Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Gegabah


Tsang Hung dengan beringas langsung membabatkan pedang melengkung miliknya ke arah Panji Tejo Laksono yang muncul tiba-tiba di hadapannya.


Shhrreeettthhh!


Kali ini Panji Tejo Laksono sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri hingga pedang melengkung milik Tsang Hung telak menghantam lehernya.


Thhraaaangggggggg !!


Bagai menghantam lempengan logam keras, terdengar bunyi nyaring saat pedang pimpinan kelompok Bajak Laut Tsang ini menyentuh kulit leher Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri ini segera menangkap bilah pedang milik Tsang Hung. Dengan raut wajah penuh ketakutan, Tsang Hung mencoba untuk menarik pedang melengkung nya yang kini di pegang oleh Panji Tejo Laksono.


Sembari tersenyum tipis, Panji Tejo Laksono cepat layangkan sebuah tendangan keras kearah perut pimpinan kelompok Bajak Laut Tsang itu.


Bhhhuuuuuuggggh...


Aaauuuuggggghhhhh !!


Tsang Hung terpental ke belakang dan menghantam tanah. Rasa sakit seperti habis di hantam balok kayu pada perut, rupanya membuat Tsang Hung sesak nafas. Perlahan darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya. Sedangkan pedang melengkung miliknya kini ada dalam genggaman tangan Panji Tejo Laksono.


Selangkah demi selangkah Panji Tejo Laksono mendekati pimpinan kelompok Bajak Laut Tsang yang kini terkapar di halaman rumah Maranatha. Tsang Hung melihat nya seperti melihat Dewa Kematian yang hendak mencabut nyawanya. Dia pucat pasi ketakutan.


"A-ampuni aku kesatria..


Aku mengaku kalah. Tolong jangan bunuh aku", ujar Tsang Hung sembari mencoba untuk menjauhi Panji Tejo Laksono dengan menggeser posisi tubuhnya. Panji Tejo Laksono dengan cepat melemparkan pedang melengkung milik Tsang Hung ke arah leher.


Shreeeeettttthhh !!


Tsang Hung yang ketakutan langsung menutup mata saat melihat pedang nya sendiri melesat cepat kearah lehernya. Dia sudah pasrah menjemput ajal.


Chhreepppppph !!


Sekejap mata berlalu dan Tsang Hung tidak merasakan apa-apa. Perlahan mata sipitnya terbuka lebar dan melihat pedang melengkung miliknya hanya berjarak satu ruas jari di samping kanan lehernya. Kemudian Tsang Hung menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri tegak di hadapan nya.


"Apa kau mengampuni nyawa ku, pendekar?", tanya Tsang Hung sembari menunggu jawaban yang keluar dari mulut Panji Tejo Laksono.


"Ah tangan ku sedang capek jadi meleset sedikit dari tempat yang aku inginkan, Bajak Laut..


Jika kau tidak segera memerintahkan kepada anak buah mu untuk menyerah, akan ku pastikan pisau belati di tangan ku ini benar-benar akan menembus leher mu itu!".


Seribu umpatan dan sumpah serapah akan keluar dari bibir Tsang Hung andai saja dia tidak dalam posisi yang sekarang begitu mendengar ucapan Panji Tejo Laksono yang berkata seperti itu. Sekarang dia tidak dalam posisi yang bisa menawar selain menuruti semua perintah Panji Tejo Laksono. Segera Tsang Hung berteriak lantang.


"Berhenti ... !! Aku menyerah..!!"


Teriakan keras Tsang Hung serta merta menghentikan aksi perlawanan dari para anggota kelompok Bajak Laut Tsang. Satu persatu mulai meletakkan senjata mereka. Chu Hao yang melihat anak buah nya mematuhi perintah Tsang Hung, mau tidak mau juga meletakkan pedang pendek nya. Song Zhao Meng yang melihat Chu Hao meletakkan senjata, dengan jahil mengibaskan tangannya ke arah pipi kanan Chu Hao.


Plllaaaakkkkk....


Aaaarrrgggggghhhhh !!


Chu Hao langsung tersungkur. Dua gigi nya copot terkena tamparan keras Song Zhao Meng yang terlihat tidak di sengaja. Begitu melihat Chu Hao terjatuh, Song Zhao Meng seperti terlihat kaget sembari berkata, " Ooopppppsss.. Maaf tak sengaja".


Sembari memasang wajah tak bersalah, Song Zhao Meng melangkah mendekati Panji Tejo Laksono dimana Tsang Hung tengah berlutut dihadapan nya. Luh Jingga menyarungkan pedang nya dan segera menyusul Song Zhao Meng mendekati Panji Tejo Laksono.


Setelah Bajak Laut Tsang menyerah, para prajurit dan pengawal pribadi Syahbandar Maranatha membawa mereka ke penjara untuk mendapatkan peradilan bagi semua kejahatan mereka. Kabar tertangkapnya Bajak Laut Tsang dengan cepat menyebar ke seluruh Pulau Tumasik hingga sang Dewaraja Pulau Tumasik sendiri, Sanghyang Maradewa, langsung mengunjungi adiknya yang menjadi Syahbandar Pelabuhan Tumasik. Tertangkapnya Bajak Laut Tsang sedikit banyak menciptakan rasa aman bagi para pelancong asal negeri China yang harus melewati Selat Malaka sebagai jalan laut mereka.


Sedangkan Panji Tejo Laksono , Song Zhao Meng dan Luh Jingga begitu masalah ini selesai, segera menuju ke arah Pelabuhan Tumasik dimana para pengikutnya tengah menaikkan air bersih sebagai persediaan pelayaran mereka juga beberapa bahan makanan pokok untuk bekal perjalanan pulang ke Kadiri.


"Paman Ludaka,


Bagaimana persiapan kita untuk berangkat menuju ke Panjalu? Apakah sudah beres?", tanya Panji Tejo Laksono pada Tumenggung Ludaka yang sedang mengawasi para prajurit Panjalu bekerja.


"Tinggal sedikit lagi, Gusti Pangeran.. Orang orang Syahbandar Maranatha sangat membantu kita dengan menyiapkan bahan makanan untuk bekal perjalanan pulang kita.


Tapi bukankah tadi Gusti Pangeran sedang berada di kediaman Syahbandar Maranatha? Kenapa cepat kembali kemari?", Tumenggung Ludaka malah balik bertanya kepada sang pangeran muda dari Kadiri.


Belum sempat Panji Tejo Laksono menjawab pertanyaan tersebut, Maranatha dan Sang Dewaraja Pulau Tumasik, Sanghyang Maradewa datang beserta beberapa orang prajurit mendekati Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga serta orang orang Panjalu.


"Sembah bakti patik pada Tuan Bomoh yang perkasa..


Maranatha datang dengan kakak, Sang Dewaraja Pulau Tumasik untuk bertemu sekaligus berterimakasih pada Tuan Bomoh yang perkasa atas bantuannya", ujar Maranatha dengan penuh hormat.


"Adik Maranatha, apakah tuan ini yang mengalahkan Bajak Laut Tsang hanya dengan bantuan 2 orang?", tanya Sanghyang Maradewa, kakak kandung Maranatha segera.


"Sungguh suatu kehormatan besar bagi saya berjumpa dengan Tuan. Mewakili seluruh warga Pulau Tumasik, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuan Bomoh yang perkasa. Mereka semua adalah gangguan yang meresahkan masyarakat Pulau Tumasik ini. Sekali lagi saya sangat berterimakasih pada Tuan Bomoh", ucap Sanghyang Maradewa sembari membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.


"Ini hanya bantuan kecil dari kami. Lagipula orang orang Tuan Maranatha lah yang sudah bertarung sekuat tenaga untuk menahannya gempuran mereka. Jadi mereka lebih berhak mendapatkan rasa terimakasih dari Tuan Dewaraja ", Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti. Mendengar jawaban itu, Sanghyang Maradewa dan Maranatha tersenyum simpul. Mereka berdua mengagumi kerendahan hati Panji Tejo Laksono yang tidak mau mereka puji, padahal jelas jelas dia, Song Zhao Meng dan Luh Jingga yang mengatasi kelompok Bajak Laut Tsang yang selama ini menjadi momok bagi sebagian besar pelaut Pulau Tumasik.


Setelah persiapan rampung, Panji Tejo Laksono segera memerintahkan kepada para anak buah kapal jung besar itu untuk segera menarik sauh agar mereka bisa berangkat menuju ke Tanah Jawadwipa. Rakryan Purusoma pun segera memutar kemudi kapal jung dan siang hari itu juga perlahan perahu jung besar yang ditumpangi oleh rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan Pelabuhan Tumasik menuju ke arah selatan.


****


Di wilayah Kadipaten Kalingga, rombongan pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Mapanji Jayawarsa dan Senopati Agung Narapraja telah sampai di daerah Pajung yang menjadi markas besar para prajurit Panjalu sebelum bergerak menggempur pertahanan para pemberontak Rajapura.


Para prajurit Kadipaten Kalingga di bawah pimpinan Senopati Wanapati, prajurit Bhumi Mataram di bawah pimpinan Senopati Wukirnegara dan prajurit Kembang Kuning di bawah pimpinan Senopati Arya Danaraja menyambut kedatangan para prajurit Panjalu dengan penuh hormat.


"Sembah bakti kami Gusti Pangeran!!"


Ribuan orang prajurit dari tiga Kadipaten besar di wilayah barat Panjalu serentak berlutut dan menyembah pada Mapanji Jayawarsa. Putra kedua Prabu Jayengrana ini tersenyum penuh keangkuhan. Dia segera mengangkat tangan kanannya.


"Sembah bakti kalian semua aku terima. Berdirilah!", ujar Mapanji Jayawarsa sembari menurunkan tangan kanannya.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran..!!"


Ribuan prajurit itu segera berdiri dan berbaris rapi di depan Mapanji Jayawarsa. Senopati Kalingga, Wanapati segera mendekati Mapanji Jayawarsa sembari membungkuk hormat kepada putra kedua Prabu Jayengrana ini.


"Gusti Pangeran, silahkan..!!


Tempat untuk beristirahat telah kami siapkan. Silahkan Gusti Pangeran beristirahat sejenak setelah melakukan perjalanan jauh", ucap Senopati Wanapati dengan penuh hormat.


"Kau benar benar berbakti kepada negara. Aku akan bicara pada ayahanda Prabu Jayengrana untuk mengangkat mu sebagai perwira tinggi Istana Kotaraja Kadiri selepas perang ini selesai", ujar Mapanji Jayawarsa segera. Senopati Wanapati yang gila kekuasaan, segera membungkuk hormat kepada Mapanji Jayawarsa sembari mengucapkan terima kasih.


Kini di Wanua Pajung yang menjadi tempat berkumpulnya para prajurit Panjalu, setidaknya sudah ada 40 ribu prajurit yang siap untuk menyerbu ke arah Rajapura. Jumlah ini sangat besar hingga membuat semua orang yang ada di tempat itu tanpa ragu mengatakan bahwa mereka akan memenangkan peperangan besar ini dengan mudah.


Di tenda besar yang menjadi tempat pertemuan para perwira, Mapanji Jayawarsa nampak duduk di kursi kayu berdampingan dengan Senopati Agung Narapraja. Di sebelah belakang kanan Mapanji Jayawarsa, ada Demung Randuwangi salah seorang perwira baru yang di tugaskan oleh Ratu Ayu Galuh untuk mengawal putra kesayangannya. Orang ini diangkat menjadi perwira juga dengan usulan dari Mpu Kepung dan Mpu Gandasena yang sengaja ingin menempatkan seorang perwira berilmu tinggi untuk melindungi Mapanji Jayawarsa, calon raja Panjalu selanjutnya pilihan mereka.


Di samping kanan Mapanji Jayawarsa, Senopati Wanapati dari Kalingga nampak duduk bersila dengan tertib, di jajari oleh Tumenggung Wiguna dari Istana Katang-katang. Sedangkan di sisi kiri, nampak Senopati Wukirnegara dan Senopati Arya Danaraja nampak menunggu titah sang pangeran muda yang dinobatkan sebagai pimpinan utama Pasukan Kerajaan Panjalu itu.


"Malam ini kita berkumpul di sini untuk membahas langkah kita dalam upaya mengembalikan kewibawaan Pemerintah Panjalu yang sudah di rongrong oleh Adipati Waramukti dari Rajapura.


Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa,


Untuk selanjutnya langkah apa yang harus kita tempuh untuk menegakkan kedaulatan Kerajaan Panjalu kita?", Senopati Agung Narapraja membuka percakapan malam hari itu sambil menoleh ke arah Mapanji Jayawarsa.


"Langkah apa lagi yang perlu di bicarakan Paman Senopati?


Kita serbu saja mereka dengan kekuatan penuh. Pasti mereka juga akan kalah", jawab Mapanji Jayawarsa acuh tak acuh.


"Tapi Gusti Pangeran, sebaiknya kita menunggu laporan dari telik sandi kita yang sudah lebih dulu mencari berita terkait kekuatan Kadipaten Rajapura", sergah Senopati Agung Narapraja sembari menghormat pada Mapanji Jayawarsa.


"Ah itu menurut ku itu tidak perlu lagi, Paman Senopati..


Jumlah prajurit Panjalu sekarang sudah lebih dari 40 ribu prajurit. Mereka tidak akan mampu mengumpulkan prajurit sebanyak yang kita miliki. Mereka tidak akan mampu menahan gempuran kita jika kita bergerak maju bersama-sama.


Bukankah begitu Senopati Wanapati?", Mapanji Jayawarsa mengalihkan pandangannya pada Senopati Wanapati yang duduk di sebelah kanannya.


"Benar sekali pendapat Gusti Pangeran..


Kita akan mudah mengalahkan para prajurit Rajapura dengan jumlah prajurit yang kita miliki", Senopati Wanapati yang ingin menjilat pada Mapanji Jayawarsa segera mengiyakan begitu saja pendapat putra kedua Prabu Jayengrana ini. Mendengar jawaban itu, Mapanji Jayawarsa langsung tersenyum senang.


Sementara itu Senopati Arya Danaraja dan Senopati Wukirnegara saling berpandangan melihat sikap Mapanji Jayawarsa yang gegabah. Sedangkan Senopati Agung Narapraja nampak mengelus dadanya karena menahan diri untuk tidak menjawab omongan Mapanji Jayawarsa.


Sesuai keinginan Mapanji Jayawarsa yang mengandalkan jumlah prajurit untuk menggempur pertahanan para prajurit Rajapura, para prajurit Panjalu akan memakai wyuha atau gelar perang Wukir Segara. Gelar perang ini memang mengandalkan jumlah prajurit untuk melibas kekuatan musuh.


Keesokan paginya, saat fajar mulai menyingsing di langit timur, para prajurit Panjalu segera bersiap siap untuk melintasi perbatasan wilayah antara Kadipaten Kalingga dan Rajapura. Umbul umbul warna warni segera di tegakkan, bendera biru merah bergambar burung Garuda yang merupakan lambang kebesaran Kerajaan Panjalu langsung berkibar di antara para prajurit Panjalu yang bersiap untuk maju ke medan perang.


Seorang prajurit peniup terompet tanduk kerbau langsung meniup terompet yang menjadi penanda bahwa pasukan harus bergerak.


Thhhuuuuuuutttthhh.... !!


Begitu terompet tanduk kerbau berbunyi, ribuan orang prajurit Panjalu mulai bergerak memasuki perbatasan Kadipaten Rajapura. Tujuan mereka saat ini hanya satu,


Benteng pertahanan Rajapura di Karangwuluh.