
Tubuh Nyi Simbar Kencana terus menua. Dan ini adalah wujud sebenarnya dari perempuan pimpinan Padepokan Tawang Kencana ini. Selama ini dia terlihat cantik dan awet muda memang menggunakan ilmu sesat untuk mempertahankan kemudaan nya dengan cara mengorbankan darah segar bayi pada bulan purnama. Ini sebabnya mengapa Padepokan Tawang Kencana selalu di benci banyak orang karena ritual sesat pemimpin nya yang sudah banyak mengorbankan nyawa bayi tak berdosa sebagai persembahan untuk Batari Durga.
Selepas Nyi Simbar Kencana sudah kehilangan daya kesaktian nya akibat di bakar rantai api yang di lepaskan oleh Maharesi Wanayasa, tubuh Nyi Simbar Kencana yang kini menjadi tua dan lemah roboh ke tanah. Maharesi Wanayasa segera mendekati bekas adik seperguruan nya itu yang terlihat mendekati ajalnya.
"Maafkan aku, Simbar Kencana..
Terpaksa aku keluarkan Ajian Rante Geni untuk menundukkan kebatilan yang ada di dirimu. Seharusnya ini akan membuat kau sadar", ujar Maharesi Wanayasa pada Nyi Simbar Kencana yang tergolek tak berdaya di tanah.
"Terkutuk kau Wanayasa..
Kelak jika aku terlahir kembali, akan ku balas perbuatan mu ini pa.. da... kuuhhh", setelah berkata demikian Nyi Simbar Kencana menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuh tua itu langsung tergeletak di atas tanah. Maharesi Wanayasa hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan terakhir adik seperguruan nya ini.
"Sampai ajal menjemput pun, kau masih juga tidak sadar juga adik ku..
Akan ku bawa jasad mu ke gunung Mandrageni sesuai dengan amanat guru kita", gumam Maharesi Wanayasa yang kemudian menggendong tubuh Nyi Simbar Kencana. Sambil menggendong mayat Nyi Simbar Kencana, Maharesi Wanayasa segera berjalan mendekati Luh Jingga dan Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari.
"Aku minta maaf kepada kalian berdua karena tidak bisa membantu hingga akhir. Aku harus membawa Simbar Kencana hidup atau mati ke gunung Mandrageni karena ini adalah amanat mendiang guru ku.
Ku doakan semoga Sang Hyang Widhi Wasa selalu melindungi kalian berdua dan memberikan jalan kemenangan di peperangan besar ini. Aku mohon pamit", ujar Maharesi Wanayasa yang segera menganggukkan kepalanya pada Luh Jingga dan Song Zhao Meng. Melihat itu, Luh Jingga segera membalas ucapan sang pertapa dengan santun.
"Terimakasih atas bantuannya, Maharesi. Kami mengerti apa yang kau lakukan. Selamat jalan dan semoga Hyang Agung selalu melindungi perjalanan Maharesi Wanayasa ke Gunung Mandrageni", Luh Jingga segera membungkuk hormat kepada Maharesi Wanayasa diikuti oleh Song Zhao Meng.
Maharesi Wanayasa tersenyum tipis melihat kesopanan mereka berdua dan dengan gerakan seringan kapas, tubuh tua pertapa itu segera melesat cepat bagaikan terbang ke arah selatan sambil menggendong mayat Nyi Simbar Kencana. Semua orang merasa takjub melihat pemandangan itu.
Perang besar antara para prajurit Panjalu dan prajurit Rajapura yang di isi oleh Perguruan Gunung Biru, Padepokan Tawang Kencana dan Padepokan Lembah Iblis masih terus berlangsung sengit. Sudah ratusan orang prajurit kehilangan nyawa. Mayat mayat bergelimpangan dimana-mana dengan darah menggenang seperti ingin menjadi bukti dari perang berdarah di timur Kota Kadipaten Rajapura.
Sementara itu, di sisi lain peperangan besar ini, Panji Tejo Laksono yang mendapat serangan dari Bogang Sarira terus bergerak lincah menghindari sabetan tongkat kayu berujung besi tajam dari pendekar cebol ini. Meskipun pendek tubuhnya, gerakan silat Bogang Sarira memang jauh diatas rata-rata.
Namun Panji Tejo Laksono juga pendekar muda sembarangan. Murid Padepokan Padas Putih dari Bukit Tawang di lereng Gunung Kelud itu mampu mengimbangi permainan silat Bogang Sarira yang menyasar pinggang ke bawah.
Whuuthhh whuuthhh..
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..!
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr!!!
Bogang Sarira terseret mundur hampir dua tombak ke belakang saat bonggol tongkat kayu berujung besi miliknya di sambut hantaman tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi.
'Bajingan kecil ini walaupun masih muda tapi ilmu nya tinggi juga. Pantas saja si tua Junggul Mertalaya itu minta bantuan ku', batin Bogang Sarira sambil mengurut dada nya yang terasa sesak. Dia segera melirik ke arah Junggul Mertalaya yang masih duduk bersila di tanah untuk mengobati luka dalam nya. Empat orang anggota Padepokan Lembah Iblis nampak berjaga-jaga di sekitar tempat Junggul Mertalaya bersemedi.
'Si tua Junggul Mertalaya itu butuh waktu sedikit lagi. Aku akan mengulur waktu untuk nya'
Bogang Sarira si pendekar cebol pimpinan Perguruan Gunung Biru itu segera menancapkan tongkatnya ke tanah. Dengan cepat, kedua telapak tangan nya bersatu di depan dada. Tiba tiba saja seluruh tubuh nya mengeluarkan cahaya merah yang membuat seluruh tubuh nya berwarna kemerahan. Ini adalah Ajian Setan Kober yang akan membuat penggunanya memiliki kemampuan berpindah tempat secepat kilat dan memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Setelah ajian andalannya selesai di rapal, Bogang Sarira menyeringai lebar sembari menyambar tongkat kayu berujung besi miliknya lalu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono.
Kemunculan Bogang Sarira yang tiba-tiba dengan perubahan wujud nya, tak ayal membuat Panji Tejo Laksono terkejut bukan main. Apalagi saat melihat Bogang Sarira sudah mengayunkan bonggol tongkat nya kearah dada.
"Mampus kau, bocah keparat!!"
Panji Tejo Laksono langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk menahan hantaman Bogang Sarira.
Dhiiieeeessshh..!
Kuatnya tenaga dalam tingkat tinggi yang di miliki Bogang Sarira usai merapal Ajian Setan Kober, membuat sang putra tertua Prabu Jayengrana itu terseret mundur sejauh satu tombak.
Belum sempat Panji Tejo Laksono berdiri sempurna, Bogang Sarira muncul di belakang Panji Tejo Laksono. Desiran angin kencang berhawa panas yang mengikuti gebukan tongkat Bogang Sarira terasa di kulit leher Panji Tejo Laksono.
Whhuuuuuuuggggh..,!!
Hilangnya Panji Tejo Laksono membuat Bogang Sarira terbelalak lebar. Selama ini gerakan cepat dan serangan kejutan dari arah belakang menggunakan Ajian Setan Kober nya hampir tidak pernah gagal. Hanya pendekar berilmu tinggi dan linuwih saja yang mampu menghindari sergapan Bogang Sarira saat menggunakan Ajian Setan Kober. Junggul Mertalaya adalah salah satu nya.
Terlebih lagi Bogang Sarira mengenali ajian yang di gunakan oleh Panji Tejo Laksono baru saja. Sebuah ilmu kanuragan tingkat tinggi yang hanya di miliki oleh beberapa pendekar sakti mandraguna dari Kulon, Ajian Halimun.
"Bangsat !
Jangan main petak umpet bocah busuk. Ayo hadapi aku secara jantan!", teriak Bogang Sarira sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Semua orang terlihat sedikit menjauh dari tempat itu karena takut terkena serangan nyasar hingga tempat itu nyaris kosong.
"Ki Bogang, di belakang mu..!!", teriak salah seorang murid Padepokan Lembah Iblis yang berjaga di dekat Junggul Mertalaya.
Bogang Sarira dengan cepat memutar tubuhnya dan kembali menghantamkan ninggal tongkat kayu berujung besi miliknya kearah belakang. Namun hanya udara kosong yang ada di sana.
"Mana? Kog tidak ada?", tanya Bogang Sarira pada anak didik Junggul Mertalaya itu.
"Tadi dia di belakang mu Ki..
Tapi saat kau mulai berbalik badan dia hilang lagi", jawab si murid Padepokan Lembah Iblis itu segera.
"Nah itu itu Ki Bogang.. Dia sekarang di belakang mu lagi".
Mendengar ucapan itu Bogang Sarira segera berbalik badan. Namun belum sempat dia menyerang, Panji Tejo Laksono sudah terlebih dulu bergerak cepat ke arah nya dengan tangan bersinar merah menyala seperti api. Bogang Sarira terkejut bukan main melihat kejadian itu, dan dengan cepat ia menyilangkan tongkat kayu berujung besi tajam milik ke depan dada saat Panji Tejo Laksono datang dan menghantamkan tapak tangan kanan nya.
Whhhuuuggghhhh...
Blllaaammmmmmmm !!!
Ledakan keras terdengar saat Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono menghantam tongkat kayu berujung besi milik Bogang Sarira. Tubuh cebol pimpinan Perguruan Gunung Biru itu terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah. Baju dan wajahmu penuh dengan lumpur dan rumput. Beberapa bahkan masuk ke dalam mulutnya.
Akibat dari benturan keras tadi, tongkat kayu berujung besi milik Bogang Sarira patah menjadi dua bagian, menyisakan satu bagian atas yang terpegang tangan kanan Bogang Sarira.
Sementara Bogang Sarira masih terjerembab ke tanah, Junggul Mertalaya yang sudah lebih baik langsung melesat cepat kearah Panji Tejo sembari mengayunkan keris besar di tangan kanannya. Namun sang pangeran muda dari Kadiri sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri karena tubuhnya berlambaran sinar kuning keemasan.
Thhraaaangggggggg !!!
Sekuat apapun tenaga yang diberikan oleh Junggul Mertalaya untuk menembus kulit Panji Tejo Laksono sama sekali tidak membuahkan hasil. Keris pusaka di tangan nya seperti membentur lempengan logam keras. Berulang kali Junggul Mertalaya menusukkan keris pusaka nya namun semua sia sia belaka. Junggul Mertalaya kemudian melompat mundur dengan tatapan mata tak percaya melihat itu semua.
"Sekarang giliran ku, kakek tua", ujar Panji Tejo Laksono segera. Sesaat kemudian dia mengheningkan cipta sejenak dengan kedua tangan ada di depan dada. Tiba tiba muncul sebilah keris pusaka berwarna hitam dengan ukiran naga pada bilah nya yang berwarna keemasan. Rupanya dia mengeluarkan Keris Nagasasra yang pernah dia dapatkan saat ada di wilayah Kadipaten Karang Anom tempo hari.
Melihat Panji Tejo Laksono sudah mengeluarkan senjata nya, timbul niat Junggul Mertalaya untuk melarikan diri. Secepat kilat dia berusaha untuk lari ke arah Hutan Koncar yang ada di timur tempat itu. Namun dia lupa bahwa lawan nya memiliki banyak ilmu kanuragan tingkat tinggi.
Saat hampir sampai di tepian Hutan Koncar, Panji Tejo Laksono muncul di hadapan nya dan dengan cepat menusukkan Keris Nagasasra ke perut Junggul Mertalaya.
Jllleeeeeppppphhh..
AAAARRRGGGGGGHHHHH !!
Junggul Mertalaya langsung menjerit keras saat Keris Nagasasra menusuk tepat di ulu hati nya. Dia langsung terhuyung huyung mundur sambil memegangi ulu hati nya yang bolong tertembus Keris Nagasasra dari tangan sang pangeran muda dari Kadiri.
"Kau kau Li...ciikk..!!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Junggul Mertalaya sebelum roboh ke tanah meregang nyawa. Hari itu guru besar Padepokan Lembah Iblis menemui ajalnya di tangan seorang pangeran dari Kerajaan Panjalu.
Setelah melihat Junggul Mertalaya tewas, Panji Tejo Laksono segera mengalihkan pandangannya pada Bogang Sarira yang mulai ketakutan setelah melihat kematian Junggul Mertalaya. Sambil menyeringai lebar layaknya seekor harimau menatap mangsa, Panji Tejo Laksono langsung mengacungkan Keris Nagasasra ke arah Bogang Sarira sambil berkata,
"Kau akan segera menyusulnya!"