Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Tanah Lungguh


Panji Tejo Laksono mengulum senyum karena mendengar pertanyaan dari Ayu Ratna ini. Putri Adipati Aghnibrata ini benar benar perempuan yang polos.


"Kalau Dinda Ayu mau tahu, sebaiknya Dinda tutup mata sebentar saja", mendengar Panji Tejo Laksono bicara seperti itu, Ayu Ratna dengan patuh menutup matanya. Perlahan Panji Tejo Laksono mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Ayu Ratna. Dengan lembut, sang pangeran muda dari Kadiri ini mengecup bibir merah merona Ayu Ratna.


Mata indah Ayu Ratna langsung terbelalak lebar begitu mendapat perlakuan seperti itu. Namun itu hanya sebentar karena sekejap kemudian dia kembali mengatupkan matanya, mulai menikmati sentuhan lembut Panji Tejo Laksono yang kini mulai melepaskan kain demi kain yang membalut tubuh Ayu Ratna.


Malam itu, suasana kamar tidur pengantin baru Kadipaten Kalingga benar benar di isi oleh lenguh kenikmatan dan desah nafas penuh nafsu yang terus menggelora sepanjang malam. Apalagi setelah tengah malam, hujan mengguyur kawasan Kota Kadipaten Kalingga hingga membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Malam itu akan menjadi malam yang tak kan pernah terlupakan oleh Ayu Ratna karena Panji Tejo Laksono terus mencumbui nya hingga pagi menjelang tiba.


Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa sebentar lagi pagi hari akan segera hadir ke muka bumi. Dari ufuk timur, mentari pagi mulai muncul mengusir dingin malam yang sempat membuat seisi Kota Kadipaten Kalingga terlelap dalam tidurnya.


Ayu Ratna menggeliat manja dari atas ranjang tidur pengantin nya. Badannya terasa begitu letih setelah hampir satu malam suntuk bercinta dengan sang putra sulung Prabu Jayengrana. Setelah mengucek matanya sebentar, perempuan cantik yang kini sudah tidak perawan lagi itu segera menyadari bahwa dirinya kini tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Buru-buru Ayu Ratna menyambar sehelai jarik berwarna biru tua yang tergeletak berserakan begitu saja di bawah ranjang tidur nya dan menutupi tubuhnya yang polos.


Setelah itu, Ayu Ratna menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang masih terlelap tidur di atas pembaringan. Senyum manis segera terukir di wajah cantik Ayu Ratna melihat sosok lelaki yang semalam suntuk menggaulinya sebagai suaminya. Melihat Panji Tejo Laksono yang masih tertidur, timbul niat iseng Ayu Ratna untuk mengganggunya.


Putri Adipati Aghnibrata ini segera beringsut mendekati sang pangeran muda dari Kadiri. Di tatapnya wajah tampan Panji Tejo Laksono lekat-lekat seraya tersenyum penuh arti.


"Apa sudah cukup puas kau memandangku seperti itu, Dinda Ayu?"


Suara berat Panji Tejo Laksono langsung membuat Ayu Ratna terkaget. Terlebih lagi saat tangan kanan Panji Tejo Laksono dengan cepat merengkuh tubuh nya yang hanya di balut jarik berwarna biru tua itu.


"Ah Kangmas Pangeran nakal.. Sengaja mengagetkan ku ya?", ucap Ayu Ratna manja setelah tubuhnya kini menubruk ke arah dada sang pangeran muda.


"Aku sudah bangun dari tadi saat Dinda Ayu mulai memakai jarik itu..


Karena Dinda Ayu tadi sudah memandang wajah ku sembari punya niat untuk menjahili ku, maka Dinda Ayu akan ku hukum", Panji Tejo Laksono tersenyum penuh kemenangan.


"Ta-tapi Kangmas Pangeran, aku kan tidak jadi menjahili mu. Masak harus tetap di hukum juga?", protes Ayu Ratna sembari berupaya untuk melepaskan diri dari pelukan hangat Panji Tejo Laksono.


"Harus. Namanya niat jahat itu tetap ada hukum karma nya. Ayo sekarang Dinda Ayu bersiap. Hukumannya adalah permainan tadi malam ", Panji Tejo Laksono langsung meraih ujung jarik biru tua yang melilit tubuh Ayu Ratna.


"Hahhh?? Lagi Kangmas?", Ayu Ratna terbelalak tak percaya mendengar hukuman yang diberikan oleh Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu tidak menjawab pertanyaan itu, hanya segera menindih tubuh polos Ayu Ratna.


Sebentar lagi sudah terdengar lagi suara lenguhan panjang Ayu Ratna bersahutan dengan erangan kenikmatan yang terus menerus. Kembali ranjang tidur pengantin baru itu bergoyang di pagi buta itu.


Panji Tejo Laksono tersenyum puas melihat Ayu Ratna yang terkapar tak berdaya di sampingnya. Wajah cantik perempuan itu terlihat lelah setelah dia gempur habis-habisan. Namun terlihat kepuasan tiada tara di wajah putri Adipati Aghnibrata ini.


Thhokk thoookk thoookk..!!


Suara pintu di ketuk dari luar terdengar keras. Mendengar itu, Ayu Ratna buru-buru menyambar kain jarik yang terlempar ke bawah ranjang tidur dan dengan cepat melilitnya pada tubuhnya. Sementara itu, Panji Tejo Laksono langsung menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya sebelum berbicara.


"Siapa di luar?"


"Aku Kangmas Pangeran.. Gayatri..


Ini sudah cukup siang. Masak Kangmas Pangeran dan Kangmbok Ayu mau diam saja di dalam kamar?", suara keras dari luar yang ternyata adalah Gayatri membuat Panji Tejo Laksono menoleh ke arah jendela kamar tidur. Dari celah daun jendela memang terlihat cahaya matahari yang masuk ke dalam istana. Ini menandakan bahwa setidaknya sekarang matahari pagi sudah sepenggal naik ke langit. Ayu Ratna menata ke arah Panji Tejo Laksono seakan meminta persetujuan dari sang suami untuk membuka pintu kamar. Melihat anggukan kepala dari Panji Tejo Laksono, Ayu Ratna segera bergegas menuju ke arah pintu kamar tidur dan melepaskan palang pintu.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh...


Begitu pintu kamar tidur terbuka, mata Ayu Ratna melebar. Bagaimana tidak, di depan pintu kamar tidur nya sudah berdiri ketiga orang istri Panji Tejo Laksono yang lain sembari membawa nampan. Gayatri membawa nampan berisi pakaian ganti untuk Panji Tejo Laksono, sedangkan Song Zhao Meng mengangkat sebuah nampan yang diatasnya terdapat sebuah mangkok kecil yang sepertinya merupakan minuman jamu. Luh Jingga sendiri juga membawa nampan berisi gendok tanah liat yang berisi air hangat untuk cuci muka sang pangeran muda.


Tanpa menunggu persetujuan dari Ayu Ratna, ketiganya kompak masuk ke dalam kamar tidur Panji Tejo Laksono. Sedangkan Ayu Ratna buru-buru menutup daun pintu kamar agar tidak ada yang melihat suasana ruangan yang kacau balau.


"Wah wah Kangmas Pangeran rupanya semalam suntuk begadang ya?", senyum penuh arti terukir di wajah Gayatri.


Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono hanya tersenyum simpul saja. Begitu Luh Jingga meletakkan nampan berisi air hangat untuk cuci muka di dekatnya, putra Dewi Anggarawati itu segera membasuh wajah nya dengan air hangat bercampur daun sirih itu. B


"Kalian rawat dulu Kangmas Pangeran Tejo Laksono. Aku akan membersihkan diri dulu", ucap Ayu Ratna sembari tersenyum simpul. Perempuan cantik itu segera melangkah menuju ke arah pintu kamar tidur dan segera bergegas keluar menuju ke arah tempat mandi di belakang.


Setelah Ayu Ratna pergi, Song Zhao Meng segera mendekati Panji Tejo Laksono dan menyerahkan secawan minuman jamu kepada sang pangeran muda.


"Apa ini, Meng Er?"


"Itu adalah obat untuk memulihkan tenaga mu, Kakak Thee.. Cobalah", balas Song Zhao Meng yang segera mendapat sambutan hangat dari Panji Tejo Laksono. Usai meminum ramuan buatan Song Zhao Meng, badan Panji Tejo Laksono memang terasa lebih segar.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Panji Tejo Laksono akhirnya bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Pagi itu, di sasana boga Istana Kadipaten Kalingga, Panji Tejo Laksono bersama keempat orang istri nya sudah di tunggu oleh Adipati Aghnibrata dan Permaisuri Sukmawati. Melihat cara Ayu Ratna yang sedikit berbeda dari biasanya, Adipati Aghnibrata tersenyum penuh arti.


'Ah semoga saja cucu ku dari Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono akan segera hadir di dunia ini', batin Adipati Aghnibrata.


Pagi itu sasana boga Istana Kadipaten Kalingga benar benar ramai dengan adanya seloroh kecil Adipati Aghnibrata tentang cucu yang dia inginkan.


Seperti adat ketimuran yang berlaku, selama sepekan ini, Panji Tejo Laksono dan keempat istrinya dilarang untuk keluar dari istana Kadipaten Kalingga. Mereka diharuskan untuk melakukan kegiatan di dalam istana saja.


****


Nun jauh di timur, tepat nya di Istana Kadipaten Seloageng..


"Kangmas Adipati,


Kau harus tetap bertahan. Aku tidak bisa hidup tanpa mu, Kangmas huhuhuhuhu..", terdengar suara tangis keras dari dalam ruangan pribadi Adipati Seloageng, Adipati Tejo Sumirat. Itu adalah suara Nararya Candradewi, permaisuri Adipati Tejo Sumirat yang merupakan ibu dari Ratu Anggarawati dan nenek Panji Tejo Laksono. Sudah hampir dua purnama ini, Adipati Sepuh Tejo Sumirat menderita sakit yang parah. Ini membuat risau dan duka seluruh Istana Kadipaten Seloageng.


"Uhuk Uhukkk uhukkk...


Sudahlah Yayi Candradewi. Uhukkk uhukkk.. Aku rasa ajal ku sudah dekat. Aku sudah siap untuk bertemu dengan Sang Maha Pencipta. Uhukkk uhukkk uhukkk..


Tolong sampaikan pada Nakmas Prabu Jayengrana bahwa tahta Kadipaten Seloageng harus di berikan kepada cucu uhukkk uhukkk.. cucuku Tejo Lak.. Laksonooo sebagai ta...nah lungguh nyaaaa...", usai berkata demikian Adipati Tejo Sumirat menghembuskan nafas terakhirnya di pembaringan.


"Kangmas Adipatiiiiiiii......!!!"


Para dayang istana yang ikut menunggui sakitnya Adipati Tejo Sumirat langsung ikut menangis begitu tangisan Nararya Candradewi pecah setelah kemangkatan sang penguasa Kadipaten Seloageng. Semua orang yang ada di tempat itu langsung berdukacita.


Patih Sancaka, warangka praja Seloageng langsung bergegas keluar dari dalam kamar tidur Adipati Tejo Sumirat. Dia segera menemui Tumenggung Kundana yang bertugas jaga siang hari itu.


"Tumenggung Kundana, aku perintahkan kau untuk mengabarkan berita duka ini pada Gusti Prabu Jayengrana. Usahakan secepat mungkin", perintah Patih Sancaka dengan cepat.


"Sendiko dawuh Gusti Patih".


Tumenggung Kundana segera angkat kaki dari tempat itu setelah menghormat pada Patih Sancaka. Pria bertubuh gempal itu segera bergegas menuju keluar istana Kadipaten Seloageng. Dengan terburu-buru, perwira tinggi prajurit Seloageng itu segera melompat ke atas kuda nya dan memacu hewan tunggangan itu secepat mungkin agar sampai di tempat tujuan. 4 orang prajurit pilihan mengawal perjalanan sang perwira.


Setelah melakukan perjalanan hampir setengah hari lamanya, melewati ratusan wanua dan puluhan pakuwon di wilayah Panjalu, selepas tengah hari, Tumenggung Kundana sampai di Kota Kadiri. Tanpa mengisi perut yang kosong, perwira tinggi prajurit Seloageng itu segera menggebrak kuda nya menuju ke arah Istana Katang-katang dimana Prabu Jayengrana bertahta.


Di sasana boga Istana Katang-katang, Prabu Jayengrana sedang menikmati makan siang bersama para istri nya. Semuanya berkumpul dengan penuh kegembiraan. Ada Ayu Galuh, Dewi Srimpi, Cempluk Rara Sunti, Dewi Naganingrum, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang juga Dewi Anggarawati. Saat itu Dewi Anggarawati sedang menggenggam cangkir berisi wedang jahe yang hendak di berikan kepada Prabu Jayengrana namun tiba-tiba..


Pyyaaaarrrrrrrr...!!


Cangkir berisi wedang jahe itu jatuh dan hancur berkeping keping. Para dayang istana segera bergegas membersihkan pecahan cangkir itu segera. Namun perasaan Dewi Anggarawati langsung tidak enak. Dalam hati, dia berkata,


'Firasat apa ini?'