Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Dewi Lembah Wilis 3


Pagi hari itu cuaca begitu indah di lereng Gunung Mahameru. Cahaya mentari pagi perlahan mulai muncul di balik bayangan Gunung Mahameru yang menjulang tinggi. Tetesan embun pagi mulai berguguran di ujung daun tatkala ia merasakan hangatnya sinar matahari pagi.


Cericit burung mulai terdengar dari ranting pohon yang tumbuh subur di seputar Pertapaan Gunung Mahameru. Beberapa kokok ayam jantan masih sempat terdengar beberapa kali sebelum di gantikan riuh rendah kicau burung yang bersangkutan.


Panji Tejo Laksono nampak menggeliat bangun dari tidur nya yang nyenyak. Udara dingin di sekitar tempat itu memang sanggup membuat orang lebih suka meringkuk di dalam kamar nya sebelum mentari pagi menghangatkan suasana. Sembari mengucek mata kanannya, Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Dyah Kirana yang masih terlelap tidur berbalut selimut tebal yang menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun.


Teringat dengan kejadian semalam, Panji Tejo Laksono tersenyum simpul. Betapa tidak, di awal malam pertama kemarin, putri angkat Resi Ranukumbolo itu masih canggung dan kaku melayani kebutuhan batin sang pangeran muda. Namun tadi malam, Dyah Kirana sudah berubah menjadi seorang wanita dewasa yang mampu memuaskan hasrat kelelakian Panji Tejo Laksono. Hampir semalam suntuk mereka bergelut dalam hasrat penuh gairah hingga rasanya bagaikan terbang menembus langit ketujuh.


Untung saja, istri Panji Tejo Laksono yang lain, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari masih kedatangan tamu bulanan nya hingga dua malam ini dia hanya bisa meladeni permainan istrinya yang 3 warsa lebih muda dari usia nya.


Panji Tejo Laksono pun meraih celana pendek selutut berwarna hitam yang terserak di lantai bilik kamar tidur nya. Segera dia mengenakan nya. Setelah memasang ikat pinggangnya, dia segera meraih kain hitam selimut nya yang teronggok di sudut kamar tidur. Baru saja akan melangkah keluar dari dalam kamar tidur, terdengar suara lembut Dyah Kirana yang masih bersembunyi di balik selimutnya.


"Kau sudah bangun Kangmas?"


"Baru saja, Dinda Kirana. Sebaiknya kita segera membersihkan diri sebagai persiapan untuk berangkat pulang ke Kadiri. Aku akan mandi lebih dulu", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul. Mendengar jawaban itu, Dyah Kirana mengangguk mengerti dan menggeliat sebentar.


Panji Tejo Laksono segera membuka pintu kamar tidur nya. Di luar pintu kamar tidur, Song Zhao Meng sudah duduk menunggu kedatangan sang pangeran. Begitu melihat Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng segera bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Panji Tejo Laksono sembari mengulurkan secangkir ramuan yang masih mengepulkan uap panas.


"Minum ini, Kakang. Aku jamin tubuh mu akan segera segar kembali", ucap Song Zhao Meng segera. Tanpa banyak bicara, Panji Tejo Laksono segera menerima uluran cangkir ramuan ini dan segera meminumnya. Ada sedikit rasa manis dalam ramuan yang rasanya pahit ini.


"Apa ini Meng Er? Kog rasanya ada manis-manisnya begitu?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah wajah cantik Song Zhao Meng yang tersenyum simpul.


"Obat untuk memulihkan tenaga mu Kakang.. Aku jamin tenaga mu akan pulih kembali seperti semula setelah meminumnya..", jawab Song Zhao Meng sambil mengerling manja pada suaminya.


Pagi itu, Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng, Ki Jatmika dan Dyah Kirana sarapan bersama dengan Resi Ranukumbolo dan Nyi Sri Tanjung. Pada kesempatan itu, Panji Tejo Laksono berpamitan pada sang pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru itu untuk kembali ke Kadiri.


"Berhati-hatilah, Nakmas Pangeran..


Aku titipkan pada mu anak ku Dyah Kirana. Meskipun dia bukan anak kandung ku tapi aku merawatnya dari bayi merah yang belum bisa apa-apa. Sayangi dia dan jagalah hati nya. Aku berdoa kepada Sang Hyang Agung agar kalian selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang juga putra yang hebat agar kelak mampu mengharumkan nama besar Kerajaan Panjalu", tutur Resi Ranukumbolo perlahan. Mata sang pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru itu terlihat berkaca-kaca saat berbicara.


"Saya berjanji, Romo Resi...


Terimakasih atas doa yang tulus dari Romo Resi. Semoga di lain waktu kami bisa berkunjung lagi kemari. Saya mohon undur diri, Romo Resi", ucap Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Resi Ranukumbolo dan Nyi Sri Tanjung. Sang pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru itu segera menepuk pundak sang pangeran muda sebelum mereka semua meninggalkan tempat itu.


Beberapa ekor kuda yang sudah di siapkan. Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng, Dyah Kirana dan Ki Jatmika pun satu persatu mulai melompat ke atas pelana kuda tunggangan mereka. Sesaat sebelum menjalankan kudanya, Dyah Kirana menatap ke arah Resi Ranukumbolo dan Nyi Sri Tanjung yang berdiri di depan pintu kediaman mereka. Ada sedikit rasa kehilangan di hati Dyah Kirana, namun ini adalah jalan kehidupan yang harus ia lalui. Sesaat kemudian, Dyah Kirana menggebrak kuda nya menyusul Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika yang lebih dulu memacu kuda mereka menuruni jalan ke arah wilayah Kadipaten Dinoyo.


****


"Kisanak, kemana arah jalan ke Kotaraja Kadiri?", tanya Dewi Lembah Wilis setelah turun dari perahu penyeberangan yang baru saja melintasi Sungai Kapulungan. Pagi itu selepas bermalam di sebuah rumah warga yang bersedia memberikan tumpangan bermalam pada nya, Dewi Lembah Wilis pun cepat-cepat melanjutkan langkahnya yang ingin sampai di Kotaraja Daha secepatnya.


Seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal yang berdandan layaknya seorang pedagang dan sedang asyik mengawasi para pekerja menaikkan barang ke atas pedati pengangkut barang menjadi tempat bertanya Dewi Lembah Wilis.


"Kau tinggal lurus saja berkuda ke arah Utara, Pendekar..


Setengah hari perjalanan kau akan sampai di Kota Kabupaten Gelang-gelang. Dari sana hanya butuh sebentar perjalanan berkuda, kau pasti sudah tiba di Kotaraja Daha", jawab si pedagang itu dengan sopan.


"Terimakasih atas petunjuk mu, Kisanak.. Aku permisi..", Dewi Lembah Wilis segera melompat ke atas kuda nya lalu segera menggebrak kuda yang dia dapat dari Prakoso itu ke arah Utara sesuai petunjuk sang pedagang.


Ya, Dewi Lembah Wilis hanyalah sebuah nama julukan yang diberikan oleh para penduduk yang tinggal di wilayah Kadipaten Wengker dan Tanggulangin untuk seorang pendekar wanita yang selalu membela kebenaran. Nama asli nya adalah Endang Patibrata, putri Warok Singo Manggolo yang juga merupakan cucu dari Warok Suropati, mertua Prabu Jayengrana dari istri nya yang ketujuh, Cempluk Rara Sunti.


Semenjak pertemuan dengan Panji Tejo Laksono tempo hari, Endang Patibrata langsung jatuh cinta pada Panji Tejo Laksono yang terhitung masih sepupunya. Meskipun demikian, ia tidak merasa keberatan dengan resiko di duakan karena sadar bahwa seorang pangeran yang akan menjadi raja pasti akan memiliki banyak istri. Karena takut akan keselamatan Endang Patibrata, Warok Singo Manggolo melarang putrinya untuk ikut serta dalam topo ngrame yang di jalani oleh Panji Tejo Laksono kala itu.


Namun Panji Tejo Laksono yang juga kepincut dengan keluguan dan kecantikan perempuan asal Kadipaten Wengker itu berjanji, jika Endang Patibrata kelak sudah bisa melindungi dirinya sendiri, maka Panji Tejo Laksono akan mempersunting nya asal dia datang ke Kotaraja Daha dan mencarinya.


Dewi Lembah Wilis alias Endang Patibrata terus memacu kuda nya menuju ke arah Utara. Begitu sampai di dekat Kota Kabupaten Gelang-gelang, tiba-tiba saja ia menghentikan langkah kaki kuda nya. Dari kejauhan, ia melihat dua orang muda mudi sedang bertarung melawan beberapa pendekar. Segera Endang Patibrata melompat turun dari kudanya dan menuntun tunggangan nya itu ke balik semak belukar yang tidak jauh dari tempat berhenti nya.


Begitu kuda nya telah terikat pada semak belukar, Endang Patibrata langsung melesat di antara rimbun pepohonan yang tumbuh di kiri kanan jalan besar itu dan berhenti tak jauh dari tempat pertarungan sengit itu. Dari balik pohon besar itu, dia mengamati situasi yang sedang terjadi.


Shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Seorang lelaki tua berjanggut panjang dengan ikat kepala dari kulit ular langsung melompat mundur sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah dua jarum merah hitam yang sedang meluncur cepat kearah nya.


Blllaaaaaarrr trrakkk!!!


Jarum beracun milik si pemuda tampan berbaju putih itu langsung bermentalan setelah hawa dingin yang mengikuti cahaya hijau gelap ini menghantamnya.


"Hehehehe... Racun mu memang hebat anak muda, tapi melawan ku Ki Taksaka Si Racun Tua, kau harus belajar 100 tahun lagi", si lelaki tua berjanggut panjang berwarna hijau yang menggelari dirinya sendiri dengan sebutan Si Racun Tua itu terkekeh penuh keangkuhan.


Hemmmmmmm...


"Setyawati, kau urus mereka!! Tua bangka ini biar jadi bagian ku...", teriak si pemuda tampan yang tidak lain adalah Panji Manggala Seta pada perempuan cantik yang sedang bersamanya ini. Putri Akuwu Setyaka dari Pakuwon Watugaluh itu segera mengangguk mengerti dan segera melesat cepat kearah para pendekar yang mengepung mereka.


Selepas pulang ke Kadiri bersama dengan Panji Tejo Laksono tempo hari, Panji Manggala Seta membawa Dewi Setyawati pulang ke Wanua Karang Pulut untuk memperdalam ilmu pengobatan yang dia pelajari dari Kitab Selaksa Obat Mujarab pemberian Dewi Srimpi. Nama Tabib Putih semakin terkenal di seputar wilayah Kadipaten Seloageng dan Gelang-gelang hingga banyak sekali orang yang meminta bantuan kepada Panji Manggala Seta untuk mengobati penyakit-penyakit mereka.


Tempo hari, mereka baru saja dari Pakuwon Janti untuk mengobati penyakit Akuwu Janti. Tadi pagi saat perjalanan pulang dari Pakuwon Janti, mereka bertemu dengan Ki Taksaka yang sudah lama tidak suka dengan keberadaan Tabib Putih yang menurutnya sangat menggangu dengan nama besarnya. Oleh karena itu, ketika ia bertemu dengan Panji Manggala Seta, Ki Taksaka langsung mencari gara-gara dengan menantang sang Tabib Putih untuk beradu ilmu kesaktian.


Sementara Panji Manggala Seta melayani permainan silat Ki Taksaka, Dewi Setyawati langsung menyabetkan pedang nya ke arah 4 orang pendekar muda yang mengepungnya.


Shhrreeettthhh..


Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!


Dua orang yang merupakan murid Ki Taksaka langsung menangkis sabetan pedang Dewi Setyawati sang Bidadari Gunung Arjuna. Mereka berdua melompat mundur, namun dua orang lainnya segera muncul sembari mengayunkan senjata mereka masing-masing yang berbentuk seperti taring ular yang berwarna kehitaman. Ini menandakan bahwa senjata mereka berdua mengandung racun.


Dewi Setyawati langsung merubah gerakan tubuhnya dan melompat mundur sembari menahan sabetan senjata taring ular itu. Kekuatan kedua orang pendekar berbaju hijau gelap ini mampu membuat Dewi Setyawati terdorong mundur.


Thhhrrriiiiinnnnngggg!!


Saat yang bersamaan, dua orang kawannya yang melihat celah pertahanan, langsung melesat cepat kearah belakang Dewi Setyawati yang masih terdorong mundur sembari menahan serangan dua orang lawannya.


Endang Patibrata alias Dewi Lembah Wilis langsung menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah dua orang pendekar yang berniat membokong Dewi Setyawati dari belakang. Satu tebasan pedang cepat langsung mengarah ke arah dua orang itu. Selarik cahaya putih setajam bilah pedang bercampur dengan angin kencang yang menderu kencang layaknya badai mengamuk langsung menerabas cepat kearah mereka.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Chhhrrraaaaaaasssssshhh...


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Satu orang pendekar berbaju hijau gelap ini benar-benar tidak menduga ada serangan cepat yang mengarah ke tubuhnya. Dia langsung tewas seketika dengan tubuh nyaris terpotong menjadi dua bagian. Satu kawannya yang sempat melihat kedatangan serangan Dewi Lembah Wilis ini langsung menjatuhkan diri ke tanah hingga dia selamat dari maut.


Sembari menahan marah, si pendekar berbaju hijau gelap ini langsung bangkit sembari mengacungkan senjata nya ke arah Dewi Lembah Wilis yang baru saja menjejak tanah di samping Dewi Setyawati.


"Keparat! Kenapa kau ikut campur dalam urusan kami ha?


Mau jadi pahlawan kesiangan kau??!"