
4 orang prajurit Jenggala langsung bergerak maju ke arah Mapanji Jayagiri begitu Tumenggung Sajiwan terjatuh. Bersenjatakan pedang, keempatnya segera mengepung Mapanji Jayagiri dari 4 arah yang berbeda. Keempat nya segera menusukkan pedangnya ke arah Mapanji Jayagiri.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh..
Chhreepppppph chhreepppppph!!
Sang pangeran muda ketiga dari Kadiri itu segera menjejak tanah dengan keras lalu dengan berputar cepat tubuhnya melenting tinggi ke udara hingga tusukan pedang para prajurit Jenggala hanya menusuk tanah kosong.
Dengan cepat, Mapanji Jayagiri meluncur turun sambil memutar tubuhnya yang memegang pedang.
Whhuuuuuuuggggh..
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Keempat orang tersebut langsung roboh bersimbah darah setelah putaran tubuh Mapanji Jayagiri yang memegang pedang nya, memotong lehernya mereka dalam sekali gerakan.
Melihat kawannya terbunuh dengan cepat, delapan orang prajurit lainnya dengan cepat mengepung Mapanji Jayagiri.
Dari arah belakang, Wanyan Lan melesat cepat kearah samping Mapanji Jayagiri sambil menyabetkan pedang nya ke arah leher salah satu orang prajurit Jenggala.
Chhrrrraaaaaassss...
Tak ada suara jeritan yang terdengar dari mulut prajurit Jenggala itu. Dia tersungkur ke tanah dengan kepala terpisah dari badan. Darah segar langsung menggenang di bawah tubuhnya.
"Kakak Jaya...
Mereka biar aku urus. Kau atasi perwira nya", ujar Wanyan Lan seraya menunjuk ke arah Tumenggung Sajiwan yang berdiri sambil membekap dada kirinya yang sesak seperti baru di hantam kayu besar.
"Ku serahkan mereka pada mu, Dara Kuning", Mapanji Jayagiri mengangguk mengerti lalu memutar pedangnya dan melompat tinggi ke udara untuk meloloskan diri dari kepungan para prajurit Jenggala.
7 orang prajurit Jenggala yang mengepung Wanyan Lan dan Mapanji Jayagiri hendak mengejar ke arah Mapanji Jayagiri yang meluncur cepat kearah Tumenggung Sajiwan. Namun Wanyan Lan dengan gerakan melompat tinggi dan bersalto diatas tubuh para prajurit Jenggala itu, langsung menghadang laju pergerakan mereka.
"Jangan mengganggu Kakak Jaya ku!"
Sambil berkata seperti itu, Wanyan Lan langsung menerjang maju ke arah 7 prajurit Jenggala ini. Bunyi denting senjata mereka beradu terdengar nyaring karena mereka ingin membunuh lawan mereka secepat mungkin.
Sedangkan Mapanji Jayagiri yang lepas dari kepungan para prajurit Jenggala, langsung melesat cepat kearah Tumenggung Sajiwan yang segera menggenggam erat gagang tombak nya lalu secepat kilat mengayunkan mata tombaknya ke arah putra ketiga Prabu Jayengrana itu.
Shhrreeettthhh!!
Mapanji Jayagiri segera menjatuhkan diri ke tanah lalu berguling cepat sambil membabatkan pedang bututnya ke arah kaki lawan. Melihat bahaya mengancam, Tumenggung Sajiwan langsung tarik gagang tombaknya ke belakang. Ujung tombak menancap di tanah lalu dengan menggunakan kelenturan gagang tombak itu, Tumenggung Sajiwan melenting tinggi ke udara menghindari tebasan pedang butut Mapanji Jayagiri.
Melihat lawannya mampu menghindar, Mapanji Jayagiri segera merubah gerakan tubuhnya dan memburu ke arah Tumenggung Sajiwan yang baru saja mendarat sambil membabatkan pedang bututnya ke arah leher perwira Jenggala asal Hujung Galuh ini.
Shhheeetttthhh!!
Tumenggung Sajiwan langsung merunduk cepat hingga tebasan pedang butut sang pangeran muda dari Kadiri itu hanya menyambar angin kosong dua ruas jari di atas kepala nya dan memotong gelung rambutnya.
Namun serangan cepat itu belum berakhir. Mapanji Jayagiri yang sudah merubah gerakan tangan kiri nya menjadi cakar, berputar cepat sambil mengarahkan cakaran itu ke arah leher.
Chhreepppppph!
Dengan kuat jari jemari Mapanji Jayagiri mencekik leher Tumenggung Sajiwan seraya menancapkan kukunya. Darah segar meleleh keluar dari luka di leher Tumenggung Sajiwan. Sang perwira Jenggala itu segera berusaha untuk melepaskan diri dengan meronta-ronta namun cengkeraman tangan kiri Mapanji Jayagiri yang menggunakan Ilmu Silat Cakar Rajawali Galunggung membuat nya jari jemari nya sekuat cengkeraman seekor burung rajawali.
Meski melepaskan gagang tombak nya dan menggunakan kedua tangan nya untuk melepaskan cengkraman tangan kiri Mapanji Jayagiri, usaha Tumenggung Sajiwan sia-sia saja. Napasnya semakin tersendat-sendat tak karuan karena tekanan tangan sang pangeran ketiga Panjalu ini menekan kuat tenggorokannya.
"Saatnya kau untuk mati!!"
Mapanji Jayagiri segera menusukkan pedang bututnya ke arah perut Tumenggung Sajiwan dengan sekuat tenaga.
Jllleeeeeppppphhh!!!
Oouuugghhhhhh!!!
Terdengar suara melengguh keras dari mulut Tumenggung Sajiwan saat pedang butut sang pangeran ketiga ini menembus perut hingga pinggang. Mapanji Jayagiri melepaskan cengkraman nya dan segera mencabut pedang nya dari perut lawan. Tumenggung Sajiwan langsung roboh dengan usus yang terburai keluar. Tak berapa lama kemudian dia tewas bersimbah darah.
Suasana pertempuran masih berkobar sengit. Meski para prajurit Panjalu mulai terdesak oleh kedatangan para pendekar pengikut Pangeran Ganeshabrata yang mengepung mereka, namun sekuat tenaga mereka mempertahankan diri.
Saat Tumenggung Sajiwan tersungkur ke tanah, Pangeran Ganeshabrata mendengus keras lalu menggunakan punggung kuda tunggangan sebagai tumpuan untuk melompat tinggi ke udara. Tanpa menunggu lama, Pangeran Ganeshabrata segera menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah di lambari cahaya hijau kehitaman berselimut udara dingin yang berbau tidak sedap ke arah Mapanji Jayagiri.
Whhhuuussshhhh!!
Dari pantulan cahaya di pedang bututnya, Mapanji Jayagiri segera tahu bahwa ada yang ingin membokong nya dari belakang. Pangeran ketiga Panjalu ini segera berjumpalitan ke arah samping untuk menghindari serangan itu.
Blllaaammmmmmmm!!!
Mapanji Jayagiri segera menatap tajam ke arah Pangeran Ganeshabrata yang baru saja mendarat di tanah. Lobang sebesar kerbau yang tercipta dari ledakan dahsyat itu menjadi pemisah antara mereka berdua.
"Apa kau pimpinan pasukan Panjalu sekarang hemm?? Apa kau yang bernama Panji Tejo Laksono?", tanya Pangeran Ganeshabrata sembari menatap tajam ke arah Mapanji Jayagiri. Pandangan nya menelisik seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki sang pangeran ketiga Panjalu ini seolah mencoba untuk mencari tahu siapa sosok di depannya.
"Benar, aku pimpinan pasukan Panjalu sekarang. Aku Mapanji Jayagiri, adik dari Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono.
Darimana kau mengenal kakak ku?", ada raut heran di wajah Mapanji Jayagiri begitu mendengar pimpinan pasukan Panjalu ini menyebut sang kakak.
"Huhhhhh...
Panji Tejo Laksono punya hutang darah dengan ku. Aku bersedia untuk menjadi pimpinan pasukan Jenggala karena ingin menagih hutang darah padanya.
Namun karena kau adalah saudara nya maka hutang darah ini akan ku tagih pada mu. Bersiaplah untuk mati!", setelah berkata demikian, Pangeran Ganeshabrata segera menyiapkan kuda-kuda ilmu beladiri yang dia miliki.
Setelah itu, Pangeran Ganeshabrata segera melesat cepat. Mapanji Jayagiri segera menyambut kedatangan serangan itu dengan ilmu silat Cakar Rajawali Galunggung usai menyarungkan kembali pedang bututnya ke pinggang.
Whuuthhh whuuthhh..
Dhasshhh dhasshhh...!!
Setelah 10 jurus terlewati..
Pangeran Ganeshabrata segera melompat tinggi usai Mapanji Jayagiri menyapu kaki nya. Lalu secepat kilat dia merubah gerakan tubuhnya dengan menukik ke bawah sambil menghantamkan kepalan tangan kanannya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi. Mapanji Jayagiri segera memapak hantaman itu dengan telapak tangan kanannya yang juga di lapisi tenaga dalam nya.
Blllaaaaaarrr !!!
Mapanji Jayagiri tersurut mundur beberapa tombak jauhnya dari tempat mereka beradu tenaga dalam. Tangannya kebas dan ngilu menandakan bahwa lawan memiliki tenaga dalam yang tinggi. Sementara itu Pangeran Ganeshabrata bersalto 3 kali di udara sebelum mendaratkan tubuhnya yang sempat terhuyung mundur selangkah.
'Adik Panji Tejo Laksono ini hanya satu utas benang lebih rendah dari tenaga dalam yang aku miliki. Jika aku ceroboh, bisa-bisa aku kalah melawannya', batin Pangeran Ganeshabrata seraya menyembunyikan tangan kanannya di belakang punggung nya. Kepalan tangannya terasa panas.
Segera Pangeran Ganeshabrata menyilangkan kedua tangan nya yang mengepal erat di depan dada sambil terpejam rapat beberapa saat. Cahaya hijau kehitaman berselimut angin berbau tidak sedap langsung tercipta di kedua kepalan tangan Pangeran Ganeshabrata. Ini adalah bentuk dari Ajian Gebuk Gandamayit yang sering dia pergunakan sebagai piandel ( pegangan ) keseharian nya.
Melihat lawannya bersiap menggunakan ilmu kanuragan tingkat tinggi, Mapanji Jayagiri pun tak mau kalah. Segera dia merapal mantra Ajian Chandra Buana, ilmu kesaktian andalannya yang merupakan ilmu turunan dari sang ibunda Dewi Naganingrum. Cahaya biru kekuningan layaknya cahaya bulan purnama yang bersinar di malam cerah tercipta di kedua telapak tangan sang pangeran ketiga Panjalu ini.
Usai ilmu kanuragan nya tercipta sempurna, Pangeran Ganeshabrata segera melompat ke arah Mapanji Jayagiri sambil menghantamkan kepalan tangan kanannya yang di liputi oleh cahaya hijau kehitaman dengan angin berbau busuk berseliweran.
"Ajian Gepuk Gandamayit..
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!"
Mapanji Jayagiri segera menyambut kedatangan serangan lawan dengan tapak tangan kanan nya yang di lambari Ajian Chandra Buana.
Blllaaammmmmmmm!!!
Mapanji Jayagiri terpental jauh ke belakang. Dia jatuh terduduk dan terseret mundur hampir satu tombak jauhnya. Sang pangeran ketiga Panjalu ini langsung muntah darah segar. Rupanya dia menderita luka dalam yang cukup parah.
Sedangkan Pangeran Ganeshabrata juga tak kalah apesnya. Pangeran Blambangan ini terhuyung huyung mundur dan berdiri dengan satu dengkul menyangga tubuhnya. Ada darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya. Hanya saja dia sedikit lebih baik daripada sang pangeran ketiga Panjalu. Segera dia berdiri sambil menyambar sebuah tombak yang tergeletak di dekatnya seraya tersenyum lebar.
"Sekarang waktunya kau untuk mati, adik Panji Tejo Laksono!"
Setelah berkata demikian, Pangeran Ganeshabrata segera melemparkan tombak itu ke arah Mapanji Jayagiri yang masih belum bangun dari tempat duduknya.
Whhuuuuuuuggggh!!
Saat yang genting itu, Wanyan Lan yang baru saja menghabisi nyawa para prajurit Jenggala yang mengeroyoknya, langsung melesat cepat kearah Mapanji Jayagiri untuk menyelamatkan nya. Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Mapanji Jayagiri namun tombak yang di lemparkan oleh Pangeran Ganeshabrata langsung menembus perut nya.
Jllleeeeeppppphhh!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Jeritan keras Wanyan Lan langsung membuat Mapanji Jayagiri melotot lebar tak percaya melihat apa yang terjadi di depan mata nya.
"Da..dara Ku..Ning.. Kauuuu....?!!!!"
Sambil megap-megap mengatur nafasnya yang memburu, Wanyan Lan tersenyum tipis menatap wajah tampan Mapanji Jayagiri. Sang pangeran ketiga Panjalu itu segera bergegas mendekati Wanyan Lan yang tergolek lemah dengan perut tertancap tombak.
"Kenapa Dara Kuning kenapaaaa????!!
Kenapa kau korbankan nyawa mu untuk ku??!", air mata Mapanji Jayagiri langsung mengucur deras dari sudut matanya. Dia begitu terkejut dengan kejadian yang kini terpampang di depan matanya. Tangan lembut Wanyan Lan perlahan mengusap air mata Mapanji Jayagiri yang terus mengalir keluar.
"Kakak Jaya.. Aku se..lalu men-mencintai muhh... Tol..long jangan lu..lu.. pa..kan akuhhh", usai berkata demikian, tangan Wanyan Lan langsung terkulai lemas ke tanah.
"TIIDDDDAAAAAAKKKKKKK...!!!!!"
Teriakan keras bercampur tangisan Mapanji Jayagiri langsung pecah begitu melihat Wanyan Lan kini sudah tiada.
Sedangkan Pangeran Ganeshabrata menyeringai lebar melihat itu semua. Tangan kanannya bercahaya hijau kehitaman. Lalu tanpa menunggu lama lagi, dia melesat cepat kearah Mapanji Jayagiri yang masih menangisi kematian kekasih nya.
"Akan ku antar kau menyusul kekasih mu ke neraka!!!
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!"
Mapanji Jayagiri walaupun dalam keadaan terpukul atas kepergian sang kekasih, melihat kedatangan serangan pengecut Pangeran Ganeshabrata segera memapak hantaman itu dengan tangan kanannya.
Blllaaammmmmmmm !!!
Pangeran Ganeshabrata terkejut juga melihat itu. Pangeran Blambangan ini tersurut mundur beberapa tombak jauhnya sedangkan Mapanji Jayagiri terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Dia pingsan saat itu.
Melihat lawannya pingsan, sembari menyeringai lebar Pangeran Ganeshabrata segera mencabut keris di pinggangnya dan melesat cepat ke arah lawan untuk mencabut nyawa nya.
Tepat di saat itu, sebuah bayangan berkelebat cepat dan menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah kekuningan seperti nyala api yang berkobar ke arah Pangeran Ganeshabrata.
Whhhuuuggghhhh!!
Pria muda bertubuh tegap dengan kumis tipis menghiasi wajah tampan nya itu buru-buru menyilangkan keris pusaka nya ke depan dada untuk menahan serangan cepat dari samping kiri yang tidak mungkin lagi untuk dihindari.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras terdengar saat tapak tangan merah kekuningan milik sang bayangan itu menghantam keris pusaka milik Pangeran Ganeshabrata. Sang pangeran dari Kerajaan Jenggala itu langsung terlempar jauh ke belakang namun saat akan menghantam tanah, dua bayangan merah berkelebat cepat menyambar tubuh Pangeran Ganeshabrata. Keduanya segera mendarat tak jauh dari tempat sang bayangan berkelebat cepat yang kini berdiri mematung menatap wajah Wanyan Lan yang kini telah berubah pucat.
"Lan Er...
Tak ku sangka kalau aku terlambat datang untuk menolong mu dan Dhimas Jayagiri", ujar si bayangan yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono. Matanya nanar menatap ke arah jasad Wanyan Lan yang terbujur kaku di tanah sedangkan Mapanji Jayagiri masih juga belum siuman dari pingsannya.
Bersamaan dengan kedatangan Panji Tejo Laksono, suara ribuan orang prajurit Panjalu yang di pimpin nya menyusul datang dengan suara gemuruh derap langkah kaki kuda mereka. Ini langsung membuat perhatian para prajurit yang sedang bertarung pun sejenak terpaku pada mereka.
Para prajurit Panjalu di bawah pimpinan para perwira tinggi seperti Senopati Muda Jarasanda, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Luh Jingga, Dyah Kirana dan Panji Manggala Seta langsung ikut terjun di dalam peperangan ini. Para prajurit Panjalu yang semula sudah sangat terdesak kini langsung bersemangat melihat bantuan yang dijanjikan. Keadaan perang di barat Pakuwon Babat ini seketika berubah drastis.
Para pendekar pengikut Pangeran Ganeshabrata langsung mendapat lawan tangguh. Jika sebelumnya mereka berada di atas angin, namun kini datangnya para jagoan jagoan dari bantuan yang baru saja tiba membuat perlawanan mereka tidak berarti. Satu persatu mulai menjadi korban dari kehebatan para perwira tinggi prajurit Panjalu dan jagoan mereka.
Sementara itu, Panji Tejo Laksono yang murka melihat kematian Wanyan Lan yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, langsung melesat cepat kearah Pangeran Ganeshabrata sambil berteriak lantang,
"Saatnya pembalasan....!!!!"