
Pria bertubuh gempal dengan kumis tebal itu segera bangkit dari tempat rebahan nya dan menatap ke arah sang prajurit pengintai sembari bertanya, " Apa kau tidak mengenali pakaian mereka?".
"Ampun Gusti Tumenggung, kalau melihat dari jarit pakaiannya yang bercorak parang merah seperti nya mereka berasal dari Kadipaten Kalingga.
Tapi beberapa ratus orang memakai jarit biru keunguan yang menjadi ciri khas orang orang Istana Daha", lapor si prajurit dengan penuh hormat.
Hemmmmmmm ...
"Kalau begitu, mereka pasti orang orang Kalingga yang mengikuti perintah dari Daha. Kau segera berangkat ke Pakuwon Getas untuk melapor ke Tumenggung Gurunwangi. Aku akan mencoba untuk mengulur waktu di sekitar tempat ini. Lekas berangkat!", perintah pria bertubuh gempal dengan kumis tebal yang bernama Tumenggung Jagatirta ini.
"Sendiko dawuh Gusti Tumenggung", selesai menghormat, si prajurit pengintai Kadipaten Rajapura ini segera melompat ke atas kuda dan menggebrak hewan pelari itu menuju ke arah Pakuwon Getas.
Setelah melihat pengirim pesan nya pergi, Tumenggung Jagatirta segera memerintahkan kepada para anak buahnya untuk bersiap menghadapi para prajurit Kalingga yang kini menjadi pasukan Panji Tejo Laksono.
Dengan kekuatan 2 ribu orang, mereka memanfaatkan bantaran Kali Comal yang berbukit untuk menjebak para prajurit Panji Tejo Laksono yang sedang menyeberangi sungai. Mereka yang sudah terlatih langsung menempati posisi yang sudah di tentukan sebelumnya.
Panji Tejo Laksono yang berkuda paling depan, langsung mengangkat tangan kanannya ke atas saat hendak sampai di tepi Kali Comal sebelah barat. Penyeberangan sungai berbatu itu terlihat lengang dan ini menimbulkan rasa curiga terhadap tempat itu. Seluruh pasukan menghentikan langkah kaki kuda mereka begitu melihat isyarat tangan kanan sang pangeran.
Tumenggung Ludaka bergegas mendekati Panji Tejo Laksono yang sedang mengedarkan pandangannya ke perbukitan kecil yang mengapit jalan menuju ke arah barat. Tatapan matanya yang tajam melihat beberapa orang sedang mengintip dari balik rimbun pepohonan yang tumbuh di perbukitan kecil bantaran kali Comal itu.
"Ada apa Gusti Pangeran? Kenapa berhenti di tepian kali seperti ini?", tanya Tumenggung Ludaka segera. Tumenggung Rajegwesi, Demung Gumbreg dan Rakryan Purusoma segera ikut mendekati Panji Tejo Laksono.
"Rupanya ada yang berniat untuk menyambut kedatangan kita di Rajapura ini, Paman Ludaka.
Paman Ludaka, siapkan pasukan bertameng untuk jalan lebih dulu di depan. Lindungi kawan kawan kita dengan tameng besi mereka. Ingat untuk selalu waspada. Tunggu suara ribut terdengar dulu, baru paman pimpin mereka maju.
Paman Rajegwesi, bawa pasukan mu mengitari bukit sebelah kanan, sisir setiap sisi bukit karena sepertinya mereka menempatkan para prajurit pemanah di sebelah sana.
Paman Gumbreg, putari bukit sebelah kiri. Melihat bukit sisi kiri yang lebih rendah, mereka pasti menyiapkan jebakan batu besar dan kayu gelondongan disana. Langsung saja kalian habisi mereka jika melawan.
Paman Purusoma, atur bagian prajurit perbekalan di tempat paling belakang. Usahakan setiap serangan lawan, tidak merusak perbekalan kita sedikitpun.
Apa kalian sudah mengerti?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah empat orang perwira prajurit Panjalu itu segera.
"Kami mengerti Gusti Pangeran", jawab keempat orang itu sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono. Segera Tumenggung Rajegwesi memimpin kelompok pasukan nya bergerak ke sisi kanan, sedangkan Demung Gumbreg memimpin pasukan nya bergerak ke samping kiri.
Pecahnya para prajurit pasukan Panji Tejo Laksono ini membuat para prajurit Rajapura yang di pimpin oleh Tumenggung Jagatirta kebingungan. Sekalipun waspada, mereka tidak berani bertindak karena belum menerima perintah.
Panji Tejo Laksono segera mendekatkan kudanya pada Luh Jingga, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari dan Ayu Ratna.
"Kalian bertiga berhati-hati..
Ada sekelompok prajurit Rajapura yang menunggu kita untuk masuk ke dalam perangkap mereka. Sekarang waktunya adu cerdik dengan mereka. Usahakan untuk selalu bersama dan saling melindungi", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
Tiga gadis cantik itu segera mengangguk mengerti. Melihat kekompakan mereka, Panji Tejo Laksono terlihat senang. Segumpal asap putih tipis perlahan menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono pertanda bahwa sang pangeran muda menggunakan Ajian Halimun dan sekejap mata kemudian, sang pangeran muda dari Kadiri ini sudah menghilang dari pandangan mata ketiga gadis cantik itu.
"Kadang aku tidak sadar, bahwa lelaki kita adalah pria yang luar biasa. Aku bangga bisa menjadi salah satu wanitanya", ujar Luh Jingga sembari tersenyum lebar ketika melihat Panji Tejo Laksono menghilang.
"Kau benar, Kak Luh..
Kita beruntung bisa mendapatkan hatinya dan mau menerima kita sebagai pendamping hidup nya", imbuh Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari kemudian.
"Kalian benar ..
Karena itu kita juga harus bisa membantu nya dalam menghadapi apapun yang menjadi perintang setiap tujuan nya. Ayo kita buktikan pada Kangmas Pangeran Tejo Laksono bahwa kita bukan beban untuk nya", setelah berkata demikian, Ayu Ratna segera mencabut pedang pendek di pinggangnya. Song Zhao Meng segera memutar telapak tangannya, bersiap untuk bertarung bersama Luh Jingga yang menggenggam erat gagang pedang nya.
Para prajurit Rajapura yang sedang mengintai para prajurit Kalingga tak menyangka kalau tiba-tiba saja muncul Panji Tejo Laksono di samping mereka. Belum hilang rasa terkejut mereka, Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin dan Tapak Dewa Api langsung mengamuk dengan melancarkan serangannya.
Whuuuggghh whuuthhh..
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr blllaaammmmmmmm!!
Empat orang prajurit Rajapura berteriak keras meraung kesakitan setelah terkena hantaman sinar merah kekuningan yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono. Yang lain langsung melemparkan tombak nya ke arah Panji Tejo Laksono namun kecepatan gerakan tubuh sang pangeran muda yang kelewat tinggi, bukan tandingan mereka. Dua orang prajurit Rajapura lainnya langsung roboh terkena hantaman Ajian Tapak Dewa Api, dan segera keributan itu mengacaukan tatanan jebakan yang di buat oleh Tumenggung Jagatirta.
Ratusan orang prajurit Rajapura berusaha keras untuk membantu kawan mereka yang sedang menghadapi amukan Panji Tejo Laksono.
Namun di saat yang bersamaan, muncul ratusan prajurit Kalingga yang di pimpin oleh Tumenggung Rajegwesi melepaskan anak panah mereka untuk menahan laju pergerakan prajurit Rajapura yang hendak mengepung Panji Tejo Laksono. Perang pun langsung pecah di bukit sebelah kanan.
Denting senjata beradu terdengar nyaring bersamaan dengan jerit keras mereka yang menemui ajal. Darah segar mengalir keluar dari luka luka dan bagian tubuh yang terpotong senjata tajam.
Berbarengan dengan itu, prajurit di bawah pimpinan Tumenggung Ludaka dan Rakryan Purusoma pun mulai bergerak melintasi jalan tersebut. Para prajurit Rajapura yang sudah kacau balau dengan pecahnya pertarungan sengit di kanan bukit, hendak melepaskan jebakan batu besar yang sudah mereka persiapkan. Satu orang bergerak cepat dan melepaskan satu jebakan batu besar. Belum sempat yang lain ikut bertindak, pasukan Demung Gumbreg yang baru saja sampai langsung menerjang maju ke arah mereka. Pertempuran di sisi kiri pun segera terjadi.
Tumenggung Jagatirta yang melihat Panji Tejo Laksono mengamuk, geram bukan main. Dia langsung mencabut keris pusaka di pinggangnya dan melompat ke arah sang pangeran muda sembari menusukkan kerisnya ke punggung.
Panji Tejo Laksono yang waspada, langsung berkelit dari serangan dan hantamkan tapak tangan kirinya ke arah Tumenggung Jagatirta. Selarik sinar merah kekuningan menerabas cepat kearah sang perwira tinggi prajurit Rajapura itu. Tumenggung Jagatirta langsung menjatuhkan diri ke tanah, menghindari hantaman Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono yang mengancam nyawa nya.
Bllaaaaammmmmmmm..!!
Sebatang pohon yang tumbuh di bukit kecil di bantaran Kali Comal itu langsung meledak dan roboh setelah terkena sinar merah Ajian Tapak Dewa Api yang di keluarkan oleh Panji Tejo Laksono.
Segera saja Tumenggung Jagatirta menjejak tanah dengan keras dan kembali mengayunkan keris pusaka di tangan kanannya ke arah dada Panji Tejo Laksono. Pertarungan jarak dekat pun berlangsung sengit.
Namun, Tumenggung Jagatirta bukan lawan yang sepadan dengan kemampuan beladiri tangan kosong sang pangeran muda. Menggunakan Ilmu Silat Padas Putih, Panji Tejo Laksono melayani serangan serangan Tumenggung Jagatirta yang mengincar titik titik kematian.
Tumenggung Jagatirta yang baru saja menghindari pukulan Panji Tejo Laksono, merendahkan tubuhnya sembari melakukan tendangan keras melingkar yang mengincar betis kaki kanan Panji Tejo Laksono.
Whhhuuuggghhhh !
Dengan satu hentakan keras, Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara dan mendarat dua tombak di belakang Tumenggung Jagatirta. Melihat itu, Tumenggung Jagatirta segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono namun sang pangeran muda lebih cepat bergerak berkelit sembari menghantamkan tangan kanannya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi kearah perwira prajurit Rajapura itu. Tak punya ruang untuk menghindar, Tumenggung Jagatirta segera menyilangkan kerisnya ke depan dada untuk menahan hantaman tangan kanan Panji Tejo Laksono.
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr!
Tubuh gempal perwira prajurit Rajapura itu terpelanting ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibir Tumenggung Jagatirta pertanda dia menderita luka dalam. Sembari mendengus keras, Tumenggung Jagatirta bangkit dari tempat jatuhnya dan mengusap sisa darah di bibirnya dengan kasar.
"Ku akui kau memang hebat, anak muda.. Tapi jangan senang dulu, Jagatirta belum kalah!".
Setelah berkata demikian, Tumenggung Jagatirta segera komat-kamit merapal mantra. Tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan asap hitam pekat berbau anyir darah yang menakutkan. Ini adalah Ajian Gondo Mayit yang merupakan ilmu kanuragan andalannya. Sebuah ilmu kanuragan yang jika di hantamkan pada tubuh lawan, akan membuat tubuh lawannya membusuk dan tewas.
Melihat itu, Panji Tejo Laksono tersenyum tipis sembari memejamkan matanya sebentar. Selarik sinar hijau kebiruan menyelimuti seluruh tubuh Panji Tejo Laksono di sertai hawa sejuk yang menakutkan. Ini adalah Ajian Waringin Sungsang, ajaran Warok Surapati mertua ayahnya dari Wengker. Rupanya dia berniat mengadu ilmu kanuragan miliknya dengan ilmu kanuragan Tumenggung Jagatirta.
"Anak muda!!
Bersiaplah untuk menemui Dewa Yama di neraka!!", teriak Tumenggung Jagatirta yang langsung melesat ke arah Panji Tejo Laksono sambil menghantam dada sang pangeran muda yang tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Anehnya begitu telapak tangan Tumenggung Jagatirta yang berselimut kabut hitam berbau anyir darah mengenai dada Panji Tejo Laksono, tapak tangan itu seperti melekat erat pada kulit sang pangeran. Perlahan seluruh tenaga dalam Tumenggung Jagatirta seperti tersedot oleh tubuh Panji Tejo Laksono yang di liputi oleh sinar hijau kebiruan.
Rasa sakit yang seketika menyerang sekujur tubuh Tumenggung Jagatirta membuat perwira prajurit Rajapura ini berusaha untuk melepaskan diri dari Ajian Waringin Sungsang yang kini mengikatnya. Dia menjerit keras karena rasa sakit yang menggerogoti seluruh tubuh nya.
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Perlahan mata nya mengeluarkan darah segar. Hidung, telinga dan mulutnya juga terus berdarah. Perlahan tubuh Tumenggung Jagatirta menghitam dan mengering karena Ajian Waringin Sungsang menyedot habis tenaga dalam dan daya hidup nya.
Saat tenaga dalam dan daya hidup Tumenggung Jagatirta sudah habis, Panji Tejo Laksono langsung menghantamkan tapak tangan nya kearah dada Tumenggung Jagatirta.
Hiyyyyaaaaaaaatttttt...
Blllaaammmmmmmm !!
Tubuh gempal perwira prajurit Rajapura itu meledak dan hancur lebur menjadi abu setelah Panji Tejo Laksono menghantamnya. Semua orang yang melihat kejadian itu bergidik ngeri menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang terlihat seperti seorang dewa membinasakan iblis dari neraka.
Tak butuh waktu lama bagi para prajurit Kalingga untuk menundukkan para prajurit Rajapura. Kalah jumlah dan kehilangan pimpinan mereka, membuat para prajurit Rajapura yang tersisa memilih untuk kabur. Hampir 1700 orang prajurit Rajapura pimpinan Tumenggung Jagatirta terbunuh dalam upaya mereka menghalangi pergerakan pasukan Panji Tejo Laksono. Bantaran Kali Comal menjadi saksi bisu perang saudara di Panjalu barat.
Panji Tejo Laksono masih mengatur nafasnya setelah pertarungan sengit dengan Tumenggung Jagatirta saat Tumenggung Ludaka menghampirinya untuk melaporkan keadaan pasukan mereka saat ini. Sebanyak 400 prajurit gugur dalam pertempuran ini dan dua ratus lainnya luka berat dan ringan. Banyaknya perwira berilmu kanuragan tinggi menjadi penyebab kecilnya angka kematian di pihak pasukan Panji Tejo Laksono.
Mendengar laporan itu, Panji Tejo Laksono segera memerintahkan kepada para prajuritnya untuk menguburkan jenazah kawan seperjuangan mereka, sedangkan untuk mayat para prajurit Rajapura di kumpulkan dalam satu tempat dan di bakar agar tidak menjadi sarang penyakit. Sedangkan yang lain nya dia istirahatkan usai pertempuran di bantaran Kali Comal sekaligus untuk mengobati para prajurit yang terluka.
Malam itu, pasukan Panji Tejo Laksono bermalam di Bantaran Kali Comal sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Kota Rajapura.
Seorang lelaki bertubuh kurus memacu kuda nya sekencang mungkin menuju ke arah Pakuwon Getas dimana benteng pertahanan lapis kedua para pemberontak Rajapura di dirikan. Dia adalah utusan Tumenggung Jagatirta yang di tugaskan untuk melaporkan adanya pergerakan prajurit lain dari arah yang berbeda menuju ke Kota Rajapura.
Begitu memasuki kawasan hutan kecil di timur Benteng Pertahanan Getas, sebuah pisau belati berwarna putih keperakan melesat cepat kearah lehernya.
Shhrriiiiiiinnnnngggg...
Chhreeeppppppphh.. Aaauuuugggghhhhh!!!
Si utusan dari Tumenggung Jagatirta ini langsung menjerit keras dan terjatuh dari atas punggung kuda tunggangan nya ke jalanan. Dia mengejang hebat sesaat sebelum diam untuk selamanya. Dari balik rimbun pepohonan, dua bayangan melesat cepat menghampiri sosok utusan Tumenggung Jagatirta yang sudah tewas dengan pisau belati menancap di tenggorokannya.
Salah satu sosok bayangan itu segera mencabut pisau belati dari leher si utusan lalu mengusapkan sisa darah di belati pada baju si utusan yang kini bersimbah darah.
"Sepertinya dia adalah utusan dari Rajapura, Kangmbok.. Lihat saja dari pakaiannya", ujar sosok bayangan hitam yang tak lain adalah Mapanji Jayagiri sembari menunjuk ke arah jarit yang di pakai prajurit yang tewas itu. Mendengar itu, sosok bayangan wanita yang tidak lain adalah Gayatri tersenyum kecut sembari berkata,
"Untuk saat ini, semua prajurit Rajapura adalah lawan! "