Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Malam Panjang


'Duh kog dia dengar sih? Alamat kena hukuman aku', rutuk Gumbreg dalam hati.


"Anu Gusti Pangeran, itu di laut ada udang ya ada udang..


Tuh loh banyak di tepi pantai, enak buat di bakar", ujar Gumbreg dengan cepat. Panji Tejo Laksono langsung mendengus dingin sembari menatap ke arah Demung Gumbreg.


Hemmmmmmm...


"Paman pikir aku tuli ya? Jelas jelas tadi bilang pawang kenapa sekarang jadi udang?


Paman mau menipu ku?", Panji Tejo Laksono mendelik kereng.


"Yah yah gak berani buat menipu Gusti Pangeran lah, mana mungkin hamba berani?", Gumbreg mulai ketakutan.


"Karena Paman Gumbreg sudah bilang udang, baiklah..


Paman Carikan aku udang untuk di bakar malam hari ini. Kalau sampai tidak dapat, ada hukuman untuk Paman Gumbreg karena sudah berani mengatai ku dan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana.


Ingat Paman, 10 ekor udang besar untuk di bakar. Jangan pulang ke kapal jung sebelum dapat uang nya. Ingat itu", ujar Panji Tejo Laksono seraya ngeloyor pergi meninggalkan Demung Gumbreg yang langsung terduduk lemas setelah mendengar hukuman dari Panji Tejo Laksono.


"Duh Dewa,


Aku kog ceroboh sekali pakai mengatai Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sih? Duh goblok goblok banget aku ini..


Kalau sampai aku tidak bisa mendapatkan udang nya, bisa bisa aku di tinggal pergi oleh Gusti Pangeran. Haduh Dhek Jum pasti nanti akan di goda oleh para duda duda genit karena aku di tinggal disini.


Tidak, tidak boleh! Aku harus cepat menemukan udang besar untuk Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Dhek Jum, tunggu aku...", ujar Demung Gumbreg sembari bergegas melangkah ke arah pantai untuk mencari udang.


Langit barat semakin memerah pertanda sebentar lagi sang malam akan segera tiba di wilayah Kota Vijaya, kota yang menjadi Ibukota Kerajaan Champa. Cahaya temaram senja begitu indah menyapu kaki langit di kota yang terletak di tepi Laut China Selatan ini.


Panji Tejo Laksono baru selesai mandi dan berganti baju saat Luh Jingga menemuinya. Melihat Panji Tejo Laksono yang memakai baju kebesarannya, pakaian warna biru yang berhias sulaman benang merah bergambar sulur tanaman merambat di kedua lengannya, membuat Luh Jingga sedikit mengernyitkan dahi.


Setahunya Panji Tejo Laksono sangat jarang menggunakan pakaian ini kecuali untuk urusan penting seperti pertemuan dengan pejabat tinggi ataupun upacara penting lainnya.


"Gusti Pangeran Panji mau kemana? Kog tumben mau memakai baju ini?", Luh Jingga sedikit curiga.


"Ah itu, Kepala Pelabuhan Vijaya ingin bertemu malam ini di kediaman nya. Aku ingin bicara empat mata agar kita bisa cepat berangkat ke Tanah Tiongkok", Panji Tejo Laksono terpaksa berbohong pada Luh Jingga agar acara nya merayu Putri Anarawati berhasil. Karena tadi siang dia sempat bicara pada beberapa pelaut yang menceritakan betapa sulit nya mendapat surat jalan karena banyaknya pejabat istana yang meminta uang jalan besar bagi setiap urusan. Kemungkinan besar Devadikara pun besok akan melakukan hal yang sama padanya. Panji Tejo Laksono tidak mau berlama-lama tinggal di tempat ini karena perjalanan nya ke Tanah Tiongkok masih separuh perjalanan. Karena itu malam ini dia berencana untuk merayu Putri Anarawati agar membantunya mengurusi masalah surat jalan ini.


"Oh begitu, perlu hamba temani Gusti Pangeran?", tawar Luh Jingga segera.


"Tidak perlu, Luh Jingga.


Ada Paman Gumbreg yang akan menemani ku ke kediaman Tuan Kepala Pelabuhan Vijaya ini kog. Kau tenang saja di rumah. Beristirahatlah agar besok pagi saat kita berangkat, badan mu lebih segar", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis. Usai berkata seperti itu, Panji Tejo Laksono bergegas meninggalkan Luh Jingga yang masih merasa sedikit heran dengan sikap sang pangeran muda.


Pencarian udang besar oleh Gumbreg memang sudah masuk dalam rencana Panji Tejo Laksono sebagai alibinya untuk bebas tanpa gangguan siapapun.


Malam semakin dingin. Cahaya bulan purnama yang nampak indah di langit malam yang gelap. Bintang bintang berkelap-kelip di angkasa seakan ikut menemani perjalanan Panji Tejo Laksono ke tempat yang di maksud dalam surat Putri Anarawati.


Seorang gadis cantik bertudung hitam nampak mondar mandir di kaki sebuah bukit batu kecil yang berada tak jauh dari kediaman Devadikara, kepala Pelabuhan Vijaya. Dia nampak gelisah, sebentar sebentar melihat ke arah jalan yang menuju ke tempat itu.


"Tuan Putri, bersabarlah..


Sebentar lagi pasti Tuan Muda itu pasti akan sampai kesini", ujar sang pelayan wanita yang tadi mengantar surat pada Panji Tejo Laksono.


"Tenang tenang kau bilang.. Tempat ini berbahaya, Ratana. Kalau ada orang yang tahu, pasti akan jadi masalah besar", ujar si gadis bertudung hitam yang tak lain adalah Putri Anarawati.


"Tepat sekali...!!"


Putri Anarawati dan dua pelayan nya terkejut sekali mendengar suara berat dari balik kegelapan malam. Perlahan sesosok bayangan hitam yang sepertinya merupakan sosok seorang lelaki bertubuh gempal yang menutupi sebagian wajah nya dengan kain hitam untuk menyamarkan wajahnya.


"Si-siapa kau? Mau apa kau kemari? Ja-jangan macam macam kau dengan ku", gugup Putri Anarawati saat sosok tinggi besar itu berjalan mendekati mereka bertiga.


"Heh heh heh heh...


Putri Anarawati, kembang Istana Kerajaan Champa. Malam malam begini keluyuran tidak jelas sudah barang tentu akan sangat berbahaya. Apalagi tanpa pengawalan sama sekali, tentu saja kesempatan seperti ini tidak boleh aku sia-siakan hehehe...", tawa menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya terdengar. Lelaki berkumis lebat dengan mata menyeramkan itu tertawa. Saat jarak tinggal 10 langkah, Putri Anarawati dapat melihat jelas siapa sosok di depan nya itu.


"Jaya.. Jayasimha??


Kau jangan kurang ajar pada ku ya. Berani beraninya kau mencoba untuk menakuti ku. Apa kau tidak takut di hukum pancung karena berani mengganggu keluarga Kerajaan Champa ha?", Putri Anarawati menjadi garang sekali setelah melihat siapa yang menakuti nya.


"Hehehehe..


Tentu saja aku takut Putri Anarawati. Tapi demi perasaan ku, mati pun aku tidak masalah asal bisa menikmati tubuh indah mu itu barang sekejap saja", balas Jayasimha sembari menyeringai lebar.


Dua pelayan Putri Anarawati langsung mencabut sebilah pisau belati melengkung dari balik pinggang mereka dan langsung melesat cepat kearah Jayasimha. Meski hanya pelayan, tapi mereka memang memiliki kemampuan beladiri yang cukup tinggi.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !


Dua sabetan pisau belati melengkung dari kedua pelayan setia Putri Anarawati langsung menyambar ke arah leher dan perut Jayasimha. Namun Jayasimha bukan prajurit sembarangan. Dia adalah murid dari bekas perwira Kerajaan Champa tempo dulu yang terkenal saat Kerajaan itu berseteru dengan tetangga mereka, Kerajaan Khmer.


Jayasimha mundur selangkah ke belakang untuk menghindari sabetan dua senjata tajam milik dua pelayan Putri Anarawati. Lalu dengan cepat menyambar kedua lengan yang memegang senjata dan melemparkan tubuh kedua gadis muda itu ke arah belakang.


Whuuuggghh !


Dua gadis pelayan itu terlempar jauh. Namun sebelum tubuh mereka berdua menghantam tanah, kedua gadis itu segera saling bertautan kedua tangan mereka hingga tubuh mereka bisa di kendalikan dan mendarat di tanah dengan tepat. Selepas itu, mereka dengan cepat bergerak menuju ke arah Jayasimha.


Melihat dua gadis pelayan itu kembali menyerangnya, Jayasimha mendengus keras lalu melesat cepat menyongsong ke arah dua gadis pelayan itu yang kembali mengayunkan belati melengkung mereka ke arah kepala Jayasimha.


Pria berwajah parut karena penuh dengan bekas luka itu menjatuhkan tubuhnya lalu menghantam perut dan dada kedua gadis pelayan itu dengan sekuat tenaga.


Bhhhuuuuuuggggh !


Aaaarrrgggggghhhhh !


"Tu-Tuan Putri,


Cepat lari dari sini. Kami akan menahan si bajingan keparat ini", ucap salah satu dari dua gadis pelayan sembari berusaha untuk bangkit dari tempat jatuhnya.


Mendengar perkataan itu, Putri Anarawati seketika berbalik badan hendak kabur menyelamatkan diri. Namun di saat yang bersamaan, Jayasimha sudah melesat lebih dulu menghadang putri cantik dari Istana Kerajaan Champa itu.


"Kau tidak akan bisa kabur dari ku, Tuan Putri!"


Jayasimha bergerak cepat ke arah Putri Anarawati. Sang putri yang sudah tidak bisa mencari jalan keluar hanya bisa pasrah saja saat tangan Jayasimha hendak menjamah tubuh nya. Dia segera memejamkan mata.


Dhiiieeeessshh!


Ouuuuggghhhh !


Terdengar suara lengguh tertahan. Sekejap kemudian terdengar bunyi suara tubuh jatuh ke tanah. Perlahan Putri Anarawati membuka mata nya. Di depan nya sesosok bayangan lelaki bertubuh tegap berbaju biru tua nampak gagah berdiri. Semilir angin malam yang berhembus perlahan mengibarkan rambut panjang yang menutupi sebagian bahu.


"Aku paling tidak suka jika melihat seorang lelaki menindas perempuan. Kalau kau memang jantan, hadapilah aku. Jangan menindas perempuan seenak jidat mu!", ucap sosok berpakaian biru tua yang tidak lain adalah Panji Tejo Laksono.


Sembari mengusap sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya, Jayasimha bangkit. Dia menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang berdiri tegak di depan Putri Anarawati.


"Bedebah!


Dari awal aku sudah tidak suka dengan sikap mu dan juga wajah mu yang menjengkelkan. Kebetulan sekali kau datang mengantar nyawa. Sekalian saja ku bunuh kau disini", teriak Jayasimha sembari mencabut sebilah pedang yang ujungnya melengkung lalu bergerak cepat kearah Panji Tejo Laksono.


Satu sabetan pedang terarah ke leher Panji Tejo Laksono. Namun pemuda itu tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Perlahan tubuhnya bersinar kuning keemasan. Rupanya dia menggunakan Ajian Tameng Waja. Putri Anarawati menutup rapat-rapat kedua matanya karena takut dengan apa yang akan terjadi.


"Mati kau bocah sialan! "


Thhraaaangggggggg !


Bunyi nyaring terdengar seperti benturan dua senjata saat pedang Jayasimha membabat leher Panji Tejo Laksono. Pria berwajah parut penuh bekas luka itu melotot lebar saat melihat senjata nya tidak mampu memotong leher Panji Tejo Laksono. Secepat kilat dia segera melompat mundur dengan bersalto beberapa kali.


"Bangsat!


Ilmu sihir apa yang kau gunakan ha?", teriak Jayasimha sembari menatap tajam ke arah sang pangeran muda dari Kadiri.


"Ini bukan ilmu sihir tapi senjata mu saja yang tidak berguna.


Sekarang waktunya aku membalas serangan mu. Bersiaplah!", Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah Jayasimha. Perwira prajurit Kerajaan Champa itu langsung memutar pedangnya. Angin ribut berhawa tajam tercipta seperti perisai yang melindungi tubuh Jayasimha.


"Bukan kau saja yang bisa membuat perisai diri, bocah tanah seberang!


Sekarang cobalah tembus Perisai Angin ku jika kau mampu!", teriak Jayasimha dengan jumawa. Ini adalah ilmu pedang yang di pelajari nya selama bertahun-tahun. Wajahnya yang rusak juga akibat luka luka yang di sebabkan tebasan angin tajam dari ilmu pedang Perisai Angin nya.


Panji Tejo Laksono menggunakan Ajian Sepi Angin untuk bergerak cepat. Begitu berjarak satu tombak dari tubuh Jayasimha, dia merubah gerakan tubuhnya dan memutari tubuh Jayasimha untuk mencari celah kelemahan ilmu beladiri lawannya itu. Begitu ketemu apa yang di cari nya, Panji Tejo Laksono melesat cepat Jayawarsa sembari menghantamkan tangan kanan yang berwarna merah menyala.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!


Tubuh Jayasimha terpelanting jauh ke belakang dan menghantam batu besar di bawah bukit. Perwira prajurit Kerajaan Champa itu tewas dengan dada hangus seperti terbakar api.


Melihat itu Panji Tejo Laksono segera mendekati tubuh Jayasimha. Begitu juga Putri Anarawati dan dua pelayan wanita yang terluka dalam.


Di samping tubuh Jayasimha, ada sebuah benda yang berkilat memantulkan cahaya bulan yang menimpanya.


"Tuan Putri,


I-itu benda apa? Sepertinya sesuatu yang penting", ujar si pelayan perempuan yang pertama kali melihat benda aneh itu.


Putri Anarawati langsung memungut benda itu. Wajahnya langsung terkejut bukan main saat melihat benda aneh yang tak lain adalah sebuah lencana perak bergambar rasi bintang layang-layang yang biasa di gunakan untuk menunjuk arah selatan.


"I-ini ini lencana Kelompok Bintang Selatan", ujar Putri Anarawati yang langsung membuat dua pelayan wanita itu kaget.


"Bukankah itu lencana kelompok pemberontak dari wilayah Panduranga, Tuan Putri? Bagaimana mungkin ada di tangan Jayasimha? Jangan jangan...", si pelayan wanita yang bertubuh lebih tinggi Langsung menoleh ke arah kawannya.


"Iya, benar dugaan kalian. Jayasimha adalah anggota Kelompok Bintang Selatan. Dengan begini kita tahu bahwa para anggota mereka telah menyusup ke wilayah Kotaraja Champa. Kita harus secepatnya melaporkan masalah ini pada ayahanda Maharaja", Putri Anarawati segera melangkah mendekati Panji Tejo Laksono dan dua pelayan wanita nya.


"Biasanya, Kelompok Bintang Selatan bergerak bersama-sama, tidak mungkin mereka hanya sendiri saja di tempat ini.


Tuan Putri, sebaiknya kita berpencar untuk mengalihkan perhatian mereka. Aku dan Ratana akan bergerak memutari bukit batu ini. Tuan Putri dan Tuan Muda silahkan bergerak melewati jalan di arah barat laut", ujar si pelayan wanita Putri Anarawati. Mendengar itu, Putri Anarawati mengangguk mengerti. Mereka segera berpencar untuk mengecoh lawan.


Saat Putri Anarawati dan Panji Tejo Laksono menyusuri jalan setapak, tiba-tiba..


Shhhrriinggg shriingg !


Dua senjata rahasia melesat cepat kearah Putri Anarawati. Telinga Panji Tejo Laksono yang peka, langsung menyambar lengan Putri Anarawati lalu menggendong tubuh ramping sang putri untuk menghindari senjata rahasia.


Tubuh Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin langsung melesat cepat bagai terbang diantara rimbun pepohonan yang tumbuh di sekitar bukit batu. Dua orang sosok berpakaian serba hitam merutuk keras melihat kemampuan ilmu kanuragan Panji Tejo Laksono dan terus mengejarnya.


Sinar bulan purnama yang cukup terang di sertai hembusan angin malam yang dingin membuat Putri Anarawati terlena dalam bopongan Panji Tejo Laksono. Semula gadis cantik itu ketakutan setengah mati saat ada serangan mendadak namun dua kali sudah Panji Tejo Laksono menyelamatkan nyawa nya. Pria yang telah mencuri hati nya malam hari itu terlihat sungguh mempesona apalagi saat sinar bulan purnama menerangi sebagian wajah tampan nya yang tersapu angin.


'Oh Dewa, dia tampan sekali..


Kenapa hatiku selalu bergetar hebat saat dua dekatnya?', batin Putri Anarawati yang terus menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono tanpa peduli situasi yang sedang terjadi saat ini.


Kecepatan tinggi Ajian Sepi Angin benar benar bukan lawan bagi dua sosok berpakaian hitam itu. Mereka tertinggal jauh di belakang hingga kehilangan jejak Panji Tejo Laksono dan Putri Anarawati. Mereka segera bergegas berbalik arah karena sudah mendekati Istana Champa.


Malam panjang itu segera berakhir saat Panji Tejo Laksono yang menggendong Putri Anarawati mendarat di samping tembok istana Champa.


"Tuan Putri, kita sudah sampai".