
Seorang penjaga gerbang istana datang ke sasana boga Istana Katang-katang dengan langkah kaki terburu-buru. Nyaris saja dia jatuh akibat tersandung ubin lantai saking terburu-buru nya. Segera dia membungkukkan badannya pada Prabu Jayengrana dan para istri nya dengan penuh hormat.
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Ada utusan dari Kadipaten Seloageng. Katanya ada berita yang sangat penting untuk disampaikan kepada Gusti Prabu dan Gusti Ratu Anggarawati", ucap sang prajurit sembari menyembah pada Prabu Jayengrana. Mendengar perkataan itu, semua orang yang ada di tempat itu saling berpandangan. Prabu Jayengrana segera berdiri dari tempat duduknya.
"Antarkan dia menemui aku di ruang pribadi ku, Prajurit".
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", sang prajurit penjaga gerbang istana itu kembali menghormat pada Prabu Jayengrana setelah mendengar perintah dari sang raja Panjalu dan bergegas mundur keluar dari dalam sasana boga Istana Katang-katang.
"Dinda Anggarawati, ikut aku sekarang", ajak Prabu Jayengrana yang segera di sambut dengan anggukan kepala cepat dari sang ratu pertama. Keduanya segera bergegas meninggalkan sasana boga menuju ke arah ruang pribadi raja yang terletak di samping Pendopo Agung Kotaraja Kadiri.
"Menurut mu, apa yang sedang terjadi di Seloageng, Mayang?", Ratna Pitaloka sang selir pertama menatap ke arah Sekar Mayang sang selir kedua yang duduk di sebelahnya.
"Aku tidak mengerti, Kangmbok Pitaloka.
Tapi melihat gelagat aneh yang di tunjukkan oleh Anggarawati tadi sepertinya ini sangat penting", balas Sekar Mayang segera.
"Hampura atuh Teh Mayang..
Beberapa hari yang lalu, abdi teh sempat mendengar katanya Adipati Sepuh Tejo Sumirat sedang sakit. Jangan jangan berita penting ini ada hubungannya dengan kabar eta atuh", sahut Dewi Naganingrum sang permaisuri ketiga dengan penuh semangat.
"Maksud Kangmbok, jangan jangan pembawa pesan itu mengabarkan bahwa terjadi sesuatu pada Adipati Sepuh Tejo Sumirat, Kangmbok Naganingrum?", Cempluk Rara Sunti ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
"Hussssss... Kau ini jangan asal bicara, Sunti..
Nanti kalau ada setan lewat bagaimana?
Sembarangan saja kau ini", sahut Dewi Srimpi segera.
"Sudah jangan ribut. Kita tunggu saja kabar selanjutnya dari Kangmas Prabu Jayengrana. Tidak perlu menerka-nerka apa yang terjadi. Kalau pun terjadi hal buruk pada Adipati Sepuh Tejo Sumirat, kita doakan saja semoga dia lekas membaik. Ayo lanjutkan makannya, nanti keburu dingin", Ratna Pitaloka menengahi obrolan antara para istri Prabu Jayengrana itu. Mereka menurut dan melanjutkan makan siang nya.
Diantara para istri Prabu Jayengrana, hanya satu saja yang tidak membuka mulut sama sekali yaitu Ayu Galuh. Terlihat perempuan cantik yang menjadi permaisuri kedua ini sedang memikirkan sesuatu hal yang penting.
Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati segera memasuki ruang pribadi raja. Tak berapa lama kemudian, sang penjaga gerbang istana datang bersama dengan Tumenggung Kundana. Tanpa menunggu lama lagi, Tumenggung Kundana segera berlutut di hadapan Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana.
"Katiwasan Gusti Prabu Jayengrana, Gusti Ratu, katiwasan...
Gusti Adipati Sepuh...", ujar Tumenggung Kundana dengan nafas tersengal akibat terburu-buru dan kelelahan setelah berkuda lebih dari setengah hari.
"Katakan dengan jelas, jangan sepotong sepotong seperti itu, Tumenggung Kundana..
Jangan sampai membuat kami kebingungan", ucap Dewi Anggarawati dengan cepat.
"Mohon ampun Gusti Ratu..
Hamba panik jadi tidak bisa bertata krama dengan baik. Hamba kemari atas utusan dari Gusti Patih Sancaka untuk mengabarkan berita bahwa Gusti Adipati Sepuh Tejo Sumirat telah mangkat menghadap pada Sang Hyang Agung ", Tumenggung Kundana segera menghormat usai berkata demikian.
APAAAAAAA??!!!!
Setelah berteriak keras seperti itu, tubuh Dewi Anggarawati langsung limbung hendak jatuh ke lantai karena pingsan mendengar berita kematian ayahnya. Prabu Jayengrana dengan cepat menyambar tubuh sang istri.
"Dayang..
Cepat panggil tabib istana kemari sekarang", teriak Prabu Jayengrana segera. Dua orang dayang segera menghormat pada Prabu Jayengrana dan berlari keluar dari dalam ruang pribadi raja. Sedangkan dua lainnya segera mengikuti langkah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana yang membopong tubuh Dewi Anggarawati yang pingsan ke dalam bilik pribadi sang raja yang letaknya berdekatan dengan ruang pribadi Raja.
Dengan lembut, Panji Watugunung meletakkan tubuh Dewi Anggarawati ke atas pembaringan. Dia tahu bahwa Dewi Anggarawati pasti terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Tumenggung Kundana. Setelah mengelus pipi sang permaisuri pertama, Prabu Jayengrana segera menoleh ke arah dua orang dayang istana yang menunggu di luar bilik pribadi sang raja.
"Jaga Gusti Ratu mu. Kalau tabib istana datang, beritahu pada ku. Aku akan menyelesaikan urusan di ruang pribadi ku", titah sang Raja Panjalu itu segera. Dua orang dayang istana segera menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana yang bergegas kembali ke ruang pribadi nya untuk menemui Tumenggung Kundana.
"Tumenggung Kundana,
Aku sudah menerima berita yang kau sampaikan. Katakan pada Paman Patih Sancaka agar menyiapkan segala sesuatunya untuk acara penyucian jiwa Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat. Aku akan mengurus Dinda Ratu Anggarawati dulu. Berangkatlah sekarang juga. Aku akan segera menyusul mu", perintah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sembari mengangkat tangan kanannya.
"Kalau begitu hamba mohon pamit, Gusti Prabu. Semoga Gusti Ratu Anggarawati segera sehat kembali", usai berkata demikian, Tumenggung Kundana segera menghormat pada Prabu Jayengrana dan berjalan jongkok menuju luar ruang pribadi raja. Begitu sampai di luar, Tumenggung Kundana segera bergegas meninggalkan tempat itu.
Nun jauh di wilayah barat Panjalu, tepatnya di Istana Kadipaten Kalingga, Panji Tejo Laksono sedang asyik bercanda dengan keempat orang istri nya saat tiba-tiba muncul suara yang sangat di kenalnya.
"Tejo Laksono, apa kau mendengar suara ku?"
Tentu saja ini mengagetkan Panji Tejo Laksono. Putra sulung Prabu Jayengrana itu segera celingukan kesana-kemari mencari sosok sang ayah.
"Kanjeng Romo Prabu Jayengrana?? Dimana Kanjeng Romo sekarang?", tanya Panji Tejo Laksono segera. Ini sangat membingungkan para istri Panji Tejo Laksono karena mereka tidak mendengar suara apapun.
"Kangmas Pangeran, kau kenapa? Mengapa kau memanggil-manggil nama Gusti Prabu Jayengrana?", Ayu Ratna menatap wajah tampan suaminya yang terlihat seperti orang yang sedang kebingungan.
"Apa Dinda tidak mendengar suara dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya pada Luh Jingga, Ayu Ratna , Gayatri dan Song Zhao Meng. Keempat orang perempuan cantik itu menggelengkan kepalanya karena mereka tidak mendengar suara apapun selain suara Panji Tejo Laksono.
Inilah kehebatan dari Ajian Bayu Swara yang di miliki oleh Prabu Jayengrana usai bertapa selama 40 hari di Gunung Lawu setelah berhasil menumpas pemberontakan Keturunan Wangsa Syailendra dari Lwaram dulu. Sebuah ajian yang bisa mengirimkan suara jarak jauh meski jaraknya ratusan ribu tombak jauhnya. Hebatnya lagi, ajian ini hanya sampai pada orang yang di kehendaki.
Saat Panji Tejo Laksono masih kebingungan, suara berat Prabu Jayengrana kembali terngiang di telinganya.
"Jangan bingung, Tejo Laksono. Ini Romo mu, Prabu Jayengrana menggunakan Ajian Bayu Swara dari dalam istana Katang-katang.
Sekarang duduk bersila lah, gunakan sikap mudra agar kau bisa bicara dengan ku".
Panji Tejo Laksono nampak lega setelah mendengar suara itu. Segera dia duduk bersila di lantai balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga yang menjadi tempat tinggal nya selama di Kalingga. Dengan sikap tangan mudra seperti ayahnya, Panji Tejo Laksono melaksanakan semua petunjuk dari ayahanda nya. Para istri nya segera mengerubungi sang suami. Panji Tejo Laksono harus mengeluarkan banyak tenaga dalam untuk bisa bicara dengan Prabu Jayengrana hingga keringat mulai membasahi dahi nya. Matanya terpejam rapat mencoba berkonsentrasi pada suara berat Prabu Jayengrana.
"Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, ada gerangan apa yang membuat Kanjeng Romo menghubungi ananda?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Ada sebuah berita penting, Tejo Laksono. Kau tidak perlu bingung atau juga bersedih hati karena ini adalah suratan takdir dewata.
Eyang mu, Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat meninggal dunia. Oleh karena itu, sebaiknya kau segera pulang ke Seloageng untuk memberikan penghormatan terakhir kepada nya", jawab Prabu Jayengrana segera. Panji Tejo Laksono nampak terkejut sebentar mendengar berita yang disampaikan oleh ayahnya, namun sang pangeran muda dengan cepat menguasai dirinya.
"Kanjeng Romo Prabu Jayengrana..
Jika ingin cepat sampai ke Kadiri ataupun Seloageng, ananda bisa menggunakan Ajian Halimun yang Kanjeng Romo turunkan pada ku. Tapi sekarang ada empat orang istri yang tidak mungkin ananda tinggalkan begitu saja disini. Lantas bagaimana caranya agar kami bisa sampai di Seloageng secepatnya kalau begini keadaannya Kanjeng Romo?", Panji Tejo Laksono mengungkapkan kebingungan nya.
"Hehehehe.. Dasar kau ini..
Suruh keempat orang istri mu menyalurkan tenaga dalam nya pada tubuh mu saat kau gunakan Ajian Halimun mu maka kemampuan nya akan mampu membawa sebanyak mungkin orang yang kau inginkan.
Sudah itu saja. Romo tunggu di Seloageng, putraku", selesai berbicara demikian, suara Prabu Jayengrana menghilang dari pendengaran Panji Tejo Laksono. Pangeran muda dari Kadiri itu segera menarik napas lega.
Luh Jingga yang duduk di samping kiri Panji Tejo Laksono langsung bertanya saat Panji Tejo Laksono membuka mata.
"Apa yang terjadi, Kangmas Pangeran?", Luh Jingga terlihat begitu khawatir. Panji Tejo Laksono langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari putri Resi Damarmoyo itu.
"Aku tidak apa-apa, Dinda Luh..
Yang jelas saat ini kita harus sampai di Seloageng malam ini", Panji Tejo Laksono langsung berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh keempat istrinya.
HAAHHHHHHHHHHH??!!
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi Kangmas Pangeran? Jika kita berkuda tanpa henti pun setidaknya butuh waktu setengah purnama untuk sampai di Seloageng", kini Gayatri pun turut heran mendengar omongan suaminya.
Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti. Dia tahu bahwa sampai di Seloageng hari itu juga adalah hal yang mustahil untuk semua orang.
"Kalian harus percaya pada ku. Sebaiknya sekarang Dinda Gayatri panggil semua perwira yang masih ada disini", meski dengan sedikit ragu, Gayatri bergegas keluar dari balai tamu kehormatan dan menuju ke arah tempat peristirahatan para perwira tinggi prajurit Panjalu seperti Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Rakryan Purusoma dan Demung Gumbreg serta Tumenggung Sindupraja. Mapanji Jayagiri dan Senopati Muda Jarasanda sudah pulang lebih awal ke Kadiri. Sang pangeran ketiga membawa serta Wanyan Lan yang kini bersedia untuk menjadi selirnya.
Tak berapa lama kemudian Gayatri datang bersama dengan para perwira tinggi prajurit Panjalu. Panji Tejo Laksono segera memberikan perintah kepada mereka untuk menyiapkan pasukan Panjalu pulang ke Kadiri. Oleh Panji Tejo Laksono, pimpinan pasukan Panjalu di serahkan kepada Tumenggung Ludaka. Begitu selesai memberikan perintah, Panji Tejo Laksono memanggil keempat istrinya segera dan menyuruh mereka untuk menyalurkan tenaga dalam nya pada sang pangeran muda. Meski sedikit tidak mengerti apa maksud dari perintah Panji Tejo Laksono, keempat istri nya yakni Luh Jingga, Ayu Ratna, Song Zhao Meng dan Gayatri menuruti kemauan sang pangeran.
Di hadapan para perwira tinggi prajurit Panjalu, Panji Tejo Laksono merapal mantra Ajian Halimun nya. Sebuah asap putih tipis mulai menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono berikut para istri nya. Sekejap mata kemudian, Panji Tejo Laksono dan keempat istrinya sudah menghilang dari pandangan mata semua orang yang ada di tempat itu.
Tumenggung Sindupraja tersenyum simpul melihat kehebatan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Panji Tejo Laksono. Dalam kekagumannya, dia bergumam lirih.
"Aku memiliki seorang mantu yang luar biasa"