
"Ren.. rencana kedua?
Apa itu Kangmas Pangeran? Luh Jingga sama sekali tidak mengerti..", Luh Jingga yang kebingungan dengan ucapan Panji Tejo Laksono kembali bertanya.
"Sudahlah Dinda Jingga. Ikuti saja aku dan nanti kau akan tahu dengan sendirinya", balas Panji Tejo Laksono sembari tersenyum penuh arti.
Rombongan pasukan Panjalu terus bergerak meninggalkan bantaran Kali Aksa. Di belakang mereka, ribuan orang prajurit Jenggala mengejar dengan penuh semangat untuk membunuh. Yang paling depan adalah Ki Juru Teki dari Lamajang. Tak jauh dari perwira prajurit Lamajang ini, Tumenggung Wanuda dari Pamotan ikut membantu. Keduanya merasa bahwa ini adalah kesempatan bagus bagi mereka untuk membawa pulang kemenangan di medan laga.
Dari seberang sungai, Senopati Badraseta mengernyitkan keningnya melihat para prajurit Panjalu yang sedang unggul tiba-tiba saja berbalik arah seperti hendak kabur dari medan pertempuran. Ini sangat tidak biasa dalam sebuah pertempuran. Mata lelaki bertubuh tinggi besar itu lalu menyapu sekeliling tempat yang menjadi jalan pelarian para prajurit Panjalu dari kejauhan.
'Tebing batu yang menjulang tinggi? Pohon besar yang terletak mengapit jalan pelarian?
Hemmmmmmm, apa sebenarnya tujuan dari kalian?
Ini pasti ada yang tidak beres..', batin Senopati Badraseta sembari terus memperhatikan gerak-gerik musuh yang sedang ia hadapi. Dia masih belum bisa mengetahui apa yang sedang di rencanakan oleh para prajurit Panjalu.
Setelah sekitar hampir separuh pasukan Jenggala memasuki jalan raya menuju ke arah benteng perbatasan, tiba-tiba saja terdengar suara terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring.
Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh...
Dari atas tebing batu di pinggir Kali Aksa yang menjulang tinggi, Demung Gumbreg muncul bersama dengan para prajurit Panjalu bertubuh gempal. Isyarat terompet tanduk kerbau yang terdengar tadi adalah tanda bagi mereka untuk bergerak.
"Mampus kalian wong wong Jenggala!!", maki Demung Gumbreg sambil membabat tali yang mengikat kayu gelondongan besar di puncak tebing. Bersamaan dengan itu, ratusan orang prajurit lain juga menggelindingkan batu besar dari atas tebing.
"Ini jebakan !!!
Semuanya cepat berlindung!!!!", teriak Ki Juru Teki sang pimpinan prajurit Jenggala yang mengejar para prajurit Panjalu. Puluhan baru besar menggelinding cepat kearah para prajurit Jenggala. Yang tidak siap, langsung tewas tertimpa batu besar dan kayu kayu gelondongan besar yang meluncur dari tebing tinggi yang mengapit jalan pelarian para prajurit Panjalu. Jerit kesakitan terdengar memilukan hati dari mulut mulut prajurit Jenggala yang menjadi korban dari jebakan sang demung bertubuh tambun.
Bersamaan dengan itu, Ki Juru Mpu Susena yang baru saja diangkat menjadi Tumenggung Seloageng segera memerintahkan kepada ribuan orang prajurit pemanah yang bersembunyi dibalik pohon besar untuk segera menyulutkan api pada ujung anak panah mereka. Dan...
Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg..!!
Ribuan anak panah berapi langsung menghujani para prajurit Jenggala yang selamat dari jebakan yang di buat oleh Demung Gumbreg.
Chhreepppppph chhreepppppph!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Teriak kesakitan terdengar bersahutan saat anak panah berapi ini menembus tubuh para prajurit Jenggala yang sedang di landa kepanikan tinggi. Salah satu anak panah berapi menyambar tumpukan rumput kering yang sudah di siapkan sebelumnya. Di dalam tumpukan rumput kering itu, terdapat jun bambu yang berisi minyak jarak yang sangat mudah terbakar. Begitu api menyambar, tumpukan rumput kering itu langsung terbakar cepat. Tempat itu menjadi penuh dengan api dan asap yang membuat mata perih hingga pandangan mata para prajurit Jenggala menjadi terganggu.
Ki Juru Teki benar benar tidak menyangka tentang jebakan beruntun yang di siapkan oleh para prajurit Panjalu. Dengan cepat ia memerintahkan kepada para prajurit Jenggala yang mengikuti langkah nya untuk mundur.
"Cepat mundur!!
Tempat ini penuh dengan jebakan!!!", teriak Ki Juru Teki sembari berusaha untuk keluar dari dalam kerumunan para prajurit Jenggala yang kini panik berupaya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka semua berusaha untuk secepatnya meninggalkan tempat itu agar selamat dari jebakan mematikan yang sedang menimpa mereka.
Tumenggung Raditya dari Kadipaten Karang Anom yang di tempatkan oleh Panji Tejo Laksono di hulu Kali Aksa, langsung memerintahkan kepada para prajurit Panjalu bertubuh kekar untuk menarik pancang kayu penahan bendungan yang mereka bangun beberapa hari yang lalu begitu mendengar suara terompet tanduk kerbau.
"Bongkar sekarang juga!!", perintah Tumenggung Raditya segera. 200 orang prajurit bertubuh kekar dengan cepat menarik tali tambang dari ijuk aren yang terikat dengan pancang penahan bendungan yang berjumlah 4 buah. Namun sepertinya mereka salah perhitungan. 200 orang prajurit bertubuh kekar itu tak mampu menarik paksa pancang penahan bendungan.
"Sial!! Kita terlalu kuat menancapkan pancangnya..!!", teriak seorang prajurit yang terus berupaya keras untuk mencabut pancang penahan bendungan itu bersama 49 kawan nya.
"Iya, terlalu kuat!! Bagaimana ini? Bisa-bisa rencana Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono gagal kalau kita tidak bisa mencabut pancang pancang sialan ini ", sambung seorang prajurit lagi dari kelompok yang berbeda.
Di saat mereka sedang kesulitan untuk menjebol pancang penahan bendungan, sesosok bayangan putih berkelebat cepat ke depan pancang penahan bendungan. Sosok itu segera mencabut sebuah pedang dari punggungnya. Cahaya putih menyilaukan mata muncul di bilah pedang yang ada di tangan sosok bayangan putih misterius ini. Tanpa menunggu lama lagi, dia segera mengayunkan pedangnya ke arah pancang penahan bendungan.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !!!
Tiga tebasan pedang bercahaya putih menyilaukan mata itu menciptakan 3 cahaya tipis tajam yang segera menebas pancang penahan bendungan.
Chhrrrraaaaaassss chhraasshh!!
Krrraaaakkkkkk...
Blllaaammmmmmmm !!!
Terdengar suara kayu patah diiringi oleh suatu ledakan keras. Bersamaan dengan itu semua, air yang tertampung di dalam bendungan langsung tumpah ruah menciptakan sebuah banjir bandang yang sanggup menyapu bersih apa saja yang dilaluinya. Sang bayangan putih misterius itu langsung melesat pergi ke arah timur pada saat ledakan keras jebolnya bendungan itu terjadi.
Telinga peka Senopati Badraseta yang mendengar suara ledakan keras di sertai suara gemuruh air banjir bandang ini langsung membuat pimpinan prajurit Jenggala itu tersadar.
"Celaka !!!!
Semuanya cepat mundur, menjauh dari tepi sungai ini!!!", teriak Senopati Badraseta dengan lantang. Dia sendiri segera menggebrak kuda nya meninggalkan bantaran Kali Aksa, membuat para prajurit Jenggala kebingungan. Sebagian kecil mengikuti langkah sang pimpinan sedangkan yang lain berusaha untuk ikut dengan nya dengan menyeberangi sungai yang dalamnya tak lebih dari setengah dengkul kuda.
Namun itu semua terlambat.
Air bah setinggi 2 kali tubuh orang dewasa dengan cepat bergerak menyapu bersih apa saja yang ada di depannya. Ribuan orang prajurit Jenggala yang masih di dalam Kali Aksa pun tak bisa berbuat banyak karena air bah ini langsung menyeret tubuh mereka. Kebanyakan mereka tidak bisa berenang jadi mereka dengan mudahnya menjadi mangsa empuk air bah ini.
Ki Juru Teki yang baru saja lolos dari jebakan yang di buat oleh para prajurit Panjalu terbelalak lebar begitu melihat air bah setinggi 2 tubuh orang dewasa tiba-tiba saja muncul dan menyapu sebagian besar para prajurit nya. Dia segera menoleh ke arah Tumenggung Wanuda dari Kadipaten Pamotan yang juga ikut terjebak bersamanya.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, Gusti Tumenggung?", tanya Ki Juru Teki segera.
"A-aku juga tidak tahu, Ki Juru..
Sepertinya para Dewa membantu para prajurit Panjalu ini agar menang dalam peperangan ini", ucap Tumenggung Wanuda tak kalah bingungnya.
Dari separuh prajurit Jenggala yang mengikuti nya, kini yang tersisa tak lebih dari 10 ribu orang saja. Kini mereka tak bisa bergerak karena terjebak antara banjir Kali Aksa dan hujan anak panah dari para prajurit Panjalu yang memaksa mereka untuk bertahan di tepi sungai ini.
Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh!
Dua kali bunyi nyaring terompet tanduk kerbau terdengar. Itu adalah isyarat untuk pasukan dari Lodaya dan pasukan Tumenggung Ludaka agar bergerak menggempur para prajurit Jenggala yang masih tersisa.
Hujan anak panah tiba tiba berhenti. Namun berikutnya muncul dua buah pasukan besar dari dua arah yang berlawanan bergerak cepat menuju ke arah para prajurit Jenggala yang masih bertahan di tepi Kali Aksa yang sedang banjir bandang. Dari arah Utara, Tumenggung Ludaka memimpin sekitar 10 ribu orang prajurit sedangkan dari arah selatan, Senopati Muda Jarasanda memimpin pasukan Lodaya bergerak mengepung para prajurit Jenggala.
Tanpa menunggu lama lagi, perang kembali terjadi dengan sengit. Kali ini, pasukanm Panjalu menang dalam jumlah besar. Mereka langsung menggempur prajurit Jenggala tanpa ampun sedikitpun.
Tumenggung Wanuda dari Pamotan langsung menggenggam erat gagang pedangnya dan melesat cepat kearah Tumenggung Ludaka yang menjadi pimpinan pasukan Panjalu dari arah Utara. Memotong kepala ular akan membuat ekornya tak berdaya, begitu pikirnya.
Satu tebasan cepat mengarah ke arah Tumenggung Ludaka. Melihat serangan itu, Tumenggung Ludaka yang kenyang makan asam garam pertarungan, langsung melompat tinggi ke udara dengan menekan punggung kudanya sebagai tumpuan. Tubuh lelaki paruh baya ini dengan cepat mendarat di tanah tepi Kali Aksa.
"Wong Panjalu, hari ini akan menjadi hari terakhir mu untuk menghirup udara segar. Matilah kau bajingan!!"
Tumenggung Wanuda menggeram keras sambil kembali mengayunkan pedangnya ke arah Tumenggung Ludaka. Pria bertubuh kekar dengan kumis tebal melintang di wajahnya ini segera melompat mundur beberapa langkah menghindari sabetan pedang Tumenggung Wanuda. Segera dia mencabut salah satu dari sepasang pedang pendek yang menjadi senjata andalan nya dari balik pinggang nya. Sedangkan tangan kirinya merogoh beberapa pisau kecil yang tersembunyi di balik bajunya.
Secepat kilat, Tumenggung Ludaka melemparkan pisau pisau kecil senjata rahasia nya ke arah Tumenggung Wanuda yang bergerak cepat kearah nya.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Tumenggung Wanuda melihat kelebatan cepat pisau yang di lemparkan oleh Tumenggung Ludaka, urungkan niat untuk mendekati Tumenggung Ludaka. Dia segera merubah gerakan tubuhnya dan dengan cepat membabatkan pedang nya menangkis 4 pisau yang meluncur cepat kearah nya.
Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!
Pisau pisau kecil senjata rahasia milik Tumenggung Ludaka bermentalan setelah tebasan pedang Tumenggung Ludaka mampu menangkis serangan cepat ini.
Namun Tumenggung Ludaka yang mengandalkan kecepatan gerak dengan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi, melesat cepat kearah yang berlawanan dan segera mengibaskan tangan kiri nya ke arah Tumenggung Wanuda.
Puluhan senjata rahasia kembali melesat ke arah perwira prajurit Jenggala itu dari arah berbeda.
Shrrriinnnggg shrriingg shrrriinnnggg!!
Bersamaan dengan serangan cepat senjata rahasianya, Tumenggung Ludaka bergerak cepat menuju ke arah lawannya mengikuti arah senjata rahasia andalannya. Tumenggung Wanuda terperanjat melihat kecepatan tinggi sang lawan. Dua serangan cepat beruntun itu benar-benar merepotkan nya.
Sebisa mungkin dia menangkis tusukan senjata rahasia Tumenggung Ludaka. Namun di sisi lain, Tumenggung Ludaka dengan cepat mengayunkan pedang pendek nya ke arah kaki sang perwira Jenggala.
Shhrreeettthhh!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Terlambat beberapa saat menghindar, sabetan pedang pendek Tumenggung Ludaka langsung menebas paha kiri sang perwira Jenggala. Meski tidak sampai memotong kaki, luka yang tercipta dari sabetan pedang pendek itu cukup dalam dan langsung mengucurkan darah segar. Tumenggung Wanuda terhuyung huyung mundur sambil memegangi paha kiri nya yang terus mengeluarkan darah.
Tumenggung Ludaka segera berdiri tegak sambil memperhatikan gerak-gerik Tumenggung Wanuda yang kini sudah cidera.
"Menyerahlah!! Dengan keadaan mu yang sekarang, kau tidak akan menang melawan ku", ucap Tumenggung Ludaka sembari menurunkan kewaspadaan nya.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Hanya karena bisa menggores paha ku, kau sudah merasa menang, wong Panjalu..
Kau terlalu naif!", ujar Tumenggung Wanuda sembari menancap pedangnya di samping tubuhnya. Kedua tangan nya segera tertangkup di depan dada. Dari arah kedua bahunya, sinar merah bergulung-gulung melingkari kedua tangan perwira Jenggala dari Pamotan ini. Rupanya dia ingin mengeluarkan ilmu pamungkas nya untuk melawan sang perwira prajurit Panjalu.
"Ajian Cadas Ngampar..!!
Kalau begitu mau mu, aku juga tidak akan mundur sejengkal pun!", ujar Tumenggung Ludaka sambil memasukkan pedang pendek ke sarung pedang di pinggangnya. Mulut sang perwira segera komat-kamit merapal mantra. Kedua tangan nya menangkup di depan dada dan sebuah bola cahaya biru kekuningan tercipta diantara kedua telapak tangan Tumenggung Ludaka. Ia menggunakan Ajian Lebur Segara yang baru saja selesai dia latih setelah hampir 20 tahun mempelajari ilmu kanuragan itu.
"Mati kau bajingan...
Cadas Ngampar... Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!"
Selarik sinar merah menyala berhawa panas menyengat langsung menerabas cepat kearah Tumenggung Ludaka. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu pun segera menghantamkan bola biru kekuningan Ajian Lebur Segara miliknya untuk menghadapi ilmu kesaktian lawannya.
Blllaaammmmmmmm !!!
Ledakan dahsyat terdengar saat dua ilmu kedigdayaan ini beradu. Hebatnya, bola biru kekuningan itu seakan tak terpengaruh oleh ledakan dahsyat itu, meski ukurannya menjadi lebih kecil tapi terus menerabas cepat kearah Tumenggung Wanuda yang terseret mundur setelah ledakan dahsyat terjadi.
Blllaaaaaarrr !!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Tumenggung Wanuda menjerit keras saat Ajian Lebur Segara menghantam dada nya. Tubuh perwira tinggi prajurit Jenggala itu terpental jauh ke belakang dan jatuh ke dalam aliran air bah di Kali Aksa. Bisa di pastikan bahwa dia tewas.
Sementara itu, Ki Juru Teki yang menghadapi Senopati Muda Jarasanda pun bukan lawan yang sepadan dengan sang pimpinan Pasukan Garuda Panjalu. Dia tewas bersimbah darah setelah Keris Kyai Klotok menembus ulu hati nya. Sisa prajurit Jenggala yang lain menjadi bulan-bulanan para prajurit Panjalu. Sebagian berusaha untuk melawan namun itu tidak berguna sama sekali. Sedangkan yang lain berusaha untuk menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke aliran air bah di Kali Aksa.
Senopati Badraseta yang hanya bisa melihat langsung semua kejadian itu dari seberang sungai, mendengus keras. Dia benar benar tidak menyangka bahwa di perang ini dia kehilangan hampir setengah jumlah prajuritnya hanya dalam waktu singkat.
Seorang bawahan Senopati Badraseta yang berdiri di dekat Senopati Badraseta berada, Ki Demung Sagotra langsung berucap melihat melihat kawan kawan nya di bantai tanpa bisa melawan, "Sepertinya kita sudah kalah, Gusti Senopati".
Mendengar itu, pimpinan pasukan Jenggala di wilayah selatan ini menggeram sesaat sebelum berbicara.
"Masih belum, Sagotra..
Aku masih punya senjata cadangan".