Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Situasi Istana Kadipaten Rajapura


"Apa kau bilang, Waruga??!!


Menyerah pada pasukan Panjalu? Lebih baik aku mati kelaparan daripada menjadi tawanan orang-orang Jayengrana itu. Orang orang terkutuk itu akan mati mengenaskan", amarah Adipati Waramukti langsung memuncak saat mendengar usulan dari Juru Waruga. Hati nya yang telah dibutakan oleh dendam kesumat atas kematian Pangeran Suryanata, benar benar tidak bisa membuat pikiran nya jernih. Segera dia berdiri dari tempat duduknya dan langsung mencabut keris pusaka di pinggangnya. Dia bermaksud untuk menghabisi nyawa Juru Waruga.


Mantri Dharmadyaksa Mpu Supala segera menubruk kaki Adipati Waramukti untuk menahan pergerakan sang penguasa Kadipaten Rajapura itu.


"Apa maksud mu ini Mpu Supala? Biarkan aku habisi orang yang berpihak pada Panjalu ini sekarang juga", dekapan erat Mpu Supala membuat Adipati Waramukti tak bisa melangkah ke arah Juru Waruga yang masih duduk bersila di tempatnya.


"Mohon Gusti Adipati urungkan niat untuk membunuh Juru Waruga. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa menjadi benteng pertahanan bagi kita, Gusti Adipati", ujar Mpu Supala segera. Rupanya kata-kata Mpu Supala ini berhasil meredam emosi yang memuncak pada Adipati Waramukti. Perlahan tangannya yang sempat menggenggam erat gagang keris pusaka di tangan nya menjadi mengendur.


Hemmmmmmm


"Kali ini aku dengarkan omongan Mpu Supala, Waruga. Tapi jika di kemudian hari kau bicara tentang hal seperti itu lagi, saat itu juga akan ku cabut nyawa mu", ujar Adipati Waramukti sembari menyarungkan kembali keris pusaka itu di pinggangnya. Juru Waruga yang sempat ketakutan sampai pucat wajahnya karena tindakan Adipati Waramukti itu segera menyembah pada sang penguasa Kadipaten Rajapura.


"Terimakasih atas kemurahan hati Gusti Adipati memaafkan kesalahan hamba", ucap Juru Waruga seraya duduk kembali di tempat nya.


"Sudah cukup..


Waruga, perintahkan kepada semua prajurit Rajapura untuk bersiaga penuh. Tidak sedikit pun boleh ada yang berani tidur saat berjaga. Jangan sampai kita kecolongan karena kendur penjagaan", titah Adipati Waramukti sembari mengibaskan tangannya pertanda dia ingin Juru Waruga meninggalkan Pendopo Agung Kadipaten Rajapura ini segera.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati ", usai berkata demikian, Juru Waruga segera menghormat pada Adipati Dolken lalu beringsut mundur beberapa langkah sebelum berjalan keluar dari pendopo agung, meninggalkan Adipati Waramukti, Mantri Dharmadyaksa Mpu Supala dan Mantri Pamgat Mpu Warma yang masih melanjutkan perbincangan mereka.


Dengan langkah gontai, Juru Waruga berjalan menuju ke arah tangga naik ke atas tembok istana Rajapura. Para prajurit Rajapura yang berpapasan dengannya langsung menghormat pada lelaki bertubuh kekar dengan kumis tipis dan rambut gimbal itu. Begitu sampai di tempat yang dia tuju, Juru Waruga segera menapaki tangga menuju atas tembok istana Rajapura yang setinggi hampir dua tombak. Begitu sampai di atas, dia berjalan melewati para prajurit pemanah yang bersiaga di atas tembok istana menuju ke salah satu pos penjagaan keamanan yang memiliki tempat berteduh seperti dangau.


Di tempat itu, seorang perwira prajurit rendah berpangkat lurah prajurit yang bernama Bekel Lumadi yang melihat kedatangan nya langsung menghormat.


"Selamat datang Gusti Juru..


Kenapa Gusti Juru terlihat lemas seperti tidak bertenaga seperti ini?", tanya Bekel Lumadi dengan sopan.


"Aku sedang banyak pikiran Lumadi. Kau tahu sendiri anak istri ku ada di wilayah yang kini di kuasai oleh para prajurit Panjalu. Jujur saja aku khawatir dengan keselamatan mereka.


Tambahan lagi, Gusti Adipati Waramukti sangat keras kepala dengan keputusan nya", jawab Juru Waruga seakan sedang mencurahkan isi hatinya.


"Apa maksud ucapan Gusti Juru yang mengatakan bahwa Gusti Adipati Waramukti sangat keras kepala dengan keputusan nya? Mohon maaf, Lumadi yang bodoh ini memang kurang pendidikan", kembali Bekel Lumadi bertanya.


Setelah menghela nafas berat, Juru Waruga menoleh ke sekeliling tempat itu sebelum berbicara.


"Ini rahasia, Lumadi.. Kau harus benar-benar menutup mulut mu jika ingin nyawa mu selamat.


Dengar baik-baik, Lumadi.. Hemmmmmmm..


Persediaan makanan kita hanya cukup untuk sepekan saja dan Gusti Adipati Waramukti tidak akan menyerah pada pasukan Panjalu. Aku sudah mengusulkan agar kita menyerah saja pada Panjalu, tapi beliau berkata bahwa lebih baik mati kelaparan daripada menjadi tawanan orang-orang Prabu Jayengrana. Ini sama dengan kita di minta untuk bunuh diri bersama-sama dengan nya", bisik Juru Waruga seraya menghela nafas berat begitu selesai bicara.


Terkejut lah Bekel Lumadi mendengar jawaban Juru Waruga. Hampir saja dia berteriak namun dengan cepat ia membekap mulutnya agar tidak menarik perhatian para prajurit pemanah yang bersiaga tak jauh dari tempat nya berada.


"Ke-kenapa Gusti Adipati Waramukti bisa punya pemikiran seperti itu, Gusti Juru? Apa dia tidak punya rasa simpati sedikitpun pada para prajurit Rajapura ini?", ucap Bekel Lumadi usai berhasil menguasai dirinya.


"Aku tidak tahu, Lumadi..


Yang aku takutkan adalah para prajurit Rajapura akan memberontak sendiri terhadap Gusti Adipati Waramukti jika mereka mulai kelaparan. Ini sangat mungkin terjadi dan aku tidak bisa membayangkan apa jadinya jika hal itu terjadi ", ujar Juru Waruga seraya menatap ke arah ribuan orang prajurit Panjalu yang kini mengepung istana Kadipaten Rajapura.


"Dan itu pasti terjadi, Gusti Juru..


Kalau perut yang kosong sudah bicara, maka semua tatanan masyarakat dan unggah-ungguh yang biasa di lakukan pasti akan di terjang. Hamba sendiri juga tidak mau mati kelaparan di istana ini", ujar Bekel Lumadi lirih.


"Aku sependapat dengan mu, Lumadi..


Tapi apakah kita harus berkhianat kepada Gusti Adipati Waramukti hanya karena takut kelaparan? Yang aku pikirkan saat ini hanya anak dan istri ku saja", Juru Waruga menghela nafas berat.


Apakah kita akan mengikuti keputusan angkuh Gusti Adipati Waramukti atau berkhianat dan menyelamatkan nyawa para prajurit Rajapura yang ada di tempat ini", sahut Bekel Lumadi sembari menatap ke arah para prajurit Rajapura yang hilir mudik di bawah tempat mereka berada. Juru Waruga menghela nafas berat.


Waktu terus berlalu dengan cepat. Tak terasa hari ini sudah dua hari satu malam pengepungan Istana Kadipaten Rajapura di lakukan. Para prajurit Panjalu masih tetap bersiaga di tempat mereka sembari menatap ke arah istana Kadipaten Rajapura seolah itu adalah tempat yang harus mereka hancurkan.


Malam itu selepas senja bergerak menghilang di balik langit barat, Juru Waruga yang baru selesai berganti pakaian berjalan mendekati pos penjagaan keamanan yang menjadi tempat Bekel Lumadi berada.


Bawahan yang menjadi tempat satu-satunya Juru Waruga ini nampak gelisah menatap ke arah langit barat yang mulai menghitam akibat sang Surya yang kembali bersembunyi di balik ufuk barat. Sebentar-sebentar dia menatap ke arah barat seperti berharap agar gelap malam segera menutupi seluruh jagat raya. Pria bertubuh tegap itu seperti sedang merencanakan sesuatu.


"Kau kenapa Lumadi? Kenapa tingkah mu aneh seperti itu?", ucapan Juru Waruga sontak membuat Bekel Lumadi terkejut bukan main.


"Ti-tidak ada apa apa Gusti Juru.. Hamba ha-hanya sedikit sakit perut", gagap Bekel Lumadi menjawab pertanyaan Juru Waruga. Ini semakin menambah kecurigaan sang perwira tinggi prajurit Rajapura itu.


"Sakit perut? Jangan berdusta Lumadi. Katakan saja yang sebenarnya. Kalau kau berani berdusta, aku tidak akan segan segan untuk menghukum mu", tukas Juru Waruga seraya menatap tajam ke arah Bekel Lumadi yang salah tingkah di depan nya. Pria bertubuh tegap itu sejenak menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbicara.


"Sebelum nya hamba minta maaf Gusti Juru. Tapi ini semua demi kedua orang tua hamba yang ada di kota Rajapura ini juga teman teman para prajurit Rajapura yang lain.


Hamba bosan dengan sikap Gusti Adipati Waramukti yang terlalu memaksakan kehendak nya tanpa memikirkan nasib para bawahannya. Dari itu sudah hamba putuskan untuk kabur dari istana ini untuk memberitahu pada pimpinan pasukan Panjalu tentang segala hal di istana ini. Harapannya, pimpinan pasukan Panjalu bersedia mengampuni nyawa kami yang hanya menjalankan perintah.


Jadi jika Gusti Juru berniat untuk menghalangi niat hamba, mohon maaf jika hamba terpaksa lancang melawan Gusti Juru", Bekel Lumadi menatap tajam ke arah Juru Waruga.


Mendengar ucapan itu, Bekel Waruga justru tersenyum lebar.


"Aku tidak akan menghalangi niat mu, Lumadi. Justru akan membantu mu karena aku juga sudah muak dengan sikap keras kepala Adipati Waramukti", lega Bekel Lumadi mendengar jawaban Juru Waruga. Mereka lalu menyusun rencana pelarian dari istana Rajapura.


Ketika malam semakin larut, dengan bantuan seutas tali, Bekel Lumadi menuruni tembok istana Rajapura di bawah penjagaan Juru Waruga. Begitu turun, Bekel Lumadi segera berlari cepat kearah barak prajurit Panjalu yang terletak seratus depa dari tembok istana.


Demung Gumbreg yang sedang berdiang menghangatkan badan sembari membakar singkong yang di dapat dari rumah salah satu warga Kota Rajapura, langsung meraih gagang pentung sakti nya begitu melihat seorang lelaki bertubuh tegap mengenakan penutup tubuh dari kain hitam berlari cepat kearah nya. Sedangkan Tumenggung Ludaka yang duduk di sebelah nya segera mencabut pedang pendeknya sembari melesat cepat kearah sosok berpakaian hitam-hitam itu segera. Ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi membuat gerakan tubuh nya begitu ringan hingga dalam beberapa tarikan nafas dia sudah sampai di hadapan lelaki berpakaian hitam-hitam itu.


"Siapa kau? Mau apa kau kemari?", tanya Tumenggung Ludaka sambil menatap tajam ke arah sosok yang tak lain adalah Bekel Lumadi. Cahaya temaram rembulan malam yang separuh di langit membuat pandangan mata menjadi sangat terbatas.


"Apakah Kisanak adalah perwira prajurit Panjalu? Jika benar tolong tunjukkan pada ku, dimana pimpinan pasukan Panjalu? Ada sesuatu yang perlu dibicarakan ", jawab Bekel Lumadi segera.


"Huhhhhh memangnya kau siapa? Ingin bertemu dengan pimpinan kami, apa kau layak?", sahut Demung Gumbreg yang sudah sampai di dekat Tumenggung Ludaka. Perwira prajurit Panjalu bertubuh tambun itu memutar-mutar pentung sakti nya, bersiap untuk bertarung.


"Aku mohon Kisanak.. Ini sangat penting. Dan aku jamin dengan bantuan ku, para prajurit Panjalu akan bisa menembus benteng tembok istana Rajapura ini", mendengar jawaban Bekel Lumadi, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg saling berpandangan sejenak. Keduanya segera sadar bahwa orang di hadapannya itu pasti berasal dari istana Rajapura.


Keduanya segera menerjang maju ke arah Bekel Lumadi yang terkejut melihat serangan kedua perwira tinggi prajurit Panjalu. Namun dia tidak punya pilihan lain selain bertahan dari serangan Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg yang menyerangnya dari arah berbeda.


Tumenggung Ludaka segera menyabetkan pedang pendek nya ke arah kepala Bekel Lumadi.


Shhrreeettthhh..


Mendapat serangan itu, Bekel Lumadi segera menunduk untuk menghindar. Namun di saat yang bersamaan, Demung Gumbreg yang menyerang dari arah berlawanan, menyodokkan ujung pentung sakti nya ke arah perut Bekel Lumadi.


Dhhuuugggg..


Aaauuuuggggghhhhh !!


Bekel Lumadi segera meringkuk menahan rasa sakit seperti baru di hantam balok kayu besar. Namun kali ini sebelum dia berdiri tegak, Tumenggung Ludaka menyapukan kaki kanan nya yang membentur betis kaki Bekel Lumadi. Perwira prajurit Rajapura itu langsung roboh. Belum sempat dia bergerak, pedang Tumenggung Ludaka sudah menempel di lehernya.


"Berani bergerak, putus leher mu!", ancam Tumenggung Ludaka yang membuat Bekel Lumadi tak berani bergerak sedikitpun.


Dari arah belakang mereka, sebuah suara berat nan berwibawa yang sangat Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg kenali terdengar.


"Ada apa ini ribut-ribut?"