegas ke arah Panji Tejo Laksono dan ketiga gadis yang ada di sekelilingnya. Pun juga para pengawal pribadi Huang Lung dan Panji Tejo Laksono.


Setelah selesai meletakkan dupa, kakek tua yang wajahnya terlihat sedikit jelas karena lilin yang menyala, menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan ketiga gadis cantik di sampingnya.


"Sesuai perhitungan ku, hari ini akan datang orang yang akan mewarisi semua kepandaian ilmu kungfu ku..


Bocah tampan,


Kau ikut aku sekarang", ujar si kakek tua itu sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Apa maksud mu, kakek tua?


Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Nanti kau akan mengerti, sekarang ayo ikut aku!", ucap si kakek tua berbaju putih lusuh compang camping itu segera.


"Kalau aku tidak mau?", Panji Tejo Laksono mulai tinggi nada suara nya.


"Maka aku akan memaksamu!", setelah berkata demikian, si kakek tua itu segera melompat ke arah Panji Tejo Laksono. Tapak tangan kanan kiri nya bersinar merah menyilaukan mata menjulur cepat kearah Panji Tejo Laksono.


Panji Tejo Laksono terkejut bukan main. Dia yang sama sekali tidak menduga bahwa kakek tua itu akan menyerangnya, hanya bisa bertahan dengan memapak serangan kakek tua itu dengan kedua tangan nya seraya mengerahkan tenaga dalam nya sebisa mungkin.


Jedddhhaaaaarrrrrrr !!!


Ledakan keras terdengar saat tangan kakek tua itu beradu dengan tangan Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri ini terpelanting ke belakang bersama Putri Song Zhao Meng.


Huuuuooogggghhh...!!


Panji Tejo Laksono langsung muntah darah segar. Rupanya luka dalam yang di dapat dari pertarungan sebelumnya dengan Chan San Fung belum sepenuhnya pulih. Sembari menahan nafas nya yang terasa sesak, Panji Tejo Laksono berusaha untuk melancarkan jalan nafas nya.


Melihat Panji Tejo Laksono jatuh, semua orang yang ada di tempat itu langsung melesat cepat kearah si kakek tua itu dengan mengerahkan seluruh kemampuan beladiri mereka.


Si kakek tua itu hanya tersenyum sinis melihat puluhan serangan yang menuju ke arah nya. Dia segera memutar tubuh dan tangannya berputar di depan perut. Tiba-tiba di sekeliling tubuh nya muncul sinar merah menyilaukan mata. Sembari berteriak keras, dia menghantamkan kedua tangan nya ke atas dan sinar merah menyilaukan mata yang mirip seperti bola merah besar ini langsung menghantam seluruh orang yang bergerak cepat ke arah nya.


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt....


Blllaaaaaarrr !!


Jenderal Liu King, Chen Su Bing, Luh Jingga, Huang Lung, Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Rakryan Purusoma dan para pengawal pribadi Huang Lung terlempar ke segala arah dan menghantam lantai kuil tua itu dengan keras. Semua orang langsung muntah darah segar dari mulut mereka masing-masing.


Hahahaha....


Terdengar suara tawa keras dari mulut kakek tua itu yang segera berjalan mendekati Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.


"Apa kau masih berani menolak keinginan ku, bocah??


Kalau kau masih berani menolak keinginan ku, akan ku bantai semua kawan kawan mu ini hehehehe", tawa kakek tua itu terdengar menyeramkan.


Para pengikut Panji Tejo Laksono berusaha untuk membela sang pangeran muda, namun untuk berdiri tegak saja mereka tidak mampu. Keadaan yang sama juga berlaku pada para pengikut Huang Lung dan Putri Song Zhao Meng. Gumbreg yang berusaha keras untuk menghalangi jalan si kakek tua justru malah diinjak kaki nya. Pria bertubuh tambun itu meringis menahan rasa sakit.


Sekejap berikutnya, si kakek tua itu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang masih terduduk di tanah. Kedua tangan nya menyambar tubuh Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng. Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga para pengikut yang terluka tak bisa berbuat apa-apa dan hanya mampu melihat sosok tua berpakaian compang camping itu menghilang ke arah timur sembari membawa junjungan mereka di tengah rinai hujan deras yang mengguyur wilayah kaki Gunung Song.


Cai Yuan yang juga terluka dalam namun tidak terlalu parah tertatih-tatih berjalan menuju ke arah Kuil Shaolin untuk meminta bantuan.


Dengan susah payah, Cai Yuan sampai di Kuil Shaolin untuk meminta bantuan. Kejadian ini sangat mengejutkan pihak Kuil Shaolin. Mereka segera bergegas menurunkan murid murid mereka untuk membawa orang-orang yang terluka ke Kuil Shaolin untuk di obati.


Sementara itu, di sebuah goa batu besar yang ada di sisi lain Gunung Song tepatnya di sebuah jurang yang dalam, Panji Tejo Laksono sedang tergeletak pingsan bersama Putri Song Zhao Meng. Luka dalam yang dia alami memang cukup parah hingga membuat sang pangeran muda itu pingsan hingga pagi menjelang tiba.


Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk ke dalam gua lewat celah celah dinding batu, mengenai wajah tampan Panji Tejo Laksono.


Sang pangeran muda ini tersadar dari pingsannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat dia berada. Ketika melihat Putri Song Zhao Meng, Panji Tejo Laksono segera mengingat kejadian semalam. Segera dia mencoba melancarkan peredaran darah nya dengan menata tenaga dalam.


Huuuuooogggghhh..!!


Kembali Panji Tejo Laksono muntah darah segar. Namun setelah muntah darah segar, nafasnya menjadi lancar dan tidak tersengal-sengal seperti tadi.


Tubuh Panji Tejo Laksono sangat panas seperti demam tinggi namun putra sulung Prabu Jayengrana ini masih bisa menguasai kesadarannya. Dia segera beringsut mendekat ke arah Putri Song Zhao Meng yang masih belum sadar. Saat Panji Tejo Laksono menyentuh kulit Putri Song Zhao Meng, tubuh putri Kaisar Huizong ini begitu dingin hingga Panji Tejo Laksono terkejut bukan.


'Kenapa dia begitu dingin? Jangan jangan dia sudah... ah tidak mungkin. Aku harus menyadarkan nya', batin Panji Tejo Laksono.


Segera Panji Tejo Laksono meraba denyut nadi di pergelangan tangan Putri Song Zhao Meng. Senyum tipis Panji Tejo Laksono segera terukir di wajah tampan nya setelah merasakan denyut nadi Putri Song Zhao Meng masih ada.


"Tuan Putri,


Bangunlah Tuan Putri. Kau harus segera sadar", Panji Tejo Laksono menggoyangkan tubuh Putri Song Zhao Meng. Namun sang putri Kaisar Huizong ini masih juga belum terbangun dari pingsannya.


Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dan melihat dedaunan merambat di dinding goa. Dia segera bergegas memetik daunnya dan meremas daun itu. Setelah itu daun yang cukup berbau ini segera di letakkan pada depan lobang hidung Putri Song Zhao Meng.


"Puja Dewa Wisnu,


Tuan Putri syukurlah kau sudah sadar", ucap Panji Tejo Laksono segera.


"Aku aku ada dimana?", tanya Putri Song Zhao Meng sembari memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Aku tidak tahu kita dimana, tapi yang jelas aku dan kamu pingsan saat sampai di tempat ini.


Aku yakin pasti ini ulah si kakek tua yang menyerang kita tadi malam", jawab Panji Tejo Laksono segera.


Saat mereka berdua masih berbincang, dari arah pintu goa si kakek tua berpakaian compang camping itu datang bersama seorang wanita tua yang berambut putih panjang. Saat itulah wajah sebenarnya si kakek tua terlihat jelas.


Dia adalah seorang kakek tua dengan rambut putih dengan botak pada bagian atas. Janggut nya juga putih panjang dengan kumis tebal yang juga memutih karena uban. Beberapa gigi nya nampak sudah ompong di makan usia namun hebatnya tubuh kakek tua itu masih terlihat tegap dan bugar. Pakaiannya mirip dengan biksu Kuil Shaolin namun sudah compang camping dan penuh tambalan di sana-sini. Sedangkan si perempuan tua yang bersamanya memakai pakaian hijau yang lusuh. Di rambutnya ada sebuah tusuk konde giok bergambar burung Hong yang merupakan salah satu ciri khusus putri bangsawan Kekaisaran Song. Meski sudah uzur dengan wajah penuh keriput namun sisa sisa kecantikan perempuan tua ini masih terlihat jelas.


"Kalian sudah sadar rupanya hehehehe..


Tak salah rupanya perhitungan ku mengenai kalian berdua", ujar si kakek tua itu sambil terkekeh kecil. Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng langsung menoleh ke arah mereka berdua.


"Apa maksud mu membawa kami kemari kakek tua? Apa yang kau inginkan?", Panji Tejo Laksono terlihat waspada.


"Sudah ku bilang kalau aku akan mewariskan ilmu ku untuk kalian agar ilmu ini tidak musnah setelah kematian ku.


Kenapa masih tanya lagi? Dasar tidak berguna", umpat si kakek tua sedikit keras.


"Kakak Yan,


Kau ini kenapa mudah sekali marah? Kalau begitu kau akan menakuti mereka berdua.


Anak muda, maafkan sikap Kakak Yan ya? Sifat nya memang suka marah marah tapi aslinya dia baik kog", sahut si wanita tua itu dengan lembut.


"Huh baik apanya?


Dia juga yang melukai kami dan menculik kami kemari", gerutu Putri Song Zhao Meng sembari bersungut-sungut.


"Maafkanlah sikap kasar nya ya?


Pasti dia kebingungan membujuk kalian kemari. Makanya terpaksa harus memakai kekerasan. Tolong jangan di ambil hati.


Aku ingin bertanya pada kalian. Apa kalian merasakan hal yang berbeda dengan tubuh kalian?", si perempuan tua itu tersenyum manis.


Mendengar perkataan itu Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng segera meraba kulit lengan mereka masing-masing dan merasakan hawa panas dan dingin.


"Kalau iya, berarti usaha yang kami lakukan berhasil dengan baik", imbuh perempuan tua itu segera.


"Apa maksud dari semua ini, Nyonya?", Panji Tejo Laksono masih tidak mengerti.


"Semalam aku memasukkan separuh Ilmu Sembilan Matahari yang aku miliki ke dalam tubuh mu, bocah!


Sedangkan Lian Er memasukkan separuh Ilmu Bulan Es nya ke tubuh wanita muda itu", sahut si kakek tua yang di panggil dengan nama Kakak Yan ini. Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng langsung saling berpandangan setelah mendengar penuturan si lelaki tua ini.


"Kakek tua,


Aku masih belum bisa mengerti apa maksud dari semua hal yang kalian kepada kami. Siapa kalian sebenarnya?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


Si kakek tua itu menghela nafas berat sebelum mulai bercerita.


Namanya adalah Yan Luo, bekas juru masak Kuil Shaolin. Semula dia adalah seorang pecundang yang tidak bisa menguasai tenaga dalam karena tubuhnya yang aneh. Namun nasibnya berubah setelah tak sengaja menemukan Kitab Sembilan Matahari dan Kitab Bulan Es yang dia temukan saat membongkar tungku masak tempat dia bekerja. Setelah diam diam mempelajari Ilmu Sembilan Matahari itu, Yan Luo menantang salah satu Tetua Kuil Shaolin dan menang telak. Selepas itu, dia menjadi terkenal di Kuil Shaolin bahkan sempat digadang-gadang sebagai calon Ketua Kuil Shaolin selanjutnya.


Saat di tugaskan untuk mengejar para anggota Aliran Ming yang menculik salah satu putri bangsawan oleh Kepala Biara, Yan Luo malah jatuh cinta pada putri bangsawan yang bernama Guan Lian Er yang dia selamatkan ini. Akhirnya karena permasalahan ini, Yan Luo di usir dari Kuil Shaolin. Mereka berdua akhirnya memilih untuk tinggal di kaki Gunung Song agar Yan Luo tetap bisa sembahyang pada gurunya yang meninggal dunia setelah Yan Luo di usir dari Kuil Shaolin bersama Guan Lian Er, karena dia lebih memilih bersama sang kekasih yang dicintainya.


Yan Luo terus memperdalam Ilmu Sembilan Matahari dan Guan Lian Er pun akhirnya mempelajari Ilmu Bulan Es. Mereka hidup bahagia meski tidak memiliki keturunan.


Suatu hari tak sengaja Yan Luo membaca akhir dari Kitab Sembilan Matahari yang mengatakan bahwa Kitab Sembilan Matahari akan sempurna di tangan seorang pemuda yang masuk ke Kuil Kwan Im saat hujan deras bersama 9 kilat yang menyambar bersamaan.


Yan Luo yang menunggu selama hampir 50 tahun lebih peristiwa itu, langsung bergegas menuju ke arah Kuil Kwan Im tempat dia sembahyang dan menemukan rombongan Panji Tejo Laksono. Itulah alasan mengapa dia menculik Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng tadi malam.


"Tuan Yan,


Kau bilang tadi sudah memberikan separuh dari Ilmu Sembilan Matahari pada ku. Lantas berapa lama lagi waktu yang aku perlukan untuk menguasai sepenuhnya?", tanya Panji Tejo Laksono setelah Kakek Yan Luo mengakhiri ceritanya.


"Orang biasa akan butuh waktu paling cepat 10 tahun untuk menguasainya.


Tapi aku lihat kau memiliki dasar tenaga dalam yang tinggi. Kalau kau cerdas mungkin hanya butuh waktu setengah hari saja. Semua tergantung pada kepintaran mu sendiri anak muda", jawab Yan Luo segera.


Mendengar jawaban dari Yan Luo, Panji Tejo Laksono menghela nafas lega. Dia merasa yakin dengan kemampuannya dalam mempelajari sesuatu. Perjalanan nya dengan Begawan Ganapati adalah bukti nyatanya.


Yan Luo yang menggaruk kepalanya segera berbalik badan dan menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Anak muda, ada yang aku lupakan..


Siapa nama mu?"