
Dari arah luar, dua orang berpakaian hitam dengan topeng separuh wajah dengan gambar bulan sabit terbalik berwarna merah darah masuk ke dalam tempat itu. Ki Samparjagad alias Iblis Gunung Kawi segera menoleh ke arah mereka.
"Ada apa? Kenapa kalian kemari tanpa di panggil??", ucap Ki Samparjagad yang sedikit tidak suka dengan kehadiran mereka yang mengganggu perbincangan nya dengan Nyi Dadap Segara.
"Mohon ampun, Pimpinan Ketiga.
Ada nawala yang datang dari Lembah Kalong. Mohon pimpinan tidak murka karena ini", salah seorang diantara mereka segera menghaturkan sebuah surat yang baru saja di terima lewat merpati.
Ki Samparjagad bergegas menuju ke arah mereka berdua dan mengambil nawala di tangan mereka. Tanpa menunggu lama, Ki Samparjagad segera membuka nawala yang di bungkus dengan kain warna merah itu.
'Pimpinan Ketiga,
Temui aku di Kahuripan.
Di tempat biasa.
Malaikat Bertopeng Emas'
Demikian bunyi tulisan yang ada di dalam nawala itu. Usai membaca nawala itu, api muncul di telapak tangan Ki Samparjagad yang segera membakar nawala yang terbuat dari kain putih itu. Sebentar saja, nawala itu terbakar menjadi abu.
"Nyi Dadap Segara, aku harus menemui pimpinan utama di Kahuripan. Untuk masalah Panji Tejo Laksono, kita tunda sementara waktu. Tunggu sampai aku kembali.
Untuk sementara, biar murid ku yang akan menjadi pembantu mu", ujar Ki Samparjagad segera.
Meski memendam perasaan kecewa karena Ki Samparjagad tidak jadi bersama nya untuk membalas dendam kematian Ki Pancatnyana dan orang-orang nya, Nyi Dadap Segara segera membungkuk hormat kepada Ki Samparjagad.
"Aku mengerti Pimpinan Ketiga", sahut Nyi Dadap Segara segera.
"Sriwilkutil,
Kemari kau!!", ucap Ki Samparjagad sedikit keras. Angin kencang berhembus dari arah pintu rumah tua menerbangkan debu dan dedaunan kering yang membuat Nyi Dadap Segara dan Sepasang Setan Kembar dari Gunung Welirang terpaksa melindungi mata mereka agar kemasukan debu. Begitu angin kencang itu tiba-tiba menghilang, seorang perempuan bercadar merah yang tinggi nya sama dengan Nyi Dadap Segara sudah ada di sana sembari membungkuk hormat kepada Ki Samparjagad yang berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun.
"Guru memanggil ku? Ada tugas apa?", ujar perempuan bercadar merah itu dengan penuh hormat.
"Sriwilkutil,
Aku perintahkan kepada mu untuk mengikuti langkah Nyi Dadap Segara. Tidak perlu berjalan bersama tapi kau tidak boleh jauh dari nya. Lindungi dia apapun yang terjadi", perintah Ki Samparjagad segera. Nyi Dadap Segara yang melihat itu, hanya menatap ke arah perempuan bercadar merah itu.
"Murid mengerti, Guru", usai berkata demikian, perempuan bercadar merah itu segera menghilang bersamaan dengan angin kencang yang tiba-tiba muncul. Perempuan itu seolah datang dan pergi bersama angin.
Ki Samparjagad segera menoleh ke arah Nyi Dadap Segara. Lelaki tua berjanggut itu mengusap janggut nya sebelum berbicara.
"Kumpulkan orang orang kita di wilayah Kadipaten Dinoyo dan Kanjuruhan. Siagakan mereka di perbatasan wilayah dengan Seloageng, Nyi Dadap Segara. Lebih tepatnya di Tumapel.
Sewaktu waktu ada kabar dari ku untuk bergerak, kau pimpin mereka untuk menyerbu ke Seloageng. Ranasuta akan memimpin dari Kadipaten Dinoyo bersama para prajurit Jenggala untuk menyerbu Kadipaten Matahun lewat Pakuwon Hantang. Sedangkan yang lain akan bergerak menuju ke Kadipaten Bojonegoro. Serangan ini harus serempak untuk membuat pertahanan Panjalu kacau.
Berangkatlah sekarang juga dan tunggu aba-aba dari ku", ujar Ki Samparjagad yang segera berbalik badan. Nyi Dadap Segara segera membungkuk hormat kepada Ki Samparjagad sebelum bergegas keluar dari rumah tua itu.
Setelah Nyi Dadap Segara keluar, mulut Ki Samparjagad segera komat-kamit merapal mantra. Sekejap mata kemudian tubuhnya sudah menghilang dari tempat itu.
Di suatu tempat yang sudah di janjikan, di luar tapal batas Kotaraja Kahuripan,Ki Samparjagad muncul. Disana sudah ada dua orang yang menunggu kedatangan nya. Seorang lelaki berpakaian layaknya seorang bangsawan dengan memakai topeng separuh wajah yang terbuat dari emas dengan hiasan bulan sabit merah terbalik berwarna merah darah nampak berdiri di atas sebuah batu besar sedangkan seorang wanita berpakaian rapi dengan kain warna biru muda dengan memakai topeng separuh wajah dari perak dengan hiasan serupa dengan topeng emas juga hadir disana.
"Samparjagad memberi hormat pada pimpinan utama dan pimpinan kedua", ujar Ki Samparjagad sembari sedikit membungkuk pada mereka berdua.
"Bangunlah, Ki Samparjagad. Kau sungguh cepat seperti biasanya", ujar si lelaki yang memakai topeng emas sembari tersenyum tipis melihat kedatangan Ki Samparjagad.
"Terimakasih atas kebaikan hati, pimpinan utama.
Ada permasalahan apa hingga pimpinan utama sampai memanggil saya kemari?", tanya Ki Samparjagad segera.
"Rencana penyerangan ke Panjalu sudah dekat. Bagaimana persiapan yang telah kau tata?", si lelaki bertopeng emas yang tak lain adalah pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah, Malaikat Bertopeng Emas, menatap ke arah wajah tua Ki Samparjagad.
"Segala sesuatunya telah di atur sedemikian rupa, Pimpinan Utama.
Tapi ada masalah besar yang menimpa kita. Pimpinan ketujuh kelompok kita, Resi Mpu Wisesa terbunuh oleh Panji Tejo Laksono, Adipati Seloageng yang baru. Kematian nya setidaknya mengacaukan beberapa langkah kita karena hanya Resi Mpu Wisesa yang hapal betul seluk beluk Kadipaten Seloageng", lapor Ki Samparjagad sembari menghormat pada Malaikat Bertopeng Emas.
"Resi Mpu Wisesa memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Bagaimana mungkin bisa terbunuh semudah itu?", sahut perempuan bertopeng perak itu segera. Dia terkejut juga mendengar berita kematian Resi Mpu Wisesa.
"Mohon ampun pimpinan kedua. Pimpinan Kelima, Nyi Dadap Segara yang sempat terlibat adu ilmu kanuragan dengan Adipati muda itu mengatakan bahwa ilmu kanuragan nya sangat tinggi. Kakak seperguruan nya saja, Ki Pancatnyana terbunuh di tangan nya", sambung Ki Samparjagad segera.
Malaikat Bertopeng Emas dan perempuan bertopeng perak yang merupakan pimpinan kedua Kelompok Bulan Sabit Darah yang berjuluk Bidadari Bertopeng Perak itu langsung saling berpandangan sejenak mendengar penuturan Ki Samparjagad. Nama Ki Pancatnyana sebagai pendekar pilih tanding yang mendapat julukan Si Iblis Gila begitu tersohor di wilayah Kerajaan Jenggala. Dan kini mereka mendengar berita kematian nya di tangan Panji Tejo Laksono, Adipati baru Seloageng, tentu saja cukup mengejutkan mereka.
"Kalau begitu adanya, kirim telik sandi terbaik kelompok kita untuk menyelidiki kelemahan Panji Tejo Laksono. Masalah penyerangan, kita tunda sampai ada kabar tentang hal itu.
Bidadari Bertopeng Perak, pergilah ke Kadipaten Hujung Galuh, temui Brajadenta. Aku menunjuk Brajadenta untuk menjadi pimpinan ketujuh menggantikan posisi Resi Mpu Wisesa.
Ki Samparjagad, aku menunggu kabar dari telik sandi yang kau utus ke Seloageng", perintah Malaikat Bertopeng Emas segera.
"Kami mengerti Pimpinan Utama", Ki Samparjagad dan Bidadari Bertopeng Perak kompak menjawab perintah Malaikat Bertopeng Emas. Keduanya segera menghormat pada lelaki itu dan sekejap kemudian keduanya sudah tidak ada di tempat itu.
"Tejo Laksono, kau benar-benar keparat! Tunggu saja saatnya nanti!", geram Malaikat Bertopeng Emas yang kemudian melesat cepat meninggalkan tempat berdirinya.
****
Panji Tejo Laksono meniupkan udara ke genggaman tangan kiri nya kemudian meletakkannya di telinga. Tingkah aneh ini seketika membuat Gayatri yang berkuda di sampingnya segera berbicara.
"Telinga kiri ku berdenging Dinda Gayatri. Makanya aku meniupkan udara ke telinga untuk mengurangi rasa pusing nya", jawab Panji Tejo Laksono sembari menepuk punggung kuda tunggangan nya. Kuda hitam itu meringkik perlahan dan berjalan lambat. Di depan mereka, gerbang Kota Kadipaten Seloageng sudah terlihat.
"Kata orang orang tua dulu, itu tandanya ada seseorang yang sedang membicarakan hal buruk tentang dirimu, Kangmas Pangeran", sambung Luh Jingga sembari tersenyum tipis.
"Aku tidak mempermasalahkan jika hal itu terjadi, Dinda Jingga. Biarkan saja mereka bicara seenaknya saja, itu adalah hak mereka. Yang penting kita tidak pernah membicarakan hal buruk milik orang lain", balas Panji Tejo Laksono yang terlihat tenang saja mendengar ucapan Luh Jingga.
Rombongan prajurit Seloageng yang di pimpin oleh Panji Tejo Laksono perlahan memasuki Kota Kadipaten Seloageng. Ratusan warga yang berlalu lalang di jalan raya segera menepi untuk memberikan jalan kepada mereka sebagai tanda penghormatan. Sebagai pujaan baru di Kota Seloageng ini, semua orang nampak ingin melihat wajah tampan Panji Tejo Laksono.
"Wah betul sekali kata orang-orang ya. Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono memang tampan sekali", ucap salah seorang gadis yang berkerumun di dekat sebuah rumah makan.
"Ah kau ini ketinggalan berita ya.. Sebagai putra sulung dari Gusti Prabu Jayengrana tentu saja Gusti Pangeran Adipati mewarisi ketampanannya. Andai saja Gusti Pangeran Adipati melamar ku, akan langsung ku terima", sahut seorang gadis berkemben biru sambil memegang kedua pipinya.
"Kalau mimpi jangan ketinggian, kalau jatuh nanti sakit..
Gusti Pangeran Adipati sudah punya empat istri yang cantik jelita. Bagaimana mungkin beliau melirik perempuan yang jarang mandi seperti mu? Hihihi..", sergah seorang gadis lain yang ada di sampingnya.
"Wong nama nya bermimpi kan sah sah saja to. Ya siapa tahu jadi kenyataan..
Eh tapi siapa gadis cantik berbaju putih yang berkuda di belakang dua selir Gusti Pangeran Adipati itu ya? Kok aku tidak pernah lihat", sambung si gadis berkemben kuning itu seraya menatap ke arah Dyah Kirana. Kerumunan gadis gadis itu langsung mengalihkan pandangannya pada sosok Dyah Kirana. Dan kasak kusuk pun segera terdengar diantara mereka.
Para prajurit penjaga gerbang istana segera membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono dan bergegas membuka pintu gerbang istana Kadipaten Seloageng begitu rombongan itu sampai di sana. Senopati Gardana mengikuti langkah Panji Tejo Laksono dan tiga orang gadis cantik itu masuk ke dalam Pendopo Agung Kadipaten Seloageng bersama Tumenggung Kundana.
Di dalam Pendopo Agung Kadipaten Seloageng, para nayaka praja Seloageng sudah menunggu. Kabar kedatangan Panji Tejo Laksono memang sudah di beritahukan kepada pihak istana Seloageng sebelumnya oleh Tumenggung Kundana hingga penyambutan pun di adakan. Semua nayaka praja Seloageng termasuk Patih Sancaka, Ayu Ratna, Song Zhao Meng dan beberapa pejabat menengah seperti Demung dan Juru langsung berjongkok sambil menyembah pada Panji Tejo Laksono begitu sang putra tertua Prabu Jayengrana itu menginjakkan kakinya di pendopo. Dua utusan dari Kadiri, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg pun ikut menyembah pada Panji Tejo Laksono.
Setelah Panji Tejo Laksono duduk di singgasana Kadipaten Seloageng, semua orang segera duduk di tempat mereka masing-masing. Luh Jingga dan Gayatri segera duduk di kursi yang menjadi tempat mereka sementara Dyah Kirana duduk di bawah kursi Gayatri. Adanya perempuan cantik jelita berbaju putih itu tentu saja menarik perhatian dari semua orang.
"Aku pulang dari Wanua Ranja karena mendengar berita bahwa Kanjeng Romo Prabu Jayengrana mengutus Paman Ludaka dan Paman Gumbreg kemari mengantar nawala.
Benarkah demikian?", Panji Tejo Laksono mengalihkan pandangannya pada Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg.
Kedua orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan maju. Begitu sampai di depan Panji Tejo Laksono, keduanya segera duduk bersila.
"Kedatangan kami kemari memang atas perintah dari Gusti Prabu Jayengrana, Gusti Pangeran. Kami membawa nawala dari Gusti Prabu Jayengrana untuk Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono", setelah berkata demikian, Tumenggung Ludaka segera menoleh ke arah Demung Gumbreg. Perwira bertubuh tambun itu segera menghaturkan sebuah nawala yang di bungkus dengan kain warna biru dengan kedua tangannya.
Patih Sancaka segera melangkah menuju ke arah mereka dan mengambil surat itu lalu memberikannya kepada sang penguasa Kadipaten Seloageng. Panji Tejo Laksono segera membuka kain pembungkus nawala yang terbuat dari daun lontar itu. Segera Panji Tejo Laksono membaca isi surat itu dalam hati.
'Putra ku Panji Tejo Laksono,
Ada laporan dari telik sandi kita,
Tentang adanya pergerakan prajurit Jenggala,
Di timur wilayah Kadipaten Seloageng,
Selidiki dugaan ini tapi jangan sampai terjadi keributan,
Aku menunggu kabar baik dari mu,
Sang Maharaja Panjalu Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta '.
Hemmmmmmm...
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari Panji Tejo Laksono usai membaca nawala itu. Dia segera memasukkan lembaran daun lontar itu ke dalam wadahnya. Semua orang menunggu titah sang pangeran muda.
"Paman Patih Sancaka,
Aku tugaskan pada mu bersama dengan Tumenggung Kundana untuk menyiapkan segala keperluan yang di perlukan untuk menghadapi perang. Lakukan dengan cepat dan tenang agar Rakyat Kadipaten Seloageng tidak panik.
Senopati Gardana,
Atur para bawahan mu dan prajurit Seloageng sebagaimana mestinya. Sore ini aku ingin mendengar laporan mu tentang senjata, kuda dan jumlah para prajurit Seloageng yang kita miliki.
Dalam surat ini , Kanjeng Romo Prabu Jayengrana memberitahukan kepada ku tentang adanya pergerakan prajurit Jenggala di timur wilayah Kadipaten Seloageng. Kita wajib bersiap siaga untuk menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi.
Apa kalian sudah mengerti?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati", ujar seluruh orang yang ada di tempat itu. Panji Tejo Laksono langsung mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat kepada para punggawa istana Seloageng untuk melakukan tugas mereka masing-masing. Di awali dengan Patih Sancaka, semua punggawa istana Seloageng mundur dari Pendopo Agung Kadipaten Seloageng.
Setelah para punggawa istana Seloageng mundur dari tempat itu, Panji Tejo Laksono menghela nafas berat.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Sebelum hamba bertanya tentang tugas khusus yang diberikan oleh Gusti Prabu Jayengrana, saya ingin bertanya. Tapi tolong Gusti Pangeran jangan marah ya", ujar Demung Gumbreg sembari menyembah pada Panji Tejo Laksono dengan takut-takut.
"Memangnya kau mau tanya apa Mbreg? Ini di Pendopo Agung, jangan tanya macam-macam", bisik Tumenggung Ludaka segera karena dia hapal betul dengan sifat teman karibnya itu.
"Daripada aku mati penasaran, lebih baik aku tanya saja Lu..
Aku juga yakin kau juga ingin tahu", balas Demung Gumbreg setengah berbisik. Panji Tejo Laksono tersenyum simpul melihat ulah perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh tambun ini. Sedikit banyak dia hapal dengan sikap Demung Gumbreg yang biasa kurang bisa menempatkan tata krama. Panji Tejo Laksono segera mengangkat tangan kanannya ke depan, sembari berkata perlahan,
"Mau tanya apa Paman?"