Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton


Sementara rombongan pelamar Dewi Sekar Kedaton dari Kadipaten Bhumi Sambara Mataram yang di pimpin oleh Adipati Arya Natakusuma mulai bergerak meninggalkan Kota Kadipaten Bhumi Sambara, di Istana Katang-katang terjadi kegaduhan besar. Sang putri Prabu Jayengrana dan Ratu Pertama Kerajaan Panjalu Nararya Ayu Galuh hilang dari istana.


Semua dayang istana yang bekerja di Keputren Istana Katang-katang sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan sosok sang putri yang terakhir terlihat masuk ke dalam bilik kamar tidur nya. Para prajurit telah memeriksa semua tempat yang ada di seluruh sudut Keputren tapi tak juga menemukan putri Sang Maharaja Panjalu itu.


"Bagaimana ini Kangmas Prabu? Apa saja kerja mereka hingga tidak tahu kemana putri ku pergi?", tanya Ratu Ayu Galuh dengan penuh emosi.


Hemmmmmmm...


Prabu Jayengrana terlihat seperti sedang berpikir keras. Raja Panjalu itu sampai mengerutkan keningnya dalam-dalam pertanda bahwa dia berupaya keras untuk mencari keberadaan sosok putri nya yang hilang dengan kekuatan batinnya. Namun saat itu yang ada hanya gambaran hitam pekat seolah ada sesuatu yang menghalangi pandangan mata batin sang raja Panjalu ini.


"Kerahkan lagi semua orang untuk memeriksa setiap sudut istana. Jangan sampai ada tempat yang terlewat. Kalau perlu cari sampai di kolong tempat tidur semua orang.


Cepat! Jangan tunda waktu lagi", perintah Ratu Ayu Galuh segera.


"Sendiko dawuh Gusti Ratu..", ujar pimpinan prajurit penjaga istana, Tumenggung Narasuta, pejabat muda yang merupakan putra dari Senopati Agung Narapraja yang telah mangkat. Dia segera menyembah pada Ratu Ayu Galuh dan Prabu Jayengrana sebelum bergerak meninggalkan ruang pribadi raja.


"Sepertinya ini bukan masalah biasa, Dinda Galuh..


Mata batin ku sama sekali tidak bisa menembus tabir hitam yang menutupi keberadaan putri kita. Aku harus meminta bantuan kepada seseorang. Tunggulah sampai aku kembali!!".


Setelah berkata demikian, tubuh Sang Maharaja Panjalu itu segera ditutupi oleh kabut putih tipis dan sebentar kemudian Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sudah menghilang dari pandangan mata Ratu Ayu Galuh.


Di puncak Gunung Lawu, tepatnya di Pertapaan Cakrakembang, seorang resi sepuh berambut putih dengan gelung rambutnya yang menyamping dengan hiasan tasbih biji genitri berwarna coklat kehitaman sedang duduk bersila sembari memejamkan mata di atas altar batu berundak. Tangan kanannya terus memutar tasbih kayu gaharu yang berbau harum sementara mulutnya tak henti-hentinya mengucapkan mantra pemujaan terhadap dewa.


Tiba tiba saja gerakan jemari tangannya yang memutar tasbih kayu gaharu berhenti, begitu pula dengan mulutnya yang sedari tadi terus mendengungkan mantra pemujaan terhadap Sang Hyang Akarya Jagat. Perlahan mata resi sepuh ini terbuka dan seulas senyuman tipis terukir di wajahnya yang keriput.


Dia adalah Maharesi Haridharma, salah satu dari beberapa Maharesi yang punya pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Panjalu. Meski sangat jarang turun gunung, namun lelaki sepuh bertubuh sedikit kurus namun memiliki otot yang menonjol ini begitu di segani oleh semua orang. Bukan hanya dari masyarakat biasa, tapi juga para ksatria dan para pendekar dunia persilatan.


Konon kabarnya, Maharesi Haridharma ini memiliki kaca benggala yang sanggup melihat segala sesuatu yang terjadi. Di samping itu, ilmu kebatinan yang tinggi juga ilmu kanuragan yang bisa dikatakan seimbang dengan Prabu Jayengrana ini juga menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki oleh sang pertapa tua itu.


Hubungan nya dengan para raja dan Adipati di Tanah Jawadwipa cukup baik. Namun yang paling akrab adalah Prabu Jayengrana dari Panjalu yang sudah seperti adik seperguruan nya saja. Mereka kerap bertemu, entah dalam wujud badan kasar ataupun menggunakan Ajian Ngrogoh Sukmo yang mereka miliki.


Di hadapan sang resi sepuh ini, telah berdiri sesosok tubuh kekar dengan mahkota indah berhias permata merah dan biru. Tubuhnya yang terbalut kain biru dan hitam dengan sulaman benang emas di pinggir nya membuat sang lelaki yang tak lain adalah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana ini terlihat begitu agung di hadapan sang resi sepuh.


"Ah aku sungguh tidak menduga bahwa hari ini akan ada tamu agung yang berkunjung ke tempat terpencil ini.


Selamat datang di Pertapaan Cakrakembang, Gusti Prabu Jayengrana..", ucap resi sepuh itu sembari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati sang raja.


"Terimakasih atas penyambutan mu, Maharesi Haridharma. Namun kau tentu saja sudah tahu kalau kedatangan ku kali ini bukan hanya sekedar untuk berkunjung, bukan?", Prabu Jayengrana tersenyum kecut sembari mengelus jenggotnya yang mulai tumbuh uban. Lelaki paruh baya yang menjadi penguasa mutlak Kerajaan Panjalu ini memang sedang gundah gulana karena hilangnya salah seorang putri nya.


"Hehehehe Gusti Prabu Jayengrana..


Selalu saja berkata terus terang seperti itu. Ah aku jadi malu ketahuan seperti ini. Tapi silahkan masuk dulu ke rumah. Tidak baik bicara sambil berdiri seperti ini, Gusti Prabu. Mari silahkan...", ucap Maharesi Haridharma sembari mempersilahkan kepada Prabu Jayengrana untuk melangkah lebih dulu ke sebuah rumah yang ada di samping kanan bangunan pemujaan ini.


Keduanya segera berjalan beriringan menuju ke sebuah rumah yang cukup besar. Setelah masuk ke dalam rumah, dua orang itu segera duduk bersila di lantai pendopo bersama.


"Kalau tidak salah tebakan ku, Gusti Prabu Jayengrana tentu kemari karena hilangnya Putri Sekar Kedaton bukan?


Dan juga sedikit kebingungan karena mata batin Gusti Prabu tertutup oleh tabir hitam yang samar-samar itu juga? Hehehehe...", ucap Maharesi Haridharma sembari terkekeh kecil menatap ke arah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana.


"Kau tidak salah, Maharesi Haridharma..


Entah kenapa akhir-akhir ini mata batin ku tak setajam biasanya? Mungkin karena aku sudah tidak muda lagi hingga mata batin ku menjadi kurang daya tembus nya..", Prabu Jayengrana mengelus jenggotnya yang pendek.


"Hehehehe...


Semua nya memiliki masa, Gusti Prabu Jayengrana. Semuanya memiliki batas waktu. Sekalipun kau adalah titisan Dewa Wisnu di dunia ini, tapi itu juga punya batas waktu. Jika menilik apa yang baru saja kau katakan, maka waktu oncat nya Sanghyang Wisnu dari dalam tubuh mu tidak lama lagi. Jika ku lihat dari mata batin ku, 3 tahun lagi Dewa Wisnu akan sepenuhnya meninggalkan jasad mu karena titisan Dewa Wisnu selanjutnya sudah bersiap untuk dilahirkan di Arcapada ini", mendengar jawaban Maharesi Haridharma, Panji Tejo Laksono alias Prabu Jayengrana mengangguk mengerti.


"Aku memang tahu masalah ini, Maharesi Haridharma..


"Semua itu mudah saja, Gusti Prabu Jayengrana..


Angkat saja putra-putra mu menjadi Mahamantri untuk melihat bagaimana kemampuan mereka mengemban tanggung jawab sebagai nayaka praja. Jika mereka hanya berkuasa di tanah lungguh mereka masing-masing, itu bukan bukti yang cukup untuk menempatkan mereka sebagai calon Raja Panjalu selanjutnya", kata Maharesi Haridharma sembari tersenyum tipis.


"Usul yang bagus, Maharesi..


Mengenai penempatan mereka di kursi Mahamantri, apakah kau memiliki pandangan dimana aku harus menempatkan mereka?", kembali Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana bertanya.


"Kau yang lebih bijak dalam menentukan pilihan itu Gusti Prabu..


Hanya saja saran ku, tempatkan Panji Tejo Laksono sebagai Mahamantri I Sirikan karena dia pintar mengatur tata laksana keprajuritan. Untuk putra mu yang lain, itu terserah padamu", ujar Maharesi Haridharma seakan meminta kepastian dari sang Maharaja Panjalu soal ucapan nya.


"Meskipun aku kurang memahami maksud dari permintaan mu baru saja, aku akan melakukannya Maharesi Haridharma karena aku yakin kau pasti punya maksud di balik semua itu.


Aku berterimakasih atas pencerahan yang mau berikan. Sekarang kembali ke masalah hilangnya putri ku Dewi Sekar Kedaton. Apakah kau sudah bisa membuat gambaran dimana dia sekarang berada?", Prabu Jayengrana kembali menatap wajah sepuh Maharesi Haridharma dengan penuh harap.


Hemmmmmmm...


"Gusti Prabu Jayengrana...


Masih ingatkah kamu pada Nyi Pokok, penganut ilmu sesat yang di sebut Ilmu Pangiwa? Istri Mpu Sukrasana yang berhasil kau musnahkan dan membawa kedamaian di Wanua Padelegan?", tanya Maharesi Haridharma seakan mengorek ingatan masa lalu Prabu Jayengrana.


"Tentu saja ingat.. Perempuan berilmu hitam itu telah menebar angkara murka dengan menyebarkan pagebluk di Wanua Padelegan.


Lantas apa hubungan antara hilangnya putri ku dengan Nyi Polok? Bukankah perempuan itu sudah tidak ada Maharesi?", Prabu Jayengrana sedikit keheranan karena hal ini.


"Nyi Polok memang sudah mati Gusti Prabu, tapi ilmu pangiwa nya tetap hidup hingga hari ini. Salah satu pengikutnya, Kalitri, masih hidup dan terus mempelajari ilmu pangiwa itu. Terakhir kali, dia menjadi patih Kerajaan Siluman Randugrowong.


Raja siluman Randugrowong, Gendarmanik, sangat ingin beristri seorang manusia agar terhubung dengan dunia manusia lewat anaknya nanti.


Selain Kerajaan Siluman Randugrowong, masih ada satu lagi yang bisa menjadi kemungkinan tersangka dalam hilangnya Dewi Sekar Kedaton. Mereka memiliki tabir pelindung gaib yang bisa mengaburkan pandangan mata batin ku dan milik mu, Gusti Prabu..", ujar Maharesi Haridharma sembari mengusap keringat yang muncul di pelipisnya.


"Siapa yang kau maksudkan, Maharesi?"


Prabu Jayengrana nampak seperti hampir putus asa menghadapi situasi ini karena kawan karibnya itu bahkan kesulitan mencari tahu dimana Dewi Sekar Kedaton berada.


Maharesi Haridharma menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Kerajaan Siluman Alas Roban..


Satu-satunya cara untuk mencari tahu keberadaan Dewi Sekar Kedaton hanyalah mendatangi dua kerajaan siluman ini, Gusti Prabu", ucap Maharesi Haridharma sembari menatap wajah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana yang kusut.


"Baiklah, jika memang itu yang harus dilakukan, tapi aku meminta bantuan mu Maharesi..


Untuk urusan kerajaan siluman Alas Roban, aku mohon kau bersedia untuk membantu. Sedangkan urusan Kerajaan Siluman Randugrowong akan ku periksa sendiri", pinta Prabu Jayengrana segera.


"Akan ku lakukan, Gusti Prabu Jayengrana. Semoga segera ada titik terang dimana keberadaan putri mu berada..", Prabu Jayengrana menghela nafas lega setelah mendengar jawaban Maharesi Haridharma. Bagaimanapun bantuan dari pertapa tua ini sangat penting untuk pencarian Dewi Sekar Kedaton.


Sementara itu, di sebuah tempat yang terlindung oleh pagar pelindung gaib yang berupa kabut hitam pekat, seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal dan rambut gimbal sedang menatap ke arah sesosok tubuh perempuan cantik yang terbujur kaku di atas tonggak-tonggak kayu hitam yang di kelilingi oleh obor api berwarna biru. Sebuah mahkota dengan hiasan permata persegi 6 berwarna merah menyala membuat permata merah besar itu laksana mata ketiga milik Dewa Siwa yang sedang menatap dunia. Di punggungnya tersandang sebuah mantel yang terbuat dari kulit macan kumbang yang hitam kelam.


Pada tangan kanannya sebuah gada dengan ujung bulat sebesar kelapa gading nampak menjadi senjata pusaka yang diandalkan oleh lelaki bertubuh gempal yang memiliki mata setajam tatapan mata elang ini. Dari atas sebuah singgasana nya yang terbuat dari batu berwarna kuning gading berhias tengkorak bertanduk besar, dia menoleh ke arah seorang lelaki bertubuh kurus namun berotot dengan kumis tebal dengan sebuah hiasan emas melingkar di sanggul rambut nya.


"Apa persiapan nya sudah kau tata sebaik mungkin, hai budak setia ku??!!", suara berat yang menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya terucap dari mulut si lelaki bertubuh gempal itu.


Si pria kurus itu segera menyembah pada lelaki bertubuh gempal itu sembari berkata,


"Sesuai dengan perintah Yang Mulia.."