Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Situasi Genting


Semua anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang ada saling berpandangan mendengar ucapan Senopati Gardana. Ada raut wajah putus asa menyelimuti air muka mereka. Salah seorang diantara mereka menggenggam erat gagang pedang mereka lalu berteriak keras.


"Lebih baik mati daripada harus menjadi tahanan Panjalu. Hidup Kelompok Bulan Sabit Darah!!"


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat ..!!


Sambil berteriak keras, dia melesat cepat kearah Senopati Gardana sambil mengayunkan pedangnya. Song Zhao Meng memusatkan tenaga dalam nya kearah mulut dan dengan sepenuh tenaga menghembuskan nafas dinginnya ke arah si anggota Kelompok Bulan Sabit Darah itu.


Whhhuuuggghhhh!!


Angin dingin yang sanggup menusuk tulang segera berhembus kencang dari mulut Song Zhao Meng. Begitu sang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah ini terkena angin dingin dari Song Zhao Meng, seketika tubuhnya langsung membeku. Tubuh yang mengeras itu segera jatuh ke sudut halaman Pendopo Agung Kadipaten Seloageng dan hancur berkeping keping.


Semua orang terkejut melihat kejadian itu. Baru kali ini mereka melihat seorang pendekar perempuan memiliki kemampuan membunuh sebegitu mengerikan nya. Bahkan para punggawa Istana Kadipaten Seloageng pun turut terhenyak melihat kemampuan beladiri Song Zhao Meng yang menakutkan. Selama ini mereka mengira bahwa Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari hanyalah seorang putri persembahan biasa dari Negeri Tiongkok yang tidak memiliki kemampuan beladiri sama sekali. Kejadian yang baru saja terjadi di depan mata mereka benar-benar membuat mereka sadar bahwa orang yang tidak banyak bicara ini adalah pendekar perempuan yang luar biasa.


Rasa takut yang menjadi-jadi semakin membuat para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa kebingungan. Di satu sisi mereka takut akan menjadi incaran para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang lain saat menyerah namun di sisi lain nya mereka juga bukan lawan bagi Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya.


Salah seorang diantara anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa maju selangkah dan melemparkan senjata nya di tanah sebagai tanda menyerah tanpa syarat. Dia kemudian berbalik badan dan menatap wajah wajah kawan-kawannya yang terlihat seperti ayam kehilangan induknya.


"Kawan-kawan seperjuangan,


Maaf jika aku mengecewakan kalian semua tapi aku merasa sudah cukup untuk memperjuangkan kepentingan kelompok kita. Jika saja pimpinan ketiga masih berada di sini, berjuang bersama kita hingga titik darah penghabisan, maka aku tidak akan ragu untuk bertarung sampai mati.


Tapi dia sendiri pergi tanpa mempedulikan kita. Ini mungkin sesuai dengan angan-angan ku selama ini bahwa kita hanya alat mereka untuk mencapai tujuan. Maka dari itu, aku tidak mau selamanya hanya dimanfaatkan oleh mereka. Sudah cukup aku berjuang keras untuk mereka. Dan kini aku akan menentukan pilihan ku sendiri. Aku akan menyerah tanpa syarat kepada Adipati Seloageng. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita semua tetap akan menjadi kawan baik", usai berkata demikian, si anggota Kelompok Bulan Sabit Darah itu berjalan mendekati Panji Tejo Laksono dan segera berlutut dengan kedua tangan terbuka lebar di samping kepala.


Melihat itu, satu persatu anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa mulai bergerak seperti kawan mereka. Semuanya akhirnya menyerah pada prajurit Seloageng. Dengan begini, maka pertarungan sengit di dalam istana Kadipaten Seloageng berakhir dengan kemenangan prajurit Seloageng.


Dari 1500 anggota Kelompok Bulan Sabit Darah, 1300 orang terbunuh dalam pertempuran itu. Sisanya sebanyak 200 orang menyerah. 4 Setan Bulan Darah juga ikut menjadi korban dalam peristiwa ini. Nyi Dadap Segara, sang pimpinan kelima pun juga harus menjadi sandera setelah menelan Racun Penghancur Hati dari Song Zhao Meng.


Sedangkan dari pihak Istana Kadipaten Seloageng, 1400 orang prajurit menjadi korban, 150 orang prajurit menderita cedera parah dan 50 orang menderita cedera ringan. Patih Sancaka dan Tumenggung Kundana turut menjadi korban dari penyerbuan yang di lakukan oleh Kelompok Bulan Sabit Darah.


Panji Tejo Laksono sepertinya hendak pergi meninggalkan istana, namun Song Zhao Meng segera mencegahnya.


"Tunggu dulu, Kakak Thee..


Jangan terburu-buru mengejar penculik Cici Ayu", cegat Song Zhao Meng segera.


"Tapi Meng Er, kalau terlalu lama kita membuang waktu, aku takut penculik itu akan semakin jauh menghilangkan jejak nya", jawab Panji Tejo Laksono sembari menatap wajah cantik Song Zhao Meng.


"Aku mengerti itu Kakak Thee..


Tapi kau lihat sendiri keadaan istana Seloageng sekarang ini. Beberapa bangunan hancur, Paman Patih Sancaka dan Tumenggung Kundana terbunuh. Tinggal Senopati Gardana dan beberapa punggawa saja, aku yakin mereka tidak akan bisa membereskan semua masalah ini", mendengar ucapan Song Zhao Meng, Panji Tejo Laksono tertegun beberapa saat lamanya. Kata-kata bijak dari Song Zhao Meng langsung membuatnya tersadar. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan lebih dulu sebelum mengejar pelaku penculikan Ayu Ratna.


Atas perintah dari Panji Tejo Laksono, Senopati Gardana di bantu oleh para prajurit Seloageng segera menata para perwira menengah dan rendah untuk bekerja cepat malam itu juga.


Juru Mpu Susena bersama Bekel Widagda bertugas mengurusi jenazah korban perang sedangkan Senopati Gardana sendiri di bantu oleh Demung Mpu Jodipati dan Bekel Taranjana mengurusi pembersihan sisa-sisa puing bangunan istana yang hancur.


Setelah membagi tugas, Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Song Zhao Meng.


"Dinda Wulan, kau awasi pekerjaan mereka sambil terus berjaga jaga jika ada serangan susulan dari mereka.


Aku akan menghadap pada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana di Istana Katang-katang untuk meminta bantuan orang yang bisa di percaya sementara nanti aku mengejar penculik Ayu Ratna", ujar Panji Tejo Laksono yang di balas anggukan kepala dari sang istri.


"Aku mengerti Kakak Thee", ucap Song Zhao Meng sembari tersenyum tipis.


Setelah mendengar jawabannya dari Song Zhao Meng, Panji Tejo Laksono segera bersedekap tangan di depan dada. Matanya terpejam rapat sedang mulutnya komat-kamit merapal mantra Ajian Halimun nya. Sebentar kemudian, asap putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono dan di lain kejap waktu berikutnya, sang pangeran muda sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.


Di dalam ruang pribadi raja Panjalu, Prabu Jayengrana sedang duduk di kursi kebesaran nya bersama Dewi Anggarawati sang permaisuri pertama di dampingi oleh Dewi Naganingrum sang permaisuri ketiga. Di hadapan sang raja, duduk bersila Mapatih Warigalit dan Senopati Muda Jarasanda. Mereka semua sedang duduk bersama untuk membicarakan situasi terakhir yang sedang terjadi di Kerajaan Panjalu.


"Kita tidak boleh lengah sedikit pun, Kakang Warigalit..


Perintahkan kepada segenap punggawa istana untuk selalu bersiap siaga menghadapi situas mendadak", titah Prabu Jayengrana dengan penuh wibawa.


"Daulat Dhimas Prabu..


"Juga untuk mu, Senopati Agung Narapraja..


Minta kepada Senopati Muda Jarasanda untuk terus melakukan patroli rutin di sepanjang garis perbatasan wilayah kita dengan Jenggala. Pasukan Garuda Panjalu di bentuk untuk bergerak cepat menghadapi segala situasi", Prabu Jayengrana mengalihkan pandangannya pada Senopati Agung Narapraja.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu..


Selain Pasukan Garuda Panjalu, hamba sudah membentuk sebuah jaringan di seluruh wilayah perbatasan kita. Ini berguna untuk mengabarkan berita secara cepat ke Kotaraja. Bila terjadi hal hal yang tidak kita inginkan, mereka akan cepat melaporkan kepada hamba", Senopati Agung Narapraja menyembah pada sang Maharaja Panjalu usai memberikan laporan nya.


Prabu Jayengrana manggut-manggut senang mendengar jawaban dua orang punggawa Istana Katang-katang ini.


Saat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba angin kencang berdesir membawa kabut putih tipis yang dingin. Melihat itu, Prabu Jayengrana tersenyum simpul.


"Ada yang datang rupanya hehehehe..


Dinda Anggarawati, bersiaplah untuk menyambut kedatangan nya", mendengar ucapan Sang Maharaja Panjalu, Ratu Dewi Anggarawati langsung keheranan. Namun sebentar kemudian, istri pertama Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana itu tersenyum lebar manakala ia melihat dari dalam kabut itu, Panji Tejo Laksono putranya berjalan masuk ke dalam ruang pribadi raja.


"Ah permata hati ku, Ngger Cah Bagus Panji Tejo Laksono..


Kau datang menemui biyung Nak", Dewi Anggarawati langsung berdiri dari tempat duduknya dan bergegas menghampiri Panji Tejo Laksono. Segera Panji Tejo Laksono berlutut dihadapan sang ibu sembari menyembah nya.


"Sembah bakti saya, Kanjeng Ibu..


Putra mu yang tidak berbakti ini menghaturkan permohonan maaf karena jarang berkunjung ke Katang-katang", ucap Panji Tejo Laksono segera.


"Ah bicara apa kau ini Nak?


Mari sini sama biyung. Putraku semakin lama semakin tampan saja", puji Dewi Anggarawati sembari menggandeng tangan Panji Tejo Laksono dan menariknya ke ruang pribadi raja. Begitu sampai di sana, Panji Tejo Laksono segera menghormat pada Prabu Jayengrana dan Dewi Naganingrum. Keduanya segera tersenyum lebar sembari mengangkat tangan kanannya.


Setelah Panji Tejo Laksono duduk bersila di bawah kaki Dewi Anggarawati, Penguasa Kadipaten Seloageng ini segera menghormat pada Prabu Jayengrana sebelum berbicara.


"Mohon ampun bila kedatangan saya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Kanjeng Romo Prabu. Ini terpaksa harus saya lakukan karena ada situasi genting yang sedang terjadi di Seloageng", ujar Panji Tejo Laksono segera. Mendengar ucapan itu, semua orang yang ada di tempat itu langsung terkejut.


"Situasi genting?


Coba kau jelaskan, Tejo Laksono. Apa maksud mu dengan situasi genting yang sedang terjadi di Seloageng itu?", tanya Prabu Jayengrana sembari mengangkat tangan kanannya.


"Begini Kanjeng Romo Prabu. Saat ini....."


Panji Tejo Laksono langsung menceritakan tentang semua kejadian yang terjadi di istana Kadipaten Seloageng dan juga semua hal yang dia alami sewaktu menyamar menjadi pedagang kain keliling di Tumapel. Semua orang terkejut bukan main mendengar semua cerita sang pangeran muda.


"Kurang ajar !!


Mereka semua benar benar ingin menantang Panjalu dengan menculik menantu ku. Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja", Prabu Jayengrana berdiri dari tempat duduknya. Tangan kanannya mengepal erat pertanda bahwa sang Maharaja Panjalu itu sedang murka.


"Saya juga tidak terima dengan perlakuan terhadap Ayu Ratna, Kanjeng Romo Prabu.


Tapi sebaiknya kita tidak boleh gegabah dalam menghadapi situasi ini. Yang paling banyak sekarang, saya butuh bantuan dari Kanjeng Romo Prabu untuk membantu memulihkan kembali keadaan di Istana Kadipaten Seloageng. Saya minta, Kanjeng Romo Prabu Jayengrana mengutus seseorang yang dapat diandalkan sekaligus sebagai penjaga keamanan di Istana Kadipaten Seloageng saat saya mengejar penculik Ayu Ratna", ujar Panji Tejo Laksono segera.


Hemmmmmmm..


"Kau benar, Tejo Laksono..


Kita tidak bisa seenaknya saja masuk ke wilayah musuh dengan membawa banyak orang. Harus ada yang membantu mu untuk menenangkan situasi di Seloageng. Untuk masalah ini, kau tenang saja. Besok pagi, akan ku utus Senopati Muda Jarasanda dan Tumenggung Sindupraja untuk membantu mu menata ulang istana Seloageng", jawab Prabu Jayengrana sembari mengelus kumisnya yang tebal.


Panji Tejo Laksono langsung tersenyum lebar ketika mendengar kesanggupan Prabu Jayengrana. Penguasa Kadipaten Seloageng ini segera menghormat sebelum berbicara,


"Terimakasih atas bantuan Kanjeng Romo Prabu. Dengan begini, saat ini juga saya akan berangkat.


Mengejar penculik Ayu Ratna ".